SHARE

Bandung, 10 Maret 2018—Alun-alun kota Bandung, Jumat sore, 9 Maret 2018. Jalanan macet. Ada yang berswafoto, ada pula yang sekedar duduk di bangku-bangku pinggir jalan sambil meminum kopi.

Aktivitas-aktivitas di alun-alun kota yang biasa itu, diwarnai pemandangan puluhan pelajar bercelana abu-abu yang berdiri di depan Tugu Global. Mereka memegang poster bertuliskan “Tolak Komersialisasi Pendidikan”, “Hentikan Kriminalisasi terhadap Pejuang Lingkungan Hidup”, “Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Tamansari”.

Pelajar-pelajar itu tergabung dalam Aliansi Pelajar Bandung. Seminggu sekali, mereka memang rutin melakukan aksi di sana.

“Aksi ini kami namai Suara Pelajar,” kata Laudza Nareswara, salah satu anggota Aliansi Pelajar Bandung.

“Aksi Suara Pelajar digagas bersama kawan-kawan Aliansi Pelajar Bandung dengan tujuan mengabarkan kepada warga kota Bandung mengenai masalah-masalah yang terjadi di negara ini.”

Aksi Suara Pelajar itu, berhasil menyita perhatian para pengendara yang lewat. Banyak di antara para pengendara yang penasaran dan menepikan kendaraannya untuk memotret aksi Suara Pelajar.

“Ada apa sih ini?” ujar pengendara motor bebek buatan Jepang yang penasaran.

Selain berdiri sambil memegang poster, para pelajar juga berorasi dan membacakan puisi. Johana, biasa dipanggil Jo, seorang pelajar berambut ikal yang ikut dalam aksi tersebut, membacakan salah satu puisi Wiji Thukul, “Apa Guna”. Menurutnya, puisi ini sangat relevan dengan kondisi sekarang.

“Ketertindasan rakyat itu nyata, Kawan. Banyak orang orang yang tak bisa sekolah karena biaya yang mahal, penggusuran juga terjadi di mana-mana. Terjadi pula kriminalisasi terhadap para aktivis. Tapi para pelajar dan mahasiswa banyak yang diam. Bahkan tak sedikit yang membela para penindas,” ujar Jo, sambil tersenyum malu ketika ditanya alasannya membaca puisi Wiji Thukul.

Laudza juga mengungkapkan hal yang sama melihat banyaknya kaum terpelajar yang hanya diam melihat ketertindasan rakyat di sana-sini.

“Seorang terpelajar harusnya adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam tindakan. Memperhalus perasaan dan peka dengan realitas yang ada. Untuk itulah kita belajar,” tandas Laudza.

Dari Pendidikan, Kekerasan, hingga Kriminalisasi Pejuang Lingkungan Hidup

Seorang polisi berperut buncit mengenakan rompi berwarna hijau neon. Ia berulang mondar mandir ke barisan massa aksi. Lalu ia menghampiri salah seorang pelajar.

“Kapan aksi ini selesai?” tanya polisi itu.

Sementara itu, Laudza orasi mengungkapkan kekesalannya pada sistem pendidikan yang ada. “Sistem kampret,” ucapnya kesal.

Ia tak rela jika sistem pendidikan yang ada hanya dijadikan alat reproduksi sosial dan ideologis yang berpijak pada kepentingan akumulasi kapital.

“Full day school diberlakukan. Tak ada waktu buat main sama kawan-kawan di luar. Di sekolah juga kami diajarkan pelajaran-pelajaran yang tak pernah bisa membuat kami jadi seorang manusia yang adil. Kami selalu diajarkan agar suatu hari nanti sukses menjadi seorang bos,” ujar Laudza dalam orasinya.

Tak hanya soal pendidikan. Dalam orasinya, ia juga mengungkapkan kekesalannya terhadap tindak kekerasan yang dilakukan oleh preman dan ormas bayaran Pemkot Bandung dalam aksi pendudukan alat berat, menuntut pihak pengembang menghentikan proses pembangunan rumah deret (rudet), yang dianggap ilegal karena Pemkot Bandung belum mengantongi izin lingkungan dan AMDAL.

Upaya penghentian itu mendapat lemparan batu dan beling dari preman dan ormas bayaran, Selasa lalu (06/03). Akibatnya, tiga orang masuk rumah sakit, sembilan belas orang luka-luka.

“Mereka, para preman dan ormas itu, ngelemparin kawan-kawan kami dengan batu. Bertindak seperti fasis. Padahal proses hukum sedang berjalan,” tandasnya.

Secara bergantian mereka berorasi. Setelah Laudza, giliran Syahrul, pelajar dari SMA Negeri 12 Bandung. Dalam orasinya ia menyuarakan kriminaliasi yang menimpa tiga pejuang lingkungan hidup yang menolak keberadaan PT Rayon Utama Makmur (RUM) di Desa Nguten, Sukoharjo, Jawa Tengah, karena telah meracuni lingkungan warga sekitar.

“Keadilan telah mati. Kemanusiaan telah mati. Mereka yang berjuang malah dikriminalisasi oleh polisi,” ucap Syahrul dalam orasinya.

Sehabis Syahrul berorasi, massa aksi bernyanyi, “Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat.” Lagu berjudul “Darah Juang” itu menutup aksi mereka.

(Wis/Nang)

Leave a Reply