SHARE

Lenin Trotsky_0

[ Danial Indrakusuma ]

Revolusi Permanen Tidak Relevan Di Manapun, Apalagi Di Indonesia.

I. Pengantar

  1. Trotsky adalah figur utama Partai Buruh Sosial-Demokrasi Rusia (PBSDR) sejak Kongres ke-II, 1903; bergabung dengan Bolshevik Juli, 1917, dan menjadi salah satu pimpinan sentralnya; saat Bolshevik sudah menjadi mayoritas dalam Perwakilan Sovyet Buruh-Prajurit, ia terpilih menjadi Presidennya [pada insureksi 7 November (25 Oktober), 1917]; ia juga terpilih sebagai Ketua Komisaris Rakyat untuk urusan Luar negeri dan Urusan Perang pemerintahan Sovyet; ia juga bertanggung jawab terhadap pengorganisasian Tentara Merah (1918), dan menjadi panglimanya saat terjadi Perang Sipil tahun 1918-1921; pimpinan sentral Komunis Internasional (Komintern) dalam 5 tahun pertama; sejak pertengahan 1920, ia adalah juru bicara oposisi Bolshevik-Leninis dalam Partai Komunis Uni Sovyet, menentang garis anti-proletariat birokrasi Stalin;
  2. Sumbangan utama bagi pembendaharaan teori–teori gerakan Marxist selama tahun ‘30-an:
    • Menulis History of the Russian revolution (3 Jilid, 1932-33), merupakan eksposisi Marxis terhadap kemenangan Bolshevik pada tahun 1917;
    • Menulis (dalam bahasa jerman) analisa marxis yang sitimatis tentang hakikat fasisme dan strategi-taktik kelas pekerja untuk melawannya;
    • Pada tahun 1936, menulis The Revolution betrayed, suatu pejelasan Marxis tentang hakikat dan penyebab munculnya pemerintahan sovyet di bawah Stalin;
  3. Sejak ia dibuang dari Sovyet (1923) hingga kematiannya (1940), ia mendedikasikan hidupnya bagi organisasi kader Marxis, Internasional ke-4 (4th Internastional), yang berupaya mempertahankan warisan Bolshevik dan capaian programatik Komintern semasa ia masih menjadi bagiannya. Itulah sumbangan terpenting bagi gerakan revolusioner;
  4. Menurut James P. Cannon, dalam The History of the American Troskyism, Trotkyisme bukanlah merupakan gerakan baru tapi restorasi atau upaya membangkitkan Marxisme yang telah behasil diuji dalam revolusi Rusia dan di tahap awal komintern. Itulah mengapa dalam beberapa doktrin utamanya gerakan Trotskyisme berarangkat dari klaim tersebut; (2)
  5. Menurut Lenin, pengertian keberhasilan revolusi di Rusia adalah: keterbelakangan Rusia bersentuhan—dalam cara yang tak lazim—dengan revolusi proletar melawan borjuis, dan revolusi petani melawan Tuan tanah. Lenin juga mengutip Apa yang dikatakan Marx pada tahun 1856—bahwa, seperti di Prusia, terdapat kemungkinan kombinasi yang tak lazim antara revolusi proletariat dengan perang tani. Dan sejak awal 1905, Bolshevik menganjurkan gagasan Kedikatatoran Demokrasi-Revolusioner Proletariat dan Tani; (3)
  6. Gagasan tersebut lah yang menjadi posisi oposisi Bolshevik-Leninis terhadap posisi Stalin dalam Partai Komunis Uni Sovyet (PKUS)—yakni blok empat kelas (menyatukan perwakilan buruh, tani, borjuis kecil, dan borjuis nasional). Namun gerakan Troskyis internasional menolak posisi Bolshevik dan memiliki posisinya sendiri, yakni menghidupkan kembali teori Trotky sebelum tahun 1917: revolusi permanen;
  7. Sebagai juru bicara oposisi tersebut, Trotsky berdalih mengenai platform oposisi: slogan”soviet”, sebagaimana yang diajurkan Lenin bagi China di awal tahun 1920, memiliki kemunginan justifikasinya dalam kondisi di China tahun 1926-27—tani bisa dikonsolidasikan ke dalam soviet di bawah kepeminpinan proletariat; sovyet adalah lembaga nyata kediktatoran demokrasi-revolusioner proletariat dan tani. Jadi, dotrin Lenin bahwa revolusi borjuis-demokratik hanya bisa dimenangkan bila ada penyatuan kelas pekerja dengan tani (di bawah kepemimpinan kelas pekerja), bukan saja bisa diterapkan di Cina tapi juga di negeri-negeri kolonial dan semi-kolonial. Saat mengejek Stalin, ia mengatakan bahwa dalam pandangan Stalin slogan sovyet adalah cerminan dari tuntutan untuk segera mengkukuhkan kediktatoran proletariat; padahal, menurut Trotsky, sebenarnya, sejak revolusi 1905, Lenin mengajukan slogan slogan soviet sebagai organ kediktatoran-demokratik proletariat dan tani; (4)
  8. Tapi, dalam resolusi pertamanya, gerakan Trotskyis internasional mengatakan bahwa prinsip mendasar dari gerakan mereka adalah “menolak rumusan kediktatoran demokratik proletariat dan tani sebagai rejim yang terpisah dari kediktatoran proletariat, yang mendapatkan dukungan dari tani dan massa tertindas secara keseluruhan.”; (5)
  9. Posisi tersebutlah yang menjadi pernyataan (statement) programatik mendasar dalam Kongres pendirian Internasional ke-4 pada tahun 1938. Dalam dokumennya, Transitional Program, mereka mendeklarasikan bahwa kediktatoran proletrariat dan tani sudah “dikubur oleh sejarah” dan kaum Stalinis mencoba menghidupkannya kembali. (6); dokumen Kongres tersebut juga menyatakan bahwa kecenderungan perkembangan umum revolusioner di semua negeri terbelakang bisa dipahami oleh rumusan revolusi permanen, dalam makna sebagaimana yang terjadi dalam tiga revolusi di Rusia (1905; Februari, 1917; Oktober, 1917); (7)
  10. Dengan demikian, secara tak langsung, ingin diaktakan bahwa teori Trotsky sebelum tahun 1917, revolusi permanen, lebih unggul ketimbang kebijakan Bolshevik yang memandu tindakan revolusioner di negeri-negeri yang industrinya masih terbelakang. Itulah yang mendasari artikel-artikel resmi di kalangan kaum Trotskyis;
  11. Sebagaimana yang dikatakan Cannon, sebenarnya, gerakan Trotskyis merupakan kendaraan utama untuk mentrasmisikan warisan Marxisme sejati Bolshevik—yang telah diuji dalam revolusi Rusia dan tahun-tahun awal Komintern—kepada buruh yang berpikiran revolusioner dan kepada mahasiswa/inteketual dunia khususnya di negeri-negeri maju dalam dekade-dekade akhir abad ke-20. Tapi, tentu saja, tak lepas dari kesalahpahaman terhadap teori dan kebijakan Bolshevik yang dibuat Trotsky pada tahun 1920-an dan 1930-an;
  12. Jadi, pembahasannya adalah bagaimana membedakan teori Trosky revolusi permanen dengan teori dan kebijakan dari Leninisme. Namun, tentu saja, harus dibedakan dengan pernyataan Stalin, yang mengatakan bahwa teori revolusi permanen bertentangan dengan Leninism karena Trotsky menolak gagasan bahwa sosialisme bisa diwujudkan di satu negeri (socialism in one country), yakni Rusia, tanpa kemenangan revolusi sosialis di negeri-negeri yang lebih maju. Padahal, tak seperti Stalin, Lenin justru tak setuju dengan gagasan “socialism in one country”. [Anehnya, Stalin sendiri penah berkata dalam Foundation of Leninism (1924): “…bisakah terwujud kemenangan akhir sosialisme di satu negeri tanpa upaya bersama proletariat di beberapa negeri maju? Tidak, tidak bisa.” (8); pernyataan tersebut tak bedanya dengan tiruan apa yang dikatakan Lenin: “…upaya bersama buruh dari beberapa negeri maju dibutuhkan bagi kemenangan sosialisme.” (9)];
  13. Pembahasan ini tidak akan menganalisa begitu banyaknya distorsi terhadap pandangan Lenin—saat melihat dinamika kelas dalam evolusi Rusia—yang dibuat oleh Trotsky dan para pengikutnya; namun, akan lebih baik berkonsentrasi kepada sumber sejati distorsi-distorsi tersebut—yakni, Trotsky itu sendiri.

