SHARE

[ Barra ]

 

 

Di Afrika Selatan, ratusan mahasiswa melakukan protes dengan slogan “Satu-Satunya Solusi Adalah Pendidikan Gratis”. Mereka berjumlah 100an mahasiswa, di dalamnya juga ada kelompok Gerakan Occupy Baru. Tujuan mereka melakukan demonstrasi adalah menolak keberadaan NSFAS (The National Student Financial Aid Scheme. Pawai juga mendapat dukungan dari Gerakan Pemuda Sosialis, sebuah organisasi mahasiswa yang sejalan dengan perjuangan buruh di Afsel, mereka menilai, program NFSAS tidak benar-benar gratis. Jonas Magedi dari Gerakan Pemuda Sosialis (SYM) dan Partai Sosialis (Tawon), mengatakan “program NSFAS telah terbukti gagal untuk mahasiswa” katanya kepada wartawan. Lanjutnya, “kami, para mahasiswa, banyak yang harus meninggalkan universitas karena kurangnya dana, sementara, menteri kami menjadi kucing gemuk“. Pawai penolakan NSFAS diikuti juga oleh lembaga kampus (BEM) seperti Tshwane University of Technology (TUT), Vaal University of Technology, University of KwaZulu-Natal dan Cape Peninsula University of Technology.

Dalam orasinya, Sithembiso Ndlovu meminta agar pemerintah menjalankan program pendidikan gratis. “NSFAS adalah program gagal, satu-satunya solusi adalah pendidikan gratis”. Selanjutnya, dia mengatakan “Kelas menengah dan kaya negeri ini tidak banyak membantu pendidikan gratis di universitas, maka pemerintah harus menarik pajak lebih tinggi lagi kepada mereka untuk mendanai pendidikan gratis di universitas[1].

Gerakan Mahasiswa Thailand dari Federasi Pemuda dan Mahasiswa Patani (PERMAS) yang konsen dalam memperjuangkan perdamaian dan hak asasi manusia di daerah Patani, Thailand Selatan terus melancarkan protes atas ditangkapnya 17 aktivis PERMAS oleh aparat kepolisian. Mereka ditangkap karena mencoba menggulingkan kekuasaan monarki Thailand. Masih ingat gelombang kudeta bulan Mei yang lalu? Sekarang rezim yang berkuasa melalui kudeta sama rusaknya dengan rezim sebelulmnya. Mereka, para penguasa baru mengatakan bahwa segala perbedaan pendapat dalam system monarki tidak akan ditoleransi; bahkan melampaui batas dari rezim sebelumnya: diburu dan dipenjarakan[2].

Sementara, di Burma, ratusan mahasiswa berderap dalam barisan, melaksanakan demonstrasi dengan tema besar Demokratisasi Pendidikan. Mereka bergerak dengan membawa aspirasi yang disuarakan rakyat Burma, bahkan seluruh dunia, karena kapitalisme memiskinkan tiap negara yang dijadikan koloni modal. Para mahasiswa Burma menolak UU Sistem Pendidikan Nasional yang tidak adil, jauh dari kualitas standar internasional, tidak mendorong pengembangan demokrasi dalam negeri. Di bawah hukum yang tidak adil ini, kami berseru menolak dan menentang kebijakan rezim Thein Sein.

Tidak kurang dari sepertiga aktivis mahasiswa yang bergabung dalam demonstrasi sekarang berada di penjara, beberapa dari mereka yang masih dalam persembunyian terus diburu aparat, terutama para anggota ABFSU (Federasi Persatuan Mahasiswa Se-Birma) dan USU (Serikat Mahasiswa Universitas).  Pemerintahan semi junta melalui aparat militer terus memburu para aktivis seolah-olah mereka adalah binatang. Kekejaman berlangusng di jalanan tiap ada demonstrasi menentang kebijakan rezim.

“Kami sebagai mahasiswa akan melawan rezim fasis, itu adalah tugas utama kami untuk mengutuk tindakan kekerasan mereka. Pemerintah semi junta menunjukkan kekejaman di jalan-jalan; di seluruh Burma ketika kami berdemonstrasi pada 27 Maret 2015 yang bertepatan dengan Hari Perlawanan Anti Fasis Birma”.

