SHARE

[ Ahmad rifandi ]

 

Tidak satupun manusia di bumi ini bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, atau tanpa melakukan hubungan dengan orang lain. Aktivitas keseharian manusia hanya bisa berjalan manakala ada manusia lain atau individu lain yang berada di sekitarnya. Intinya, gotong royong.

Dari sinilah sisi manusia dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa memiliki naluri hidup bersama dengan orang lain (kerjasama). Jika pun ada cerita-cerita yang mengungkap bahwa ada manusia dibumi ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain, tanpa berhubungan dengan orang lain, maka hal itu hanya sekedar cerita belaka.

Hubungan sosial yang dibangun merupakan hubungan untuk pemenuhan kebutuhan hidup (ekonomi), agar bisa bertahan hidup secara bersama-sama (kolektif).Dan inilah perbedaan yang mendasar antara kehidupan kolektif binatang dengan kehidupan kolektif manusia, binatang secara pasif harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya tanpa memproduksi perkakas kerja, sedangkan manusia dengan alat-kerja kerja yang dibuatnya mampu mempengaruhi atau mengubah alam sekelilingnya agar sesuai dengan kebutuhannya dan memenuhi bahan-bahan yang diperlukan untuk bertahan hidup.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, manusia membutuhkan makan, minum, pakaian dan tempat tinggal. Semuanya akan terwujud ketika manusia melakukan kerja produksi. Dan,kerja manusia ini pulalah yang menentukan perkembangan peradaban manusia atau masyarakat hingga sekarang, sehingga kerja menjadi keharusan bagi manusia, untuk dapat bertahan hidup.Tanpa kerja tak ada kehidupan manusia.Kemudian aktivitas kerja tersebut juga telah mengembangkan otak manusia yang disebut “akal”. Akal manusia mampu untuk mengembangkan dirinya, sehingga dengan demikian manusia dapat mengadakan pilihan serta seleksi terhadap berbagai alternative dalam tingkah lakunya untuk mencapai efektivitas yang optimal dalam mempertahankan hidup dari kekejaman alam sekelilingnya.

Dari kondisi di atas kita dapat melihat bagaimana manusia mampu mempertahankan kehidupannya dan bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirinya, hanya dengan berkerja sama lah mereka mampu mempertahankan hidupnya. Jika hak-hak dasar manusia ini semua terpenuhi, maka hak-hak lainnya juga dapat berguna untuk orang lain, bahkan bisa mengembangkan hidupnya secara menusiawi, karena hak hidup ini merupakan suatu hak yang paling mendasar yang harus dilindungi dan dihormati.

Namun dalam hubungan produksi kapitalisme,alat-alat produksi/sarana-sarana produksi, dimiliki atau dikendalikan oleh segelintir orang saja atau si pemilik modal, rakyat pekerja atau yang disebut tenaga produktif sosial masyarakat sama-sekali tak memiliki alat-alat produksi/sarana-sarana produksi selain, tenaga kerjanya yang ia curahkan dalam proses produksi yang merupakan basis bagi perubahan sosial sehingga, hubungan produksi tersebut hanya dapat menguntungkan atau memperkaya sebagian kecil orang saja yaitu si pemilik modal tadi. Sehingga, buruh hidup hanya berbakti untuk kepentingan hidup orang lain (kapitalis), bukan untuk kepentingan hidup secara bersama-sama (kolektif).

Dengan adanya model hubungan produksi kapitalisme inilah yang kemudian mempengaruhi aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat menjadi tak berkeadilan, karena apa yang menjadi dasar bagi kehidupan manusia telah dirampas oleh si kapitalis, sehingga membuat buruhsemakin tersingkirkan dari hubungan produksinya dan kehidupan sosial lain. Kehidupan sosial masyarakat semakin tak terkontrol lagi dibawah hubungan produksi kapitalisme, menjadikan manusia anti kemanusiaan, saling berperang antara satu dengan yang lainnya hanya untuk bisa bertahan hidup.