II.

1905 Hingga 1917: Bolshevikisme dan Trotskyisme

II. 1.

Bolshevik Versus Menshevik

  1. Bolshevik dan Menshevik percaya bahwa tugas mendasar kelas pekerja Rusia adalah: revolusi borjuis-demokratik—penggulingan T’sar; penghapusan tuan tanah semi-feodal; dan menjamin kebebasan politik. Perbedaannya terletak pada: kesimpulan tentang garis strategis yang akan diemban oleh kelas pekerja dan kepeloporan (vanguard) politiknya untuk menuntaskan revolusi tersebut;
  2. Menshevik: mengkonsolidasikan kekuasaan politik kapitalis industri; beraliansi dengan kaum liberal yang tercerahkan; republik demokratik yang didominasi kapitalis; revolusi sosialis setelah beberapa dekade perkembangan kapitalis menuju masyarakat industri; Bolshevik: membantu dan memimpin revolusi tani menentang sisa-sisa feodal yang masih hidup (revolusi demokratik); aliansi buruh-tani; pemerintahan revolusioner yang berbasiskan buruh dan tani.

    Lenin, dalam The Attitude to the Bourgeois Parties, mengatakan bahwa proletariat harus memimpin revolusi borjuis-demokratik beraliansi dengan borjuis kecil, terutama tani; melawan otokrasi dan pengkhianatan borjuis liberal—pengkhianatannya tak terelakan, sudah diperkirakan, karena kepentingan kelas mereka berbeda dengan kepentingan proletar, dan khawtir akan gerakan proletar. Kemenangan penuh revolusi borjuis-demokratik hanya dimungkinkan dalam bentuk kediktatoran demokrasi-revolusioner proletariat dan tani.

    Lebih lanjut, Lenin mengatakan bahwa Menshevik melarang proletariat melampaui apa yang bisa diterima borjuis dan harus mengajukan kebijakan yang dapat mengkompromikan kepentingan borjuis—reformisme. Sedangkan Bolshevik tidak terikat oleh reformisme, mendorong revolusi borjuis-demokratik sampai akhir (revolusi sosialis). Revolusi borjuis-demokratik: proletariat yang beraliansi dengan tani akan menetralisir kekuatan borjuis liberal, dan tanpa ampun akan menghancurkan monarki, medievalisme dan sistim feudal-tuan tanah; sedangkan revolusi sosialis: proletariat yang beraliansi dengan semua kekuatan semi-proletar (semua kaum pekerja dan orang-orang yang tertindas) untuk mentralisir kekuatan tani-menengah dan menggulingkan borjuis.(10)

    Proletariat yang memimpin revolusi demokratik, dalam wujud tindakan bersama melawan musuh-musuhnya, merupakan syarat kemenangan dan landasan bagi revolusi sosialis. (11)

    Dalam semua organ embrionik kekuasaan revolusioner (Sovyet Perwakilan Buruh; Sovyet Perwakilan Tani; Sovyet Perwakilan Prajurit; dan sebagainya) perwakilan proletariat merupakan partisipan utama, diikuti kemudian oleh perwakilan tani yang paling maju dan paling memberontak. (12)

    Dengan pimpinan partai Marxis, proletar melanjutkan revolusi tanpa hambatan (uninterrupted revolution)—dari revolusi borjuis-demokratik menuju revolusi sosialis.

    “…berangkat dari revolusi demokratik, kita akan dengan segera, tepatnya sesuai dengan perhitungan kekuatan kita, kekuatan kesadaran kelas dan proletariat yang terorganisir, agar dapat menuju revolusi sosialis. Itulah posisi kita—revolusi tanpa hambatan. Kita tak akan setengah hati. Mengapa kita tidak dengan segera menjanjikan segala macam “sosialisasi”, itu karena kita tahu kondisi aktual untuk memenuhinya…” (13) Lenin tak pernah mau berkalkulasi tentang kombinasi kekuatan di kalangan tani “sehari setelah” revolusi demokratik, baginya itu utopianisme kosong.;

