SHARE

[ Lanjutan: Revolusi Permanen Tidak Relevan Di Manapun, Apalagi Di Indonesia ]

IV.

1928-1940: Pembelaan Trotsky dan “Generalisasi” Teori Revolusi Permanen

IV. 1.

Garis Baru Trosky terhadap Cina

  1. Pada paruh kedua tahun 1928, Trotsky menanggalkan—bahkan dengan tanpa merumuskannya terlebih dahulu—garis absurd kekiri-kirian dalam merepon Cina yang, padahal, ia pertahankan sejak 1927. Pada saat yang sama, ia juga membuat pembelaan panjang bagi teorinya sebelum 1917, revolusi permanen, yang ia beri “wajah” lebih Bolshevik;
  2. Dalam satu artikel yang diselesaikan 4 Oktober, 1928, The Chinese Question after the Sixth Congress, Trotsky lagi-lagi melancarkan kritik keras kepada garis avunturir Komintern-nya Stalin saat merespon Cina dalam kongresnya yang ke-6, September, 1928. Trotsky sekarang menolak gagasan bahwa putsch Canton merupakan signal bagi pemberontakan revolusioner yang baru.

    “Harus secara jeli dipahami bahwa tidak ada, pada saat sekarang, situasi revolusioner di Cina tapi, malah sebaliknya, situasi kontra-revolusioner… (50)

    Dan Trotsky mengajurkan agar Komunis Cina harus menghindari taktik avunturir.

    “…harus ditetapkan dengan lebih jernih dan tajam ketimbang sebelumnya, sikap apa yang harus diambil dalam merespon problem yang akan dihadapkan pada negeri ini; persatuan dan pembebasan nasional; transformasi agrarian yang revolusioner” (51);

  3. Trosky menganjurkan Komunis Cina harus mengajukan tuntutan-tuntuan demokratik dalam rangka membangun oposisi massa terhadap kediktatoran militer Koumintang.

    “…partai komunis bisa dan harus merumuskan slogan majelis rakyat dengan kekuasaan penuh, yang dipilih secara umum, bebas, langsung, tertutup…

    …slogan nasional (majelis rakyat) karenanya harus disandingkan dengan tuntutan delapan jam kerja, perampasan tanah, dan kemerdekaan nasional Cina sepenuhnya. Slogan-slogan tersebut lah yang pasti akan diungkapkan dalam tahap demokratik perkembangan revolusi di Cina.

    Slogan soviet bisa dan harus dikedepankan sejak tahap awal kemajuan revolusioner massa, tapi yang demikian itu harus merupakan kemajuan nyata… Tapi… selama periode surut revolusioner dan selama terdapat perkembangan kecenderungan centrifugal pada massa, maka slogan soviet akan menjadi doktriner, tak punya daya hidup atau, lebih buruk lagi, menjadi slogan yang avonturir. Pengalaman Cina memberikan pengalaman yang lebih baik…” (52);

  4. Namun demikian, Trotsky masih mengatakan “insureksi Cina menunjukan bahwa hanya proletariat pelopor Cina lah yang mampu mengemban pemberontakan dan merebut kekuasaan” (53) Pada kenyataannya, pemberontakan Canton menunjukan bahwa “proletariat pelopor” tak bisa (dengan kemampuannya sendiri) merebut kekuasaan negara, dan apapun upaya untuk melakukannya adalah bunuh diri avonturir. Tugas nyata yang dihadapi proletariat pelopor adalah menyediakan kepemimpinan politik revolusioner kepada massa buruh-tani agar mereka bisa merebut kekuasaan.
  5. Untuk menjawab kebingungan Trotsky, yang mengacaukan pengertian kelas dan partai (posisi lama sebelum 1917, yang kemudian diterapkanya untuk Cina), dalam artikel tahun 1909, The Aim of the ProletarianStruggle in Our Revolution, Lenin mengatakan,

    “Bila persoalan tentang komposisi pemerintahan ini atau itu tidak dikacaukan dengan persoalan tentang kedikatatoran kelas—pendeknya, bila persoalannya diuji secara keseluruhan, maka tak seorangpun dapat membuktikan dengan contoh kongkrit (yang dapat diambil dari pengalaman tahun 1905) bahwa revolusi yang menang tak lain adalah kediktatoran proletariat dan tani… dengan alasan bahwa kedikatatoran tersebut adalah “aksi bersama” kelas-kelas tersebut, yang telah mengemban atau mewujudkan kemenangan revolusi.”

