SHARE

Oleh Giovanni Arrighi

Konsep imperialisme diperkenalkan pada awal abad ke-20 untuk membahas secara teoritis dan praktis perkembangan ekonomi dunia kapitalis. Pemikiran sosialis dan liberal abad ke-19 mengasumsikan bahwa tatanan dunia perdagangan bebas yang dibentuk di bawah hegemoni Inggris di paruh pertama abad ke-19 masih ada, dan bahwa tatanan ini akan menguatkan tendensi ke arah penyerangan negara pesaing. Dalam dekade terakhir abad ke-19 terjadi pertarungan antar kekuatan besar yang berisiko menghancurkan pasar dunia.

Imperialisme pertama kali diperkenalkan oleh ahli ekonomi politik liberal (Hobson, 1902), tetapi dengan beberapa pengecualian (misalnya, Schumpeter, 1919). Pemikiran sosial liberal umumnya mengabaikan signifikansi gagasan ini. Pemikir sosialis yang berada dalam tradisi Marx, sebaliknya, menempatkan konsep ini di pusat analisis dan debat mereka. Alasannya cukup sederhana, perang teritorial antarnegara makin melemahkan solidaritas proletariat dunia dan mengombang-ambing berbagai komponennya dalam pertentangan nasional di dalam kekuasaan kelas penguasa. Karena alternatif prinsip internasionalisme proletarian tidak mendapat banyak dukungan, atau konstituennya justru meninggalkannya, maka para pemikir Marxis terpaksa mempertanyakan dominasi pasar dunia yang diasumsikan menyatu, dan mereka berusaha melakukan revisi besar atas teori dan doktrin yang sudah ada.

​Teori imperialisme Marxis difokuskan pada hubungan antara persatuan teritorial antarnegara dan perkembangan kapitalisme pada skala global. Teori-teori imperialisme Marxis, meski berbeda-beda, mempunyai satu tesis/hipotesis yang sama: Imperialisme adalah akibat dari perkembangan kapitalis dan ekspresi kedewasaan kapitalisme. Perbedaan pendapat terjadi dalam soal bagaimana dan mengapa perkembangan kapitalisme melahirkan imperialisme, apakah imperialisme adalah tahap perkembangan kapitalis ‘akhir’ atau bukan, dan apa konklusi politik yang harus diambil dari hipotesis hubungan antara kapitalisme dan imperialisme. Tetapi apapun perbedaan itu, dan ada konsensus bersama bahwa perang antarnegara adalah konsekuensi yang niscaya dari kematangan kapitalisme.

​Dari varian utama teori Marxis tentang imperialisme adalah teori dari Rudolf Hilferding (1913) dan Rosa Luxemburg (1913). Hilferding merunut imperialisme ke mutasi fundamental dalam proses akumulasi akibat tiga tendensi yang saling berkaitan: meningkatnya konsentrasi dan sentralisasi kapital; menyebarkan praktik monopoli; dan dominasi organik dari kapital industrial. Dikatakan bahwa pada tahap tertentu perkembangan itu terjadi peningkatan perseteruan antarnegara. Meski demikian, dengan memusatkan kontrol aparatus industrial di tangan segelintir institusi finansial, mereka juga menciptakan kondisi organisasional untuk pengambilalihan sosialis atau perekonomian nasional.

​Bertentangan dengan teori ini, Luxemburg memandang inkorporasi paksa atas rakyat dan teritori ke dalam proses akumulasi kapital merupakan ciri yang disebut belakangan di atas, berkaitan dengan usaha agen akumulasi kapital untuk mengatasi tendensi overproduksi yang kronis. Setelah kapitalis berkembang makin mendalam dan luas, tekanan untuk menggabungkan orang dan teritori semakin besar. Tetapi ketersediaan orang dan teritori yang belum dimasukkan makin berkurang. Imperialisme karenanya dianggap “sebagai ekspresi politik dari akumulasi kapital dan perjuangan kompetitif untuk mendapatkan lingkungan yang belum kapitalis” (Luxemburg, 1913).

​Debat politik awal abad ke-20 di antara sesama Marxis mengenai apa yang diharapkan dan apa yang mesti dilakukan di dalam situasi dunia sistemik yang diciptakan oleh perang teritorial antarnegara, berpusat pada teori Hilferding, dan tidak banyak memerhatikan teori Luxemburg. Posisi yang diambil Karl Kautsky (1913-14) dan Lenin (1916) dalam debat ini didasarkan pada teori Hilferding. Menurut Kautsky, tendensi bersama ke arah konsentrasi kapital, penyebaran politik-monopoli, dan dominasi keuangan atas kapital industri, dari waktu ke waktu, akan menimbulkan pergantian perseteruan teritorial, serta menyebabkan perkembangan dari apa yang dinamakannya ‘ultra-imperialisme‘. Hanya pada tahap kapitalisme ultra-imperialisme inilah akan tercapai kondisi optimal untuk transformasi dunia sosialis.

