SHARE

[ Che Gove ]

Demokrasi ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah

“Apa itu LGBT?”

“Kaum homoseksual yang menyimpang dari kodrat seksual manusia”, jawab Ali seorang phobia LGBT.

Ali adalah satu dari banyak kaum phobia yang hingga saat ini masih menganggap kaum LGBT merupakan orang-orang yang melanggar kodrat seksual manusia. Bagi Ali kodrat seksual manusia adalah hidup berpasang-pasangan bagaikan Romeo dan Juliet yang saling setia berbagi cinta. Ali sangat percaya diri terhadap ajaran yang dipeluknya, hingga suatu saat datang seorang pejuang demokrasi membawa ajaran baru yang segar memberikan pencerahan kepada Ali yang sesat. Di penghujung malam ke tujuh, Ali sangat serius mempelajari ajaran tesebut dan bereriak: “Saya keliru, saya keliru, maafkan saya.”

Semua orang tampak aneh melihat Ali yang gembira. Si pejuang demokrasi pun membuka rahasia ke muka umum bahwa berkat ajaran barulah Ali yang sesat terselamatkan. Kemudian dari sudut kecil warung kopi mencuat sebuah pertanyaan, “ajaran apa itu ?”

Ajaran tentang cara pandang yang tepat yaitu tentang keterbatasan logika formal dalam hubungan relasi seksual (LGBT) jawab pejuang demokrasi.

“Boleh kah kami belajar?”

“Boleh”, jawab pejuang demokrasi.

Si pejuang demokrasi pun mejelaskan sedikit demi sedikit ajaran tentang keterbatasan logika formal dalam relasi seksual (LGBT) kepada teman-teman Ali.

Ada tiga hukum dasar logika formal. Yang pertama dan terpenting adalah hukum identitas. Hukum tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: sesuatu adalah selalu sama dengan atau identik dengan dirinya. Pemikiran esensial dalam hukum ini adalah seperti berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah. Keberadaannya absolut. Dalam Aljabar: A sama dengan A atau Romeo (laki-laki) sama dengan Romeo (laki-laki) begitu juga Juliet (perempuan) sama dengan Juliet (perempuan).

Hukum kedua logika formal: hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A. Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan positif, yang dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A atau Romeo (laki-laki) tidak dapat menjadi gay begitu juga Juliet (perempuan) tidak dapat menjadi lesby.

Hukum yang ketiga logika formal. Yakni: hukum tiada jalan tengah. (the law of excluded middle). Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu. Jika Romeo (laki-laki) sama dengan Romeo (laki-laki), maka ia tidak dapat mejnadi Gay begitu juga Juliet (perempuan) sama dengan Juliet (perempuan) maka ia tidak dapat menjadi Lesby. Kebenaran dari segala sesuatu selalu berdasarkan lawan pertentangannya (lawan jenis). Sehingga di bawah hukum besi tiada jalan tengah ini kebenaran absolut dari sebuah hubungan seksual adalah bersifat satu jalur yaitu jalur heteroseksual antara Romeo yang aki-laki dan Juliet yang perempuan.

“Bisa saya lanjut?”

Tanya pejuang demokrasi

Jamal, teman Ali, sangat serius medengarkan penjelasan tersebut. Beberapa orang meminta pejuang demokrasi melanjutkan penjelasannya.

“Oke, kita lanjut”, jawab pejuang demokrasi.

Ketiga hukum yang kita pelajari di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal. Namun merupakan hukum-hukum dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah muncul sejumlah struktur ilmu logika yang kompleks dan di dalamnya memiliki bentuk tata cara berpikir.

Keterbatasan Logika Formal: Absolut

Keterbatasan hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagai sesuatu yang absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah tidak mungkin. Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter dan tidak demokratis, memastikan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat otoritas tanpa batas demi kejayaan mereka. Romeo tetap lah menjadi Romeo dan tak bisa menjadi gay, tak ada satu pun yang bisa menggugatnya.

