SHARE

Oleh Husna Freud

 

Aku tak pernah dapat memahami pilu yang dirasakan manusia-manusia di kota ini maupun kota-kota lain di dunia. Mengapa banyak pria dan perempuan yang menangis tersedu-sedu di gubuk-gubuk. Ada pula anak kecil yang tersenyum palsu di perempatan jalan-jalan bersih nan indah, dengan banyak bangunan menjulang tinggi di sisi kanan dan kirinya?

Dan lebih jauh lagi, ingin aku mengetahui siapa pula dalang dari semua ketimpangan yang membuat teman-teman, orang-orang tua itu pusing? Sudah lama aku merenungkan masalah ini seperti filsuf Plato merenungkan bentuk negara. Tapi tak mampu aku tuliskan ke atas kertas atau sekedar mencoret-coret tembok di bawah jembatan layang, seperti biasa aku lakukan di masa remaja dulu.

Biasanya setiap kejadian yang menyentuh, selalu aku rasakan. Kemudian  dengan sendirinya tangan ini bergerak lihai, layaknya penari balerina di gedung teater megah di tengah kota. Tangan ini bergerak, mengabadikan. Karena selalu terpatri dalam pikiran, kata-kata adalah senjata. Kata-kata dapat mengubah dunia dan panggung sejarah hanya terjadi sekali. Namun untuk masalah ini, baru kali ini aku berani untuk mengabadikan.

***

Aku tutup catatan harianku, lalu kusimpan kembali ke dalam tas. Di bawah rindang pohon, aku duduk sembari membaca buku yang aku pinjam dari seorang kawan. Sambil sesekali mencatat segala yang dirasa perlu. Di sebelah timur tempat aku duduk, terlihat suasana yang lengang. Sepi sekali, tak seperti biasanya.  Aku bergumam pada angin, “Lama kelamaan kota ini menjadi sepi sunyi.” Mati.

“Langit biru yang cerah,” pikirku. Aku dapat melihatnya dari celah rimbun daun. Membosankan. Di sebelah timur masih terlihat, berdiri tegak pohon lain yang tak kalah rimbun. Daun pohon itu hendak berguguran, tapi masih malu-malu, atau mungkin mereka ragu-ragu untuk jatuh menimpa tanah. Karena di bawah lebat daunnya, ada beberapa pria tua sedang masyuk bermain kartu remi. Tanpa rokok dan kopi.

Selang beberapa saat, muncul pria tua dengan keretek menempel di bibir keriputnya. Di belakang pria tua itu terlihat seorang pria berjalan tergopoh-gopoh. Dia  megenakan topi caping dan kaos belel yang sepertinya tidak dia ganti berminggu-minggu. Pria-pria itu membawa beberapa cangkir kopi. Dari sini terlihat, air muka mereka yang jelas kelelahan. Bahkan pria tua yang membawa dua cangkir kopi, wajahnya memerah. Kota ini berangsur-angsur berubah.

Sudah tak terhitung lagi banyaknya bangunan-bangunan tinggi menjulang yang menembus menantang angin dan langit di atasnya. Taman ini, taman terakhir yang tersisa di kota. Tak banyak pula orang yang membunuh waktu di tempat terpencil seperti ini. Taman ini telah tergerus kharismanya oleh bangunan di sisi kiri dan kanannya; supermarket, bioskop, kafetaria, dan restoran-restoran megah nan mewah.

Terdengar suara riuh, orang-orang tua itu bermain kartu dengan teriakan dan gelak tawa, mereka senang sekarang. “Kebahagiaan yang sederhana,” kataku dalam hati.  Hanya  karena ada beberapa cangkir kopi dan masing-masing jari mereka mengapit sigaret, taman berubah suasana. Menyenangkan.

Nyalak seekor anjing menyita perhatianku dari buku. Aku melihat seorang perempuan membawa anjing berjalan-jalan di sekitar taman. Dengan potongan baju mewah dan topi modis menempel di kepalanya, ia menggenggam kuat tali pengikat anjing kecil miliknya. Aku tersenyum pada perempuan muda itu. Ia acuh tak acuh. Melihat gelagatnya yang seperti itu, kutundukan kembali kepalaku pada buku.

Sedikit mencuri-curi pandang, kulihat anjing itu sekarang kencing di rumput hijau, tepat beberapa meter dari hadapanku. Aku jadi naik pitam. Aku berdiri karena merasa dihina, aku dikencingi seekor anjing. Perempuan itu tertawa kecil sambil melihat ke arahku dan mulai mengikuti anjing kecil itu berjalan ke depan. Aku berjalan cepat dan memegang pundak perempuan itu. Ia berdiri mematung dan anjing kecilnya tidak mau diam. Sedetik kemudian, aku tendang kepala anjing sialan itu sekuat yang aku bisa.