Di Sri Lanka, pawai dari Inter University Students Federation/IUSF[3] bergerak maju menuju istana presiden. Mereka membawa tuntutan agar pemerintah menghapuskan biaya sekolah dan membubarkan kampus-kampus swasta termasuk kampus Malabe dan Kothalawala. Para mahasiswa Burma bahkan membuat kalimat sindiran yang bagus dengan mengibaratkan kampus swasta—yang mahal itu—dengan ungkapan “toko-toko penjual gelar kesarjanaan”. Mahasiswa bergerak dari kepentingan yang bernilai ekonomis, dan itu yang dibutuhkan mahasiswa Sri Lanka karena akses terhadap pendidikan (terlebih di universitas) tidak bisa dijangkau oleh mahasiswa berlatar belakang keluarga miskin. Namun, watak aparat militer dimanapun tetap serupa. Pawai demonstran mahasiswa IUSF berakhir dengan serbuan polisi, aksi kekerasan polisi menyebabkan 8 demonstran luka dan 5 orang ditangkap.

Pantas saja jika dalam ekspresi politik gerakan mahasiswa Sri Lanka tak pernah tertinggal mengkampanyekan isu menentang program yang membatasi ruang demokrasi dengan menambah UU represif oleh pemerintah. Beberapa tuntutan lain yang bisa menyatukan gerakan mahasiswa di Sri Lanka adalah isu Menolak Kebijakan Student Loan[4], Menaikkan Anggaran Pendidikan, Akhiri Intervensi Militer di Jaffna dan Cabut UU Farmasi yang Mengeksploitasi Pasien.

Pada 26 Februari 2015, ribuan mahasiswa dari Federasi Mahasiswa India (SFI) mendatangi kantor Kementerian Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan dikawal pasukan polisi untuk menyampaikan nota protes menolak komersialisasi pendidikan. “Intensifkan perjuangan, bertempur melawan komersialisasi pendidikan” menjadi tema umum gerakan tersebut. Selain itu, tuntutan demokrasi masih menggema di seantero India. Tuntutan konkret mereka adalah agar pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan sebesar 10% dari APBN. Mereka juga menggandeng Komite Anti Pelecehan Seksual turut serta memperjuangkan hak-hak demokratik rakyat termasuk yang paling urgent adalah melawan pelecehan seksual mengingat di India kasus tersebut sangat sering terjadi.

Di Tuguegarao City, Filipina, kita mendapatkan kabar yang menyayat hati kemanusiaan. Bagaimana tidak, setelah mahasiswa dari universitas di Manila menggelar protes menolak kenaikan biaya kuliah, seorang mahasiswa bernama Rosanna Sanfuego di Cagayan State University (CSU) bunuh diri karena gagal mengikuti ujian tengah semester karena kendala keuangan. Rosanna Sanfuego gantung diri di rumahnya di kota Abulug, Cagayan, berdasarkan informasi yang diberikan oleh ibunya, Sophiya. Dua kejadian serupa sebenarnya pernah terjadi di Filipina, penyebabnya sama, karena dilarang mengikuti ujian tengah semester sebelum membayar biaya kuliah. Dari kasus tersebut, muncullah kelompok pemuda yang menyebut dirinya sebagai “Kristel Tejada Cagayan“, mereka meminta pemerintah untuk mengatasi aksesibilitas pendidikan yang sangat rendah. Kelompok tersebut memiliki slogan heroik  ditujukan untuk pemerintah; “Hancurkan apa yang menghancurkanmu”.

Amerika Serikat

Sejak Februari, mahasiswa di berbagai perguruan tinggi dan sekolah tinggi telah memprotes apa yang disebut program PARCC (Kemitraan Penilaian dan Kesiapan untuk Perguruan Tinggi dan Karir). Lebih dari 100 siswa dari Sekolah Tinggi Ibukota (Santa Fe, New Mexico) berdemonstrasi di luar kantor negara Departemen Pendidikan Publik. Mereka berjanji akan melangsungkan demonstrasi selama seminggu.

Orang tua dan siswa di Colorado, Pennsylvania dan New York akhirnya menyatakan memilih keluar dari ujian (menolak program PARCC atau semacam ujian nasional). Di New Mexico, beberapa ratus siswa di SMA Albuquerque bergabung walkout meskipun mereka bisa menghadapi sanksi disiplin admisinstrasi dari sekolah. Sekitar 100 siswa lainnya di dekat Highland SMA juga meninggalkan kelas ketika ujian dimulai.