Sementara mereka yang telah menyebarkan kesengsaraan, kelaparan, pengangguran, peperangan, kematian, pemerkosaan, dsb, bisa memiliki segalanya dengan kekuatan utamanya adalah “modal”. Bahkan dunia pun digenggamnya, hingga menyebabkan rusaknya susunan dunia yang ada sekarang ini, itulah kapitalisme yang tak tahu diri. Cukup miris, bahkan anak kecil pun takut bermimpi karena tak melihat keadilan di bumi ini.

Padahal manusia dilahirkan untuk merdeka dengan disertai hak-hak yang penuh dan kedudukan yang sama, sehingga kehidupan sosial masyarakat bisa tertata dengan baik. Tetapi, hidup dalam masyarakat yang menindas, mengeksploitasi, menghisap manusia atas manusia (kapitalisme) menjadikan kesejahteraan, kebebasan dan demokrasi sejati hanyalah sebuah mimpi bagi orang-orang tersebut. Dan kerap kali terwujud di bawah kontrol moncong senjata dari alat represi Negara. Hal ini banyak menimbulkan kepincangan hubungan antara penguasa dengan masyarakat, yang seharusnya penguasa bertanggung jawab soal kesejahteraan sosial rakyatnya. Bukannya malah menindas rakyatnya. Yah, memang, bagi Negara yang menganut sebuah paham neoliberalisme-kapitalisme, maka hal ini dianggap wajar-wajar saja, selagi uang masih terus mengalir ke kantung-kantung mereka dari hasil penghisapan manusia atas manusia atau hasil dari perampasan tenaga kerja orang lain.

Kapitalisme membangun susunan dunia yang timpang

Kapitalisme dengan usianya kurang lebih lima ratus tahun, ibarat seekor ular tua renta raksasa yang telah beberapa kali berganti kulit. Saking tuanya, dia berhasil mengelilingi dunia ini dari Barat ke Timur, Utara ke Selatan; dia meninggalkan jejak dimana-mana, buang kotoran dimana-mana.Sepertinya sejarah memberikan kesempatan terakhir kepada kapitalisme di abad ini. Indikator yang bisa dilacak adalah, bahwa untuk kesekian kalinya ia mengalami krisis dan berganti muka. Meski, pengalaman hidup yang panjang, ditambah pengalaman menggunakan segala macam cara dan alat untuk menjadi penguasa tunggal. Tidak heran jika setiap perubahan, baik yang timbul akibat uji cobanya sendiri yang salah maupun implikasi dari perlawanan rakyat yang patah tumbuh hilang berganti dapat diatasi dengan hanya sedikit modifikasi, dempul, maupun pembaruan pemukaannya. Itu saja sudah cukup untuk menanggulangi krisis identitas, nama baik, dominasi yang tergugat, bias hegemoni, dan jenis-jenis gempuran lawan-lawannya. Di belakang semua keberhasilannya itu “modal” adalah kekuatan utamanya. Maka para penimbun modal adalah sanak famili sang ular.

Ada tiga fase kapitalisme dalam menguasai tatanan dunia. Pertama, periode Kolonialisme yakni fase dimana perkembangan Kapitalisme di Eropa mengharuskan ekspansi secara fisik untuk memastikan mendapatkan bahan baku mentah. Fase Kolonialisme-imprialisme, merupakan tanda kekalahan “Merkantilisme” oleh “Liberalisme” yang dikomandani oleh Adam Smith dengan “Laissez Faire”. Inilah proses dominasi manusia dengan segenap teori perubahan sosial mendukungnya telah terjadi penjajahan secara langsung selama ratusan tahun (Baca: sejarah Kolonialisme Hindia Belanda). Fase kedua, di mana modus dominasi dan penjajahan tidak lagi fisik dan secara langsung.Melainkan, melalui penjajahan teori dan ideologi dikenal sebagai Developmmentalisme. Periode ini ditandai dengan masa kemerdekaan negara-negara ketiga secara fisik, namun pada era ini, dominasi negara-negara bekas penjajah terhadap bekas koloni mereka tetap dilanggengkan melalui kontrol terhadap teori dan proses perubahan sosial. Dalam kaitan itulah teori pembangunan ataupun paham developmentalism, yakni suatu model kapitalisme Keynesian yang digerakan dan diregulasi oleh negaramerupakan sebuah rekayasa perubahan sosial dunia ketiga pasca kolonialisme.Pembangunan memainkan peran penting dalam fase kedua ini, yang akhirnya juga mengalami krisis yang parah, yakni krisis hutang.