Perempuan itu tak kepalang marah besar. Terlihat dari mukanya yang memerah, menahan amarah. Matanya memburu, mulutnya memaki dengan seluruh kosa kata yang ia punya. Terdengar jelas kata kotor keluar, dari setiap kinclong putih giginya. Namun, tak aku hiraukan.

“Anjing ini lebih mahal dari harga dirimu! Dasar manusia miskin kota! Lebih baik kalian mati saja dan jangan pernah tinggal di kota ini!”

Aku hanya melengos pergi. Terakhir yang kulihat, hanya wajahnya yang memerah dan jari telunjuk yang tak pernah turun.

“Kulaporkan kau ke polisi, biar tau rasa! Miskin dan belagu!”

Ia terus menyerocos, mengeluarkan setiap kata kotor yang terbesit dalam pikirannya. Tapi aku, aku menganggapnya sebagai angin lalu yang tak berarti.

***

Seusai melaksanakan kewajiban salat zuhur berjamaah di masjid, aku mencari tempat untuk menyendiri. Tempat itu mesti sejuk dan teduh. Sebagai orang yang terlahir dan besar di kota ini, aku tak pernah tahan terhadap panas, karena sekian tahun yang lalu kota ini berbeda. Dan sialnya, sekarang kota ini membakar penduduknya.

Akhirnya aku menemukan tempat yang aku cari. Tepat berada di pojok masjid. Setelah semua jemaah keluar, aku mulai membuka tas gendongku yang besar, tas yang menyimpan segala harta benda miliku. Kemudian aku keluarkan sebuah jurnal. Sebelum memulai membaca jurnal tipis itu, aku merenungkan kehidupan.  Kehidupan yang tidak pernah bebas, yang selalu didominasi orang lain, yang dengan kekuatannya ia dapat dengan mudah melempar-lempar nasib manusia lain layaknya melempar bangkai tikus.

Aku teringat kembali ketika kota ini masih menjadi kota yang  ramah, kota yang memiliki arti bagi setiap orang yang pernah bermalam bersamanya. Ketika masih banyak manusia-manusia yang tersenyum dan saling tegur sapa, masih banyak pemuda-pemudi penuh gairah yang melibatkan diri dalam banyak kegiatan kesenian.  Ketika tidak ada tentara yang turun ke jalanan, atau ketika tidak pernah terdengar berita bunuh diri karena permasalahan perut.

***

Ketika aku berumur 18 tahun, aku dan keluarga bersemayam di gubuk kecil di sebuah kampung. Orang-orang di luar kampung memberi julukan Kampung Debu. Tapi aku tak pernah aku tahu apa maksudnya. Saat itu aku menikmati hidup, sama seperti  setiap manusia yang bernaung di kampung kecil itu. Sampai suatu hari kami diundang oleh pemerintah untuk menghadiri sebuah acara peringatan hari jadi kota.

Bukan kepalang kami semua berbahagia, suasana berubah. Anak-anak kecil semakin rajin membicarakan kebaikan hati walikota, pengayuh becak kemudian jadi peduli pada permasalahan kampung, dan ibu-ibu yang semakin giat bersolek. Itu semua terjadi karena hanya kampung kamilah yang diberi kesempatan membicarakan perayaan hari jadi kota. Aku sudah banyak bertanya pada teman di kampung-kampung lain dan mereka hanya menggeleng. Mereka tidak pernah mendapat kesempatan sebesar ini.

Awan putih bergerak perlahan, tertiup angin. Nyanyian burung kenari yang entah dari mana datangnya menyambut setiap semangat manusia yang berjalan perlahan ke arah lapangan. Aku melihat semua warga di kampung bersiap berangkat ke balai kota untuk bertemu dengan walikota. Ayam-ayam peliharaan masih terlihat berada di dalam kandangnya masing-masing, tak jarang mereka berkokok.

Hari ini tak seperti biasanya, tak ada teriakan ibu kepada anaknya. Tak ada suara ribut motor butut, tak ada suara derap langkah kaki buruh-buruh pabrik. Aktifitas di kampung akan berhenti total. Bahkan seorang pemulung berhenti mencari penghidupan untuk hari ini. Dia terlihat mengenakan pakaian terbaiknya, kemeja putih belel dengan corak garis-garis. Sedangkan aku sendiri, merasa percaya diri. Aku berusaha berpenampilan sopan dan menarik, sebab aku akan berbicara di hadapan walikota.