    “Sangatlah tidak benar dari cara pandang teori secara umum, dan dari pengalaman revolusi Rusia. Suatu koalisi kelas sama sekali tidak mengandaikan apakah ada kehadiran partai tertentu yang sangat kuat, atau kehadiran partai secara keseluruhan. Hal tersebut hanya mengacaukan antara pengetian kelas dengan partai.” (54);

  6. Bahkan Trotsky sendiri mencatat, “Di Rusia, kami membentuk pemerintahan buruh dan tani bersama Sosialis Revolusioner-Kiri (SR-Kiri)” selama “transisi menuju keediktatoran proletariat, yang merupakan yang sepenuh-penuhnya dan setuntas-tuntasnya.” (55)
  7. Menurut Trostky, Marxis bisa berpartisipasi dalam pemerintahan demokrasi-revolusioner bila mereka terdiri dari “suatu mayoritas solid” di dalamnya, layaknya pemerintahan buruh. Respon lenin:

    “…pertanyaan tentang kediktatoran kelas revolusioner, bagaimanapun juga, tidak bisa direndahkan menjadi persoalan “mayoritas” dalam pemerintahan revolusioner tertentu, atau syarat-syarat diizinkannya keterlibatan sosial-demokrat dalam pemerintahan tersebut.” (56)

    Sebagaimana Lenin mengacu pada Marx saat merespon “Komune Paris”, yang mengizinkan koleganya duduk sebagai minoritas di dalamnya (57);

  8. Jadi, garis baru Trotsky saat merespon Cina dalam artikelnya tahun 1928, walaupun menekankan kebutuhan utuk memobilisasi massa dengan slogan-slogan demokratik, tapi tidak mengikutkan perubahan dalam perspektif strategi untuk revolusi ketiga di Cina. Dan, walaupun Trotsky tidak lagi secara eksplisit bersikukuh bahwa, dari sejak awal, revolusi ini harus merampas pemilikan di desa dan kota, tapi ia tetap menolak menggunakan formula Lenin tentang kediktaoran demokratik buruh dan tani.

    “…Karena itulah bahwa di tahun 1917slogan kediktatoran demokratik proletariat dan tani sebenarnya diwujudkan di dalam kediktatoran proletariat, dengan menyeret tani…

    …Tapi itu artinya, sebenar-benarnyalah bahwa revolusi Cina yang ketiga, suatu koalisi “demokratik” partai-partai politik masih menghendaki isian yang raksioner dan anti-proletarian dibandingkan dengan Koumintang tahun 1925-27. Oleh karena itu tak ada jalan lain selain membuat koalisi kelas di bawah kepemimpinan langsung proletariat pelopor.” (58)