  3. Memberikan batas artifisial tembok Cina terhadap tahap revolusi demokratik ke tahap revolusi sosialis, memisahkannya selain dengan alasan kadar kesiapan proletariat dan kadar penyatuannya dengan tani miskin, akan mendistorsi Marxisme secara mengerikan, memvulgarkannya, dan menggantikannya dengan liberalisme. Proses terciptanya kesiapan tersebut terjadi antara musim panas hingga musim gugur 1918, saat terjadi pemberontakan kulak—sehingga petani miskin sadar (bukan dari buku atau koran, tapi dari pengalamannya sendiri) bahwa kepentingan mereka bertentangan dengan kepentingan kulak, tani kaya dan borjuis desa; sehingga, kemudian, mereka membentuk Komite Tani Miskin. Kebenaran revolusi dua tahap: tahap pertama, sampai Juni-Juli, 1918, transfer kekuasaan politik (di kota) kepada sovyet buruh dan organ-organ lain kekuasaan proletariat, bersekutu dengan tani. Juga transfer kekuasaan politik di desa, disertai penyerahan kekuasaan tanah-tanah semi-feodal kepada sovyet tani; tahap kedua, dimulai Juli hingga November, 1918, proletariat, menggunakan kekuasaan negara yang direbutnya, mengkonsolidasikan kekuatan di kota—yang dimenangkan dalam tahap petama—untuk membuat aliansi dengan mayoritas semi-proletariat tani melawan borjuis desa dan kota. (14) 40.000 tentara buruh dikirim ke desa untuk membantu tani miskin mengorganisir dirinya, terbebas dari soviet desa yang didominasi tani kaya, juga untuk merampas surplus panen, tanah, ternak dan alat-alat produksi tani kaya. Sovyet tani kemudian berada di bawah kendali tani miskin dan buruh pertanian. Delapan bulan revolusi tanpa hambatan merupakan bukti keberhasilan kepemimpinan buruh dalam mengawal revolusi dua tahap (tanpa hambatan), dari revolusi demokratik ke revolusi sosialis.

II.2.

Ketidaksepakatan Trotsky terhadap Bolshevik

  1. Dalam masalah tersebut di atas, mengapa pandangan Trotsky (sebelum 1917) berbeda dengan pandangan Lenin?
  2. Trotsky sepakat dengan posisi Bolshevik dalam hal bagaimana proletar harus bersikap terhadap borjuis;
  3. Sebelumnya, pada tahun 1903, saat terjadi perpecahan dalam PBSDR, Trotsky memihak Menshevik. Walaupun ia, pada tahun 1904, ia keluar dari Menshevik dikarenakan perbedaan sikap terhadap borjuis, namun tetap saja perbedaannya dengan Bolshevik harus tetap diperhitungkan;
  4. Bolshevik: membenarkan bahwa proletar harus beraliansi dengan tani secara keseluruhan (termasuk borjuis tani, petani kaya, atau kulak), dan memimpinnya secara independen dalam rangka merebut kekuasaan dari T’sar;

    Trotsky: sama dengan Menshevik dalam hal melihat tani—dalam pandangannya tani terlalu terbelakang, terpecah-pecah dan pasif untuk beperan sebagai sekutu strategis dan menjadi kekuatan sosial utama dalam revolusi borjuis-demokratik;

  5. Dalam satu artikel yang dicetak (tahun 1915) di terbitan Nashe Slovo, dan diedit bersama dengan Julius Martov, Trotsky mengatakan bahwa, berdasarkan pengalaman revolusi (tahun 1905) dan reaksi (penindasan rejim T’sar), sudah diduga tani akan memainkan peran yang kurang independen, apalagi menentukan, dalam perkembangan kejadian-kejadian revolusioner tahun 1905. Mereka masih berada dalam cengkraman tanah dan perbudakan feodal, terpecah-pecah secara ekonomi dan ideologi, tidak matang secara politik, terbelakang secara budaya, dan sulit untuk dibantu walaupun, sebenarnya, bermusuhan terhadap rejim lama. Dengan memperhitungkan pengalaman 1905, persoalannya bagi proletariat industri adalah bagaimana mengajak proletariat desa dan semi-proletariat ketimbang tani tanah feodal. Menurut Trotsky, perkembangan revolusi sosial pada saat itu semakin mengurangi peran revolusioner borjuis kecil dan tani, semakin menumbuhkan pentingnya peran revolusioner proletariat industri. (15);
  6. Dalam penjelasan-pokok pertama tentang teorinya, “revolusi permanen”, yang ada dalam tulisan Results and Prospects, bab kesimpulan dalam satu jilid kumpulan esay yang berjudul Our Revolution (1906), Trotsky mengatakan bahwa dalam hakikat sosio-historis Rusia terletak beban revolusi borjuis di pundak proletar. Jadi, konsekwensi posisi Trotsky, yang mengabaikan tani secara keseluruhan, adalah memaksa proletariat harus mengemban revolusi sendirian. Logika posisi tersebut juga memaksa proletariat mewujudkan revolusi sosialis “secara simultan” dengan revolusi demokratik (karakter ultra-kiri) atau, salah satu contoh kongkritnya, menolak membagi-bagikan tanah-tanah besar kepada tani tapi dengan “segera” mereorganisasikannya ke dalam perkebunan kolektif;
  7. Bolshevik: mendukung perampasan tanah-tanah besar oleh komite petani, dan membiarkannya terbuka—mereorganisasikannya sesuai dengan tingkat kesadaran tani miskin; menilai relasi kekuatan kelas di desa; bila tani miskin sudah mau berkontradiksi dengan tani kaya dan mengakui keunggulan produksi sosial ketimbang produksi komoditi kecil, serta mulai menuntut tanah-tanah tersebut dialihkan kepada koperasi, maka Bolshevik akan membantunya untuk mewujudkannya; tidak menentang pandangan borjuis kecil [pembagian tanah-tanah besar kepada tani miskin untuk dijadikan pertanian skala kecil-kecil (equal land tenure)], tapi juga tidak menganjurkan; yang penting bagi proletaraiat adalah memelihara aliansi dengan mayoritas tani—yang termiskin dan merupakan bagian semi-proletarnya. Equal land tenure memiliki nilai revolusioner dalam revolusi borjuis-demokratik. Dan Bolshevik percaya bahwa Marxis tidak bisa melompati batas-batas tahap revolusi borjuis-demokratik tersebut, tidak bisa melampauinya. Dengan mengupayakan mencapai batas-batas tersebut, akan membuktikan kepada rakyat bahwa solusi-solusi borjuis-demokratik tidaklah memadai dan dibutuhkan upaya untuk mendorongnya melewati batas-batas tersebut, bergerak menuju sosialisme; (16)

    Posisi Bolshevik dan Trotsky: menurut Bolshevik, pendekatan Trotsky dalam menjawab problem tanah mencerminkan “penolakan”nya terhadap peran menentukan tani dalam revolusi borjuis dan aliansi demokratik-revolusioner antara kelas pekeja dengan keseluruhan tani sebagai jembatan yang dibutuhkan menuju aliansi anti-kapitalis antar buruh dengan tani. Bila saja Bolshevik di kota-kota besar dan pusat-pusat industri besar belum mampu berjuang bersama kaum miskin desa melawan tani kaya, maka terbukti bahwa revolusi sosialis “belum matang” di Rusia. Dengan demikian tani “secara keseluruhan merupakan bagian” yang tetap dicengkram oleh kepemimpinan ekonomi, poitik, dan moral kulak, orang-orang kaya dan borjuis dan, karenanya revolusi tak akan bisa beranjak dari revolusi borjuis-demokratik. (17);

  8. Bila dipahami dari tulisannya Results and Prospects, Trotsky menghendaki: begitu merebut kekuasaan, segera proletariat dipaksa untuk mengemban perjuangan kelas di pedesaan dan, dengan cara itu, akan menghancurkan komunitas kepentingan-kepentingan (sekecil apapun) yang terdapat di kalangan tani. Begitu mengambil kekuasaan, peroletariat akan mendapatkan dukungan dalam antagonisme antara kaum miskin desa dengan kaum kayanya, antara proletariat pertanian dengan borjuis pertanian.

