SHARE

Adalah Asghar Ali Engineer, seorang pemikir Islam revolusioner, yang dijadikan stimulus diskusi tentang spirit pembebasan dalam Islam.

Dalam pergulatan pemikirannya, Asghar pun akhirnya bertemu juga dengan gagasan Marxisme, terutama gagasan tentang Ikhwanussafa (rasionalisme).

Latar belakang Asghar Ali

Latar tempat dimana Asghar hidup; dia lahir di India, tahun 1939, bekerja di perusahaan tehnik hampir 20 tahun. Pada akhirnya keluar dari pekerjaannya, kemudian Asghar masuk dalam komunitas Bohra (Syiah Ismailiyah). Targetnya adalah membuat perubahan mendasar di komunitas Bohra karena gerakan Bohra, selain besar, pemimpinnya begitu menindas, meminta jatah uang dan sangat otoriter (represif). Di komunitas Bohra, pemimpinnya mengklaim sebagai da’i mutlak (selalu benar), ini yang ditentang oleh Asghar. Penentangan ini berbuah pada penganiayaan terhadap Asghar, bahkan, rumah dan kantornya Asghar juga dihancurkan dengan bom.

Dari situlah kemudian Asghar menyimpulkan  bahwa pemahaman keagamaan bisa dijadikan alat untuk memapankan status quo. Dalam pergulatan pemikirannya, Asghar pun akhirnya bertemu juga dengan gagasan Marxisme, terutama gagasan tentang Ikhwanussafa (rasionalisme). Aktivitas intelektualnya juga dimulai sejak 1972-1999 dimana telah lahir 12 buku selama rentang waktu tersebut.

Pemikiran Asghar bisa dikategorikan dalam 4 bidang yaitu: jender, teologi pembebasan, komunalisme dan islam pada umumnya. Teologi Pembebasan ini merupakan salah satu konsepsi utuh Asghar tentang Islam yang membebaskan.

Dalam analisa pemikirannyanya, yang relevan sebagai bahan kajian keislaman yaitu: islam dan teologi pembebasan, islam dan pembebasan, asal-usul perkembangan islam. Kesemuanya diringkus dalam bukunya berjudul Asal-Usul Perkembangan Islam. Buku tersebut adalah buku sejarah Islam dengan menggunakan materialisme-historis sebagai analisanya.

Selama ini kita menganggap bahwa agama itu hanya sekedar alat ratapan dan semacamnya, kondisi itu sengaja dibangun dan dikonstruksikan agar, agama hanya sekedar ligitimasi status quo, bahkan memapankan penguasa korup. Teologi pembebasan Asghar ingin menghancurkan situasi tersebut. Jika agama dikorelasikan dengan perjuangan pasti posisi agama selalu menggagalkan perjuangan, itu karena, menurut Asghar, pemikiran keagamaan yang mendukung struktur mapan.

Bagaimana pemikiran keagamaan menurut Asghar?

Di sinilah Asghar mendekonstruksi teologi. Ada dua teologi, teologi konvensional dan teologi pembebasan. Teologi konvensional adalah sebuah ajaran Islam yang paling dominan diajarkan dan dianut; yang digardai oleh haluan besar bernama ahlussunah wal jamaah (asy’ariyah dan maturibiyah). Di antaranya adalah penjabaran pre-destination atau jabariyah, Asyariyah ini di kemudian hari menjadi pelanjut dari Jabariyah.

Sepanjang proses kepemimpinan Islam, pasca kekhalifahan Ali lah yang kemudian paling banyak mengalami kemunduran, pencabangan faksi dan hiruk-pikuk berebut jatah kekuasaan sehingga tidak heran menjamurlah orang kaya baru. Akumulasi kapital beranjak mapan.

Bergesernya perspektif perlawanan menjadikan masyarakat semakin dekaden. Bahkan ajaran-ajaran progresif mulai hancur. Missal, ketegasan Umar yang pernah memecat sahabat nabi bernama Khalid bin Walid secara tidak hormat karena memperkaya diri dan memberikan uang berpuluh-puluh dinar karena sudah memuji-muji dia. Termasuk kebijakan progresif berupa pembatasan kepemilikan tanah yang dibuat oleh Umar namun tidak dijalankan oleh penerusnya, Utsman.