Beda lagi yang terjadi di Wisconsin (AS); yang semarak dengan adanya protes dari siswa, orang tua siswa dan para staf akademik. Menolak pemotongan subsidi kepada Universitas Wisconsin dari negara sebesar 300 juta dolar. Pemerintah, lewat Gubernur juga menghendaki reorganisasi universitas untuk dijadikan ‘otoritas publik’ (komersialisasi). Meskipun dalam cuaca dingin, sekitar 13 derajat celcius, beberapa ratus orang berkumpul di UW-Madison Library Mall, memprotes kebijakan Gubernur Scott Walker yang bertanggung jawab atas kebijakan tersebut.

Mahasiswa Universitas Peshawar turun ke jalan memprotes biaya pendidikan yang terus meningkat. Mahasiswa menilai ini sangat bertentangan ketika wilayah di Khyber Pakhtunkhwa sedang dalam status darurat pendidikan, namun kebijakan kenaikan biaya didorong oleh pemerintah untuk diundangkan. Para mahasiswa berbicara kepada rakyat bukan hanya untuk kepentingan di Universitas Peshawar tapi untuk seluruh negeri yang dirugikan oleh kebijakan kenaikan biaya pendidikan, yang berakibat pada tertutupnya peluang orang miskin untuk sekolah.

Sedangkan di Brazil, di negara bagian Sao Paulo (dan juga dimana-mana) sedang berjuang melawan privatisasi pendidikan, mencegah tindakan pemerintah terhadap penghancuran perguruan tinggi negeri. Mereka memahami benar bahwa pendidikan harus juga menampung kebutuhan kelas pekerja atas pengetahuan. Dalam orasinya, peserta demo mengatakan: “Kiranya, hal itu (akses terhadap pendidikan) tidak akan bisa diwujudkan selama pendidikan berada di tangan perusahaan dan politisi bobrok”. Mereka mengorganisir pemogokan umum di tiga universitas negara bagian Sao Paulo (UNESP, USP dan UNICAMP) menuntut perumahan gratis bagi mahasiswa bagi mereka yang tidak mampu membayar sewa, menuntut pendidikan gratis bagi masyarakat adat dan miskin, juga melawan program bernada rasialis dari pemerintah yang akan diterapkan.

Gerakan Mahasiswa Chille

Sebaiknya, sesi pembahasan mengenai gerakan mahasiswa Chille wajib dituliskan secara khusus karena keberhasilan mobilisasi politik dan pengaruhnya yang mampu mengubah aturan main ekonomi-politik di Chille. Dan karena itu pulalah, ulasannya di sini sedikit lebih banyak ketimbang negara lain.

Yang menarik adalah gerakan mahasiswa Chile di sepanjang tahun 2011. Kemenarikannya bagi saya tentu berbeda dengan rasa tertariknya New York Time yang sekedar menjadikan Vallejo (waktu itu menjabat presiden Federasi Mahasiswa Chile) sebagai headline dengan sebutan ‘Revolusioner Paling Mempesona Di Dunia’ karena kebagusan paras mukanya, atau sebagaimana The Guardian memuja dengan menempatkannya menjadi ‘Person of the Year In 2011’ dalam majalah. Sementara, dari sisi lain, kemenarikan gerakan mahasiswa Chile secara politik adalah dalam hal pembangunan gerakan anti rezim neoliberal yang seringnya melakukan pawai ribuan hingga ratusan ribu mahasiswa, menyampaikan kritik keras terbuka atas praktik neoliberal terhadap sistem pendidikan; komersialisasi pendidikan, pengelolaan universitas oleh swasta. Prestasi gerakan mahasiswa waktu itu tercatat melangsungkan demonstrasi (dari seluruh cabang organisasinya) sebanyak 6000 kali sepanjang tahun 2011, dan itulah, menurut data statistik lembaga survey, yang menyebabkan merosotnya popularitas Sebastian Pinera. Artinya, dalam 1 hari mereka menggelar 16 kali demonstrasi anti pemerintah.