Kapitalisme yang kaya pengalaman dan kaya modal, jauh hari sudah membaca gejala krisis, karena di sebabkan oleh wataknya yang sangat eksploitatif. Langkah antisipasi sudah dipersiapkan, dan sangat sederhana, kembali ke paham lama liberalisasi dengan bungkus baru:globalisasi.

Kebangkitan kembali liberalisme melahirkan sebutan baru dengan yaitu neo-liberalisme. Kebangkitan kembali kapitalisme pasar bebas diciri-utamakan oleh investasi dan globalisasi pasar serta proses produksi perusahaan trans-nasional (TNCs), dengan dukungan organisasi keuangan internasional (Bank Dunia, IMF) dan diatur dalam suatu organisasi perdagangan global, WTO. Para pendukung diskursus globalisasi, dengan segala upaya (tentu saja dengan dukungan dana yang besar) mengkapanyekan kepada rakyat miskin di negara yang miskin atau sedang berkembang seperti Indonesia, bahwa globalisasi memberi jaminan lebih baik tentang kesejahteraan bagi rakyat miskin, dan memberikan pula harapan hidup yang lebih adil dan demokratis bagi manusia; seolah globalisasi adalah panggilan sejarah.

Namun di ruang yang lain, gerakan organisasi non pemerintah dan organ rakyat di negara-negara miskin maupun sedang berkembang semakin yakin bahwa developmentalism tidak lain adalah juga penjajahan Negara dan koorporasiterhadap rakyatnya, sehinggasemakin menggiatkan perlawanan. Geliat rakyat tertindas melalui aksi protes ke pemerintahan dan beragam variasinya, telah menyebabkan segelintir orang yang hidup gemilang di atas penderitaan rakyat IndonesiaWTO, IMF, Bank Dunia dan Aktor-aktor TNC’s harus mengurangi waktu tidurnya.

Mungkin berjodoh, di awal kebangkitan kembali globalisasi,organisasi para pemilik modal internasionaljuga merupakan awal-awal kebangkitan global organisasi non pemerintah dan organisasi rakyat tertindas yang semakin yakin bahwa globalisasi, developmentalism, dan kolonialisme-imprealisme adalah wujud nyata dari penindas rakyat: “Kapitalisme yang tidak tahu diri”. Seperti diungkap sebelumnya, sebelum krisis developmentalism terjadi, telah dipersiapkan suatu program strategi yang berjudul cantik dan ideal Structural Adjusment Programme (SAP). SAP oleh lembaga finansial global adalah senjata andalan yang meskipun kuno tetapi tetap tajam, bahkan sanggup membuat pemerintah Indonesia menjadi patuh terhadap modal Internasional. Jelas sekali bahwa developmentalismdidasari satu paham neo-klasik dan, dimana intervensi negara sangat kuat untuk akselerasi perputaran dan penumpukan modal, sehingga tidak segan-segan menggunakan kekuatan militer untuk memaksa rakyat berpartisipasi di dalamnya. Revolusi hijau untuk pertanian, revolusi putih untuk perusahaan susu, dan revolusi biru di sektor perikanan merupakan indikasi bahwa praktik global kapital telah membangun infrastruktur di masa penguasaan pendahulunya, developmentalism. Bukankah revolusi hijau, putih dan biru menguntungkan pemilik modal, produsen pupuk, para pencuri hak paten atas ragam bibit lokal yang dijadikan verietas unggul, membunuh keanekaragaman hayati dan tergantungnya petani-petani Indonesia dengan tanaman monokultur. Pendeknya, developmentalism sejak dini telah menata alas struktur bangunan globalisasi.

Jelas pula, globalisasi berpijak neo-liberalisme yang notabene menyingkirkan jauh-jauh pemerintah dalam kehidupan ekonomi karena,  negaralah yang diperintahnya.Apalagi bagi negara ahli hutang seperti Indonesia, tentu saja mudah bagi pemodal dunia di TNC’s menguasainya.

