SHARE
Mahasiswa bentrok dengan polisi huru-hara saat demonstrasi menuntut perubahan sistem pendidikan di Santiago, Chili, 11 Mei 2016. Sumber: Telesurtv.net.

Oleh James Petras

 

Dalam periode waktu yang berbeda, perjuangan kelas dari bawah telah mengambil bentuk dan arah yang berbeda di berbagai negeri, dengan intensitas yang lebih besar atau lebih kecil.

Secara umum, negeri-negeri dengan tingkat urbanisasi dan industrialisasi yang relatif tinggi mengalami perjuangan perkotaan (urban) terbesar dan berpusat di perkotaan. Sebagaimana terjadi di Argentina, Venezuela, dan Chili, kecuali di Brasil dan Meksiko.

Di antara perjuangan kelas yang berbasis di perkotaan, terdapat hal mencolok antara perjuangan kelas “berbasis pabrik” (factory-based)—yang mengandalkan pemogokan kaum buruh (Argentina)—dan aksi massa berbentuk pawai atau arak-arakan (Venezuela dan Chili).

Perjuangan kelas berbasis masyarakat perkotaan bersandar pada koalisi kelas sosial yang beragam, dengan segmen kelas bawah (popular) yang berbeda. Contohnya, di Argentina: para pensiunan, kelompok pegiat HAM, serta rakyat dengan usaha kecil dan menengah, terlibat dalam perjuangan kelas dengan masalah yang beragam. Mulai dari melonjaknya angka pengangguran, pengurangan upah dan dana pensiun, serta “kenaikan astronomis[1] pada tarif utilitas[2].”

Di Chili, justru sebaliknya; perjuangan massa di Chili melibatkan masyarakat adat, mahasiswa, pelajar SMA, dan masyarakat umum yang berbasis pada gerakan serikat tenaga pengajar dan tenaga medis.

Perjuangan kelas masyarakat urban Venezuela, sebagian besar, didasarkan pada mobilisasi untuk mendukung pemerintah, berikut program-program kesejahteraan sosialnya, dan sebagai bentuk perlawanan terhadap kudeta yang didukung oleh Amerika Serikat.

Sejak beberapa dekade lalu, perjuangan kelas di Brasil, yang sangat urban, dipimpin oleh gerakan rakyat tak bertanah (MST, Movimento dos trabalhadores rurais sem terra). Sampai-sampai perjuangan masyarakat urban di Brasil memainkan peran terhadap gerakan rakyat tunawisma (homeless) dan protes-protes atas pelayanan publik yang buruk. Kaum buruh industri perkotaan, yang menonjol pada tahun 1980-an dan 1990-an, telah dibelokkan menjadi gerakan yang meyeleraskan kepentingan kaum buruh dengan pengusaha (corporate relations) oleh politisi perkotaan dan partai buruh kiri-tengah.

Perjuangan kelas utama di Paraguay, Peru, dan Meksiko, membentuk gugus yang berbeda. Perjuangan kelas rakyat Paraguay umumnya dipimpin oleh gerakan kaum tani pedesaan, yang menuntut pelaksanaan reforma agraria dengan mengandalkan aksi langsung—pendudukan tanah dan pawai-pawai di ibukota provinsi dan negara. Pembagian kelas (baca: politik identitas) berdasarkan identitas etnik (kaum tani Paraguay, yang berbahasa Guarani, misalnya) telah menghambat solidaritas kelas. Hal demikian juga terjadi di Peru, antara petani Quechua dan Aymara.

Perjuangan kelas di Peru tersebar di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Inti dari perjuangan mereka adalah perjuangan kaum tani dan masyarakat pedesaan yang melawan perampasan tanah oleh konglomerasi tambang asing. Dalam perjuangan mereka itu, serikat pekerja tambang memainkan peran sebagai penolong yang baik. Perjuangan masyarakat di sana bersifat lokal tapi multi-sektoral. Isu eksploitasi (pengerukan) pertambangan, yang mencemarkan air, udara, tanah, dan makanan, juga melemahkan usaha perekonomian lokal—menyatukan kelas menengah dalam spektrum yang luas. Kelas pekerja perkotaan telah menawarkan dukungan simbolis, tapi kelas pekerja tersebut belum menjadi kekuatan protagonis[3] utama sejak 1970-an.

