Home / Reportase / Launching Darul Adli dan PKPA Peradi: Keragaman, Keadilan Sosial dan Menentang Rasialisme

Launching Darul Adli dan PKPA Peradi: Keragaman, Keadilan Sosial dan Menentang Rasialisme

PEMBEBASAN.ORG (15/4/2017); Di Yayasan Satu Keadilan siang itu nampak berkumpul pengacara, aktivis pro demokrasi, aktivis HAM dan kelompok musik Marjinal. Mereka berkumpul dalam acara pembukaan PKPA bertema “Membentuk Advokat Berperspektif Hak Asasi Manusia” sekaligus soft opening Darul Adli (rumah keadilan). Acara yang diorganisir oleh Yayasan Satu Keadilan dibuka oleh Sekjend Peradi, Sugeng Teguh Santoso, S.H yang sering dikenal dengan akronim STS.

Sugeng Teguh Santoso, S.H dengan khas peci hitam membuka pidato di hadapan peserta PKPA dan undangan. STS mengatakan, PKPA ini bertujuan mencetak advokat yang berkeadilan HAM dan berkemanusiaan. Sekaligus mempromosikan keadilan sosial, kemanusiaan dan anti rasisme. “Peserta PKPA adalah mahasiswa lulusan hukum tidak hanya dari Bogor, ada yang dari Poso, Lampung, Bandung, Jakarta“. Menyinggung situasi intoleransi Jakarta, STS menegaskan: “Apabila prinsip agama dipromosikan menisbikan kemanusiaan maka prinsip tersebut telah menghilangkan dasar falsafah ketuhanan“. Prihatin dengan menyeruaknya rasialisme sebagai komoditi politik, dan terpinggirkannya keadilan sosial, STS yakin, arah PKPA dan Darul Adli bisa memperbanyak embrio advokat dan pemikir yang berani memperjuangkan keadilan, juga menentang rasialisme.

Selain pembukaan PKPA, Yayasan Satu Keadilan juga membuka Darul Adli, sebuah program pendidikan HAM. Pembukaan Darul Adli diisi dengan acara Human Rights Lecture: Mempromosikan Keragaman, Memperjuangkan Keadilan Sosial, Menentang Rasisme oleh Usman Hamid, S.H., M. Phil. Usman Hamid dikenal sebagai aktivis HAM, pernah menjadi koordinator Kontras setelah Alm. Munir, S.H dibunuh anggota BIN dengan racun arsenik. Usman menjelaskan panjang lebar tentang dinamika HAM yang kini dikotori oleh rasisme dengan mengambil konteks latar belakang munculnya kelompok intoleran dalam Pilkada DKI.

Penampilan kelompok musik Marjinal turut menyemarakkan acara. Marjinal sendiri adalah kelompok musik yang menyodorkan bebunyian protes, perlawanan dan kritik sosial-politik. Sebut saja lagu Hukum Rimba, Marsinah, Negeri Ngeri, berisi protes terhadap realitas penindasan. Di acara penutup, ada penampilan marawis yang dihadirkan oleh panitia acara.

Pastinya, kita semua resah, bahkan khawatir bagaimana ke depan jika rasialisme, intoleransi antar agama dan masalah keadilan sosial semakin meluas. Kita perlu menghadangnya dengan melawan ketidakadilan. Demokrasi perlu diluaskan, dikuatkan dengan persatuan rakyat.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top