SHARE
Salah satu bagian di sekitar sekretariat SPG yang dirusak aparat kepolisian, Halmahera Utara, Sabtu, 4 Maret 2018.

Galela, 4 Maret 2018—Hari kelima pemboikotan PT KSO Kapidol Casagro diwarnai baku lempar antara aparat kepolisian dan massa Komite Mahasiswa dan Petani Galela (Kompag). Kejadian itu terjadi di sepanjang jalan menuju Posko Perjuangan Petani Galela yang didirikan tepat di depan PT KSO Kapidol Casagro, Sabtu, 4 Maret 2018.

Sekitar jam 15.50, Asisten II Bupati Halmahera Utara dan sekitar 200 anggota polisi bersenjata lengkap, mendatangi massa Kompag di depan posko. Wakapolres Halut memaksa massa aksi membubarkan diri karena dianggap telah melanggar peraturan dan demi mengantisipasi konflik antara masyarakat dan kepolisian. Padahal, aksi yang dilakukan Kompag adalah aksi damai dan massa aksi tidak melakukan kekerasan.

Kompag—yang terdiri dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Maluku Utara, Gerakan Bintang Utara (GBU), dan Serikat Petani Galela (SPG)— menuntut agar PT KSO Kapidol Casagro mematuhi perjanjian yang termuat dalam nota kesepakatan tanggal 19 Desember 2017. Dalam poin ke-5 perjanjian itu, disebutkan bahwa selama sengketa lahan belum selesai, perusahaan tidak bisa beroperasi.

Penjelasan yang disampaikan oleh kuasa hukum SPG Suwarjono Buturu tidak didengarkan wakapolres. Wakapolres kemudian memerintahkan anggotanya menangkap dan memukul massa Kompag. Tercatat sedikitnya lima orang massa aksi dikeroyok oleh kepolisian sampai babak belur, bahkan ada yang sampai jatuh pingsan dan harus dibawa ke rumah warga di sekitar posko.

Melihat tindakan represif aparat, massa aksi yang terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, dan mahasiswa, sebagian besar lari ke arah perkebunan. Polisi terus mengejar mereka sambil menembakkan gas air mata. Baku lempar pun akhirnya tidak terhindarkan.

Polisi yang berhasil memukul mundur massa, kemudian menduduki sekretariat Serikat Petani Galela. Di sana mereka mengobrak-abrik barang-barang yang ada di sekretariat lalu mengangkut sebagian dari barang-barang itu.

“Pakaian mahasiswa dibuang keluar, piring dan gelas dipecahkan, tempat alas tidur dibuang dan di depan sekretariat, bangsaha, tempat rapat akbar massa petani, dirusak,” ujar salah seorang petani, yang enggan disebutkan namanya, yang menyaksikan kejadian tersebut.

Polisi dan Pemda Halmahera Utara mengintimidasi petani yang ada di bangsaha. Tampak seorang ibu dan anaknya terlibat cekcok dengan aparat kepolisian dan beberapa orang pegawai pemda. Menurut keterangan ibu itu, asisten bupati menuduh seluruh petani Galela mencuri tanah perusahaan.

Saat berita ini diterbitkan, massa aksi dari SPG sudah mengamankan diri di rumah masing-masing. Sedangkan mahasiswa masih dalam pengejaran polisi. Menurut beberapa petani, pihak kepolisian mencari dan akan menangkap mahasiswa.

Berikut nama-nama korban represi polisi: Rudi Pravda (dikeroyok polisi sampai kulit kepalanya  sobek dan memar di bagian punggung); Ridwan (jatuh pingsan, lengan dan punggung memar dan bengkak, kepalanya pun luka-luka); Hara (dikeroyok polisi hingga babak belur dan lehernya bengkak); Fandi (dipukul polisi saat melindungi Hara); dan Rippe (punggung memar dikeroyok polisi).

(Ajun/Nang)

Leave a Reply