SHARE

[ Irul Togubu ]

Ini bukan group reuni, kita harus tahu apa kesalahan kita

Sebuah kritik setahun kepemimpinan PEMBEBASAN kolektif Kota Ternate.

Sebagai sebuah organisasi demokratik, kita memegang prinsip distribusi kerja dalam aktifitas organisasi. Distribusi kerja revolusioner mensyaratkan partisipasi aktif individu (individualitas) dari masing-masing anggota. Tentu dengan menggunakan budaya disiplin, agar sebuah serangan, selain memiliki kekuatan, juga agar sistematis. Kalau organisasi kita berkarakter kerakyatan, maka budaya dalam organisasi kita adalah budaya revolusioner. Dalam sebuah organisasi yang revolusioner, penting untuk mempertimbangkan kesalahan-kesalahan atau pun kekurangan-kekurangan strategi-taktik, juga konsepsi teoritik. Dan itu perlu disadari secara kolektif, untuk memulai sebuah disiplin dalam menjalankan program revolusioner. Mengapa demikian? Pertama, anggota yang sah adalah yang sepakat dengan arah perjuangan dan programatik, yang akan dijalankan oleh kolektif organisasi itu sendiri. Kedua, anggota yang sah, tidak hanya sepakat dengan arah perjuangan maupun menjalankan program, akan tetapi turut terlibat dalam sebuah kerja konkret kolektif yang merupakan program dari organisasi itu sendiri. Dalam hal ini, pertanyaan kritisnya ‘apakah kesalahan kita: tak meratanya kesadaran tiap anggota dalam sebuah kolektif, atau sebuah tagihan disiplin yang mengikat?‘. Penting bagi kita memahami apa yang melandasi perjuangan, selain dari pada arah perjuangan dan program yang akan kita jalankan secara kolektif, kalau tidak, kita akan menjadikan sebuah organisasi sebagai tempat reunian maupun seperti perkumpulan arisan. Ya, reuni! Datang tinggal datang, sebagai ajang pelepas rindu sesama anggota, sebagai tempat untuk membanggakan diri karena mengakui sebagai anggota. Huh, itulah reuni. Apalagi, perkumpulan arisan, sama halnya datang tinggal datang, bayar iuran, galang dana, diskusi tinggal diskusi, namun tidak sama sekali mengerjakan hal-hal mendesak dan capaian dalam sebuah organisasi. Tulisan ini, adalah sebuah assessment kerja kita dalam setahun kepemimpinan kolektif dari PEMBEBASAN Kota Ternate periode IV. Sebab, perjuangan kita tidak hanya sebatas memberi pasokan kesadaran kepada anggota baru lalu meninggalkannya, dan ini terus berkelanjutan. Namun, perjuangan kita lebih ke depan, membutuhkan massa yang sadar dan terorganisir dalam perjuangan pembebasan nasional.

Kesalahan Kita adalah Tidak Disiplin

Disiplin, jangan mau yang cair-cair. Bicara tentang perjuangan pembebasan Rakyat, sepanjang sejarahnya dibarengi dengan upaya-upaya penegakan disiplin organisernya. Dan pembebasan Rakyat adalah hasil, hasil dari disiplin revolusioner. Syarat revolusi pun kebebasan tapi, kebebasan yang baik, yang untuk rakyat, yang baik untuk perjuangan kolektif, bukan kebebasan untuk kebebasan. Revolusi itu butuh kedisiplinan yang ketat.  “Nah, bagaimana mungkin kebebasan bisa hidup dalam track revolusi yang membutuhkan kedisiplinan ketat. Bukankah aturan disiplin sendiri bertolak-belakang dengan kebebasan?” Memang, kebebasan semacam itu tidak akan bisa hidup, oleh karena itulah kebebasan yang tidak bisa hidup dalam track revolusi adalah kebebasan borjuis (kebebasan yang dihidupi oleh karakter borjuis kecil).

Kaum borjuis juga menghendaki kebebasan, bebas-malas-malasan; ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, liburan, pesiar naik kapal mewah.

