SHARE
Kampanye solidaritas Kawan-kawan Pembebasan KK Bandung yang tergabung dalam Komite Solidaritas untuk Venezuela (KSV) bersama FMN Bandung Raya, APB, dan Kolektif Angin Malam. Mereka menggelar mimbar bebas, teatrikal, dan pembakaran simbol imperialisme AS di depan Citibank Bandung Jl. Asia-Afrika, Bandung.

Pernyataan Sikap Komite Solidaritas untuk Venezuela (KSV)

Hentikan Intervensi Imperialis Amerika Serikat!
Pertahankan Revolusi Bolivaria!

 

Revolusi Bolivaria telah berlangsung di Venezuela selama dua dekade. Sejak Hugo Chávez menjadi presiden pada 1999 hingga kini dilanjutkan penerusnya yang dipilih rakyat secara demokratis, Nicolás Maduro. Selama dua dekade itu pula berbagai perubahan mendasar dilakukan Pemerintah Bolivaria Venezuela demi memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial rakyat Venezuela, serta demi terwujudnya masyarakat yang adil, setara, bermartabat, serta demokratis.

Berbagai hasil positif telah mereka capai. Rakyat miskin diberi peluang untuk mengakses kebutuhan dan sarana kehidupan mendasar. Di antaranya: pendidikan publik dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi dibuka seluas-luasnya secara gratis, sehingga pada tahun 2005 negaranya berhasil terbebas dari buta huruf; pelayanan kesehatan dapat diakses orang-orang miskin lewat program Barrio Adentro (kerja sama dengan Kuba), yang mana pemerintah mendirikan puluhan ribu klinik Barrio Adentro tahun 2003 dan 160 rumah sakit baru di seantero negeri pada tahun 2005; transportasi publik bisa diakses dengan biaya yang amat murah, bahkan gratis di hari-hari tertentu; listrik pun disubsidi dengan harga yang murah.

Bukan hanya itu, proyek Revolusi Bolivaria juga berhasil mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Sekita 2,6 juta perumahan dibangun untuk keluarga kelas pekerja, serta mensubsidi makanan bagi enam juta keluarga, empat juta pensiunan, dan 100% penduduk yang ada di masa pensiun. Revolusi Bolivaria telah berupaya menerapkan demokrasi partisipatif dan protagonis. Rakyat dilibatkan dalam penentuan serta pelaksanaan kebijakan. Terdapat 43.000 dewan komune yang masyarakatnya terlibat dan bertanggung jawab atas pengelolaan masalah-masalah mendasar seperti jalan, air, listrik, gas, kebudayaan, serta sarana olahraga, kesehatan, dan pendidikan. Terdapat pula 3000 komune yang tengah berusaha melaksanakan swa-pemerintahan  (self-government) demi mengelola kekayaan alam bersama secara progresif.

Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan yang terjadi di Indonesia. Dalam menentukan masa depan dan martabatnya, rakyat Indonesia hanya “dilibatkan” sekali selama lima tahun. Itu pun hanya “dimanfaatkan” suaranya. Karena setelah itu, nasib rakyat ada tangan orang-orang yang tak sungguh-sungguh mereka kenal yang duduk di Senayan dan kantor-kantor DPRD.

Di dunia internasional, Venezuela aktif membantu perekonomian negara-negara Dunia Ketiga. Pada negara-negara di Amerika Tengah dan Karibia, misalnya, Venezuela memberi bantuan subsidi minyak. Venezuela pun merangkul Kuba yang telah lama diisolasi AS, menganjurkan kemandirian politik di Amerika Latin, serta tak kenal lelah bersolidaritas dan mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Aneka kebijakan dan perubahan dalam Revolusi Bolivaria itu bukan tanpa biaya. Pemerintah Bolivaria mendedikasikan 75% anggaran belanja nasionalnya untuk investasi sosial dan mensubsidi kebutuhan rakyat. Mayoritas anggaran itu mereka dapatkan dari hasil produksi dan penjualan minyak bumi, kekayaan alam utama Venezuela, yang dikelola perusahaan minyak negara (PDVSA).

Venezuela memang diakui dunia sebagai negara yang kaya minyak. Di samping memiliki area tangkapan air yang luas dan keragaman hayati, cadangan minyak Venezuela adalah yang terbesar di dunia (302 miliar barel), lebih besar dari Arab Saudi dan negeri-negeri di Timur Tengah. Cadangan minyak yang besar itulah yang membuat korporasi-korporasi multinasional, yang ada di balik imperialisme Amerika Serikat, terus merongrong dan berusaha menggulingkan pemerintahan Nicolás Maduro hingga hari. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari rentetan kudeta (sejak tahun 2002), terorisme, sabotase dalam negeri  (seperti penimbunan, penyelundupan barang-barang, pemadaman listrik seluruh negeri [Maret 2019]), sanksi dan blokade ekonomi (sejak tahun 2015), hingga ancaman agresi militer (Februari 2019).