  9. Trotsky membuat kesalahan teoritik kembali: menerapkan teorinya sebelum 1917 ke dalam revolusi Cina. Kesalahannya menentang rumusan Lenin dapat dilhat dari dua gambaran; di tataran politik, kembali mengulang argumen bahwa koalisi demokratik revolusioner antara buruh dan tani tak bisa diwujudkan karena partai revolusioner borjuis kecil, termasuk yang berbasiskan tani, akan akhirnya tergantung kepada borjuis besar. Dalam hal ini, Trotsky mengacaukan pengertian koalisi kelas dengan koalisi partai; pada tataran sosial, Trotsky berdalih bahwa tidak akan ada basis obyektif bagi “kekuasaan” tani revolusioner karena perkembangan masa depan kapitalisme Cina akan mendorong difrensiasi kelas antara tani miskin dan kaya (di pedesaan) ke tahap sampai-sampai mereka tak mampu mengemban suatu perjuangan bersama. Karena itu, menurut Trotsky, kemenangan revolusi ketiga Cina akan terwujud bukan oleh kediktatoran revolusioner proletariat dan tani secara keseluruhan, tapi oleh kediktatoran proletariat, yang menyeret tani miskin di belakangnya;
  10. Bagi Marxis orthodox, istilah “kediktatoran proletariat”, sebagaimana dijelaskan dalam karya Lenin tahun 1917, The State and Revolution, adalah kekuasaan negara revolusioner untuk mengorganisasikan kelas buruh dalam rangka menindas perlawanan borjuis selama periode transisi antara kapitalisme ke masyarakat masa depan yang tanpa kelas, masyarakat sosialis. Kekuasaan negara yang mengorganisir kelas buruh ,yang beraliansi dengan tani secara keseluruhan, untuk menindas perlawanan tuan tanah dan industrialis besar demi menuntaskan revolusi demokratik, juga merupakan suatu bentuk kekuasaan kediktatoran proletariat, kekuasaan negara kelas buruh tapi belum merupakan kediktatoran sosialis proletar—yakni kekuasaan negara yang mengorganisir kelas buruh dan unsur-unsur semi-proletariat untuk menindas perlawanan kapitalis yang menolak “penghapusan hak milik borjuis di kota dan di desa”.;
  11. Bila, sebagaimana yang didalilkan dalam tulisan Trotsky tahun 1928 (tentang Cina), bahwa yang dibutuhan Cina dalam revolusi Cina adalah kediktatoran proletariat, yang bersekutu dengan tani miskin saja, maka tugas strategis yang dihadapi proletariat Cina pastinya bukan berjajar bersama tani secara keseluruhan demi revolusi demokrasi nasional melawan para pemilik tanah besar dan para penghisap asing, sebagai satu tahapan menuju revolusi sosialis; tugas strategis yang dihadapi proletariat Cina jadinya adalah menggerakan tani miskin untuk revolusi sosialis dengan segera melawan tani kaya dan borjuis kota. Sehingga tak aka nada tahap demokratik dalam revolusi ketiga Cina;
  12. Mandel mengakui bahwa prediksi Trotsky bulan Juni, 1928, mengenai masa depan revolusi Cina adalah benar:

    “Sejak awal 1950—dengan kata lain, lebih cepat dari periode di Rusia setelah tahun 1917—setepatnya, sebagaimana diprediksi Trotsky, sekitar 65% modal industri Cina dan 80% kapitalisme Industrial modern dinasionalisasikan. Nasionalisasi-nasionalisasi tersebut mendahului reformasi tanah (land reform) di seluruh negeri. Jadi, mana itu “tahap demokratik” (59)

    Memang benar, Pemerintah Rakyat Pusat-nya Mao, segera setelah membentuk pemerintahnya, mengambil-alih lebih dari 2.000 perusahaan industri yang bernilai 80% dari asset kapital tetap Cina. Tapi, perusahaan-perusahaan industri tersebut sudah dimiliki oleh negara sebelum pemerintah Mao Zedong berkuasa. Sebelumnya, pemiliknya adalah investor-investor Jepang, dan kebanyakan terkonsentrasi di Manchuria, yang diduduki tentara Jepang dari tahun 1937 hingga tahun 1945. Pada akhir Perang Dunia II, pemerintahan borjuis-tuan tanah menasionalisasikan dan menjalankannya sebagai perusahaan negara.

    Memang benar, perusahaan-perusahaan tersebut bernilai 80% dari asset kapital tetap Cina, tapi nilainya hanyalah 37,7% dari keseluruhan nilai produksi indutri Cina. Sebagian besar nilai output industri diproduksi oleh pabrik-pabrik yang berlokasi di kota-kota pantai Cina Tengah dan Selatan, yang tetap di bawah kepemilikan pribadi/swasta hingga tahun 1953. Antara tahun 1950 hingga tahun 1953, jumlah perusahaan industri swasta justru sebenarnya bertambah—dari 23.000 menjadi 150.000, yang mempekerjakan 2,3 juta buruh, dibandingkan dengan 800.000 yang diperkejakan di perusahaan-perusahaan negara.

    Hanya pada tahun 1953, setelah reformasi agrarian borjuis-demokratik telah dituntaskan di seluruh Cina daratan, rejim Mao memobilisasi kelas buruh untuk menghancurkan perlawanan borjuis Cina terhadap program rejim yang akan merampas seluruh hak milik kapitalis.

IV. 2.

Pembelaan Trotsky terhadap Teorinya sebelum Tahun 1917, Revolusi Permanen.