    Namun, kemudian, Trotsky pesimis akan kemampuan proletar untuk membuat aliansi dengan tani miskin untuk menentang borjuis pedesaan. Menurutnya, karena heterogenitas tani menciptakan kesulitan dan menyempitkan basis bagi kebijakan proletariat, dan kadar ketidaklayakan difrensiasi kelas akan menciptakan hambatan dalam meperkenalkan (kepada tani) perjuangan kelas yang maju, maka revolusi hanya akan mengandalkan proletariat kota sebagai sandarannya. Namu, katanya lagi, keprimitifan tani membuatnya memusuhi proletar.

    Mengapa Trotsky percaya bahwa “kebijakan proletar” akan menghasilkan permusuhan dari keseluruhan tani, termasuk mayoritas semi-proletarnya? Itu karena “menempatkan kolektivisme sebagai masalah yang mendesak (place collectivism on the order of the day)”. (18) Trotsky kekuarangan konsep dalam memperhitungkan transisi menuju sosialisme. Percaya bahwa proletar harus segera merampas hak milik borjuis kota dan desa. Dan tindakan tersebut, karena masih belum ada dukungan dari tani miskin—yang masih dalam cengkraman kepemimpinan borjuis tani—maka proletar menjadi minoritas yang dikepung (termasuk oleh tani miskin yang dimanipulasi untuk menggulingkan pemerintahan proletar). Konsekwensinya seperti yang terjadi dalam revolusi Hungaria 1919: komunis Hungaria, dipimpin oleh Bela Kun, memproklamirkan “Republik Sovyet”, dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang pada dasarnya sama dengan yang dianjurkan Trotsky dalam Results and Prospects, yakni, saat merampas tanah-tanah besar semi-feodal, ketika menolak member izin kepada tani untuk membagi-bagikan tanah, dengan segera mereka mendekritkan tanah-tanah tersebut menjadi perkebunan-perkebunan negara. Karena kurang pengalaman dalam manajerial, memaksa komunis Hungaria menunjuk tuan-tuan tanah dan manajer-manajernya sebagai direktur “perkebunan negara”. Hal tersebut mengalienasikan 60% tani dari pemerintahan komunis, karena tani tak mendapatkan apa-apa dari revolusi. Pemerintah juga segera menasionalisasikan industri dan perdagangan, tak memberi waktu bagi buruh untuk mengelola perusahaan-perusahaan negara yang baru tersebut. Akibatnya, kejatuhan produksi dan peningkatan pengangguran; buruh bingung, demoralisasi, petani tak punya alasan untuk mempertahankan pemerintah komunis dari serangan kontra-revolusi tuan tanah-kapitalis. Maka, Sembilan belas minggu setelah merebut kekuasaan, pemerintahan komunis dijatuhkan oleh serangan tentara bayaran dari Czechna, Rumania dan Serbia. Itulah mengapa Bolshevik menolak collectivism on the order of the day.

    Menurut Lenin, bila saja Bolshevik melakukan itu dengan segera pada bulan Oktober-November, 1917, tanpa menunggu difrensiasi kelas di distrik-distrik pedesaan, tanpa mempersiapkannya, langsung mendekritkan perang saudara untuk “mengimplementasikan sosialisme”, tanpa blok sementara dengan tani secara keseluruhan, tanpa memberikan konsesi pada tani menengah, dan sebagainya, maka tindakan tersebut merupakan distorsi Blanquis terhadap Marxisme, absurditas teori, yang gagal memahami bahwa revolusi tani secara umum masih revolusi borjuis, dan tanpa rangkaian transisi, tahap-tahap transisi, maka tak akan bisa ditransformasikan ke sosialisme. Transisi bagi Bolshevik: memenuhi permintaan redistribusi tanah (namun tidak dianjurkan); demokrasi yang sepenuh-penuhnya; formasi republik; memberantas penindasan asiatik baik di desa maupun di pabrik; dan sebagainya. Semakin lengkap, semakin cepat, dan semakin luas revolusi borjuis-demokratik tersebut, maka semakin teguhlah perjuangan menuju sosialisme. (19);

  9. Keberhasilan Revolusi Oktober adalah bukti betapa ketatnya, berapa disiplinnya, Bolshevik membedakan tahap-tahap revolusi borjuis-demokratik dengan revolusi sosialis; agar revolusi borjuis-demokratik dapat diupayakan membuka pintunya bagi transisi menuju revolusi sosialisme. Itulah, menurut Bolshevik, satu-satunya kebijakan revolusioner dan Marxis.