Sialnya, bagi penganut logika formal, tak ada di dunia ini yang seperti mereka kemukakan. Ternyata, segalanya hadir sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat materialnya yang sudah tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya maupun dalam keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu. Semua kepentingannya yang menjadi mutlak, terbatas , dan tidak berubah telah terbukti: salah. Logika formal menyebabkan bencana demokrasi bagi ilmuwan yang jatuh pada kebutaan logika.

“Maksudnya?” tanya Jamal yang bangkit dari kursi sambil menuangkan kopi untuk pejuang demokrasi.

Begini, demokrasi ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. Artinya di dunia ini bukan hanya ada satu jenis orientasi seksual yang bersifat heteroseksual tapi ada berbagai bermacam. Ada lesby, gay, biseksual, dan transgender. Jadi laki-laki bisa berorientasi gay begitu juga perempuan berorientasi lesbi. A bisa menjadi non-A. Jawab pejuang demokrasi.

“Oh, begitu, ya”. Suara Sadam muncul dari depan meja Jamal.

“Ya, Sadam”. Kita harus memperbaiki cara berfikir sekarang, jawab Ali.

Tapi di bawah pengaruh logika formal cara berfikir masyarakat menjadi konservatif dan tidak demokratis. Mereka tetap mempertahankan konsep heteroseksisme sekaligus menebar kebencian terhadap LGBT. Sebagai contoh FPI dan FUI adalah golongan masyarakat yang sangat membenci LGBT. Mereka menebar kebencian dengan cara-cara kekerasan terhadap individu-individu tertentu. Karena itu sebagai orang yang mencintai demokrasi saya dan teman-teman tidak hanya menyebarluaskan gagasan tetapi juga melakukan aktifitas konsolidasi dan mobilisasi massa seluas-luasnya. Bila perlu, kami membentuk barisan pelopor untuk membantu pengamanan aksi-aksi pro LGBT atau aksi yang berpotensi diganggu oleh kelompok FPI atau FUI. Malam semakin larut namun pejuang demokrasi tetap menjelaskan dengan sabar dan santai.

Orang-orang semakin serius mendengar penjelasan pejuang demokrasi.

“Lanjut, lanjut”, suara Jamal dan Ali muncul bersamaan.

“Oh, saya paham”.

“Artinya memperjuangkan gagasan dialektika harus disertai dengan mobilisasi massa, kan! Karena kalau hanya berkoar-koar menyodorkan data-data kekesaran di atas lantai kampus, di meja kantor atau berharap datang dukungan dari negara maka tidak akan menghentikan gerakan kelompok FPI dan FUI.” Suara Sadam yang masih semangat.

“Aku setuju. Kita harus bangun front dan mobilisasi massa untuk perjuangan demokrasi.”

“Kau siapa?”, tanya Ali.

“Aku Dalton, mahasiswa semester tujuh jurusan Psikologi.”

Si pejuang demokrasi melanjutkan penjelasan. “Selain itu, supaya tidak dianggap sebagai defenisi yang konservatif maka defenisi jender harus dirombak dan dimasukkan indentitas LGBT ke dalamnya. Karena seperti yang telah dipahami bahwa di dunia ini ternyata tidak hanya hidup Romeo dan Juliet tetapi juga ada Romeo dan Romeo atau Juliet dan Juleit yang saling mencintai yang juga membutuhkan ruang kesetaraan.”

“Setuju, teman-teman?”, tanya pejuang demokrasi.

“Setuju”

“Setuju”

“Setuju”

Suara Ali, Sadam, Jamal dan Dalton bersahutan.

“Kalau begitu karena hari sudah menjelang pagi. Mari kita pulang istrihat”, sambung pejuang demokrasi.

Sambil merapikan kemeja hijau hitam, Ali berpamitan pulang bersama teman-temannya.

Leave a Reply