Kami disambut oleh beberapa petugas dan wartawan yang sibuk memotret kehadiran kami di balai kota. Aku semakin bangga, dada ini seperti menggelembung bahkan nyaris pecah. Itu  karena aku berjalan di barisan paling pertama, bersama ayah, ketua rukun warga, dan beberapa jajaran ketua rukun tetangga, yang tersenyum riang menghadap kamera-kamera wartawan.

Masih diikuti lensa kamera Wartawan, kami dipersilakan masuk ke dalam gedung megah tersebut. Gedung dengan gaya khas Belanda, bercat putih dengan lantai-lantai yang bersih. Suara-suara sepatu berdecit terdengar seiring alas kaki itu bersenggama dengan lantai tersebut. Lima belas menit kemudian walikota datang, memberi sambutan dengan sikap ramah serta kehangatanya. Aku semakin mengagumi sosoknya. Kami dipersilakan menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian aku mulai memberikan sambutan dan puji-pujian untuk orang yang telah mengundang kami kemari, begitu pun ayah. Aku tersenyum mantap. Walikota menjabat tanganku dengan erat.

Jamuan makan itu telah selesai. Salah seorang pria yang mengaku sebagai sekretaris daerah mulai berbicara. Dan suasana riang gembira seketika berubah menjadi suasana yang mencekam. Kulihat wajah ayahku memerah, warga lainnya kebingungan, begitu pun aku. Hanya ayahku yang berbicara dengan nada keras dan marah. Aku bingung. Bahkan karena amarah yang tak dapat dibendung, ayahku pergi pulang sendirian.

***

Gemericik air hujan menghantam-hantam atap rumah. Di dalam, ayahku tak henti-hentinya menghantam pikiranku dengan kata-katanya. Ia meyakinkanku agar tetap waspada dan kuat. Bahkan ia bicara agar melawan segala bentuk intimidasi yang datang. Aku dengan sungguh-sungguh menyimak.

“Kita harus jadi batu,  Nak. Batu itu walaupun diam, mereka keras.  Batu itu seperti kita, tak berharga. Tapi ingat, batu dapat melukai ketika dilemparkan, karena mereka keras. Ingat, Nak, karena batu itu keras,” tegas ayahku.

***

“Anjing!”

Ngapain tentara ikut-ikutan? Brengsek!”

“Kami punya bukti, enyah kalian!”

“Melayani dan mengayomi siapa? Bajingan!!”

Sinar matahari terik menjadi saksi riuh rendah teriakan warga. Mereka menggenggam senjatanya masing-masing. Stik bisbol, parang, arit, katana, balok kayu. Paling minimal, mereka menggenggam batu kerikil. Di satu sisi, warga kampung berteriak sambil mengacungkan senjata-senjata mereka. Bersiap hendak berperang, bersiap menyambut “Izrail”. Pemuda-pemuda melemparkan banyak batu yang semula mereka genggam.

Pada sisi lain, polisi dan Satpol PP memamerkan rotan dan tameng mereka. Aku dan ayah serta ibu-ibu berubah menjadi seonggok batu besar yang diam. Duduk bersila, menunduk dan sesekali menghisap rokok. Gerombolan Polisi dan Satpol PP kian mendekat dan aku tetap teguh memilih menjadi batu, meski batok di pukuli rotan, wajah ditampar tameng dan kepala diinjak sepatu lars. Dengan kepayahan aku bangkit dan menghadang mereka kembali, tetap menjadi batu. Terus menerus, berulang-ulang.

***

Pada satu malam yang dingin, di bawah sinar rembulan yang elok nan indah, bintang menjadi saksi saat aku ditangkap pihak kepolisian. Tanganku diborgol dan diseret masuk ke dalam mobil hitam di seberang jalan. Aku ditangkap dengan tuduhan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Aku mendekam di hotel prodeo selama tiga bulan, dengan gelar tapol, yang aku tak tahu apa artinya. Di dalam penjara aku mendengar kampung kelahiranku kini sudah lenyap. Ayah dan Ibu pindah ke pinggiran kota. Mereka, terutama ibu, bercerita penuh dengan kesedihan dan isak tangis. Terdengar juga kabar, banyak undangan-undangan untuk kampung-kampung yang lain.

***

Ingatan itu membuat kepala kecil ini berdenyut-denyut. Kemudian aku buka kembali catatan milikku. Baris-baris pertanyaan masih terpampang dan belum terjawab. Aku teguh memilih menjawab semua pertanyaan yang tertulis di atas kertas itu, dengan langkah awal membaca sebuah jurnal. Jurnal tipis dengan kertas berwarna kekuningan yang berjudul “Hak Atas Kota”.**

Leave a Reply