Menurut Lenin (1916), sebaliknya, tendensi yang sama ini tidak terjadi dalam ruang hampa politik. Tendensi ini akan berkembang ‘di bawah tekanan‘ dengan tempo tertentu, dengan kontradiksi, konflik dan ledakan-ledakan—bukan hanya di dalam perekonomian, tetapi juga di dalam politik, bangsa, dan sebagainya—yang sebelum kapital keuangan akan membentuk serikat ‘ultra-imperialisme‘ dunia, imperialisme akan meledak, kapitalisme akan berubah menjadi kebalikannya (Lenin, 1915, dalam pendahuluan dari Imperialism and World Economy-nya Bukharin). Hanya dengan intervensi aktif atas kontradiksi, konflik, dan ledakan inilah, Marxis dapat berharap mempertahankan dan mengembangkan konstituensi nasional dan memulai transformasi dunia sosialis.

​Kesuksesan strategi revolusi sosialis Lenin antara tahun 1917 dan 1949 oleh kaum Marxis umumnya dianggap bukti nyata bagi teori imperialisme yang berkaitan dengan strategi tersebut. Pada tingkat tertentu, ini adalah sudut pandang yang absah. Secara khusus, tidak banyak keraguan bahwa sepanjang paruh pertama abad ke-20, rekonseptualisasi Lenin atas teori imperialisme Hilferding memberikan pedoman yang lebih baik untuk langkah-langkah politik ketimbang konseptualisasi dan teorisasi lainnya. Akan tetapi, ini bukan berarti bahwa teori imperialisme Hilferding-Lenin menjelaskan secara akurat semua koneksi yang relevan antara kapitalisme dan imperialisme, atau bahwa teori itu relevan dan sekaligus valid seluruhnya saat diaplikasikan dalam perjuangan anti-imperialisme.

​Sebaliknya, evolusi dunia ekonomi kapitalis sejak Perang Dunia II menunjukkan keterbatasan historis dari teori imperialisme Hilferding-Lenin dan membuat seluruh pemikiran Marxis abad ke-20 menjadi tidak relevan untuk memahami sistem dunia yang sekarang, apalagi untuk mengubahnya. Ironisnya, meningkatnya irelevansi teori imperialisme Marxis di paruh kedua abad ke-20 ini setidaknya sebagian adalah akibat dari kesuksesan mereka dalam memandu tindakan politik pada paruh pertama abad ke-20. Seperti diprediksikan oleh Lenin, konflik antarnegara imperialis menciptakan kesempatan bagi gerakan sosialis dan gerakan kemerdekaan di seluruh dunia, dan di tahun-tahun setelah Perang Dunia II, kapitalisme dunia tampaknya akan ‘berubah menjadi sebaliknya’. Yang jelas, revolusi sosialis gagal untuk mengakar di pusat perkembangan kapitalis dunia sebagaimana diharapkan oleh Lenin dan sebagian besar Marxis pada awal abad ke-20. Namun, bahkan di pusat ini, kekuatan dan pengaruh organisasi pekerja pada akhir Perang Dunia II sangat besar.

​Dalam situasi ini, kapitalisme bertahan dengan menanggalkan jubah imperialisnya. Tendensi ke arah perseteruan teritorial antarnegara, yang memunculkan konsep imperialisme, di balik gelombang dekolonisasi yang diiringi dengan delegitimasi ekspansi teritorial dan rekonstruksi pasar dunia. Selanjutnya, menjadi jelas bahwa kapitalisme dunia dapat bertahan, dan berkembang, tanpa berhubungan dengan perseteruan teritorial di antara negara-negara utama kapitalis, yang diasumsikan oleh Marxis sebagai hasil yang tidak terelakkan dari perkembangan kapitalis.

​Kemampuan kapitalisme untuk mempertahankan imperialisme ini tidak diprediksi oleh Marxis. Bahkan prediksi Kautsky tentang tahap ultra-imperialisme dalam kapitalisme, yang mungkin hampir terwujud setelah Perang Dunia II, ternyata tidak terjadi, setidaknya seperti yang diprediksikan dalam perkiraan jalanya sejarah oleh Marxis. Yang terjadi setelah Perang Dunia II bukanlah jenis struktur yang terpusat dan monopolistik yang dibayangkan Kautsky, tetapi sebuah ekonomi dunia yang kompetitif. Yang lebih penting, entah itu ultra-imperialis entah bukan, dunia kapitalis yang dibangun di bawah hegemoni Amerika Serikat bukanlah hasil dari pengembangan akumulasi kapital saja. Ini adalah hasil dari 30 tahun konflik akut dan gejolak-gejolak revolusi sosial, yang tidak pernah diperkirakan oleh Karl Kautsky.