Dalam pandangan Asghar, memudarnya spirit revolusionernya Islam juga karena factor bahwa teologi, setelah bersentuhan dengan pemikiran spekulatif a-la Yunani, membuat teologi pembebasan terbawa spekulatif, sehingga teologi konvensional mengambil alih peran hegemoniknya.

Hingga selanjutnya, kemapanan teologi konvensional terus dibangun oleh dinasti Ummayah dan Abbasiyah, lengkap dengan kodifikasi-kodifikasi yang dilegitimasi oleh para fuqoha.

Muhammad menentang kemapanan orang-orang kaya di Arab

Kedatangan Muhammad pada zamannya menggetarkan kemapanan orang-orang kaya di Arab, salah satunya adalah seruan larangan menumpuk-numpuk harta. Latarnya adalah adanya perdagangan bebas sehingga perlahan menghancurkan komunalisme. Bersamaan dengan itu, Muhammad juga mengorganisasikan perlawanan orang-orang yang tersingkir dari perdagangan bebas (pedagang kecil) dengan nama organisasinya adalah Hilf al-Fudl (arti: kelompok orang-orang tulus). Muncul juga ajaran menolak riba, dan kebijakan itulah yang membuatnya dimusuhi banyak orang-orang kaya di Arab.

Proposisi Asghar

Setelah sejarah ini diceritakan ulang oleh Asghar, ternyata kemunculan Islam itu memiliki latar belakang: membawa spirit keberpihakan pada yang terpinggirkan, membawa spirit anti-kemapanan, membawa spirit nilai revolusioner.

Dari situlah, Asghar membangun teologi pembebasannya. Keberpihakannya terhadap perspektif pembebasan sangat kuat telihat. Seperti dalam mengartikan kata kafir itu bukan sekedar umat yang menolak perintah Allah SWT namun juga membawa pengertian bahwa golongan orang kafir adalah mereka yang tidak peduli terhadap fakir miskin. Jadi, kafir itu tidak sekedar melanggar aturan taqwa Allah semata (menolak syahadat, tidak sholat, menyekutukan Allah), yang menindas dan tidak mempedulikan orang miskin juga termasuk golongan orang kafir. Orang yang beriman itu didefinisikan bukan hanya menyetujui keesaan Allah, tapi juga orang yang mencintai rakyat miskin, menolak riba, anti menumpuk keuntungan. Sehingga, konsep tauhid dan taqwa berkonsekuensi direkonstruksi. Orang yang adil itu yang dekat pada ketaqwaan, orang adil adalah orang yang mendistribusikan kekayaan secara merata sesuai kebutuhan.

Sedikit latar historis Arab

Di Eropa, ketika perbudakan integral dalam corak ekonomi, di Arab, corak produksi perbudakan berjalan dengan penuh anomaly. Masyarakat Mekah dibagi dua: masyarakat nomad (suku-suku Badui—berburu) dan masyarakat urban (yang menetap di Ka’bah). Masyarakat urban bukan menggunakan moda pertanian (bertani), tapi perdagangan (berdagang). Situasi keberadaan budak yang berada di Mekah adalah budak yang dibawa para saudagar dari luar Mekah. Perbudakan sendiri mulai muncul (marak beroperasi) ketika Dinasti Umayyah menaklukkan Persia dan Bizantium.

Lebih jauh lagi, selain menggunakan kajian materialisme-historis, Asghar mendasarkan perspektifnya dari buku Ibn Khaldun. Pembabakan pemikiran keagamaan islam, oleh Asghar dibagi dalam tiga fase yaitu: Setelah Ali jatuh, setelah masuknya Napoleon ke Mesir (ditandai dengan munculnya teologi rasional, ditarik kembali pemikiran Muktajillah, dan menyimpulkan bahwa sebab kemunduran Islam itu karena mistifikasi, tokohnya adalah Muhammad Abduh) dan setelah kalahnya Arab oleh Israel.(bp)

_________

*Resume dari program diskusi reguler di Rumah DIALEKTIKA, Bandung. Fasilitatornya adalah Yoga ZaraAdritra (ketua PEMBEBASAN Bandung, dan pengurus kolektif nasional PEMBEBASAN)

Leave a Reply