SHARE
©Suara.com

Oleh Abdy Molly’s

 

Akumulasi Kapital Mempercepat Datangnya Bencana

Pasca gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Sulteng, anasir-anasir mengenai struktur patahan Sesar Palu-Koro menjadi pembahasan serius dalam setiap pertemuan relawan, pemerintah, CSO, dsb, untuk merencanakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sulawesi Tengah ke depannya. Tapi adakah dalam setiap pertemuan tersebut pembahasa serius terkait kepungan investasi berbasis sumber daya alam yang juga sangat membahayakan warga Sulteng dan berkemungkinan ke depan mempercepat datangnya bencana?

Dalam teori ekonomi-politik, secara linear belenggu sistem kapitalisme mengharuskan aktivitas produksi bertujuan untuk memaksimalkan profit. Untuk melakukan produksi tentunya membutuhkan bahan mentah yang akan dikelola. Bahan mentah diambil dari mana? Pastinya diambil dari alam yang dieksploitasi terus-menerus. Sebab bertujuan memaksimalkan akumulasi, suatu korporasi kapitalistik sama sekali tidak memikirkan produksi yang sesuai kebutuhan apalagi memikirkan untuk memperbarui alam.

Terkait penjelasan di atas, Friedrich Engels mengatakan, “Namun demikian, janganlah kita jumawa akan kemenangan manusia atas alam. Karena untuk setiap kemenangan seperti itu alam akan membalasnya kepada kita. Memang, setiap kemenangan pada saat pertama membawa hasil-hasil yang kita inginkan, tetapi pada saat kedua dan ketiga dampak-dampak berbeda yang tak terduga terlalu sering menghapus yang pertama.”

Penjelasan Engels tersebut sangat membantu untuk mengingatkan kepada seluruh penduduk bumi manusia bahwa kemerosotan kondisi lingkungan hidup akibat eksploitasi alam dapat mendatangkan malapetaka-malapetaka baru.

Hal yang paling nyata dari konsekuensi kemajuan teknologi di era kapitalisme kontemporer adalah kini penghuni bumi lebih banyak dan memiliki teknologi yang sanggup dengan cepat menciptakan kerusakan lebih besar. Kerusakan yang telah ditimbulkan tidak hanya mengakibatkan kemerosotan ekologi di tingkat lokal dan regional, tapi juga berkonsekuensi pada lingkungan skala bumi, mengancam kehidupan seluruh penghuni di seantero bumi, termasuk diri kita sendiri.

Ada beberapa ambang batas dari krisis ekologi di bumi ini, yang telah menjadi perhatian serius. Di antaranya: perubahan iklim, pengasaman air laut, penipisan ozon, batas aliran biogeokimia (siklus nitrogen dan fosfor), penggunaan air bersih global, perubahan pemanfaatan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, pelepasan aerosol ke atmosfer, dan polusi kimia. Kendati demikian, bentuk kerusakan ekologi yang paling masif dan menjadi ancaman besar diakibatkan oleh perubahan iklim. Peningkatan penggunan energi fosil (emisi karbondioksida, nitrogen oksida, dll) oleh korporasi, berbuntut pada destabilisasi iklim dunia.

Jika hal di atas tidak segera diminimalisir, implikasinya penghuni bumi akan merasakan bahwa setiap dekade cuaca lebih panas daripada sebelumnya. Tahun 2010 dan 2005 menjadi tahun terpanas dalam 131 tahun, sejak adanya alat pencatat temperatur global diciptakan manusia. Tanda-tanda perubahan iklim sudah mulai kelihatan, di antaranya: 1. Melelehnya es Samudra Arktik selama musim panas, mengurangi pantulan balik sinar matahari, dan dengan begitu meningkatkan pemanasan global; 2. Kenaikan permukaan air laut dengan rata-rata 1,7 mm/tahun sejak 1875, tetapi sejak 1993 menjadi rata-rata 3 mm/tahun, atau lebih dari satu inci per dekade, dengan prospek laju kenaikan bisa lebih tinggi lagi; 3. Peluruhan cepat gunung-gunung es (glasier) di dunia, banyak di antaranya akan hilang pada abad ini, jika emisi gas rumah kaca tetap berlangsung seperti biasanya; 4. Pemanasan samudra, ketika sekitar 90 persen panas muka bumi terakumulasi; 5. Kekeringan mencekam, yang berpeluang meluas hingga mencapai 70 persen area daratan dalam beberapa dekade ini bila tak ada perubahan yang diberlakukan: 6. Suhu musim dingin dan musim panas lebih tinggi dari biasanya dan telah mengganggu ekosistem regional; 7. Dampak negatif pada hasil panen akibat kenaikan suhu global rata-rata; 8. Punahnya spesies akibat perubahan cepat pada zona-zona iklim atau daerah “isotermal”, daerah yang punya suhu rata-rata tetap dan menjadi tempat spesies-spesies tertentu beradaptasi.

Sistem Kapitalisme sangat jauh dari kata netral. Sebab watak eksploitatif yang intrinsik di dalamnya. Oleh karenanya, pilihannya hanya ada satu, mengharuskan eksploitasi alam. Kapitalisme menyebabkan hilangnya interelasi dengan alam, sesama manusia, dan masyarakat. Budaya konsumsi dan individualisme yang ditumbuhkan oleh sistem ini membuat orang-orang kehilangan hubungan dengan alam—sesuatu yang dipandang terutama sebagai sumber material untuk perluasan eksploitasi atas nama manusia dan masyarakat lainnya.