Disiplin itu tidak bisa dilepas-pisahkan dengan jalannya sebuah programatik. Sebagai contoh: disiplin setiap anggota dalam kerja kolektif, baik dalam kerja ideologi, politik dan organisasi. Penting bagi kita setiap anggota memahami ini, bila tidak, akan melahirkan budaya yang akan menghancurkan internal organisasi itu sendiri, kebiasaan itu akan menjadi budaya penghancur, maka budaya itu harus dilawan dengan disiplin organisasi. Apa itu disiplin organisasi? Disiplin organisasi adalah terlibat aktif di tiap kerja ideologi-politik-organisasi (I.P.O) secara kolektif. Pertama, bagi anggota yang sudah lama tidak aktif, disiplin anggota harus dikenakan kepada anggota tersebut, yakni: mempertanyakan posisinya dalam aktifitas perjuangan, jika masih ingin berkomitmen maka, kita perlu menyediakan ajang agar mengikuti kembali pendidikan politik dasar (re-edukasi). Kedua, bagi anggota yang semi-aktif harus dikenakan disiplin anggota berupa melaksanakan penugasan kolektif semisal: deployment ke titik pengorganisiran, perluasan sel-sel kerja di seluruh badan kolektif komisariat sesuai program I.P.O kolektif kota. Ketiga, bagi anggota aktif secara sadar melibatkan diri dalam kerja I.P.O dan juga menghilangkan kehendak individual dalam kerja kolektif.

Disiplin anggota harus diterapkan dalam sebuah organisasi untuk menghilangkan budaya penghancur internal organisasi, datang tinggal datang; lama tidak aktif, datang melepas rindu; datang menjenguk, datang tinggal menikmati; inilah seperti reuni, datang tinggal datang; duduk diskusi, pulang habis entah kemana, datang lagi; bayar iuran, galang dana, dll, ini seperti perkumpulan arisan. Bahkan, bagi anggota yang maju, menganggap itu biasa-biasa saja. Heran, dan itu terus berkelanjutan, jangan kita biarkan, comerade.

Jangan dipertentangkan antara membentuk kesadaran (kognitif) dengan membangun budaya berdisiplin ketat. Bayang-bayang orang berfikiran maju adalah tindakan disiplin, layaknya pantulan cermin. Jika maju cara berfikirnya tapi indisipliner, itu semu namanya. Kita membentuk kesadaran, namun jika kita disiplin, disiplin itu melahirkan kualitas yang revolusioner. Dari disiplin itu mengajarkan kita, bahwa I.P.O berjalan dengan sendirinya, tapi dibarengi dengan sebuah kerja kolektif. Disiplin itu mengartikan kita dan membentuk budaya revolusioner, yakni: saling mendidik, baik hati sesama kawan (politik sayang kawan), dan mau bekerja di tengah-tengah massa yang berjuang. Siapa yang pantas diakui sebagai anggota/kawan berjuang dalam kolektif? Seluruh anggota penting menyikapi dan memahami pertanyaan ini. Kita tidak akan pernah tau, siapa yang akan menjadi pengkhianat, dan kapan akan berkhianat. Setiap organisasi mempunyai arah perjuangan dan programatik yang dijalankan oleh anggota organisasi secara kolektif. Perjuangan (pembebasan nasional untuk sosialisme) dilakukan oleh anggota yang sadar dan terorganisir. Dari situlah, kita sangat membutuhkan kedisiplinan dari anggota/kawan seperjuangan untuk perjuangan sosialisme.

Anggota/kawan seperjuangan adalah anggota/kawan yang satu perspektif ideologi, politik, maupun organisasi. Anggota/kawan seperjuangan yang memiliki persetujuan perspektif I.P.O adalah anggota/kawan yang terlibat aktif dalam program perjuangan I.P.O, dan menjalankan disiplin anggota. Bukan yang reuni-reunian tadi, yang cair, yang menjadikan organisasi kita sebagai organisasi perkumpulan arisan, dll. Jadi, yang dapat dikatakan sebagai anggota/kawan seperjuangan adalah dia yang punya semangat tinggi terlibat dalam kerja I.P.O maupun kerja mendesak organisasi. Penting bagi kita menjaga hubungan ini, hubungan antar kawan dalam internal organisasi kita, yakni dalam menyikapi anggota yang reuni-reunian ini dengan kedisiplinan anggota. Ingat, tidak ada kata alumni dalam berjuang selain pengecut atau pengkhianat perjuangan. Penting pula selalu menghidupkan lentera politik sayang kawan (companion in arms). Untuk itu, dalam memperingati setahun kepemimpinan kolektif PEMBEBASAN Kota Ternate ke-IV yang jatuh pada 23 Oktober 2016, hendaknya kita mengetahui dan memahami kesalahan-kesalahan dalam setahun ini, penting kiranya sebuah disiplin kita jalankan dalam organisasi. Dari disiplin akan melahirkan anggota/kawan seperjuangan yang sadar, dan disiplin organisasi akan menguntungkan perjuangan memajukan kapasitas internal, juga politik.

Tetap semangat. Salam Pembebasan Nasional.


  • Penulis adalah sekretaris PEMBEBASAN Kolektif Kota Ternate, Maluku Utara.

Leave a Reply