Periode Agustus 2011 adalah masa gemilang gerakan rakyat Chile yang dimotori oleh mahasiswa dan serikat buruh. Tuntutannya adalah perubahan radikal atas struktur ekonomi-politik negeri, metodenya: pemogokan umum. Rakyat Chile tidak asing dengan mobilisasi politik untuk pemogokan. Mengingat bahwa Chile pernah merasakan hidup dalam ketakutan di bawah kediktatoran Pinochet yang memimpin negeri hasil dari pembantaian kaum sosialis, persis seperti Harto semasa orba tahun 1965, tiket kursi presiden dibayar dengan pembantaian 800 ribu sampai 1 juta orang komunis. Konon, pembantaian kaum sosialis di Chile diinspirasi oleh suksesnya pembantaian komunis di Indonesia tahun 1965 sehingga operasi pembantaian kaum sosialis di Chile memakai nama sandi The Jakarta Operation.

Adalah Federasi Mahasiswa Chile, sebuah organisasi mahasiswa terbesar di Chile, yang jadi salah satu poros menentukan bagi dinamika gerakan di negeri itu. Gabriel Boric, sebagai presiden Federasi Mahasiswa Chile mengatakan akan memprotes keras pelarangan pendaftaran ulang semester kedua bagi seluruh mahasiswa yang terlibat protes menentang pemerintah.

Sementara, situasi politik Chile di bawah pemerintahan Sebastian Pinera, masih menyediakan lapangan praktik bagi gagasan konservatif dan feodal. Itulah yang hendak didobrak oleh gerakan baru.

Meskipun kediktatoran Pinochet telah berakhir 26 tahun yang lalu, banyak pilar kelembagaan politik Chili—termasuk 1.980 konstitusi—masih dipertahankan guna mengukuhkan prinsip pasar bebas ala Pinochet yang dijalankan oleh penerusnya; yang juga mendominasi dalam pemerintahan Sebastian Pinera.

Karol Aida Cariola Olivia (saat itu menjabat Sekjend federasi juga sekjend Pemuda Komunis Chile) menjelaskan lebih baik lagi dalam pernyataannya yang menjelaskan tentang ‘apa programatik gerakan mahasiswa Chille’. Cariola menjawab: “Agenda bagi para (cikal bakal) pemimpin muda haruslah memenangkan tuntutan pendidikan gratis di universitas, reformasi pajak (penarikan pajak lebih besar kepada pengusaha kaya untuk biaya pendidikan gratis), perubahan menyeluruh atas konstitusi yang dibuat di era Pinochet dan reformasi undang-undang pemilu yang selama ini disesuaikan untuk melindungi loyalis pro-Pinochet dan partai politik sayap kanan.” Kariola begitu ingin meletakkan ekspektasi kepada kaum muda agar lebih banyak memanggul tanggung jawab perubahan revolusioner. Dia (Kariola) memiliki ungkapan provokatif untuk kaum muda yang disampaikan kepada oceansur.com: “Sebagai kaum muda, namun tidak menjadi revolusioner, adalah sebuah anomali (kontradiksi) biologis.”

Arah untuk masuk dalam politik parlementer bagi kaum muda yang berasal dari gerakan mahasiswa kini telah mengemuka. Meskipun di internal federasi ada 2 perspektif berbeda mengenai strategi itu. Camilla Vallejo, beserta Cariola dan Ballesteros memilih untuk bertarung dalam parlementer melalui Partai Komunis Chile, sedangkan, tokoh berpengaruh lain di federasi, Gabriel Boric menyatakan lebih baik membangun blok politik baru di luar kaum kanan dan kiri-tengah/oposisi. Meskipun akhirnya mereka tidak berhasil masuk dalam parlemen, semangatnya tidak pernah menurun.

Inggris, pada November 2010, sekitar 50.000 orang dari berbagai wilayah datang berdemonstrasi dan menduduki kantor partai konservatif Inggris di Millbank Tower, London. Mereka menuntut pembatalan rencana pemotongan subsidi pendidikan public dan peningkatan biaya kuliah hingga 3 kali lipat dari yang telah ada. Rencana kenaikan biaya pendidikan di Inggris tidak tanggung-tanggung. Jumlahnya mencapai 9.000 poundsterling atau Rp. 127 juta per tahunnya. Mahasiswa sempat menyerang mobil polisi. Ribuan aparat diturunkan untuk mengamankan aksi tersebut.