Meksiko adalah negara dengan variasi dan volume perjuangan kelas terbesar di Amerika Latin, tapi paling sedikit dampaknya pada tataran politik elit. Pangkal persoalan perjuangan kelas di Meksiko adalah perpecahan—di sana terjadi fragmentasi secara regional, sektoral, dan politik. Pemerintah Meksiko dan skuadron Narco-nya yang mematikan, terkenal jahat karena membunuhi oposisi yang basisnya adalah kelas sosial yang tengah tumbuh. Kasus yang paling mencolok adalah pembunuhan 43 mahasiswa fakultas guru pedesaan. Berbagai kelompok militan, termasuk para pekerja tambang, guru-guru Oaxaca, kaum tani di Guerrero, suku Indian di Chiapas, dan serikat buruh PLN, sering kali menjadi korban represi.

Dalam hal kesejahteraan sosial, perjuangan kelas di Venezuela telah begitu maju, walau sebagian besar berada di bawah arahan Hugo Chavez. Namun, negara yang amat bergantung pada perekonomian minyak dan kepemimpinan dari atas ke bawah itu, terhalang saat melancarkan transformasi sosial yang berkelanjutan.

Perjuangan reforma agraria yang paling maju terjadi di Brasil, ketika MST (gerakan pekerja tanpa tanah) mampu menduduki, mengubah, memproduksi, dan merumahkan lebih dari 300.000 keluarga di tanah perkebunan yang diambil alih selama dua dekade lebih. Kemajuan MST yang berkelanjutan itu tercermin dari organisasinya yang kohesif dan aliansi sosialnya yang luas di kalangan masyarakat sipil.

Kemajuan perjuangan kelas di Paraguay dan Peru telah menautkan masalah tanah, lingkungan, dan gerakan masyarakat adat dalam perjuangan yang terpadu dan agresif. Itu dilakukan untuk mengamankan manfaat tambahan (incremental gains), sehingga terhindar dari perampasan dan penindasan oleh blok oligarki penguasa lokal, perusahaan multinasional asing, dan para penasihat militer AS.

Serikat-serikat pekerja Argentina, yang besar di sektor industri, jasa, dan transportasi, telah berulang kali menunjukkan kapasitasnya. Mereka berhasil mengadakan rapat akbar pemogokan, menuntut upah dan kerja yang layak. Namun, struktur hierarkis dan kepemimpinan mereka yang birokratis, malah menjadi penghambat terjadinya perubahan struktural. Hanya saat krisis sistemik, tahun 2002-2003, gerakan pengangguran secara masif turun ke jalan dan menggulingkan serangkaian presiden, karena kala itu terjadi perjuangan yang serius untuk menuntut perubahan struktural.

Analisa yang sebanding, terkait studi kasus di tujuh negara tersebut, memperlihatkan mosaik sesungguhnya tentang persamaan dan perbedaan perjuangan kelas di Amerika Latin. Tempo dan intensitas perjuangan kelas telah berubah: pada saat krisis, terjadi gerak maju rakyat yang besar; dan di lain waktu, saat pembalikan ekonomi terjadi di bawah rezim elektoral kiri-tengah, kelas penguasa memimpin rezim kontra-reformasi. Dengan melihat kegagalan struktural kelas penguasa dan warisan perjuangan kelas bawah, maka dapat ditunjukkan bahwa kembalinya sayap kanan (dalam ajang politik dan kekuasaan—ed.) adalah lemah, tidak berkelanjutan, dan dapat digagalkan.

 

[1] Kenaikan tarif berdasarkan wilayah (menurut garis imajiner perbedaan geografis atronomi)—ed.

[2] Utilitas, dalam catatan pembukuan perusahaan atau usaha ekonomi, mengacu pada pembayaran untuk manfaat penggunaan listrik, telepon, internet, air dll—ed.

[3] Pihak yang berwatak baik dan benar.

*Artikel ini diterjemahkan dari “Overview of Class Struggle”, terbit di situs pribadi James Petras, petras.lahaine.org, pada 17 Oktober 2016, diterjemahkan oleh Nanang Kosim, anggota Pembebasan KK Bandung, diedit oleh Zubaidah Suryo.

**James Petras, profesor sosiologi di Binghamton University, New York. Ia menulis lebih dari 62 buku, yang telah diterbitkan dalam 29 bahasa. Ia juga menulis lebih dari 600 artikel di jurnal-jurnal profesional, termasuk American Sociological Review, British Journal of Sociology, Social Research, dan Journal of Peasant Studies. 2000 lebih artikel telah ia tulis dan tersebar di The New York Times, The Guardian, The Nation, Christian Science Monitor, Foreign Policy, New Left Review, Partisan Review, Temps Moderne, dan le Monde Diplomatique.

Leave a Reply