SHARE

PEMBEBASAN.ORG—8/5/2016; Yang harus terus-menerus tak habis-habisnya dipertanyakan (digugat secara kontemplatif) adalah menjawab pertanyaan tentang: “Dalam kelas-kelas sosial, dimana letaknya mahasiswa berpihak? Bagaimana seharusnya mahasiswa membangun pergerakan dan membantu perjuangan rakyat?

Pertanyaan tersebut penting karena banyak sekali gerakan mahasiswa yang perspektifnya jauh dari penyelesaian akar persoalan rakyat, padahal kekuatan mereka begitu besar, dengan cabang-ranting dimana-mana, logistik yang besar pula. Tapi jika salah analisa, tak akan pernah menenangkan apa-apa.

Dalam kongres PEMBEBASAN kali ini, membangun gerakan mahasiswa revolusioner masih terus menjadi obsesi. Ernest Mandel, dalam pidatonya di Education Auditorium, New York University, bersama 600 peserta dalam acara Majelis Internasional Gerakan Mahasiswa Revolusioner telah memberi pengertian bahwa “…mahasiswa  memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas, ke dalam kritik-kritik  yang  radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk.”

Sebagai tenaga kerja intelektual, mahasiswa adalah kunci bagi diseminasi gagasan radikal, tentu dengan meletakkan prinsip kesatuan teori dan praktik. Anti terhadap teori hanya akan sesat pikir, jika sebaliknya, berteori saja tak akan pernah bisa mengubah kenyataan dunia.

***

Puluhan orang berdiri. Tangan kiri diangkat dan dikepalkan sebagai simbol perlawanan terhadap segala penindasan. Lagu Internasionale menggemuruh dalam ruangan. Begitulah Kongres II Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional dimulai.

Kongres ini diselenggarakan selama tiga hari, pada tanggal 5-7 Mei 2016 di Kemang, Bogor, setelah Kongres pertama yang digelar pada tahun 2012 lalu. Selain dihadiri oleh kolektif dari 18 kota, 9 provinsi, kongres juga diikuti beberapa anggota dari organisasi-organisasi kerakyatan seperti PPRI, KPO-PRP, SEBUMI, FSEDAR, PPR, AMP dan Solidaritas(dot)net.

Masing-masing organisasi mengawali kongres dengan pidato di hadapan peserta dari banyak daerah. Mujiyo, membacakan puisinya, ada juga dari kelompok pekerja seni SEBUMI, anggota Partai Pembebasan Rakyat, Solidaritas(titik)net.

Pembahasan demi pembahasan dilakukan dengan diskusi, kritik dan perdebatan. Menentukan kesimpulan-kesimpulan situasi objektif, menentukan program politik-ideologi-organisasi, membahas perkembangan tiap kolektif, melakukan evaluasi-evaluasi, hingga pada pemilihan Kolektif Nasional PEMBEBASAN secara demokratik, tanpa perwakilan.

Berikut adalah nama-nama struktur Kolektif Nasional PEMBEBASAN: Rahman, Sam Mahmud, Ghofur Thalib, Arie, Ismid, Ephen, Farhan, Azier, Edo, Yoga.

Dengan berakhirnya kongres, semoga bisa menjadi organisasi mahasiswa demokratik, membangun persatuan dan sanggup berada di tengah-tengah perjuangan massa. Seperti dikatakan Rahman Landanu (Ketua Umum terpilih) kepada redaksi pembebasan.org yang mengungkapkan bagaimana PEMBEBASAN ke depan. Menurut Rahman: “tugas PEMBEBASAN adalah membangun kepeloporan serta persatuan gerakan mahasiswa. Ke depan, PEMBEBASAN akan mengajukan proposal persatuan kepada organisasi demokratik lainnya sebagai tahap pembangunan liga mahasiswa“. Dalam makna membongkar watak eksklusifnya gerakan mahasiswa, PEMBEBASAN, yang sejak berdirinya meyakini sebagai organisasi sektoral yang berperspektif multi-sektoral, Rahman kemudian menjelaskan: “PEMBEBASAN berupaya terus menguatkan persatuan ke sektor di luar mahasiswa, dengan ikut terlibat dalam pembangunan aliansi kiri multi-sektoral, sebagai syarat pembentukan partai revolusioner“.

Dan pada akhirnya, dengan penuh ekspektasi bahwa PEMBEBASAN akan sanggup menjadi gerakan mahasiswa yang memiliki perspektif revolusioner serta serius membangun persatuan gerakan.

Selamat atas terlaksananya kongres.(bp)

 

Leave a Reply