Bangsa yang Dikhianati (Soeharto Bukan Pahlawan Nasional)

date
Oct 24, 2016
slug
bangsa-yang-dikhianati-soeharto-bukan-pahlawan-nasional
status
Published
tags
Artikel
summary
Harum kopi kental Gayo mengurung ruang belajar, dan Symon baru saja membuka layar televisi tabungnya, berita pagi pun merangsek bersama harum kopi ke dalam otakku dengan cepat.
type
Post
Property
Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi, dan kekejaman, dan menikmatinya sepenuhnya. (Trotsky) [ Che Gove ]
Harum kopi kental Gayo mengurung ruang belajar, dan Symon baru saja membuka layar televisi tabungnya, berita pagi pun merangsek bersama harum kopi ke dalam otakku dengan cepat. Aku dapat mendengar suara dari pembaca berita profesional yang mengabarkan Soeharto diusulkan naik gelar ke tahta pahlawan nasional. Bola mataku ganas menjemput nama Soeharto yang masuk menusuk-nusuk otak kecil. Aku marah, sebab kabar Soeharto yang datang telah memotong jam bahagia di minggu pagi, aku masih marah, dan Symon pun menukar tayang mencari sosok Doraemon yang dapat memperpanjang jam bahagiaku.
Bibir cangkir sudah terasa hangat dan Doraemon telah pamit dari layar televisi. Mata kami pun bergerak mampir ke tumpukan buku. Sambil membelai halaman Unfinished Nation, Symon bertanya, layakkah Soeharto naik gelar ke tahta pahlawan nasional?
Aku bertanya kepada Symon, “pernahkah kau medengar cerita pasien Indonesia yang pergi berobat ke Singapura?”, “Belum pernah”, jawab Symon.
Baik, begini ceritanya.
Suatu masa di bawah kontrol rejim Soeharto. Seorang pasien asal Indonesia pergi berobat ke Singapura, dia ditanya oleh dokter gigi, “kenapa anda jauh-jauh pergi berobat ke Singapura sementara di negara anda juga memiliki banyak dokter?” Si pasien malu-malu tapi jujur menjawab, “karena di negara kami, orang-orang dilarang buka mulut oleh Soeharto, Pak Dok”. Seketika serius Symon luntur dan dia berceloteh, “dasar Soeharto, penjagal demokrasi”.
Tiba-tiba angin selatan tergesa-gesa masuk lewat mulut jendela, kami melihat hujan lebat kupu-kupu di antara daun-daun yang menari sebelum jatuh menyentuh tanah, kami duduk menikmatinya sambil berdiskusi. Tapi aku sedikit kaget sebab, di atas gersangnya meja makan, satu batalyon semut merah bergerak mengepung gumuk gula pasir. Mereka tidak tahu kalau mereka sedang mencuri nilai guna dari toples Symon. “Hey, Symon tengok sini, mereka sangat kompak membawa pergi beberapa biji gula tanpa seijin kamu. Apakah mereka bekerja untuk Soeharto?” Symon bergurau. “Tidak, mereka adalah tentara-tentara merah yang bekerja untuk menghidupi keluarga mereka”, jawabku. “Haha”, kami tertawa bahagia.
“Symon, seumpama rakyat, maka semut-semut itu adalah rakyat Indonesia yang sedang bersatu padu membangun masa depan negeri. Mereka bersama-sama menjahit dan memobilisasi kekuatan memenuhi kehidupan ekonomi bangsanya. Pemimpin-pemimpin mereka memiliki cita-cita di hari depan untuk bangsa Indonesia yang lebih bermartabat.
Namun nasib malang menghancurkan cita-cita mereka, sekitar lima puluh tahun silam ketika fajar pertama terbit di bulan Oktober, datang seorang kurawa yang murah senyum, dia mencuri semua manis-manis gula dari toples orang-orang baik seperti kau, Symon. Dia membunuh semut-semut merah itu tanpa ampun, mengusir mereka dari rumah dengan paksa, dan membuang mereka ke tempat yang jauh dari keluarga tanpa buku dan radio. Bukan hanya itu, dia juga pandai menanam fitnah ke hati orang-orang Indonesia”.
“Menanam fitnah apa?”, tanya Symon sangat serius.
“Symon, Soeharto telah menghancurkan seluruh cita-cita masa depan bangsa Indonesia. Fitnahnya lebih kejam dari kutukan Malin Kundang. Dengan buku, film, koran, dia menebar kebencian sampai ke dapur orang-orang Indonesia. Setiap pagi, sore, dan malam, telinga mereka diteror oleh Soeharto. Mereka takut, mereka intoleran terhadap semut-semut merah yang baik hati itu. Symon, pernah kau mendengar cerita pejuang Gerwani menari-nari telanjang di depan Jendral? Pernah kau mendengar istrimu adalah isriku bagi orang PKI? Atau orang-orang PKI adalah atheis? Itu semua fitnah. Fitnah itu telah membantai lebih dari satu juta nyawa rakyat Indonesia”.
“Mau kopi?” tanya Symon.
“Setelah merebut tahta kekuasaan dari tangan Soekarno, saat itulah Soeharto melancarkan penghianatan besar-besaran terhadap bangsa Indonesia. Memfitnah PKI di dalam buku-buku sejarah, membohongi rakyat dengan film dan koran-koran tentara. Coba kau lihat saat ini, sastra Indonesia adalah sastra yang membenci PKI, sastra yang kosong dari kebaikan cita-cita pemimpin-pemimpin PKI, sastra yang menghasilkan manusia-manusia baru Indonesia yang phobia PKI”.
“Jadi, bagaimana menurutmu Symon, apakah Soeharto layak mendapatkan gelar tahta pahlawan nasional?”
“Tidak layak sama sekali, Soeharto telah menghianati bangsa Indonesia”, jawab Symon.
Kopi kami pun sudah surut sampai ke tepi ampasnya. Tapi Symon masih semangat membaca sebuah pesan dari Trotsky, “Biarlah generasi masa depan membersihkannya dari semua yang jahat, opresi, dan kekejaman, dan menikmati sepenuhnya”.
“Benar, harus menjadi tanggung jawab angkatan muda sebagai generasi masa depan membereskan bangsa Indonesia dari pengaruh rejim Soeharto. Itulah tanggung jawab generasi kita saat ini”, jelas Symon.
(Bersambung)
 

© PEMBEBASAN 2010 - 2024