SHARE
Lukisan Massacre of the Innocents (1611-1612) karya Peter Paul Rubens.

Sebuah Catatan Kemanusiaan Tahun 1965

Oleh Rudhy Pravda*

Tuhan memang tak adil,
Karena nyawa manusia dicabut oleh malaikat bersenjata,
Membiarkan kegembiraan, penghancuran, mengalahkan pertimbangan–kemanusiaan apa pun.

Soeharto naik takhta:
Banjir darah,
Kepala-kepala dipenggal,
Penjara jadi rumah.
Tanpa makan, tanpa minum,
Tanpa pengadilan,
Lalu mati saat kuburan massal sudah disiapkan.

Puluhan ribu bahkan jutaan manusia,
Digiring ke tempat barisan maut,
Bunyi senjata sesuai kesalahan yang dibohongi.
Ada yang mati saat lapar,
Ada yang mati saat siksa,
Ada yang mati karena dimatikan,
Kuburan tak saja milik orang saat mati,
Tetapi yang hidup harus ditutup mata–lalu mengubur tanpa manusiawi.

Seperti dalam catatan bertajuk “Ketika Suatu Bangsa Mengamuk”, CL Sulzberger!

Tak mengejutkan, karena bangsa yang sedang mabuk pembunuhan,
Menghilangkan campur tangan tentara
Bertanggung jawab, atas segala nikmat pembunuhan
Kuasa menjarah-rayah gudang-gudang simpanan
Demi kuasa, demi takhta, demi modal jadi pahlawan
Rakyat dianggap sebagai dalang pembunuh, karena amarah sedang disudut ancaman, lalu tentara mendukungnya untuk penghabisan

Soeharto naik takhta:
Orang-orang asing digiring percaya,
Bahwa pembunuhan berdarah massal adalah ledakan tiba-tiba, tanpa nalar–dan penuh dendam kesumat hasil buah panen penipuan, dan hasutan hasrat kekuasaan senjata.
Tentang kehidupan murah-meriah;
Banjir darah adalah alas materialnya keyakinan.
Bahwa bangsa Indonesia ciri Melayu yang ganjil,
Tabiat haus darah, membabi buta, dalam maknanya adalah amok
Ungkapan dangkal, tentang Bangsa Indonesia yang primadona dan eksotik:
Tidak ada di mana pun selain di pulau-pulau yang misterius nan elok ini,
Peristiwa-peristiwa dapat meledak selaju meteor menembus Bumi Manusia!
Tak terduga begitu kejam.
Diwarnai dengan fanatisme–haus darah, juga tancap makna semacam sihir dan santet.

Inilah kebohongan sejarah?
Pembusukan moral,
Dan modal bagi rakyat dan bangsanya dibodohkan,
Kekerasan itu tidak ada keterlibatan militer;
Melainkan timbul dari sepenuhnya amukan rakyat.
Pembantaian gila-gilaan di Bali, Salatiga, dan daerah lainnya menjadi sasaran pemusnahan,
Merupakan “Pesta Pora Kebengisan”, menjadi histeria massal ratusan ribu umat tak bersalah dibunuh tanpa alasan!

Pelajaran moral, yang terus dirantai makanan jiwa bangsa Indonesia:
Satu hidangan siap saji dalam bentuk aksi kenaikan pangkat kuasa,
Ia, bangsa Indonesia adalah bangsa primitif belaka,
Tak bisa disalahkan juga disangsikan,
Bahwa hal pelanggaran hak-hak asasi manusia karena mereka belum cukup beradab untuk dipandang sebagai manusia dewasa.
Balasan dendam dijadikan senjata pemusnahan,
Dari sebab-musabab cerita dewasa orang-orang zalim.
Liar dan tak pandang bulu,
Bagi dunia manusia saling membuas antara sesama,
Di tengah ketiadaan rasa kemanusiaan,
Fakta kuasa dan senjata, disodorkan peluru emosional dan psikologis menjadi gelombang siap mengamuk.

Memang lazimnya, dan tak sejumput pun akan diakuinya:
Sebagai pembunuh, ia tak akan mengakui dan mengejutkan dunia waras kalau ia telah membunuh secara publik.
Itulah kebiadaban bangsa Indonesia dalam sejarahnya,
Resiko bangsa yang pernah menjadi biadab dalam sejarah.
Adalah tidak adil, jika apa yang telah dikehendaki dari tangan haus pembunuhan penuh darah, dan dosa sejarah akan diakuinya sebagai “Segenap Dunia Berakal”.

Sampai pada pengakuan, jujurnya sejarah bahwa bangsa Indonesia telah mengakui kebenaran telah melakukan sesuatu yang salah.
Sebagai bangsa yang dapat menjelaskan siapa yang menjadi dalang pertumpahan darah, pembunuhan, pembasmian, pembusukan moral, juga pertanggungjawaban. Siapakah yang mendapat untung setidaknya untuk pribadi, kesenangan hati, duniawi, kuasa dan maha takhta.

Siapakah yang akan bertanya kembali?
Malapetaka kemanusiaan ini?
Siapakah yang akan menutup mata saatnya sudah ada kesempatan/peluang dibicarakan, bersatu menjadi tugas perjuangan?
Siapakah yang akan menghukum penjagal yang telah mati?
Sedang masih subur kuasa warisan penggelapan sejarah, tempatnya begundal kroni Soeharto dan militerisme masih apik tak terkalahkan saat ini.

“SIAPAKAH YANG TAK MENGUTUK ORBA DAN AKTOR PEMBUNUHAN ITU, BAHKAN MENGUTUK MILITERISME DAN BAHAYANYA ANCAMAN HIDUP DEMOKRASI BANGSA INI.” (Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, John Roosa)


* Penulis adalah anggota Pembebasan Kolektif Kota Ternate

Leave a Reply