Sementara di Roma, November 2010, ratusan mahasiswa melakukan aksi longmarch di jalan protokol. Mereka menentang rencana undang-undang reformasi sistem sekolah yang kini sedang dibahas di parlemen. Dalam RUU itu disebutkan adanya pemangkasan alokasi dana pemerintah. Tidak hanya itu, mahasiswa juga menuntut Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi untuk mundur. Ada juga para guru, staff, orang tua dan pekerja yang menamakan dirinya COBAS, berdemonstrasi ke jalan menuntut demokrasi dan kehidupan yang layak, salah satunya juga meminta meminta pengangkatan guru-guru kontrak menjadi guru tetap. (http://www.emancipating-education-for-all.org/Cobas_strike_oct15)

Di Jerman, lebih dari 85.000 pelajar, mahasiswa, serta guru berdemonstrasi di lebih dari 70 kota seluruh Jerman. Protes yang dilakukan adalah bentuk perlawanan langsung terhadap peningkatan komersialisasi dan privatisasi di sektor pendidikan publik. http://www.emancipating-education-for-all.org/protests_austria_croatia_germany

Simpulan Analisa

Pemotongan subsidi sosial; adalah apa yang sedang diperjuangkan oleh seluruh gerakan mahasiswa di dunia. Secara langusung, pemotongan subsidi social juga akibat dari bangkrutnya kapitalisme.

Dewasa ini, perjuangan gerakan mahasiswa di berbagai negeri tidak hanya menuntut soal pendidikan dan masyarakat yang demokratis tetapi juga pendidikan gratis. Krisis kapitalisme yang diobati dengan jalan neoliberalisme telah membuat pendidikan menjadi mahal dan diperjual-belikan, di seluruh negeri dunia. Berbagai pemogokan dan pendudukan kampus terjadi di seantero Eropa (seperti di Austria—yang dimulai dari Akademi Seni di Wina kemudian merembet ke berbagai kampus di Wina (Universitas Wina, Graz, Klagenfurt, Linz, Teknik Graz, Teknik Wina); lebih dari 40.000 mahasiswa bergabung dalam aksi tersebut. Demonstrasi dengan tuntutan yang serupa pun terjadi di Makedonia (University Cyril, Methodius), Kroasia, Jerman (Akademi Seni Muenchen), Marburg (600-an mahasiswa) bahkan Amerika (San diego, Toronto yang memobilisasi 5000 orang), secara umum mengajukan tuntutan yang serupa: pendidikan gratis dan demokratis. Yang menarik adalah Prancis. Di tahun 2000, mahasiswa dan dosen ekonomi melancarkan protes membuat petisi dengan tema besar: “Kami Ingin Keluar Dari Dunia Imajiner”. Mereka sadar, ilmunya makin jauh dari abstraksi kehidupan sosial-masyarakat karena absennya realitas sebagai ‘underlying thing’ (hal yang mendasari).

Siapa bilang di negara ‘maju’ hidupnya enak? Siapa bilang kapitalisme tak berdampak pada dunia pendidikan? Kaum gerakan, intelektual marxis, akademisi kiri, barangkali sudah sering mengatakan bahwa kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi-pasar sedang menjalani krisis, dan sedang berupaya memperbaikinya. Mereka adalah negara ekonomi raksasa yang mendominasi perdagangan dunia. Kemampuan finansial negara induk kapitalisme semakin lama semakin hancur, semakin rakyat tak berdaya beli, yang berakibat pada melemahnya konsumsi (konsumsi: sebagai sumber keuntungan kapitalis).

Sedikit demi sedikit subsidi dicabut oleh kapitalis lewat instrumen negara, perlahan (dan pasti) hancur tenaga produktifnya. Sementara mereka (imperialis/kapitalis) makin agresif merampok negara-negara lain. Protes mahasiswa tersebut alasannya serupa, yaitu: menentang pemotongan anggaran (pencabutan subsidi) pendidikan. Jika dilihat dari konsepnya, si kapitalis memang tidak pernah mengijinkan bentuk-bentuk subsidi sosial, jikapun ada, subsidi tersebut hanya agar meminimalisir perlawanan rakyatnya (mengkompromikan kebutuhan hidup minimal rakyat)—semacam pemberian recehan uang/ceceran makanan agar rakyat miskin tetap bisa hidup untuk memutar baling-baling industri/roda ekonomi kapital—dengan kata lain, rakyat miskin hanya akan dipertahankan agar tetap hidup (alakadarnya).

