SHARE

Pada Epitaf yang Tak Terbaca

(Dengan meminjam tangan kemiskinan, Negara membunuh Rita)

Jiwanya diterbangkan angin laut kemiskinan

Dihempas-lepas oleh badai-badai

Ooo…Rita

yang berselancar dalam gelombang

Berlayarlah ia ke laut jauh

Hingga detik dimana kematian menunggu,

ia menyadari,

bahwa air mata tak bisa menyadarkan dunia

Pada senja yang tak lagi riuh

hatinya menebak-nebak kehidupan

menduga-duga ‘adakah lagu perahu menghantarku pulang?’

Sementara,

di musim yang sudah-sudah

leher Ruyati putus

di tanah suci yang tandus;

tandus, kerontang belas-kasih

Demi hukum langit,

Siti Zaenab dipaksa menutup mata-jiwa selamanya

di bawah birahi barisan pemancung.

Karni binti Medi disusulkan menuju awan;

Dan jiwa yang lain-lain,

yang tengkuk-lehernya dipaksa menghadap matahari

dibelah kemilau anyir darah

Sekarang mereka hanya nisan dingin-bisu membatu

Dan kita

hidup di sebuah negeri sampah

di antah-berantah

Di negeri sampah

antah-berantah

jiwa seolah dilucuti dari raga

dipaksa bekerja

di pengasingan

di rumah-rumah juragan

Di negeri kami

menjadi TKI selalu bersinonim dengan mati; (Barra)

 

[ Che Gove ]

Bayangkan, isi bumi dengan orang-orang yang hanya hidup sehari. Maka, detak jantung dan aliran nafas mereka sangat kencang karena seluruh waktu hidup dipadatkan dalam satu putaran bumi. Dengan demikian, seorang lelaki atau perempuan hanya melihat sekali matahari terbit, sekali matahari terbenam. Tapi sayang, itu hanya ada dalam mimpi-mimpi Einstein sebab, udara pagi yang beraroma robusta aceh, hampir setiap hari saling bertukar harum dengan roti bakar buatan Pak Salim di Pasar Klitikan.

Beberapa orang yang telah membaca masa depan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya. Seorang pemuda bersigegas bersama ayahnya menanam anak-anak pisang untuk bekal kuliah, beberapa perempuan menyibukkan diri di meja dapur milik majikannya, gadis manis ditinggal pergi ibunya dari kampung halaman demi mencari nafkah, dan ratusan teman melancarkan solidaritas teradap Mujiyo yang di-PHK perusahaan.

Namun, hidup terlalu keras, beberapa orang berkayakinan bahwa satu-satunya jalan agar dapat menempuh kehidupan yang keras adalah dengan kematian. Dengan maut, lelaki maupun perempuan, akan terbebas dari beban hidup. Beberapa jiwa sempit ini akhirnya memutuskan untuk membakar diri, meminum racun, memotong urat nadi, melemparkan diri dari gedung atau mengetuk palu untuk hukuman mati terhadap orang lain. Bagi mereka, hal demikian adalah jalan pintas, tapi bagi kami, bukan jalan keluar.

Tadi pagi indra penciumanku kehilangan aroma robusta Aceh, sebab kuping meyaring kabar pahit dari negeri Jiran. Rita, buruh migran asal Ponorogo terancam hukuman mati. Serentak raga mengamuk seraya bertanya-tanya pada hati dunia. Rita, apakah engkau bersedia batang lehermu dicekik tali, lalu kaki telanjangmu ditarik grafitasi, hingga oksigen pun kosong di kepalamu? Apakah hatimu sudi melihat kemiskinan menjadi ibu pengganti merawat anak-anakmu?

Aku begitu yakin engkau tak sudi menerima keduanya. Lantas, kenapa mereka berkeras hati  memberimu hukuman mati? Apa mereka buta hati melihat penderitaan hidupmu dan kaummu? Rita, engkau adalah pahlawan perempuan bagi tulang punggung keluargamu. Tangan-tangan kami akan selalu menahan kakimu yang telanjang sampai tali gantungan pun bisa kami lepas dari lehermu.

Rita, di luar sana masih terdapat 277 kaum migran yang sama nasibnya dengan dirimu. Mereka setiap harinya pergi tidur dengan jiwa yang gelisah, raga yang menderita dihantui ancaman hukuman mati. Mereka membutuhkan belas-kasih manusia-manusia asli, yang peduli terhadap kemanusiaan, peduli terhadap kemiskinan, dan peduli terhadap perubahan yang mendasar. Kami yang peduli teradap kemanusiaan bertanya kepada hukum “bukankah tempat rehabilitasi dibangun untuk memanusiakan manusia?”. Bagi yang peduli terhadap kemiskinan, pertanyakanlah: “Bukankah negara harus menjauhkan rakyat dari kemiskinan?”. Dan yang peduli terhadap perubahan, pertanyakanlah kepada Negara: “Apakah kapitalisme, sistem yang kalian bela, dapat memberikan kesejahteraan bagi kaum miskin?”. Rita, janganlah berkecil hati apalagi merasa sendiri, sebab kami menghembuskan udara segar untuk membebaskan engkau dan kaummu. Pergilah tidur dengan tenang, besok kami akan menjemputmu pulang.

Solidaritas untuk Rita dan yang lain adalah kewajiban, sebagai perlawanan serius terhadap hukuman mati yang rentan mengarah pada rakyat miskin dan kaum buruh migran pada khusunya, yang sama-sama terjerat dalam ekonomi penghisapan.

Di penghujung surat ini, sebagai tanda cinta kasih terhadap kemanusiaan, berikrarlah bahwa pada setiap hari ke dua-puluh-enam bulan Januari, akan diperingati sebagai hari anti hukuman mati.

Berikan Rita hidup, bukan tiang gantungan 

Jogjakarta, 26 Januari 2015

Leave a Reply