Kapitalisme  senantiasa mendukung teknologi tertentu untuk memperbesar profit, akumulasi, dan pertumbuhan ekonomi. Dan jelas kapitalisme punya riwayat menggencarkan teknologi yang paling merusak lingkungan: ketergantungan pada bahan bakar fosil, bahan kimia sintesis yang beracun, energi nuklir, bendungan-bendungan raksasa, dll. Dalam ketergesaannya untuk berekspansi, kapitalisme secara sistematis melahirkan teknologi-teknologi penghasil limbah dalam jumlah besar—sejauh biayanya dapat dieksternalisasikan ke alam dan masyarakat, dan bukan ditanggung industri itu sendiri. Karena teknologi bertujuan memuaskan pertumbuhan, kapitalisme cenderung memilih teknologi-teknologi yang memaksimalkan asupan sumber daya dan energi secara keseluruhan demi menggenjot keluaran ekonomi secara keseluruhan.

“Obsesi akan akumulasi kapital inilah yang membedakan kapitalisme dari sekadar sebuah sistem untuk memenuhi kebutuhan manusia, sebagaimana yang digambarkan dalam teori ekonomi arus utama. Dan sistem yang digerakkan oleh akumulasi kapital adalah sistem yang takkan pernah berhenti, selalu berubah, mengadopsi yang baru dan membuang metode produksi dan distribusi lama, membuka teritori-teritori baru, menundukkan masyarakat yang terlalu lemah untuk melindungi diri mereka sendiri. Terperangkap dalam proses inovasi dan ekspansi tiada henti. Sistem ini akan melibas bahkan pihak-pihak yang diuntungkan darinya sendiri jika mereka menghalangi jalan atau tertinggal. Terkait dengan lingkungan alam, kapitalisme melihatnya bukan sebagai sesuatu yang disyukuri atau dinikmati tapi sebagai sarana bagi tujuan mencetak laba dan akumulasi kapital yang lebih besar lagi.” —Paul M. Sweezy

Bagaimanapun juga persoalan lingkungan secara keseluruhan bukanlah hasil dari keserakahan bawaan. Persisnya karena penghancuran ekologis tercakup di dalam hakikat dan logika bawaan sistem produksi dan distribusi kita saat inilah yang menjadi sulit diakhiri. Jika sebuah sistem dapat dibuat untuk mendorong kesetaraan dan bertujuan untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi setiap orang, lebih dari masuk akal bahwa hal itu bisa dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan.

Sebaliknya, jika sebagian penduduk dunia hidup dengan konsumsi tinggi dan padat komoditas—niscaya “bencana” baru akan datang. Solusinya bukan dengan menghalang-halangi negara miskin melaksanakan pembangunan, tetapi mendesak negara kaya agar meninggalkan sistem yang diarahkan untuk kekayaan dan akumulasi. Watak inilah yang dimaksud dengan perlawanan terhadap logika kapitalisme sebagai sistem.**

 

Referensi

Fred Magdoff & John Bellamy Foster. 2018. Lingkungan Hidup Dan Kapitalisme, Sebuah Pengantar. Tangerang: Marjin Kiri.

David Goldblatt. 2015. Analisa Ekologi Kritis, Degradasi dan Politik Lingkungan Menurut Andre Gorz, Anthony Giddens, Jurgen Habermas, dan Ulrich Beck. Yogyakarta: Resist Book.

Hendri F Isnaeni. “Sejarah Gempa dan Tsunami di Donggala Sulawesi Tengah”. Historia.id. 29 September 2018.

Syarifah Latowa. “Ada Pelanggaran Administrasi pada Reklamasi Teluk Palu. Apakah Itu?”. Mongabay.com. 15 November 2018.

Christopel Paino. “Reklamasi Teluk Palu Dinilai Cacat Hukum”. Mongabay.com. 5 Maret 2014.

Siaran Pers Jaringan Anti Tambang (Jatam). “Peningkatan Status IUP PT CPM Abai terhadap Dugaan Pencemaran Merkuri dan Sianida”. Jatam.org. 20 Desember 2018.

Data tahun 2012 Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Badan Geologi Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan melalui Penyelidikan Geologi Teknik Potensi Likuifaksi Daerah Palu (Provinsi Sulawesi Tengah).

Palm Oil Analytics tahun 2017. “Essential Palm Oil Statistics 2017”.

“Abaikan Putusan MA, PLTU Panau Kembali Didatangi Warga”. RadarSultengOnline.com. 19 Januari 2018.

“Tuntut PLTU Panau Ditutup, Warga Tawaeli Blokir Jalan Trans Sulawesi”. SultengRaya.com. 23 Januari 2018.

“Reklamasi Pantai Talise Melanggar Hukum”. WalhiSultengNews.wordpress.com. 30 Juli 2015.

“Reklamasi Teluk Palu Tetap Jalan Meski Dapat Peringatan Ombudsman. Mengapa Begitu?”. WalhiSultengNews.wordpress.com. 30 Juni 2015.

 “Lima Kilogram Merkuri Diamankan di Tambang Palu”. Republika.co.id. 25 Desember 2017.

Database Walhi Sulawesi Tengah. “Problem Perkebunan Sawit di Sulteng”.

Database Walhi Sulawesi Tengah. “Data Lembar Fakta Masyarakat Panau 2018”.

Leave a Reply