Home / Analisa Situasi / Apa yang Diajarkan Marxisme kepada Kita tentang Protes di Venezuela (Bagian I)

Apa yang Diajarkan Marxisme kepada Kita tentang Protes di Venezuela (Bagian I)

[ Ramiro S. Fúnez ]

Kebebasan. Demokrasi. Stabilitas.

Itulah tuntutan yang akan Anda percaya dari media arus utama, tentang protes oposisi anti-pemerintah yang tengah berlangsung di Venezuela, yang sejak awal telah menelan 50 nyawa.

Dengan meminjam alur cerita “David versus Goliath,” sekomplotan gerai berita korporat melanggengkan dikotomi tolol yang sama. Di satu sisi ada kelompok yang tidak berdaya, demokrat cinta damai yang menuntut kemerdekaan berpolitik. Di sisi yang lain, ada pihak yang berkuasa, pemerintah otoriter yang bengis terhadap para demonstran.

Narasi yang dibangun, yang terang-terangan mendominasi media arus utama, adalah desain cerita yang telah dirancang untuk melahirkan dukungan bagi perubahan rezim di Venezuela. Media-media semacam CBS, CNN, NBC, ABC, Fox News, dan The New York Times, misalnya, merupakan media-media yang dimiliki oleh elit-elit global nan kaya raya, yang menjadi investor utama kompleks industri militer dan mendapat untung besar dari perang tiada henti.

Para penerbit seperti Miami Herald menjadi contoh bagaimana media arus utama mendorong agar perang terjadi, dengan menerbitkan serangkaian berita yang menyarankan “Apa yang semestinya dilakukan Trump terkait gerak Venezuela menuju kediktatoran total.” Hal itu sepenuhnya sesuai dengan pikiran korporat kaya yang mendukungnya, yang air liurnya tumpah ketika mendengar ide rekolonisasi dan privatisasi sumber minyak Venezuela yang melimpah.

Seruan mereka agar AS bertindak melawan Venezuela mirip dengan yang mereka lakukan terhadap Yugoslavia, Afghanistan, Irak dan Libia sebelum invasi AS yang masing-masing terjadi pada tahun 1999, 2001, 2003 dan 2011. Siapa pun yang mencermati invasi-invasi itu, dapat membuktikan peran sentral yang dimainkan pemberitaan tidak akurat dari media-media arus utama dalam bencana yang mereka hasilkan.

Kita harus ingat bahwa pada tahun 2003, misalnya, media-media mapan itu telah menyebarkan kebohongan yang menimbulkan petaka: gugatan bahwa Pemerintah Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Kecuali karena Iraq Survey Group yang dipimpin AS dipaksa mengaku pada tahun 2003, tidak terdapat bukti bahwa Pemerintah Irak telah memproduksi atau menyimpan senjata pemusnah massal sejak 1991. Itu adalah tahun ketika sanksi PBB diberlakukan terhadap pemerintahan mantan Presiden Sadam Hussein.

Sejarah telah menunjukkan bahwa buah dari kebohongan tersebut adalah bencana. Sepuluh ribu warga sipil dan pejuang Irak meninggal dunia, ribuan lainnya tersiksa serta luka-luka, dan seluruh kota ditinggalkan dalam keadaan hancur.

Bahkan, dengan berdiri di atas klaim-klaim tidak berdasar, media yang jadi pemandu sorak dalam invasi ilegal terhadap Irak tersebut adalah media yang menabuh genderang perang di Yugoslavia tahun 1999, Afghanistan tahun 2001, dan Libia tahun 2011. Dan sekarang, mereka tengah menabuh genderang perang melawan Venezuela.

Karenanya, mereka yang benar-benar ingin memahami situasi yang sedang berlangsung di Venezuela, tidak bisa bergantung pada publikasi yang punya kepentingan ekonomi dari pendukung korporat mereka yang kaya. Mereka yang mencari kebenaran tentang berbagai protes di Venezuela mesti mendasarkan investigasi mereka demi kepentingan massa kelas pekerja yang akan paling terkena dampak dari setiap serangan atau invasi terhadap negeri sosialis tersebut.

Marxisme, metode untuk mempelajari dan menanggapi berbagai peristiwa di dunia, paling cocok untuk kasus ini. Karena secara fundamental, Marxisme berdasarkan memajukan kepentingan terbaik bagi kelas pekerja, kelompok mayoritas, dan bukan minoritas elit-elit kaya raya. Dan seperti akan ditunjukkan kemudian, Marxisme membuktikan bahwa pemerintah yang dipimpin kelas pekerja—bukan pihak oposisi yang didukung Wall Street—adalah yang benar-benar mempromosikan kebebasan, demokrasi, dan stabilitas.

Berikut ini adalah apa yang diajarkan Marxisme, ilmu pengetahuan revolusioner kelas pekerja, tentang gerakan protes di Venezuela.

Kita Butuh Metode Analisa yang Baru

“Saat mempelajari suatu masalah, kita harus menghindari subjektivitas, cara pandang yang parsial dan dangkal … semacam melihat sebagian tapi tidak keseluruhan, melihat pepohonan tapi bukan melihat hutan.” – Mao Tse-tung

Masalah besar yang bersifat inheren dalam pemberitaan demonstrasi di Venezuela dari media arus utama adalah metode mereka dalam menganalisis.