  1. Oktober, 1928, Trotsky menyelesaikan tulisan pembelaan (yang panjang) bagi teorinya (sebelum 1917), revolusi permanen. Semua harapan dalam buku tersebut adalah untuk menghasilkan kepercayaan bahwa ketidaksepakatannya terhadap Lenin (sebelum 1917) mengenai perspektif revolusi Rusia (disederhanakan) hanyalah sekadar perbedaan dalam tekanannya:

    “Sementara Lenin, yang meletakkannya dari peran kepemimpinan proletariat, menekankan dan mengembangkannya dengan berbagai cara kebutuhan/keharusan kolaborasi demokratik buruh dan tani—ini yang diajarkan kepada kami semua—sedangkan aku, meletakkannya dari kolaborasi tersebut, menekankan dengan berbagai cara kebutuhan/keharusan kepemimpinan proletariat tidak saja dalam blok tersebut tapi juga dalam pemerintahan… Tak ada perbedaan yang bisa diangkat dalam persoalan tersebut.” (60)

    Argumen tersebut tidak sepenuhnya benar. Awalnya, sebelum 1917, Trotsky “tidak seringkali” mengakui sentralitas “kolaborasi demokratik-revolusioner antara buruh dan tani”. Ia sebalikanya menyangkal kemungkinan kolaborasi semacam itu;

  2. Trotsky juga menekankan kepastian kolaborasi tersebut melalui partai-partai yang independen, dan menganggap tani tak mampu membentuk partai-partai yang benar-benar independen, baik terhadap borjuis maupun terhadap proletariat. (61) Dengan demikian, Trotsky menganggap, bila partai tani bisa berposisi independen maka revolusi bisa langsung dalam kerangka kediktatoran proletariat.

    Lenin bukannya tak bisa menjamin relasi politik semacam apa yang seharusnya terhadap proletariat dalam revolusi demokratik yang berhasil dimenangkan. Lenin menyatakan dalam Letter on Tactics “… hanyalah menggambarkan hubungan kelas, dan bukan satu institusi politik kongkrit yang diterapkan ke dalam hubungan tersebut, kooperasi tersebut. (62)

    Sekali lagi, Trotsky telah jatuh pada kesalahan teoritik, mengacaukan pengertian koalisi kelas dengan koalisi partai;

  3. Dan penjelasan Trotsky tentang evolusi partai tani Sosialis Revolusioner (SR) menghilangkan episode penting, (63) yakni perpecahan SR tak lama sebelum insureksi Oktober, dan masuknya sayap kiri SR ke dalam aliansi revolusioner dengan Bolshevik, termasuk pada tingkatan pemerintahan, selama tahap demokratik revolusi Oktober, yakni selama periode November 1917 hingga pertengahan 1918, saat proletariat bersekutu dengan tani secara keseluruhan. Aliansi tersebut berakhir setelah proletariat Bolshevik mendukung tani miskin melawan tani kaya (kulak), dan revolusi memasuki tahap sosialis. Barulah, setelah itu, sayap borjuis kecil SR-Kiri, bergantung pada SR-Kanan, sayap kanan Menshevik, Kadet, dan imperialis Entete (aliansi pasca perang antara Inggris-Perancis) untuk mengorganisasikan perang saudara kontra-revolusioner borjuis-tuan tanah menentang buruh Rusia.

    Jadi, kebalikannya dari Trotsky, walaupun rumusan Lenin tentang kediktatoran-demokratik buruh dan tani tidak tergantung pada ada tidaknya partai tani independen, tapi harapan Lenin bahwa partai tersebut akan muncul selama revolusi borjuis-demokratik menjadi kenyataan pada pengalaman revolusi Oktober.

    Klaim Trotsky bahwa tani tak akan mengedepankan kebijakan independen juga tidak terbukti. Pada tahun 1917 tani mengajukan tuntutan pembagian tanah. Dalam polemiknya dengan Kautsky pada tahun 1918, Lenin menyatakan bahwa kebijakan tersebut bukan dari Bolshevik dan, walaupun Bolshevik tidak menyetujuinya, tapi mereka tetap mendukungnya “karena itulah tuntutan sebagian besar tani” (64)

IV.3.