II. 3.

Akar Metodelogi Posisi Trotsky

  1. Saat beroposisi terhadap Bolshevik (sebelum tahun 1917), Trotsky berkilah, kira-kira begini: begitu kekuasaan sudah ditransfer ke tangan pemerintahan revolusioner yang mayoritasnya adalah sosialis, maka divisi, pemisahan program menjadi maksimum dan minimum—dalam pengertian sosialis dan borjuis-demokratik—akan kehilangan makna prinsipil dan kesegeraan praktisnya, karena pemerintahan proletar yang mengimplentasikan delapan jam kerja (program PBSDR), bantuan keuangan bagi buruh yang di-PHK, akan menghadapi ancaman penutupan pabrik (lockout) dari kapitalis. (20);
  2. Menurut Trotsky,dalam Results and Prospects, pemerintah yang membiayai yang di-PHK adalah pemerintah yang mempertahankan pemogokan menjadi lebih lama, dan ia akan menghadapi ancaman lockout dari kapitalis. Oleh karena itu, jalan keluarnya adalah perampasan pabrik, menyelenggarakan produksi besar negara atau komunal. Juga, demikian halnya dengan soal perampasan tanah, yang produksinya akan diserahkan pada koperasi di bawah pengawasan komunal atau diorganisasikan oleh negara. “Dengan alasan tersebut, tak perlu ada perbincangan soal bentuk khusus kediktatoran proletariat dalam revolusi borjuis, seperti kediktatoran demokratik proletariat, atau kediktatoran proletariat buruh dan tani. (21);
  3. Dalam Our Differences, Trotsky lebih memperjelas lagi bahwa, segera, begitu merebut kekuasaan, pengambialihan oleh negara akan memprovokasi intensitas perjuangan ekonomi. Ia juga mengingatkan akan pengalaman 1905: bila negara tidak segera mengambil alihnya maka jawaban kapitalis terhadap tuntuttan delapan jam kerja adalah lockout. (22) Prediksi tersebut ternyata tidak benar, sebagaimana ia akui sendiri. Menurutnya, dimulai April, 1917, Lenin menjelaskan kepada lawan-lawannya, yang telah menuduhnya menerima posisi “revolusi permanen”, bahwa kediktatoran proletariat dan tani diwujudkan secara parsial pada masa kekuasaan ganda (dual power). Kediktatoran tersebut terpenuhi kemajuannya/perluasannya selama periode kekuasaan soviet dari November, 1917, hingga Juli, 1918, saat semua tani, bersama buruh, memperjuangkan revolusi agrarian—dan itu dilakukan saat kelas pekerja belum melakukan perampasan pabrik-pabrik, hanya baru melakukan kontrol buruh terhadap pabrik-pabrik tersebut. (23);
  4. Posisi ultra-kiri Trotsky yang dipertentangkan dengan kebijakan dua tahapnya Bolshevik—revolusi tanpa hambatan—dilandaskan pada konsepsi perjuangan kelas yang mekanik-fatalistik. Misalnya, saat ia mengartikulasikannya dalam kaitannya dengan perkembangan kesadaran kelas proletariat: Marxisme, menurutnya—saat ia berpolemik dengan Lenin pada tahun 1904—mengajarkan kepada kita bahwa kepentingan proletariat ditentukan oleh kondisi obyektif kehidupannya. Kepentingan tersebut begitu kuat dan tak terhindarkan, sehingga akhirnya memaksa proletariat memasukan kepentingan tersebut ke dalam dunia kesadaran, yakni, membuat capaian kepentingan obyektif menjadi kepedulian subyektif. (24)

    Ernest Mandel, seorang Trotskyis dari Belgia, dalam bukunya The Leninist Theory of Organisation, mengatakan bahwa Trotsky jatuh ke dalam analisa optimisme-fatalistik yang naïf saat meletakan kepentingan mendesak sama tingkatannya dengan kepentingan historis. Harapan bahwa proletariat “pada akhirnya” akan mengetahui kepentingan histrorisnya, merupakan pernyataan yang dangkal karena, tanpa kehadiran kepemimpinan revolusioner yang mumpuni, proletariat terbukti tak bisa memenuhi kewajiban revolusionernya. Dan, terbukti juga, perkembangan masyarakat borjuis secara spontan menggiring proletar membentengi dirinya. Menurut Mandel, Trotsky muda, dalam polemiknya dengan Lenin, mengunggulkan “taktik yang sudah lama diuji” dan “kepercayaan terhadap keniscayaan kemajuan” ála Bebel dan Kautsky. Konsep lenin tentang kesadaran kelas tak terbandingkan lebih kaya, lebih kontradiktoris, dan lebih berdialektik karena bebasiskan pengetahuannya yang mendalam mengenai relevansi revolusi bagi masa sekarang (bukan “pada akhirnya di suatu saat,” tapi di tahun-tahun menjelang). (25);

  5. Konsep mekanik-fatalistik dalam melihat perkembangan perjuangan kelas—misalnya kesalahan melihat revolusi 1905 sebagai landasan untuk meramalkan takdir perkembangan revolusi yang baru di Rusia; juga, berlandaskan harapan aka nada penyatuan temporer pandangan-pandangan taktik Bolshevik dan Menshevik, ia salah menyimpulkan bahwa pada akhirnya proletariat akan memaksa kedua faksi untuk bersatu dalam arah yang sama. (26); yang lainnya, terbukti salah dalam memprediksi peran tani di masa depan dan tindakan-tindakan kapitalis dalam revolusi yang baru. Pada tahun 1905, kapitalis bisa melakukan tindakan general lockut karena mereka masih bisa bersandar kepada polisi dan tentara T’sar, sedangkan pada revolusi 1917 mereka tidak bisa mengandalakan dukungan dari kediktatoran revolusiener buruh dan tani. Bukti tersebut tidak mengubah pendapat Trotsky, malah ia punya alas an lain: bila di tahun 1905 kapitalis melakukan general lockout pada pabrik-pabrik skala kecil maka, katanya, jika pemerintahannya revolusioner, mereka akan melakuakn general lockout pada pabrik-pabrik skala besar. Itu pun tidak terbukti. Kemunculan perwakilan-perwakilan soviet buruh dan prajurit memberikan kondisi yang kondusif untuk mengajukan tuntutan-tuntutan ekonomis—pada tanggal 10 maret, ditandatangani kesepakatan antara Masyarakat Industri Petrogad dengan Sovyet Petrogad tentang penerapan 8 jam kerja di pabrik-pabrik kota-kota besar. Pada bulan Maret dan April sudah dilaksanakan di hampir pabrik-pabrik seluruh Rusia; dan, juga berdasarkan pengalaman revolusi 1905, Trotsky salah memprediksi peran tani di masa datang. Menurutnya, pengalaman historis menunjukan bahwa tani benar-benar tak mampu mengambil peran politik yang independen—katanya, dari fakta-fakta apa yang dilakukan oleh Trudoviki (27) membuktikan: saat dipengaruhi ilusi parlementaris, mereka mengikuti kelompok Kadet (Demokrat Konstitusional); saat Duma (parlemen) dibubarkan, mereka bersandar pada Sosial-demokrat (28). Menurut Lenin, Trotsky tidak melihat perkembangan pendewasaan politik tani sampai menghasilkan partai tani revolusioner;
  6. Lenin: Proletariat tak boleh mengabaikan dan purbasangka terhadap tani—mengasumsikan bahwa, pada masa rejim borjuis, tani akan tergantung kepada borjuis; demikian juga, saat revolusi, tani akan tetap pasif dan tak peduli secara politik. Pada tahun 1905, awalnya tani hanya membentuk Serikat Tani Seluruh Rusia; pada pemilihan Duma, tani ikut pemilu dengan membentuk Trudoviki; kemudian tani membentuk partai Soisalis Revolusioner (SR); memisahkan diri dari SR, membentuk SR-Kiri; hingga membentuk Sovyet, pada masa revolusi. (29)

II. 4.

Konsekwensi Praktis Posisi Trotsky (Revolusi Permanen)