Kapitalisme penyebab pendidikan mahal

Karena kapitalisme menciptakan landasan agar Indonesia (dan Negara berkembang lainnya) menjadi ketergantungan akan tehnologi dan ilmu pengetahuan terutama terkait dengan penguasaan asset sumber daya alam sebagai salah satu sumber kekayaan Negara selain pajak. Hilangnya kedaulatan Indonesia atas sumber daya alam membuat Negara ini menjadi miskin, banyak hutang, ketergantungan (dependency) tehnologi sehingga kekayaan Negara sangat terbatas, tidak mampu menjalankan program pendidikan gratis yang berkualitas dan modern. Apalagi muncul persoalan bahwa semakin hari kesenjangan sosial Indonesia semakin lebar, yang kaya pertumbuhannya cepat (semakin kaya)-semakin mengerucut pada sedikit orang, sedangkan yang miskin, angka daya belinya semakin jatuh dan jumlahnya makin membesar. Bisa dibayangkan dalam akses pendidikan, artinya, yang menikmati pendidikan tinggi berkualitas hanyalah mereka yang punya uang.

Kesenjangan terhadap akses pendidikan terlihat pada angka partisipasi murni SMA. Tahun 1992, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 6%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 61%. Tahun 2002, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 19%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 62%. Tahun 2010, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 28%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 69%.

Pada angka partisipasi Perguruan Tinggi: Tahun 1992: angka partisipasi murni PT dari 20% orang termiskin sebesar 0,1%, sedangkan angka partisipasi murni SMA dari 20% orang terkaya sebesar 25,6%. Tahun 2002: angka partisipasi murni PT dari 20% orang termiskin sebesar 0,6%, sedangkan angka partisipasi murni PT dari 20% orang terkaya sebesar 26,3%. Tahun 2010: angka partisipasi murni SMA dari 20% orang termiskin sebesar 1,3%, sedangkan angka partisipasi murni SMA dari 20% orang terkaya sebesar 36,7%.

Hegemoni kesadaran (palsu) lewat dunia pendidikan

Begitu terus dan seterusnya. Isi kepala mahasiswa dijejali dengan doktrin ideologi melalui instrumen pendidikan. Kurikulumnya, arah akademiknya, teori-teorinya, dll dikanalkan menuju satu muara, yaitu rimba kesadaran kapitalisme. Makin individualis, makin jauh dan samasekali jauh dengan realitas objektif dunia. Perangkat-perangkat kapitalis merancang bagaimana mekanisme ideologi tersebar luas dengan efektif (baca: hegemoni) melalui media pendidikan sekolah/kampus. Hingga, keluar sedikit saja dari bangunan ide-ide kapitalisme merupakan sebuah kesalahan besar dan dianggap tidak wajar. Dalam situasi tersebut, kaum perempuan yang paling tidak diuntungkan karena memperlambat proses kesetaraan (pembebasan perempuan). Pendidikan formal maupun non-formal borjuasi juga menyumbangkan pengawetan terhadap patriarki (penindasan perempuan). Kapitalisme tak pernah tulus memajukan produktifitas perempuan. Dalam dunia pendidikan, kapitalisme seolah-olah sudah ”membela” perempuan dengan mewacanakan istilah ”wanita karir”. Bagi perempuan terpelajar yang telah lulus dari bangku kuliah, diorientasikan berbondong-bondong membantu memutarkan baling-baling industri (kantoran dan lapangan), tapi dengan upah yang sangat tak sebanding dengan keuntungan majikan. Belum lagi masalah kurikulum pendidikan yang tidak setara (tidak berperspektif pembebasan perempuan).

_________

[1] http://mg.co.za/article/2015-03-02-nsfas-protests-the-only-solution-is-free-education

[2] http://www.bbc.com/news/world-asia-31581219

[3] Adalah aliansi mahasiswa yang pernah beririsan dengan Partai Marxist Sri Lanka sebelum partainya bergerak ke kanan, berkoalisi dengan partai borjuis.

[4] Adalah program pemerintah untuk meminjamkan uang kepada mahasiswa dan wajib dibayar setelah mahasiswa lulus; mendapat pekerjaan. Dalam beberapa kasus, Student Loan ada yang ditambahkan pajak rendah. Negara yang memberlakukan Student Loan antara lain US, UK, Australis, Korea, termasuk Sri Lanka.

1 COMMENT

Leave a Reply