Identifikasi Trotsky dalam Memahami Kebijakan Bolshevik terhadap Menshevik

  1. Dalam pamphlet Permanent Revolution, yang ditulisa pada tahun 1928, Trotsky mengatakan bahwa pada bulan November, 1928, Bolshevik telah mendeklarasikan persetujuannya terhadap rumusan awal gagasannya: revolusi tanpa hambatan dalam makna mendorong revolusi demokratik proletariat dan tani menuju revolusi sosialis. Tapi, kemudian, dalam bulan Desember 1928, Trotsky mengklaim bahwa hingga tahun 1917 Bolshevik percaya revolusi demokratik proletariat dan tani harus diikuti oleh beberapa dekade perkembangan industri sebelum revolusi sosialis-proletar dimungkinkan.
  2. Perbedaan antara konsepsi Leninis, revolusi tanpa hambatan, dengan revolusi permanen Trotsky lebih jelas pada tahun 1906. Pada akhir 1905, Trotsky berdalih “… antara program minimum dan maksimum (sosial-demokrasi) diletakkanlah kontinuitas revolusioner”. Bolshevik “sepenuhnya sepakat” dengan gagasan tersebut. Tapi dalam pamflet tahun 1906, Results and Prospects, Trotsky mengganti gagasannya dengan pandangan ultra kirinya.

    “ Segera saja… begitu kekuasaan sudah ditransfer ke tangan pemerintahan revolusioner, dengan mayoritas sosial, maka pemisahan program maksimum dan minimum kita kehilangan signifikansinya, baik secara prinsipil maupun kesegeraan prakteknya.”

    Itulah yang tidak disetujui oleh Lenin dan Bolshevik, tak saja pada tahun 1905-06, tapi juga pada tahun 1917-18.

  3. Dua bulan setelah mengakui dalam tulisannya, revolusi permanen, bahwa Bolshevik sejak tahun 1905 tak akan “berhenti” untuk menuntaskan tanggung jawab revolusi borjuis-demokratik, tapi “melanjutkan jalannya” menuju sosialis, Trotsky menggambarkan pandangan yang berbeda tentang posisi Bolshevik pada tahun 1905-1917.

    Dalam artikel yang berjudul Marxism and Relation between the Proletarian and Peasant Revolution, Trotsky mengakui adanya gagasan Menshevik yang menyatakan harus ada tahap pertama revolusi borjuis-demokratik, kemudian setelah tenaga produktifnya dikembangkan dalam jangka waktu yang lama (di landasan kapitalis), maka barulah datang masa revolusi sosialis dengan sendirinya. Gagasan tersebut muncul sebelum konferensi partai Bolshevik pada bulan Maret, 1917. Pandangan itulah yang menyebabkan banyak perspetif yang menolak pengambilan kekuasaan oleh perwakilan soviet buruh dan prajurit. Sehingga, katanya: “… posisi revolusi permanen, yang menggabungkan revolusi demokrasi dengan revolusi sosialis ke dalam kerangka satu tahap, benar-benar tak mendapatkan tempat, dianggap anti-Marxis, menakutkan.

  4. Identifikasi Bolshevik disamakan dengan posisi Menshevik adalah absurd. Pada bulan Mei, 1931, dalam artikel The Spanish Revolution and the Danger Threatening It, ia mengatakan bahwa rumusan Bolshevik tiada lain adalah kapitalis negara (kediktatoran bojuis terhadap proletariat).

    Itu adalah salah pemahaman terhadap pengertian Lenin yang menyatakan bahwa seharusnya kediktatoran buruh dan tani sudah nyata dalam bentuk perwakilan soviet buruh dan prajurit, namun buruh dan prajurit dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintahan sementara kapitalis.

IV.4.

Generalisasi Teori Revolusi Permanen Trotsky

  1. Pada akhir edisi pertama, 1929, The Permanent Revolution, Trotsky menambah kesimpulan mengenai “postulat dasar” revolusi permanen: “… terutama bagi negeri-negeri kolonial dan semi colonial, teori revolusi permanen memberikan pengertian pentingnya solusi yang tuntas dan sejati mengenai tugas mereka mencapai demokrasi dan emansipasi nasional, yang bisa diwujudkan melalui kediktatoran proletariat sebagai pimpinan bangsa yang dijajah, di atas segalanya, pimpinan massa taninya.

    Dan ia juga menyatakan perbedaanya dengan Bolshevik:
    “… ini artinya bahwa ‘kediktatoran proletariat dan tani’ hanya bisa dipahami sebagai kediktatoran proletariat yang memimpin massa tani di belakangnya. (65)

    Dan ia menganggap kediktatoran proletariat dan tani bisa diwujudkan bila ada partai tani yang independen.

