SHARE

Screenshot_2016-08-02-21-52-24

Bandung, Selasa 2 Agustus 2016, mahasiswa asal Papua dihadang aparat kepolisian di depan kampus Universitas Langlangbuana, Jl. Karapitan, Bandung, sekitar jam 10.16 hingga jam 12.04.

Sebelumnya, kami mahasiswa Papua hendak melakukan aksi damai di Gedung Merdeka bersama beberapa organisasi mahasiswa pro demokrasi yang tergabung dalam aliansi Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi (SORAK). Kami bersepakat untuk berkumpul di depan kampus Unla sekitar jam 9 pagi. Sebelum kami datang, aparat kepolisian Polrestabes Bandung, berseragam dan tidak berseragam, sudah berkumpul di tempat tersebut.

Screenshot_2016-08-02-21-52-40

Begitu kami tiba, pihak kepolisian menganjurkan kami agar tidak turut beraksi di Gedung Merdeka. Kami ditekan dengan kata-kata yang konyol, tapi kami biarkan saja hingga tiba kendaraan (angkot) yang akan membawa kami ke titik aksi.

Namun, angkot tersebut pun dihadang pihak kepolisian. Angkot dan supirnya ditahan. Aparat membentak-bentak kami dengan alasan kami tidak punya izin dan kami tidak diperbolehkan lanjut ke titik aksi. Kami dikepung sekitar seratus polisi.

Screenshot_2016-08-02-21-52-50

Ketika kami berkoordinasi dengan korlap yang berada di titik aksi, salah satu aparat yang mengaku kepala Densus 88 Bandung (dalam foto ia memakai kemeja putih keabu-abuan, celana jeans, dan topi hitam) meminta untuk disambungkan ke korlap. Lewat ponsel yang mereka ambil dari kami, ia membentak-bentak korlap dan bersikukuh melarang kami dengan alasan tidak punya izin.

Hingga jam 12 lebih, kami masih duduk dalam kepungan polisi. Beberapa saat kemudian, kami putuskan untuk kembali ke kontrakan kami masing-masing.

Demikian koronologi singkat dari kami. Terima kasih.

”Salam Pembebasan.”

Leave a Reply