Jika Anda mencermati sebagian besar artikel dan video yang diproduksi lembaga-lembaga penerbitan itu, Anda akan menemukan sebuah tren yang mendasarinya. Mereka mendiskusikan kekacauan yang sekarang terjadi di Venezuela tanpa menyajikan konteks historis yang memadai.

Mereka tidak hanya secara sengaja menyerang kondisi ekonomi dan politik yang terus berkecamuk sejak Revolusi Bolivarian merebut kekuasaan pada tahun 1999, yang akibatnya menghambat kemampuan pemerintah untuk memajukan perdamaian dan stabilitas. Mereka juga gagal untuk menyebutkan bagaimana kondisi Venezuela sebelum tahun 1999, ketika Presiden Hugo Chavez baru menjabat dan memulai perbaikan kondisi mayoritas kelas pekerja secara radikal.

Sejak awal tahun 2000-an, misalnya, para pemilik supermarket yang berafiliasi dengan kubu oposisi telah menimbun produk makanan sehingga mereka dapat menjual produk-produk itu dengan harga yang tinggi dan menghasilkan keuntungan yang besar. Perusahaan pengimpor makanan yang dimiliki oleh elit-elit kaya sayap kanan juga telah memanipulasi jumlah impor barang untuk melambungkan harga barang-barang itu.

Pada tahun 2013, eks kepala Venezuelan Central Bank Edmee Betancourt melaporkan bahwa tahun lalu (2012, penj.), Venezuela telah kehilangan sekitar US$15 hingga 20 miliar karena penimbunan dan manipulasi harga. Kubu sayap kanan menyabotase perekonomian sosialis Venezuela, yang telah dilancarkan di berbagai bidang sejak tahun 1999, yang fungsinya menunjang serangan politik terhadap pemerintah. Taktik destabilisasi ini, sebagaimana dijelaskan ilmuwan politik AS, Genen Sharp, sejak dulu telah digunakan untuk melawan pemerintahan yang berani menentang Wall Street.

Media arus utama juga tidak menyebutkan, bahwa sebelum Revolusi Bolivarian, angka inflasi, pengangguran, dan kemiskinan di Venezuela amatlah tinggi.

Metode demikian, yang menyajikan fakta dan angka di sekitar kekacauan di Venezuela tanpa menyajikan konteks historis, dikenal sebagai empirisisme.

Empirisisme, sebagai metode ilmu alam dan ilmu sosial, mengemukakan bahwa segala pengetahuan tentang dunia dilahirkan oleh pengalaman indrawi. Hal ini berarti bahwa kelima indra—penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, dan peraba—memberi pengetahuan tentang realitas yang dapat diuji, direvisi, dan diverifikasi oleh semuanya.

Sehingga, seseorang mampu menilai Venezuela berdasarkan melihat apa yang dilakukan orang-orang, mendengar apa yang dikatakan, bahkan dicicip atau disentuh orang-orang di negeri itu. Bahkan, seseorang bisa membuat pengukuran kuantitatif atas penilaian-penilaian kualitatif tersebut, memapankan angka-angka yang diterima secara universal seperti produk domestik bruto, koefisien Gini, dan bahkan level atau indeks kebahagiaan.

Marxisme tidak menolak empirisisme begitu saja—kadang, Marxisme bahkan menggunakannya. Namun, apa yang Marxisme kemukakan adalah bahwa metode analisis kalangan liberal ini, tidak mampu memahami kompleksitas sebuah fenomena secara keseluruhan.

Hal itu karena empirisisme menganalisis suatu fenomena—misalnya kerusuhan di Venezuela—sebagai sesuatu yang bersifat statis, sebagai momen-momen yang terputus, alih-alih memahaminya sebagai momen yang saling berhubungan, yang membentuk proses yang terus berubah dan berkembang. Metode ini memisahkan “hari ini yang relevan” dari “masa lalu yang tidak relevan” dan mendekontekstualisasi fenomena secara keseluruhan.

Itu sama halnya dengan mengkritik seorang guru karena tidak membiarkan murid-muridnya lulus ujian akhir tahun, tanpa memperhitungkan bahwa selama hampir setahun guru itu kelebihan beban siswa dan bekerja dengan anggaran yang sedikit.

Marxisme tidak menolak kenyataan adanya peningkatan angka inflasi dan kekurangan di Venezuela. Apa yang ditolak Marxisme adalah menyajikan angka-angka itu tanpa konteks yang memadai dan membatasi investigasi pada penampakan yang sempit, yang memungkinkan kenyataan menjadi terdistorsi.

Marxisme bermaksud memperluas cakupan analisis di luar fakta-fakta yang tersedia saat ini, menginvestigasi akar penyebab fenomena ekonomi seperti inflasi, dan mengajukan solusi praktis untuk mengatasinya.

Jadi, analisis empiris yang dilakukan oleh gerai perusahaan berita terhadap demonstrasi di Venezuela terbukti bangkrut secara ideologis. Mereka sengaja menyajikan fakta tentang kekacauan di Venezuela dengan cara mendakwa pemerintah dan membebaskan oposisi.

Bersambung.

*Dialihbahasakan dari “What Marxism Teaches Us About Protests in Venezuela” oleh Nanang Kosim, staf DPP Pembebasan KK Bandung.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top