  2. Sekali lagi Trotsky tidak melihat makna sejarah perkembangan gerakan tani di Rusia, bahkan keterlibatannya (SR-Kiri) dalam pemerintahan Bolshevik. Ya, sekali lagi dia mengacaukan antara koalisi kelas dengan komposisi partai politik di dalam pemerintahan. Bila saja, dalam kerangka metodologinya yang salah itu, Trotsky mengakui eksistensi koalisi pemerintahan tersebut, maka terpaksa ia harus mengakui bahwa “kediktatoran demoratik butuh dan tani” memang telah dikukuhkan di Rusia pada tahap awal revolusi demokratik Oktober. Dengan menghilangkan koalisi pemerintahan ini dari catatan sejarah, Trotsky “berhasil” mempertahankan dogma teorinya: tak akan ada tahap transisional kekuasaan negara buruh dan tani dalam revolusi proletariat di negeri yang kaum taninya dominan.
  3. Trotsky juga memanipulasi posisi komintern di bawah Stalin dengan posisi Bolshevik yang mengajukan slogan kediktatoran-demokratik proletariat dan tani. Padahal posisi komintern di bawah Stalin adalah “blok empat kelas”.
  4. Lihat juga postulatnya yang ambigu:
    “Kediktatoran proletariat, yang dalam merebut kekuasaan berperan sebagai pimpinan revolusi demokratik tak terhindarkan dan secepatnya dihadapkan pada tugas, menuntaskan… hak kepemilikan borjuis. Revolusi demokratik berkembang secepatnya menuju revolusi sosialis dan karenanya menjadi revolusi permanen” (66)

    Apakah itu artinya revolusi demokratik akan berkembang secepatnya tanpa hambatan menuju revolusi sosialis begitu tugas borjuis-demokratik sudah dituntaskan (sebagaimana yang diajukan Lenin)? Atau itu artinya revolusi demokratik segera menuju revolusi sosialis, dengan tugas demokratik dan sosialis diimplementasikan secara simultan (sebagaimana dianjurkan Trotsky sebelum tahun 1917, dan dipertahankan kembali tahun 1928 dalam kaitannya dengan revolusi Cina)?

  5. Analisa perkembangan revolusi Oktober yang digambarkan Trotsky dalam bukunya membiarkan isu tersebut tetap tak jelas. Ia mengacu pada revolusi demokratik yang telah diwujudkan dalam “tahap pertama” revolusi Oktober, dan bersikukuh bahwa revolusi demokratik sudah diselesaikan… dalam bentuk kediktatoran proletariat yang didukung perang tani—dan kemudian beberapa bulan setelahnya, mulai berkembang menuju kediktatoran sosialis. Tapi, tepat di paragraph berikutnya ia mengakui bahwa “dinamika kelas” dalam revolusi telah “begitu campur aduk, yakni mengkombinasikan” tahap borjuis dengan sosialis.

V.

Setelah memahami situasi nasional dan kesejarahan masyarakat Indonesia dalam cara pandang Leninis (sebagaimana dijelaskan di atas), maka bisa disimpulkan bahwa teori revolusi permanen tidak relevan untuk diterapkan ke dalam taktik perjuangan rakyat Indonesia. Tapi, bisa saja ada yang berpendapat lain, mari kita bicarakan bersama dalam diskusi ini.

_________

Catatan Kaki:

(47) Ibid.
(48) Ibid.
(49) Ibid.
(50) Trotsky, Leon Trotsky on China.
(51) Ibid.
(52) Ibid.
(53) Ibid.
(54) Lenin, CW, Vol.15.
(55) Trorsky, The First Five Years if the Communist International (New York, 1972), Vo. 2.
(56) Lenin, opcit, Vol.15.
(57) Lihat lampiran artikel ThePAris Commune and the Task of the Democratic Dictatorship, dalm Lenin, On the Paris Commune (Moscow, 1974).
(58) Trotsky, Leon Trotsky on China.
(59) Mandel, On the Workers and Peasant Government, International Internal Discussion Bulletin (New York, 1984).
(60) Trotsky, The Permanent Revolution.
(61) Ibid.
(62) Lenin, CW, Vol. 24.
(63) Lihat Trotsky, Ibid.
(64) Lenin, CW, Vol. 28.
(65) Trotsky, The Permanent Revolution.
(66) Ibid.

Leave a Reply