  1. Tak megindahkan kebutuhan akan aliansi antara gerakan buru dengan tani. Aliansi tersebut akan berhasil bila buruh, yang diorganisasikan ke dalam partai Marxis, bisa mengalihkan kepemimpinan politik tani dari “pemimpin alamiah”nya—borjuis liberal. Dalam tulisannya, On the Two Line in the Revolution, Lenin mengatakan bahwa: “Trotsky sebenarnya sedang membantu politisi buruh-liberal Rusia yang, karena posisinya ‘menolak’ peran tani, maka paham benar bagaimana menolak untuk membangkitkan tani dalam revolusi.” (30);
  2. Karena kesalahan tersebut, Trotsky gagal memahami signifikansi perjuangan Lenin untuk membentuk—dengan penuh kehati-hatian—partai pelopor (vanguard) kelas buruh yang harus bersih dari pengaruh borjuis liberal dalam gerakan buruh, yakni, seperti Menshevik. Kelas buruh harus memberikan kepemimpinan politik kepada gerakan tani (sebagai kekuatan sosial yang menentukan dalam revolusi borjuis) dengan mengalahkan konsepsi reformis-liberal di dalam organisasinya. Dalam artikel tahun 1908, The Assesment of the Russian Revolution, Lenin menulis: “bila hendak memisahkan tani dari kaum liberal, maka proletariat, tak bisa ditawar-tawar lagi harus punya kebijakan independen sebagai pelopor revolusi. Hanya dengan cara itulah proletariat bisa menyingkirkan pengaruh liberal, mengajaknya beraliansi dan berjuang bersama dalam pertaruangan revolusioner.” (31) Itulah mengapa Lenin menghendaki partainya bersih dari pengaruh Menshevik—yang menyebarkan karakter reformis borjuis-kecil; sedangkan Trotsky masih menganggap Menshevik itu Marxis revolusioner yang tulus, yang harus dilibatkan di jajaran partai buruh. Trotsky menganggap perjuangan membangun partai pelopor semacam itu, dengan menolak pengaruh Menshevik, merupakan perwujudan “sektarianisme organisasional”, melupakan landasan prinsipil kepentingan (fundamental) dan kewajiban gerakan buruh.
  3. Kebijakan Bolshevik mencerminkan kepentingan buruh Rusia; Kebijakan Menshevik merupakan cerminan adaptasi terhadap kepentingan borjuis; sebaliknya, posisi Trotsky tidak mencerminkan kepentingan kelas fundamental (Rusia) apapun, tapi sekadar penggabungan eklektik dua garis kelas prinsipil—yang juga (kenapa) gagal memenangkan pengaruh substansial di kalangan massa. Menurut observasi Lenin, teori orsinilnya Trostky mencomot dari Bolshevik prinsip yang menyerukan agar proletariat melancarakan perjuangan revolusioner yang menentukan dan melakukan perebutan kekuasaan; sedangkan dari Menshevik dia mencomot prinsip “menolak” peranan tani. (32)

III.

Debat di dalam Partai Komunis Uni Sovyet (PKUS)

III. 1.

Pengantar

  1. Trotsky kemudian mengakui kebenaran Bolshevik karena:
    • Menhevik mendukung upaya perang imperialis Rusia;
    • Menshevik mendukung pemerintahan sementara borjuis-tuan tanah;

    Dengan alasan tersebut ia menerima garis politik yang diambil Bolshevik sebelum ia kembali ke Rusia pada bulan Mei, 1917; Dan sejak ia bergabung dengan Bolshevik, Juli, 1917, hingga tahun 1919, Trotsky menanggalkan rumusan yang ia buat sebelum 1917, yakni revolusi permanen, dan tidak lagi mengritik kebijakan revolusi dua tahap (tanpa hambatan) Bolshevik.

  2. Evaluasi Trotsky (tahun 1919) terhadap kebijakan Bolshevik

    Pada bulan Maret, 1919, dalam kata pengantar penerbitan kembali tulisannya, Results and Prospects, Trotsky memperjelas kembali intepretasi pandangan-pandangan yang dahulu (dengan meminimalkan perbedaan-perbedaannya dengan Bolshevik). Menurutnya, benar bahwa Bolshevik mengkakui peran menentukan proletariat tapi, dalam program revolusinya, membatasi diri untuk mendahulukan kepentingan jutaan tani (karena, menurut Bolshevik, tanpa itu revolusi tak akan bisa dituntaskan oleh proletariat) (33);

  3. Posisinya sebelum tahun 1917,

    …Oleh karena itu, begitu merebut kekuasaan, proletariat tak bisa terus mengkerangkeng dirinya dalam batas-batas demokrasi borjuis. Dengan demikian harus menerapkan taktik-taktik revolusi permanen. (34)

    Dan ia menegaskan bahwa perspektif tersebut telah diuji/dibuktikan dalam revolusi Oktober. (35)

  4. Satu-satunya kesalahan yang ia akui adalah, “Karena Bolshevik dan Menshevik memulainya dari pandangan revolusi borjuis, maka ia tak sepenuhnya menghargai situasi yang sangat penting yang menyertai ketidaksepakatan di antara Bolshevik dan Menshevik, yakni sekadar dipahami sebagai: Bolshevik adalah kelompok revolusioner yang tidak luwes; dan Menshevik adalah kelompok yang oprtunis dan akomodatif (36);
  5. Dalam menyimpulkan evaluasi selanjutnya perbedaan kedua faksi tersebut, Trotsky secara tersirat menyatakan bahwa, pada tahun 1917, Bolshevik telah mau menerima taktik revolusi permanen.

    “Saat revolusi Oktober pecah, Partai Boleshevik meneguhkan dirinya sebagai suatu organisasi yang sangat tersentralisasi, yang menyatukan unsur-unsur terbaik dari buruh-buruh yang maju dengan inteketual-intelektual revolusioner, dan—setelah beberapa kali perjuangan internal mereka—dengan terang-terangan menerima taktik yang mengarah pada kediktatoran sosialis kelas buruh… (37);

  6. Penjelasan Trotsky pada tahun 1919 secara tersirat mengatakan bahwa pada tahun 1906 ia telah menganjurkan “republik demokrasi buruh dan tani” sebagai tahapan menuju “kediktatoran sosialis kelas buruh”, sedangkan Bolshevik hanya membatasinya pada aliansi antara proletariat dan tani guna kepentingan revolusi demokratik;
  7. Walaupun pada tahun 1919 Trotsky mengakui kebenaran Bolshevik bahwa proletariat tak akan bisa merebut kekuasaan tanpa dukungan tani, namun ia tidak mau mengakui Bolshevik juga benar dalam hal bahwa tani miskin hanya bisa diajak mendukung revolusi sosialis sebagai hasil dari konflik kelas yang tumbuh di kalangan tani (sebagai konsekwensi penuntasan reformasi agraria borjuis-demokratik);

    Terlebih-lebih ia gagal mengkritisi posisinya sebelum tahun 1917, yakni pendekatan mekanik-fatalistik-nya:

    “Begitu menggenggam kekuasaan, Proletariat… tak bisa membatasi dirinya dalam program borjuis-demokratik… Proletariat harus menerapkan taktik revolusi permanen, yakni harus menghancurkan hambatan antara program minimum dan maksimum sosial-demokrasi, melanjut ke reformasi sosial yang lebih radikal lagi… (38)

III. 2.

Pelajaran Revolusi Oktober

  1. Trotsky mencoba kembali pada issue perspektif tahun 1917: perspektif milik siapa yang benar, miliknya kah atau milik Bplshevik. Dalam tulisan tahu 1924, Lessons of October, ia mengatakan bahwa Bolshevik, pada bulan April,1917, telah menanggalkan taktik kebijakan dua tahap yang diajukan sebelum 1917. Menurut Trotsky, sekembalinya di Rusia, Lenin menentang slogan lama kediktatoran proletariat dan tani. Menurutnya, “Lenin seringkali mengingatkan bahwa soviet perwakilan buruh , prajurit dan tani pada periode awal revolusi Oktober benar-benar, dalam kadar tertentu, merupakan kediktatoran demokratik revolusioner proletariat dan tani… tapi mereka bisa merebut kekuasaan bukan dalam kapasitas koalisi demokratik buruh dan tani yang diwakili oleh berbagai partai, tapi hanya dalam kapasitas kediktatoran proletariat (yang dikendalikan oleh satu partai) yang, setelah itu, menggiring massa tani, dimulai dari bagian semi-proletariatnya.” (39).

    Dengan demikian, Trotsky secara tersirat mau mengatakan bahwa Lenin, pada bulan April, 1917, telah menanggalkan perspektif lamanya mengenai pemerintahan transisional buruh dan tani yang dikukuhkan melalui revolusi borjuis-demokratik, dan telah beralih menerima perspektif Trotsky, yakni perspektif bahwa “pemerintahan buruh” lah yang akan mengemban tugas revolusi demokratik dan sosialis secara simultan.

  2. Tapi, sebenarnya, tidak demikian. Lenin dalam Letter on Tactics, April, 1917, mengatakan bahwa:

    “Slogan-slogan dan ide-ide Bolshevik secara keseluruhan telah dibuktikan oleh sejarah; tapi kongkritnya segalanya berjalan secara berbeda; lebih orsinil, lebih menyimpang dan lebih bervariasi ketimbang yang diperkirakan orang…”

    “Kediktatoran demokrasi revolusioner buruh dan tani” telah menjadi kenyataan (dalam bentuk dan kadar tertentu) dalam revolusi Rusia, walaupun “rumusan” tersebut hanya menggambarkan hubungan-hubungan kelas, dan bukan sebagai institusi politik kongkrit yang merealisasikan kelas-kelas tersebut, kerjasama tersebut. “Sovyet buruh dan prajurit”—bermakna “kediktatoran demokrasi revolusioner proletariat dan tani” sudah terpenuhi dalam realitas.” (40);

    Keganjilan situasi yang berkembang dalam revolusi Februari, 1917, adalah bahwa buruh dan tani (dalam wujud berseragam prajurit) telah menciptakan pemerintahan revolusioner buruh dan tani, Sovyet Petrograd, tapi dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya pada Pemerintahan Sementara yang dibentuk oleh borjuis-liberal.

  3. Dalam pamphlet bulan April, 1917, The Task of the Proletariat in Our Revolution: Draft Platform of the Proletarian Party, Lenin menjelaskan bahwa situasi kekuasaan ganda (dual power) “mencerminkan tahap transisional perkembangan revolusi, telah bergerak melampaui revolusi borjuis demokratik yang selazimnya, tapi belum “semurni-murninya” mencapai tahap kediktatoran proletariat dan tani.” Lenin secara eksplisit menolak ide untuk menanggalkan kebijakan Bolshevik, yakni mengupayakan aliansi revolusioner atara buruh dan tani untuk menuntaskan revolusi borjuis-demokratik.

    “Adalah sangat membahayakan bila kita terjerembab ke dalam subyektivisme, menghendaki tiba pada revolusi sosialis dengan “melompati” revolusi borjuis-demokratik—yang belum tuntas… (41)

  4. Lenin juga tidak menganjurkan bahwa, begitu merebut kekuasaan, maka soviet harus dengan segera menerapkan program-program sosialis. Dalam Resolution on the Current Situation, Lenin mengatakan:

    “Bergerak dalam negeri yang paling terbelakang di Eropa, yang dihuni tani kecil yang sedemikian luas, proletariat tak bisa dengan segera mengupayakan perubahan-perubahan sosialis…

    Tahap pertama adalah: nasionalisasi tanah. …yang tidak melampaui kerangka sistim borjuis walau, pada saat yang sama, akan menjadi pukulan yang berat terhadap pemilikan pribadi alat produksi dan, dengan demikian, akan memperbesar pengaruh proletariat sosialis terhadap semi-proletariat.

    Tahap selanjutnya, mengkukuhkan kendali negara atas seluruh bank, dan menggabungkannya menjadi satu bank sentral; juga mengendalikan lembaga-lembaga asuransi dan sindikat kapitalis besar (misalnya, Sindikat Gula, Sindikat Batu Bara, Sindikat Logam, dan sebainya), dan secara bertahap menerapkan pajak yang lebih progresif terhadap pendapatan dan hak milik. Secara ekonomi, penerapannya sudah tepat waktu; secara teknik, bisa dilaksanakan dengan segera; secara politik, nampaknya akan menerima dukungan dari sebagian besar tani, yang akan mendapatkan keuntungan dari penerapannya.” (42)

    Menurut Lenin, menempatkan monopoli kapitalis-negara di bawah kendali pemerintahan Sovyet “belum lah sosialisme, tapi bukan lagi kapitalisme.” Merupakan “suatu tahapan besar menuju sosialisme.” (43)

    “Makna ‘republik proletariat-tani’ mengindikasikan isian sosial dan karakter politiknya.” (44);

  5. Pada bulan September 1917, setelah Pemerintahan Sementara diproklamirkan, dengan Aleksander Kerensky sebagai presidennya, maka propaganda Bolshevik menyerukan agar dengan segera membentuk pemerintahan buruh dan tani melalui transfer kekuasaan negara kepada sovyet buruh, prajurit dan tani. Setelah terjadi insureksi 7 November, 1917, transfer kekuasaan tersebut dapat dilaksanakan, dan Kongres Sovyet Seluruh Rusia yang ke-2 secara resmi menamakan pemerintahn soviet yang baru sebagai pemerintahn buruh dan tani;
  6. Lenin, dan pimpinan-pimpinan Bolshevik lainnya, pada masa setelah berdirinya pemerintahan Sovyet (November, 1917), sering menyebut-nyebut tentang kediktatoran proletariat yang sedang mewujud di Rusia begitu pemerintahan sovyet didirikan. Acuan tersebut sering dikutip oleh Trotsky sebagai bukti bahwa teorinya sebelum tahun 1917, revolusi permanen, adalah benar, dan Lenin telah menanggalkan pandangan lamanya tentang kediktaktoran demokratik buruh dan tani, serta beralih pada pandangan Trotsky.
  7. Pandangan Trotsky tersebut salah, karena kediktatoran demokratik-revolusioner buruh dan tani bukanlah untuk dipertentangkan tapi merupakan tahapan menuju kediktatoran proletariat.