Dengan demikian globalisasi sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global, sesungguhnya bukan peristiwa baru sama sekali. Namun, jika ditinjau dari sejarah perkembangan ekonomi, dia (globalisasi) pada dasarnya merupakan salah satu fase dari perjalanan panjang perkembangan kapitalisme liberal, yang secara teoretis sebenarnya telah dikembangkan oleh Adam Smith. Bahkan gejala itu sudah dimulai sejak awal perkembangan kolonialisme. Meskipun globalisasi dikampanyekan sebagai era masa depan, namun sesungguhnya globalisasi merupakan proses kelanjutan dari kolonialisme dan developmentalism. Globalisasi kini ditawarkan sebagai jalan keluar bagi kemacetan pertumbuhan ekonomi dunia.

Sejarah singkat perjalanan kapitalisme di atas telah menghantarkan kita pada pemahaman sejarah yang objektif, bahwa apa yang telah terjadi pada kehidupan sosial manusia hari ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kepemilikan pribadi atau penguasaan alat-alat/sarana-sarana produksi yang memungkinkan penguasaan ekonomi dimiliki segelintir orang saja atau si pemilik modal (kapitalisme). sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya eksploitasi atau penghisapan manusia atas manusia yang didasari dengan adanya hubungan produksi sosial kapitalisme yang menindas (menghisap).

Hubungan produksi kapitalisme ini adalah hubungan produksi yang sifatnya progresif, memiliki pertentangan mendasar.Dan pertentangan inilah yang kemudian menjadi dasar ekonomi bagi revolusi sosial dalam masyarakat berkelas yang mendasarkan penghisapan manusia atas manusia, dengan kondisi masyarakat seperti ini, bentrokan tak terelakan lagi antara tenaga produktif dengan hubungan produksi. Marx sudah menjelaskan”tujuan revolusi adalah mengubah kepemilikan alat-alat/sarana-sarana produksi secara individualis menjadi dimiliki secara bersama-sama (kolektif), dan membentuk hubungan produksi baru yang sesuai dengan tingkat perkembangan tenaga produktif yang sudah dicapai. Sehingga dengan revolusi sosial inilah, masyarakat maju ke tingkat perkembangan yang lebih tinggi, dan jalan bagi sejarah yang menggerakkan masyarakat ke masyarakat yang lebih maju’’.

Artinya, revolusi sosial memungkinkan terjadinya pembangunan umat manusia secara keseluruhan di muka bumi ini, begitupun dengan kehidupan sosial manusia, akan kembali normal seperti yang saya jelaskan di paragraf pertama. Itulah sosialisme, karena dalam hubungan masyarakat seperti ini semua alat-alat/sarana-sarana produksi dimiliki secara bersama (kolektif). Yang akan mensyaratkan adanya; pertama, peningkatan tenaga produktif (force of production), yakni meningkatnya kapasitas manusia dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Kedua, perubahan hak milik atau transformasi kepemilikan dari milik privat menjadi milik sosial (kepemilikan pribadi alat-alat/sarana-sarana produksi). Ketiga, perubahan kesadaran massa, terutama kesadaran untuk memerintah dirinya sendiri (transformasi ke arah demokrasi langsung). Dan yang harus diingat, jika alat-alat/sarana-sarana produksi dimiliki secara sosial maka tenaga produktif akan berkembang sepenuh-penuhnya, sehingga dapat melimpahkan kemakmuran dan memberikan landasan material bagi peningkatan potensi manusia sampai ke tingkat individu yang sebaik-baiknya, tidak seperti sebelum revolusi dimana potensi (individu) tidak bisa berkembang karena landasan materialnya telah dirampas oleh pemilik/penguasa tenaga produktif. Dengan pemahaman revolusi dalam terminologi ekonomi-politik seperti dijelaskan di atas itulah, potensi (semua) individu untuk menjadi dirinya sendiri sanggup dimaksimalkan potensinya untuk dimanfaatkan sebaik mungkin bagi pembangunan manusia,

Leave a Reply