Harga minyak yang anjlok (akibat persekongkolan Arab Saudi dan Amerika Serikat) serta blokade ekonomi sejak 2015, membuat pemerintah dan rakyat Venezuela hidup dalam keadaan yang sulit. Pemerintah kesulitan mengimpor bahan pokok, peralatan medis, serta obat-obatan. Sehingga kelangkaan dan kekurangan bahan-bahan pokok itu menimbulkan penjarahan di beberapa tempat serta keresahan dan kekecewaan rakyat pada pemerintah.

Kondisi tersebut dimanfaatkan dan digambarkan kelompok oposisi—yang terdiri dari kapitalis dan oligarki dalam negeri—serta korporasi media massa Barat sebagai “krisis kemanusiaan”. Setelah berbagai kerusuhan, provokasi, dan pembunuhan oleh Guarimbas—perusuh jalanan yang secara rahasia dilatih dan dipersenjatai oposisi—terhadap orang-orang berlatar belakang kelas pekerja dan kulit berwarna, Juan Guaido dari oposisi mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara. Seketika negara-negara imperialis dan beberapa negara Amerika Latin yang berada di bawah pengaruh AS, mengakui Guaido sebagai presiden Venezuela.

Di balik kedok “demokrasi dan HAM”, Guaido dan AS terus melancarkan serangan untuk memukul mundur Revolusi Bolivaria. Bahkan Guaido (pada Grup Lima) dan AS (pada Dewan Keamanan PBB) mengajukan proposal agar persoalan Venezuela diselesaikan dengan cara intervensi militer. Cara tersebut jelas sangat berbahaya karena akan membuat rakyat Venezuela semakin menderita akibat perang.  Tujuan dari semua itu adalah menggulingkan Pemerintah Bolivaria, sehingga kapitalisme dapat menjarah dan mengontrol kekayaan alam Venezuela secara langsung, mengembalikan hegemoni imperialisme AS di Venezuela, dan membenamkan capaian-capaian positif Revolusi Bolivaria.

Intervensionisme ala Amerika Serikat tersebut bukanlah hal yang baru. Dalam satu dekade terakhir, rakyat Irak, Palestina, Afghanistan, Libia, Yaman, Republik Demokratik Kongo, dan Suriah, telah menderita dan menjadi saksi kebiadaban intervensi (militer) AS. Bahkan Indonesia sendiri pernah menjadi korbannya pada dekade 1960-an. Pada 1990-an dan dekade awal abad ke-21, AS mengobrak-abrik Amerika Latin dan berhasil menempatkan boneka-bonekanya di Cile, Argentina, Kolombia, Honduras, Ekuador, dan, yang terbaru, Brasil.

Setiap pemerintahan bervisi alternatif dan kiri, senantiasa jadi sasaran agresi imperialisme AS untuk mengatasi krisis dalam tubuh kapitalisme. Kini Venezuela ada baris depan perjuangan melawan imperialisme AS. Kita harus mendukung Venezuela, sebab kekalahan Venezuela berarti perjuangan rakyat sedunia mewujudkan perdamaian dan tatanan sosial alternatif akan menjadi semakin sulit.

Dalam momen Hari Solidaritas Global untuk Venezuela ini, kami Komite Solidaritas untuk Venezuela menyatakan:

  1. Menentang intervensi imperialisme Amerika Serikat di Venezuela
  2. Menuntut agar Amerika Serikat segera menghentikan blokade dan perang ekonomi di Venezuela
  3. Menyerukan kepada media massa Indonesia agar tidak turut menyebarkan berita bohong (fake news) yang dipropagandakan secara masif dan sistematis oleh korporasi media massa imperialis
  4. Mendukung rakyat Venezuela yang bertahan melawan intervensi AS dan sabotase oposisi kanan
  5. Mendesak Pemerintah RI agar berposisi menolak intervensi AS di Venezuela, dan mendukung Pemerintahan Maduro untuk mengatasi krisis politik secara demokratis dan beradab
  6. Mengajak rakyat Indonesia untuk peduli dan bersolidaritas terhadap perjuangan rakyat Venezuela melawan intervensi imperialisme AS dan sekutunya

Panjang umur Revolusi Bolivaria!
Panjang umur solidaritas internasional!

Medan Juang, 18 Maret 2019
Komite Solidaritas untuk Venezuela (KSV)

 

Leave a Reply