    “…Kediktatoran demokratik-revolusioner buruh dan tani, tak bisa disangkal lagi, hanyalah merupakan transisi peralihan sementara untuk mencapai tujuan sosialisme, mengabaikan tujuan tersebut dalam revolusi demokratik akan menjadi benar-benar reaksioner.” (45)

    Sebenarnya, Trotsky sendiri, dalam Results and Prospects menyebutnya sebagai: bentuk khusus kediktatoran proletariat dalam revolusi borjuis;

III. 3.

Pemahaman Trotsky tentang Cina: Dari Leninisme menjadi Pengkhayal Ultra-Kiri.

  1. Pada tahun 1927, saat beroposisi terhadap garis “blok empat kelas”nya Stalin—aliansi antara borjuis nasionalis, borjuis kecil perkotaan, tani dan proletariat—Trotsky mengajukan posisi aliansi demokratik-revolusioner antara buruh dan tani di bawah kepemimpinan proletariat (posisi Lenin). Kritik Trotsky jelas tergambar pada 7 Mei, 1927, saat mengritik artikel yang ditulis Stalin, Question of the Chinese Revolution, dicetak di Pravda 21 April, 1927: menolak tuduhan Stalin bahwa Oposisi (termasuk Trotsky) percaya bahwa Cina “sedang berada di ambang kediktatoran proletariat sosialis”. (46)
  2. “…oposisi telah dan sedang menjadi sasaran kritik yang sangat keras tepatnya karena, sejak awal, mengedepankan cara Leninis dalam melihat masalahnya, yakni, arah perjuangan proletariat melawan borjuis ditujukan agar dapat memimpin massa tertindas di kota dan desa di dalam kerangka dan dengan landasan revolusi demokrasi nasional. (47)
  3. Namun, September, 1927, Trotsky mengedarkan artikel ke kalangan Oposisi di dalam PKUS yang isinya berseru agar menanggalkan posisi Leninis, dan menganjurkan perjuangan kediktatoran proletariat di China. Alasannya, kediktatoran demokratik-revolusioner proletarian dan tani hanya cocok untuk tahun 1926 (sebelum penghancuran Partai Komunis Cina), dan sekarang borjuis menengah dan borjuis kecil di kota serta di desa telah menentang revolusi demokratik. (48) Posisi Trotsky tersebut tak bisa dibuktikan di Rusia pada tahun 1917, walaupun borjuis kecil lapisan atasnya mengkhianati revolusi demokratik.
  4. Karena tak bisa menjelaskan posisinya tersebut, maka Trotsky mengatakan bahwa posisinya tersebut harus disejajarkan seperti Rusia pada pertengahn 1918. “… Bagi kita persoalannya bukan lagi tentang kediktatoran demokratik buruh dan tani, tapi kediktatoran proletariat yang didukung oleh massa miskin (di kota dan di desa) yang sangat besar itu.” (49). Satu hal yang tak dilihat Trotsky: di Cina tak ada negara soviet.

[ Lanjutan: Bagian Dua ]

_________

Catatan Kaki:

(1) Resume Pembacaan buku Doug Lorimer, Trotsky’s Theory of Permanent Revolution, A Leninist Critique, Resistance Book, 1998, NSW; disampaikan dalam diskusi “Bedah Buku Revolusi Permanen”, Resist; SINTESA; dan IMT; 10 Maret, 2009, Yogyakarta.
(2) Cannon, The History of the American Troskyism (New York, 1972).
(3) Lenin, Collected Work (Moscow, 1977).
(4) Trotsky, Challenge of the Left opposition (1926-1927) (New York, 1980).
(5) Trotsky, Writing (1932-33) (New York, 1972).
(6) Trotsky, The Transitional Program for Socialist Revolution (New York, 1973).
(7) Ibid.
(8) Dikutip dari Trotsky, Challengeof the Left Oppsition (1926-27) (New York, 1980).
(9) Lenin, CW, Vol.33.
(10) Lihat Two Tactics of Social-Democracy in the Democratic Revolution, CW, Vol. 28 dan Vol. 9.
(11) Lenin, CW, Vol. 15.
(12) Lenin, CW, Vol. 10 dan Vol. 12, terutama lihat Speech on the Attitude to the Bourgeois Parties
(13) Lenin, Social Democracy’s Attitude Toward the Peasant Movement, CW, Vol. 9
(14) Lenin, CW, Vol. 28 dan Vol 29..
(15) Trotsky, The Social Force in Russian Revolution, dicetak kembali dalam Lenin’s Struggle for a Revolutionary International (New York, 1984).
(16) Lenin, The Proletarian Revolution and the Renegade Kautsky, CW, Vol. 28.
(17) Ibid.
(18) Trotsky, The Permanent Revolution.
(19) Lenin, CW, Vol. 28.
(20) Trotsky, The Permanent Revolution.
(21) Ibid.
(22) Trotsky, 1905 (London, 1971 edn).
(23) Trotsky, Leon Ttrotsky on China (New York, 1976).
(24) Trotsky, Our Political Task (1904) (New Park, London, tak bertahun).
(25) Ernest Mandel, The Leninist Theory of Organisation, dalam R. Blackburn (ed.) Revolution and Class Struggle (London, 1977).
(26) Trotsky, Challenge of the Left Opposition (1923-25) (New York, 1975).
(27) Trudoviki (Kelompok Penggarap), kelompok tani (moderat) di Duma.
(28) Trotsky, The Permanent Revolution.
(29) Lenin, CW, Vol. 15.
(30) Lenin, CW, Vol.21.
(31) Lenin, CW, Vol. 15.
(32) Lenin, CW, Vol. 21.
(33) Trotsky, The Permanent Revolution.
(34) Ibid.
(35) Ibid.
(36) Ibid.
(37) Ibid.
(38) Ibid.
(39) Trotsky, Challenge of the Left Opposition (1923-25), (New York, 1980).
(40) Lenin, Colleceted Works, Vol.24.
(41) Lenin, CW, Vol.24.
(42) Lenin, CW, Vol.24.
(43) Lenin, CW, Vol.25
(44) Lenin, CW, Vol.24.
(45) Lenin, CW, Vol.9.
(46) Trotsky, Leon Trotsky on China.

Leave a Reply