SHARE

Ternate (29/9/2017); Komite Perjuangan Rakyat (KPR) yang salah satunya tergabung organisasi mahasiswa Pembebasan melakukan aksi serentak di Ternate dengan tema “Selamatkan Reformasi dan Lawan Kebangkitan Orde Baru”

32 massa aksi yang tergabung dalam Komite Perjuangan Rakyat (KPR) mulai melakukan aksi pada pukul 09:00 WIT di depan Dodoku Ali. Dalam tuntutan aksinya, KPR menyuarakan agar pelaku dan dalang penyerangan gedung YLBHI-LBH Jakarta diusut dan dipenjarakan, mendesak reformasi secara menyeluruh di segala bidang, wujudkan kebebasan berpendapat dan berkumpul. Selain itu, KPR juga menyerukan agar rakyat Indonesia tidak terpancing isu kebangkitan PKI, dan waspada atas kebangkitan Orde Baru. Sebagai bentuk konsistensi menyuarakan demokrasi, KPR juga menuntut agar Peppu Ormas No.2 tahun 2017 dicabut. Isu lain yang disampaikan adalah Tolak Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU KAMNAS), Tarik Militer Organik dan Non-Organik dari West Papua, Mendukung Hak penentuan Nasib Sendiri untuk West Papua dan Bubarkan Komando Teritorial (Kodam, Korem, Koramil, Babinsa).

Direpresi tentara

Aksi yang baru saja dimulai dan dibuka kemudian dilanjutkan oleh korlap itu langsung dicegah oleh beberapa anggota Korem sekitar pukul 09:15 WIT. Seorang yang berseragam militer datang merepresi dengan alasan massa aksi telah menyinggung instansi militer karena tulisan “Melawan Kebangkitan Orde Baru”. Anggota Korem tersebut langsung memaksa agar massa aksi membubarkan diri sambil merampas spanduk dan poster. Korlap aksi dipaksa ikut ke kantor Korem untuk diinterogasi. Massa aksi lain menghalangi upaya anggota Korem membawa korlap aksi sehingga terjadi adu mulut. Tanpa ada perlawanan dari massa aksi, anggota Korem tiba-tiba menarik dan memukuli korlap aksi.

Salah satu massa aksi menyampaikan pada tentara bahwa ini bukan persoalan militer, tentara tidak berwenang menangkap dan membubarkan massa aksi. Setelah saling adu mulut dengan beberapa intel Korem, massa aksi menarik korlap yang ada di luar massa aksi untuk tidak ikut ke Korem. Aksi kemudian dilanjutkan, massa aksi satu persatu melanjutkan orasi politik sepanjang jalan menuju ke Pasar Barito.

Massa aksi diteriaki ‘PKI’, lalu dipukuli lagi

Pada pukul 09:41 WIT, massa aksi sampai di depan Pasar Barito, pihak intel Korem terus mengikuti massa aksi dan dikawal 2 orang anggota Polres Ternate. Massa aksi yang berdiri di tengah-tengah jalan yang ramai oleh kerumunan aktifitas Pasar Barito langsung melanjutkan aksi dan menyampaikan pandangan-pandangan politiknya.

Dalam orasinya, Arbi M Nur mengatakan “Watak militerisme selalu saja dipraktekkan oleh pihak angkatan darat, mengkriminalisasi dan mengintimidasi massa aksi yang baru saja berjalan dan memulai aksi tadi”. Belum usai orasi, Arbi langsung dikeroyok oleh anggota Korem dan satu orang anggota ormas sambil mengatakan bahwa massa aksi adalah PKI. Klaim yang tak berdasar ini kemudian dibantah oleh massa aksi bahwa massa aksi adalah organisasi mahasiswa, bukan PKI. Namun tentara terus memukuli massa aksi dan dipaksa diangkut ke kantor Korem. Anggota Polres Ternate yang bertugas mengawal aksi tidak banyak berbuat apa-apa, bahkan terkesan membiarkan kewenangan polisi dipecundangi tentara. Massa aksi terus dipukuli, ditendang, diinjak dan ditarik bakunya, beberapa di antaranya hingga tercabik-cabik dan juga beberapa luka-luka.

Menurut salah satu korban kekerasan anggota Korem Ternate mengatakan “Militer terus memukuli, menginjak dan menendang kami sampai jatuh, merobohkan dan menabrak PKL penjual buah-buahan”.

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh tentara kepada massa aksi ini kemudian dihadang oleh ibu-bapak PKL setempat untuk mengamankan massa aksi, tapi ibu-bapak PKL dihadang dan bahkan sebagian juga dipukuli oleh tentara.

Ternyata tentara tak berhenti menghajar massa aksi, bahkan mahasiswa ada yang dipukul menggunakan helm dan sepatunya. Peralatan aksi dirampas, lalu menggunakan umbul-umbul untuk memukuli massa aksi. Massa aksi mencoba bergerak menuju Polres. Lebih parahnya, massa yang sambil berjalan terus dipukuli sejauh 500 meter berjalan.

Menuju ke Polres dan terus diintimidasi

Di pertengahan jalan menuju Polres, massa aksi dihadang lagi. Massa aksi kemudian duduk di trotoar jalan, sementara anggota Korem kembali memaksa ke Korem. Massa tidak menggubris paksaan tentara, lalu anggota Korem kembali menginjak, menendang dan mmemukuli mahasiswa sampai babak belur di dalam saluran got.

Massa terus direpresi sekitar satu jam, beberapa menit kemudian datang dari pihak Polres bernegosiasi deengan pihak Korem untuk mengamankan massa aksi dan menjamin keamanan bagi massa aksi sampai ke Polres.

Sekitar beberapa belas menit, massa aksi sampai di Polres. Pihak Polres yang seharusnya mengayomi dan melindungi massa aksi sesuai koridor hukum yang berlaku, malah lepas-tangan persoalan tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota Korem kepada massa, pihak Polres mengatakan bahwa “Kalau kalian mau melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pihak militer, itu langsung laporkan ke POM (Polisi Militer) bukan ke Polres” tutur salah satu intel Porles.

Setelah beberapa saat kemudian, datang dari LBH. Setelah bernegosiasi dengan pihak kepolisian, tak lama kemudian massa aksi diminta membubarkan diri dari Polres.

Sebenarnya represi yang dilakukan aparat tentara dari Korem sudah terjadi beberapa kali sebelum ini. Kami mencatat bahwa tindakan anggota Korem ini adalah pelanggaran hukum berat. Mengancam demokrasi, dan harus terus dilawan. (Ajn)

Leave a Reply