SHARE

 

Selasa (13/9) pagi, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Farmasi berjalan dari gedung Dekanat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Manado (Unima) menuju gedung Rektorat Unima. Lebih dari 60 mahasiswa ikut terlibat dalam aksi ini. Meskipun sempat diguyur hujan saat perjalanan menuju gedung Rektorat Unima, semangat mereka tak berkurang sedikitpun.

Melewati gedung jurusan biologi, jurusan kimia dan perpustakaan Unima, mereka mengajak seluruh mahasiswa untuk bisa sama-sama ke gedung Rektorat membantu memperjuangan soal status mahasiswa farmasi yang tidak diakui (Sesuai surat edaran nomor 9271/UN41/PS/2016 dari Pembantu Rektor I Unima).

Dalam aksi ini mereka membawa spanduk bertuliskan “Unima harus bertanggung jawab kepada mahasiswa farmasi”. Selain spanduk, mereka membawa karton yang bertuliskan tuntutan dan membagikan selebaran mengenai maksud dan tujuan mereka melakukan aksi hari ini.

Dalam selebaran itu tertulis dua pokok tuntutan, pertama menuntut pihak kampus Unima segera mengurus izin pendirian program studi farmasi, kedua, jika pihak kampus Unima tidak mau mengurus izin pendirian program studi farmasi, mereka menuntut pihak kampus Unima mengembalikan semua biaya yang mereka keluarkan selama kuliah dan juga bertanggung jawab atas semua waktu mereka yang terbuang percuma.

Sekitar pukul 10.30 WITA, masa aksi sampai di gedung Rektorat Unima. Mereka secara begantian menyampaikan orasinya. Setelah 30 menit melakukan orasi, Pembantu Rektor III Unima langsung menemui massa aksi dan menyampaikan bahwa apa yang sudah disuarakan oleh mahasiswa tadi akan dia sampaikan kepada Rektor Unima.

Jadi sekarang Rektor lagi ada tamu dari luar, saya harap seluruh mahasiswa untuk tetap bersabar karena rektor akan segera turun dari lantai dua untuk menemui kalian”, ungkapnya.

Setelah itu mahasiswa kembali melanjutkan orasinya. Di sela-sela menyampaikan tuntutannya, para orator juga tak henti-hentinya menyemangati masa aksi agar tetap bersatu dan tetap semangat memperjuangkan apa yang menjadi haknya.

Salah satu orator, Iss, menyampaikan bahwa hari ini mereka turun aksi sudah melalui beberapa pertimbangan. Dia menyampaikan bahwa mahasiswa farmasi ini adalah contoh korban sistem di Unima. “Kami datang ke sini meminta pihak kampus Unima bertanggung jawab atas nasib mahasiswa farmasi. Mereka ini sudah kuliah sampai enam tahun, bahkan sudah ada yang dalam tahap akhir penyelesaian studi. Kenapa setelah enam tahun izin farmasi tidak keluar? Malah sekarang keluar edaran bahwa farmasi tidak diakui”, tandasnya.

Orator lainnya, Agung, terus menyemangati massa aksi untuk tetap semangat karena apabila rektor tidak mau menjumpai mahasiswa maka massa aksi akan tetap bertahan di gedung rektorat sampai rektor mau menemui mereka. Dia mengatakan bahwa jika rakyat, dalam hal ini mahasiswa, sudah bersatu, tidak ada yang bisa mengalahkan.

Setelah tiga jam melakukan orasi, salah satu perwakilan pihak kampus Unima datang menemui massa aksi. Dia mengatakan bahwa rektor Unima meminta masa aksi mengutus tiga orang mahasiswa yang menjadi perwakilan mereka untuk bertemu langsung dengan rektor. Namun masa aksi menolak dan bersikeras menuntut janji rektor untuk menemui mereka semua sebagaimana yang diungkapkan oleh Pembantu Rektor III Unima. “Kami mau rektor untuk turun menemui kami semua, kalau hanya tiga orang perwakilan kami tidak mau. Tadi sesuai pernyataan Pembantu Rektor III, bahwa rektor lagi dijemput untuk turun menemui mahasiswa, tapi buktinya sampai sekarang belum juga turun”, ngkap salah satu massa aksi.

Karena menolak opsi rektor untuk mengutus tiga orang perwakilan, mereka kembali melanjutkan aksi dan saling bergantian melakukan orasi. Salah satu orator perempuan, Yulin, bahkan sampai mengeluarkan air mata sebagai bentuk kekecewaannya terhadap keputusan pihak kampus yang terkesan tidak mempedulikan nasib mereka. “Anggap kami sebagai anak, Pak. Bapak punya anak, kan? Semoga anak bapak bisa meraih gelar sarjana yang mereka cita-citakan. Saya jauh-jauh datang kuliah di sini, Pak, orang tua saya tahu saya di sini kuliah di farmasi, belajar bikin obat-obatan, bukan kuliah di ilmu kimia, Pak”, ungkap Yulin.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa saat ini ada di antara mereka yang sudah melakukan penelitian, tinggal menunggu ujian. Tapi belum bisa ujian karena status farmasi yang belum jelas. Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak mau dipindahkan ke program studi ilmu kimia, mereka tetap mau di farmasi. “Kami datang ke sini dengan harapan lulus dengan gelar sarjana di bidang farmasi, bukan ilmu kimia”, pungkasnya.

Sekitar pukul 14.30 WITA perwakilan pihak kampus Unima kembali menemui massa aksi. Dia menyampaikan bahwa rektor mengundang seluruh mahasiswa farmasi naik ke lantai dua gedung Rektorat Unima untuk audiensi langsung dengan rektor. Meskipun sempat bimbang karena yang datang melakukan aksi bukan hanya dari mahasiswa farmasi melainkan Aliansi Mahasiswa Peduli Farmasi, namun karena beberapa pertimbangan mereka mengiyakan tawaran tersebut.

Kurang lebih satu jam mereka melakukan audiensi dengan rektor Unima, mereka kembali menemui massa aksi lainnya yang tidak bisa ikut bersama-sama ke dalam. Salah satu perwakilan mahasiswa yang ikut audiensi dengan rektor Unima, menyampaikan kepada massa aksi lainnya bahwa rektor meminta waktu untuk mengkaji permasalahan yang ada karena rektor baru enam hari bertugas di Unima, dan juga rektor berjanji secepatnya akan menyelesaikan permasalahan farmasi.

Setelah itu, sekitar pukul 15.10 WITA, masa aksi membubarkan diri dan berjanji akan terus mendesak pihak kampus Unima bertanggung jawab atas nasib mahasiswa farmasi, kalau tidak, mereka akan datang dengan massa aksi yang lebih banyak lagi.(is)

Leave a Reply