​Sesungguhnya teori imperialisme Marxis pada umumnya, dan teori yang paling berpengaruh di antaranya (yakni, Hilferding) pada khususnya), semuanya didasarkan pada pengalaman historis Jerman akhir abad ke-19, pada awal abad ke-20, dan memuat asumsi bahwa pengalaman itu adalah prototipe (model/contoh) dari kapitalisme akhir. Tetapi dalam kenyataannya, relevansi dan validitas analisis Hilferding atas kapital keuangan dan imperialisme hanya terbatas untuk Jerman dan negara Eropa lainnya dalam periode transisi dari hegemoni Inggris ke Amerika Serikat. Dapat dikatakan bahwa ia menjelaskan relasi kapitalisme dengan ekspansionisme teritorial dalam pengalaman kekuasaan hegemoni yang memudar (Inggris) atau bangkitnya kekuasaan hegemoni baru (Amerika Serikat).

​Dari sudut pandang ini, analisis atas/tentang imperialisme dari J.A Hobson jauh lebih terbatas ketimbang Hilferding atau Luxemburg. Konseptualisasinya lebih cocok untuk menangkap tendensi di level sistem jangka panjang ketimbang Marxis. Dia mendefinisikan imperialisme sebagai salah satu dari beberapa bentuk ekspansionisme, yang muncul sejak akhir abad ke-19 sampai terwujudnya struktur sosial dan kebijakan di dalam kekuatan hegemonik yang makin pudar.

​Walaupun Hobson dalam banyak hal mengantisipasi teori Hilferding dan Luxemburg, namun dalam menelusuri jejak imperialisme ke perkembangan kapitalis, dia berhati-hati dalam hal memilah hubungan-hubungan antara kapitalisme dengan ekspansionisme teritorial abad ke-19. Dalam analisisnya, hubungan itu berada pada hubungan sementara distribusi kekayaan dan kekuatan di antara negara dan di dalam kekuatan-kekuatan yang dominan, karena itu koneksi tersebut dapat diperkuat melalui demokrasi politik, kesetaraan ekonomi di Inggris dan/atau dengan mengubah kepemimpinan dunia dari Inggris ke negara yang kurang oligarkis.

​Aspek konseptual Hobson dapat diperluas tanpa distorsi untuk menjelaskan konflik antarnegara akut yang kerap terjadi di paruh pertama abad ke-20. Dalam kerangka Hobson yang diperluas ini, imperialisme, sebagaimana dipahami oleh Marxis dan pemikir liberal, muncul bukan sebagai kapitalisme akhir, akan tetapi sebagai suatu frase dalam siklus panjang hegemoni yang dicirikan oleh tendensi evolusioner ke arah penghentian ekspansionisme teritorial dalam relasi antarnegara (Arrighi, 1983). Jika karakterisasi ini dilahirkan oleh tren masa depan dunia ekonomi kapitalis, menurut Schumpeter, dalam jangka panjang korelasi antara ekspansionisme teritorial dalam kapitalisme adalah negatif ketimbang positif, mungkin akan lebih berguna ketimbang teori Marxis.

​Tetapi, sejauh ini, Marxis telah menunjukkan sedikit predisposisi (kecenderungan ke arah suatu keadaan atau perkembangan tertentu) untuk melakukan revisi teori imperialismenya. Reaksi utama mereka terhadap hilangnya ekspansionisme setelah perang dunia II adalah meredefinisikan imperialisme dengan cara memasukkan bentuk dominasi kapitalisme dunia yang bangkit kembali atau diciptakan dalam hegemoni Amerika Serikat. ‘Imperialisme’ dalam tulisan-tulisan marxis, karenanya menunjukkan perkembangan dari keterbelakangan dan aspek internasional lain dalam kapitalisme. Hasilnya adalah kekacauan semantik dan kebutuhan analisis (Sutcliffe, 1972: 313-14) yang belum terpecahkan.

​Kajian utama teori imperialisme belakangan ini dilakukan oleh dengan/melalui analisis sistem dunia dan ekonomi politik internasional. Di dalam perspektif itu, gagasan imperialisme digantikan oleh konsep hegemoni dan kekuasaan dunia. Kita hanya bisa berharap bahwa berbagai hal yang masih relevan dan valid dari pemikiran sosial sebelumnya tentang imperialisme itu, tidak akan hilang dalam proses ini.

 

_________
Disalin dari Tom Bottomore, Roy Bashkar, dkk, 2017, Ensiklopedia Pemikiran Kiri; Mengenal Istilah, Konsep, dan Filsafat Marxisme, Yogyakarta: October Light 1917.

Leave a Reply