SHARE

Diskusi Protestanisme dan Isu Agraria di Indonesia yang diadakan di Lembaga Alkitab Indonesia, Salemba – Jakarta Pusat pada 12 November 2017 merupakan tema pembuka dari rangkaian agenda simposium memperingati 500 tahun Reformasi Gereja, yang mana pada tahun 1571 gerakan Reformasi Gereja dimulai dengan publikasi 95 Tesis oleh Martin Luther.

Dalam diskusi tersebut hadir beberapa pemateri yang mumpuni dalam bidangnya: Pdt. Ni Luh Suartini, M.Th, Pendeta Gereja Kristen Protestan Bali, John Giyai dari Kristen Hijau, Benny Wijaya dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan Edy Burmansyah, seorang pengamat Ekonomi.

Ni luh mengemukakan banyak hal tentang bagaimana penafsiran teologi protestan terkait agraria dalam hubungannya dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh para reformator gereja yang pada masanya lebih fokus menggugat terkait tata gereja. Sementara pergulatan dari masa ke masa mengarahkan dinamika terkait dikotomi antara kebutuhan jasmani dan rohani. Salah satu momentum penting atas dinamika tersebut adalah adanya kritik bahwa kerusakan alam terjadi karena teologi Kristen yang antroposentris. Lebih lanjut, kritik tersebut mengarah pada kaum Kristen yang mesti bertanggung jawab atas kerusakan alam. Pendapat tersebut diperkuat dalam teks kejadian pasal 1 ayat 26 sampai 28. Kritik tersebut mendapat bermacam tanggapan misalnya bahwa kerusakan tersebut bukan karena teologi Kristen tetapi karena adanya pengaruh liberalisme yang melekat pada Kristen.

Ni Luh juga menegaskan bahwa gereja tidak tinggal diam atas kerusakan lingkungan dibuktikan dengan adanya sidang WCC Dewan Gereja  tahun 1983 di Vancouver dengan mengangkat tema peduli membangun keadilan pada keutuhan ciptaan.

Pemateri dari Kristen Hijau, John Giyai menjelaskan terkait pentingnya pemuda-pemuda Kristen memiliki kepedulian terhadap persoalan ekologi yakni keadilan ruang hidup dan kelestarian lingkungan.

Jaringan Pemuda Kristen Hijau atau biasa disingkat dengan sebutan “Kristen Hijau” dibentuk di awal tahun 2017 oleh beberapa pemuda Kristen di Jawa Timur yang rindu melihat kerjasama lintas denominasi pemuda Kristen dalam bentuk partisipasi di ruang publik terkait dengan problem sosial yang nyata. Isu lingkungan hidup dipilih karena dianggap sebagai permasalahan mendasar yang sifatnya umum (dirasakan semua).

Benny Wijaya memaparkan fakta-fakta terkait konflik agraria yang menyebabkan munculnya fenomena deagranisasi atau dengan kata lain para petani memilih hijrah menjadi tenaga buruh, sekitar 51 juta Rumah Tangga Petani (RTP) berpindah mata pencaharian, menyempitnya lahan hidup rakyat yang berimbas pada konflik horizontal antar pendatang dan penduduk lokal. Terjadi penyusutan lahan petani dari 10,5 % menjadi 4,9 %. Salah satu akar masalah terjadinya konflik agraria adalah tidak dijalankan UUPA 1960 dan TAP MPR IX 2001. Tahun 2016 data konflik agraria menujukan fakta rata-rata terjadi satu konflik agrarian setiap hari di Indonesia.

Benny juga menekankan pentingnya petani-petani untuk membangun organisasi tani yang kuat karena tanpa organisasi maka kemenangan-kemenangan petani atas tanah dapat berubah menjadi mimpi buruk karena akan menimbulkan konflik internal antar petani hingga menciptakan tuan tanah baru yang juga menindas.

Edy Burmansyah menjelaskan terkait arah pembangunan infrastruktur ala Jokowi yang menurutnya tidak ada sesuatu yang baru, hanya melanjutkan kebijakan MP3EI yang telah dicanangkan oleh SBY. Terdapat dua skema yang mengerikan dari mode pembangunan infrastruktur ala Jokowi ini yakni; Pertama, utang infrastruktur bukan merupakan utang luar negeri pemerintahan, namun utang business to business yang mendapat jaminan berupa aset-aset vital oleh negara. Kedua, sekuritisasi aset, yaitu melepas aset negara yang produktif ke pihak swasta untuk mendapatkan keuntungan (baca: Privatisasi) selanjutnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

Edy mencontohkan, Waskita Karya sudah menawarkan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) yang baru saja diresmikan oleh Jokowi pada calon investor asal Australia dan Malaysia. Berikutnya, 17 ruas jalan tol menunggu antrian untuk dilepas ke pihak swasta.

Simposium ini akan berlangsung setiap hari minggu hingga tanggal 17 Desember 2017 dengan tema – tema diskusi yang menarik karena mengaitkan bagaimana dinamika Protestanisme dalam merespon isu-isu sosial kekinian, misalnya Perburuhan, Perempuan dan Papua. (ari/nad)

Leave a Reply