SHARE
Massa aksi melakukan blokade di depan PT RUM, 24 Februari 2018.

Sukoharjo, 24 Februari 2018—Kehendak warga Sukoharjo yang ingin agar PT RUM ditutup ternyata tidak terpenuhi setelah aksi massa mendatangi kantor Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Rabu, 22 Februari 2018. Keputusan Bupati yang hanya akan menutup PT RUM sementara, menjadi penyebab segala bentuk kekecewaan dan aksi blokade di depan halaman PT RUM.

Aksi blokade merupakan upaya kedua warga Sukoharjo karena Bupati tak kunjung mencabut dan membekukan Izin Lingkungan Hidup PT RUM. Aksi blokade berlangsung selama dua hari sampai menjelang magrib 23 Februari 2018, dengan maksud menghentikan kegiatan produksi PT RUM. Namun aksi blokade itu tetap mempersilakan buruh PT RUM yang ingin pulang.

Dimulai pada jam 13.35 WIB, 22 Februari 2018, massa aksi yang terdiri dari warga Sukoharjo bersama solidaritas dari mahasiswa, bergerak dari Pemkab Sukoharjo menuju pusat konflik, yakni kantor PT RUM. Hal ini sebelumnya tidak diketahui oleh aparat sehingga massa aksi berhasil menduduki halaman PT RUM pada jam 14.00 WIB. Setibanya di tempat, massa aksi langsung membentuk barikade tepat di depan PT RUM. Aksi blokade berlangsung selama satu jam. Hingga akhirnya pada jam 15.07 WIB aparat kepolisian mulai berdatangan. Jam 16.13 WIB, massa yang sudah lelah dengan janji-janji kosong yang selama ini mereka terima, mulai melakukan aksi bakar ban.

Aksi bakar ban berlangsung sampai menjelang magrib. Setelah itu, massa aksi rehat sejenak sembari terus diawasi oleh aparat kepolisian dan tentara. Sekitar jam 20.31 WIB, Kapolres Sukoharjo datang dan sempat melakukan provokasi terhadap massa. Bahkan ia sempat mengeluarkan ucapan yang mengandung SARA terhadap salah satu mahasiswa yang bersolidaritas agar tidak melanjutkan blokade gerbang masuk PT RUM. Tetapi keinginan rakyat masih kuat dan aksi blokade PT RUM berlanjut hingga keesokan harinya.

Jam 06.16 WIB, 23 Februari 2018, saat massa lengah, pasukan TNI mulai bertambah dan berhasil memarkirkan sebuah mobil meriam air di dalam kawasan pabrik. Saat waktu menunjukan jam 07.17 WIB, aparat kembali bertambah. Tak hanya itu pasukan brimob mulai memasang kawat berduri. Melihat intensitas massa yang berkurang, aparat hanya melakukan apel.

 

Aksi blokade selama tujuh jam, merespons bupati yang “kabur” dari Sukoharjo

Aksi mulai memanas saat massa mendengar bahwa bupati pergi ke Bali untuk mengikuti rapat kerja PDIP. Padahal sebelumnya ia berjanji akan menandatangani Surat Keputusan pencabutan Izin Lingkungan Hidup pada 23 Februari, jam 10.00 WIB. Sekitar jam 11.00 WIB massa mulai berdatangan kembali ke PT RUM. Massa kemudian mendirikan tenda-tenda perjuangan dan beberapa perempuan mulai merangsek ke dalam pabrik, mengguling-gulingkan badan sembari menyuarakan penderitaannya.

Sekitar jam 13.09 WIB, lima ban bekas mulai dibakar massa sebagai simbol perlawanan. Kondisi semakin memanas, warga yang marah karena bupatinya kembali ingkatr janji meluapkan semua kekesalannya dengan melempari pos penjagaan PT RUM dengan batu. Kemarahan massa memuncak usai aparat menghalangi mereka yang hendak memasuki pabrik. Tak hanya itu, aparat mulai melakukan tindakan represif terhadap massa.

 

Kekerasan aparat merespons aksi blokade rakyat dan mahasiswa

Aksi represif aparat dimulai dengan melakukan penculikan terhadap dua orang warga yang terpisah dari barisan. Usai kejadian itu, aparat mulai bertambah jumlahnya.

Dua warga yang diambil paksa itu bernama Totok dan Subakti. Totok merupakan siswa kelas 2 SMP, sedangkan Subakti merupakan berusia sekitar 20 tahun. Tak hanya ditarik secara paksa, keduanya juga mengalami penyiksaan. Totok mengaku dicekik dan ditampar oleh polisi sambil diseret menjauh dari barisan massa, masuk ke tempat yang sulit diketahui oleh massa lainnya.

Totok dan Subangkit menyatakan bahwa mereka bersama satu orang lain yang tidak diketahui identitasya disekap oleh tentara sambil diikat. Namun orang tersebut berhasil melarikan diri dan memberi tahu massa aksi yang lainnya. Tindakan pemukulan dan penyekapan oleh polisi dan tentara berhasil direkam warga.

 

Pembacaan draft Surat Keputusan Bupati Sukoharjo

Mengetahui tindakan penyekapan tersebut, massa dibagi ke tiga titik. Sebagian menghadang aparat dari timur, sebagian di barat, dan satu titik di depan pabrik untuk menjemput dua orang yang diculik. Dua titik pertama guna menghalau aparat bersenjata lengkap yang terdiri dari Satpol PP, Polsek Nguter, Polres Sukoharjo, Polresta Surakarta, Brimob, Kodim Sukoharjo, Kodim Wonogiri, Yonif 408, Yonif 413, Kodim Wonogiri, Kopassus, dan polisi militer masuk ke area pabrik.

Sampai jam 17.25 WIB, ketiga titik massa tersebut berhasil sepenuhnya menahan dan memukul mundur ratusan aparat. Tak lama berselang datang pihak Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL), Sekretariat Daerah, dan Kesbangpol. Mereka membacakan SK Nomor: 660.1/207 Tahun 2018 tentang “Pemberian Sanksi Administratif dalam Rangka Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Berupa Paksaan Pemerintah dalam Bentuk Penghentian Sementara Produksi kepada Penanggung Jawab Perusahaan Industri Serat Rayon PT. Rayon Utama Makmur (RUM) di Kabupaten Sukoharjo”.

Prinsip bertahan rakyat dan mahasiswa adalah satu-komando-satu-perjuangan, mengawasi provokasi, dan tidak memulai kontak fisik terlebih dahulu. Satu tim dari pihak rakyat dan mahasiswa yang berada di depan pabrik melakukan penyerangan secara terorganisir. Mereka berhasil membakar pos satpam dan gedung peresmian pendirian PT RUM yang ditandangani oleh Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya. Tidak hanya itu, mereka juga berhasil menahan aparat yang terjebak di dalam pabrik agar tidak keluar area pabrik.

 

Rakyat Terdampak dan Mahasiswa Se-Solo Raya
Narahubung: Mohamad, 081910583030, Sukoharjo Melawan Racun (S.A.M.A.R).


NB:
Kronologi ini diterbitkan setelah melalui proses penyesuaian redaksional tanpa mengubah substansi pesan pembuat kronologi. (Nang)

Leave a Reply