SHARE
1463300876660
Foto: Adityawarman

 

 

Dayeuh Kolot, Bandung – Mahasiswa, dosen, aktivis dan warga tampak antusias untuk mengikuti acara nonton bareng dan diskusi film dokumenter “Rayuan Pulau Palsu” di Universitas Telkom kemarin(12/5).

Acara tersebut diselenggarakan atas inisiatif Prima Hidayat, mahasiswa Universitas Telkom yang juga seorang aktivis, dan bekerja sama dengan beberapa organisasi dan komunitas yaitu Lokatara, Perimatrik, Suku Badot dan Perpustakaan Apresiasi. Penyelenggara juga mengundang Syarif Maulana, dosen filsafat komunikasi dari Fakultas Komunikasi Bisnis dan Yoga dari komunitas Suku Badot yang aktif bergerak dalam bidang lingkungan sebagai pemantik diskusi.

Agung Tri Yuono, salah satu panitia penyelenggara, sebelum memulai sesi pemutaran film mengatakan bahwa “acara ini kita selenggarakan untuk memberikan pemahaman pada kita terkait reklamasi, yang sekarang sedang ramai diperdebatkan, apa-apa saja dampaknya, terhadap manusia, lingkungan, dan kehidupan. Maka itu, setelah film diputar, kita akan mengadakan diskusi, baik tentang filmnya, pun tentang reklamasinya.”

Rayuan Pulau Palsu adalah film dokumenter yang dibuat oleh rumah produksi WatchDoc, yang dipimpin oleh Dandhy Laksono. Film tersebut berkisah tentang nasib para warga dan nelayan tradisional di Muara Angke Jakarta setelah penimbunan untuk pulau buatan mulai dilakukan.

“Film dokumenter itu mestinya memang memihak. Daripada netral, lebih baik langsung tegas menunjukkan keberpihakan,” ungkap Syarif membuka diskusi. “Dalam paradigma kritis, ada cara-cara untuk melihat sejarah. Apakah memakai perspektif penguasa, atau orang-orang kecil? Film ini adalah bentuk implementasi dari history from below. Yang dihadapkan pada kita sebagai penonton, memang lebih banyak adalah perasaan masyarakat dan nelayan yang terdampak,” lanjut Syarif.

1463300870910

Senada dengan Syarif, Yoga juga berpendapat bahwa jurnalistik itu memang memihak, tapi juga mesti tetap obyektif dan tidak manipulatif. Selanjutnya, ia membicarakan tentang kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu yang sekarang sedang ramai diperbincangkan, seperti penambangan karst, pembangunan industri ekstraktif secara masif, reklamasi, dan pembukaan lahan seperti di Papua.

“Itu, kan, bukan problem mahasiswa, tapi problem nelayan. Tapi toh di sini, di kampus Telkom, mahasiswanya sudah mulai tergerak, setidaknya sudah mulai membuka ruang-ruang diskusi. Itu adalah hal yang baik, juga menandakan kemajuan,” kata Yoga.

Mustafa, sineas dari Sebelas Sinema yang juga hadir dalam diskusi memberi kritikan terhadap film Rayuan Pulau Palsu. “Film ini, dengan tujuannya yang seperti itu, akan lebih baik lagi jika ditambah dengan data-data. Misalnya, data-data anggaran, atau berapa jumlah orang yang dirugikan oleh proyek reklamasi itu, berapa kerugian yang dialami, dan sebagainya. Secara teknis, mestinya nama-nama narasumber juga dicantumkan supaya penonton jelas siapa dia dan bertindak sebagai apa. Ini menurut saya seperti film yang masih setengah jadi. Dengan waktu penggarapan sepanjang itu, saya kira masih bisa lebih baik lagi.”

Acara diskusi secara resmi diakhiri oleh panitia pada pukul 21.30 WIB. Akan tetapi, beberapa peserta masih bersemangat dan melanjutkan diskusi dan berbincang tentang rekalamasi.(Ed.AW)

Leave a Reply