SHARE

343985-sepik

Di dalam gerakan buruh, perjuangan melawan musuh-musuh manakah sehingga gerakan buruh Bolsyewisme bisa berkembang, menjadi kuat dan tertempa?

Pertama-tama, dan terutama sekali dalam perjuangan melawan oportunisme, yang pada tahun 1914 secara pasti telah menjadi sosial-sovinisme, secara pasti telah memihak burjuasi dalam menentang proletariat. Sudah tentu, oportunisme adalah musuh Bolsyewisme yang paling pokok di dalam gerakan buruh. Secara internasional, oportunisme juga tetap menjadi musuh pokok. Kaum Bolsyewik mencurahkan, dan terus mencurahkan sebanyak-banyaknya perhatian terhadap musuh tersebut. Segi aktivitas kaum Bolsyewik tersebut, sekarang dikenal dengan cukup baik juga di luar negeri.

Juga, harus dikatakan tentang musuh Bolsyewisme lainnya di dalam gerakan buruh. Di luar negeri, sampai sekarang, begitu tak cukup diketahui bahwa Bolsyewisme telah tumbuh, mendapat bentuk dan tertempa dalam perjuangan yang bertahun-tahun lamanya melawan revolusionerisme burjuis kecil, yang berbau anarkisme (atau hampir menyamainya), dan yang menyelewengkan segala sesuatu yang pokok dari syarat-syarat dan kebutuhan-kebutuhan perjuangan kelas proletar yang konsekwen. Bagi kaum Marxis, sesungguhnya sudah jelas secara teori—dan pengalaman semua revolusi serta gerakan revolusioner di Eropa telah sepenuhnya memperkuat kebenarannya—bahwa pemilik kecil, majikan kecil (suatu tipe sosial yang terdapat secara luas, secara massal di banyak negeri Eropa), yang di bawah kapitalisme selalu mengalami penindasan dan, sering sekali, mengalami kemerosotan yang terlampau hebat dan cepat dalam kehidupannya, mengalami kebangkrutan, dengan mudah menjadi revolusioner ekstrim, tetapi tidak dapat memperlihatkan kesabaran organisasi, disiplin dan keteguhan. Seorang burjuis kecil yang “menjadi gila” karena kengerian-kengerian kapitalisme adalah suatu gejala sosial yang, seperti anarkisme, adalah khas bagi semua negeri kapitalis. Ketidakteguhan revolusionerisme serupa itu, kemandulan, wataknya yang sering berubah dengan cepat menjadi sikap tunduk, apatisme, khayalan, dan malahan sampai menjadi kesukaan yang “gila” terhadap suatu aliran “mode” burjuis—semua ini telah diketahui secara umum. Tetapi, pengakuan secara teori dan abstrak terhadap kebenaran-kebenaran tersebut sama sekali tidak membebaskan partai revolusioner dari kesalahan-kesalahan lama, yang selalu muncul karena alasan yang tak terduga-duga, dalam bentuk yang agak baru, dalam baju atau selubung yang belum dikenal, atau dalam situasi yang istimewa—situasi yang sedikit atau banyak istimewa.

Anarkisme tidak jarang merupakan semacam hukuman terhadap dosa-dosa oprtunis gerakan buruh. Kedua cacat itu saling melengkapi. Dan, walau di Rusia, sekalipun penduduknya lebih bersifat burjuis kecil ketimbang penduduk di negeri-negeri Eropa, anarkisme mempunyai pengaruh yang relatif paling tidak berarti dalam persiapan-persiapan dan selama kedua revolusi Rusia (tahun 1905 dan 1917), hal tersebut sudah tentu sebagian karena jasa Bolsyewisme, yang selalu melakukan perjuangan tak kenal ampun dan kompromi melawan oportunisme. Aku katakan “sebagian”, sebab peranan yang lebih penting lagi dalam melemahkan anarkisme di Rusia dimainkan oleh kenyataan bahwa pada masa yang lampau (tahun-tahun 70-an dari abd ke XIX) anarkisme telah mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan luarbiasa suburnya dan memperlihatkan sifat yang tak berguna dan ketidak-tepatannya samasekali sebagai teori pembimbing bagi kelas revolusioner.

Pada saat kemunculannya, pada tahun 1903, Bolsyewisme mewarisi tradisi perjuangan yang takkenal ampun dalam melawan revolusionerisme burjuis-kecil, setengah anarkis (atau yang suka main mata dengan anarkisme), tradisi yang selamanya ada dalam Sosial-Demokrat revolusioner, dan perlawanan kami tersebut terutama menjadi kuat pada tahun 1900-1903, saat landasan partai massa proletariat revolusioner sedang diletakkan di Rusia. Bolsyewisme mewarisi dan melanjutkan perjuangan melawan partai, yang lebih dari pada lain-lainnya, menyatakan tendensi-tendensi revolusionerisme burjuis-kecil, yakni Partai “Sosialis-Revolusioner”, terutama dalam hal tiga soal yang pokok. Pertama, partai tersebut, yang menolak Marxisme, dengan keras kepala tidak mau (atau, lebih tepat lagi kalau dikatakan: tidak mampu) mengerti keharusan memperhitungkan secara benar-benar obyektif kekuatan-kekuatan kelas dan hubungan-hubungan mereka satu sama lain sebelum mengadakan sesuatu aksi politik. Kedua, partai tersebut menganggap dirinya sangat “revolusioner”, atau “Kiri”, karena mengakui teror perseorangan hanya atas alasan berguna tidaknya. Sedangkan orang-orang yang “secara prinsipiil” mau mencela teror dalam Revolusi Besar Perancis—teror pada umumnya, atau teror yang dilakukan oleh partai revolusioner yang menang, yang dikepung oleh burjuasi seluruh dunia—telah diejek dan ditertawakan oleh Plechanov pada tahun 1900-1903, ketika dia masih seorang Marxis dan seorang revolusioner. Ketiga, kaum “Sosialis-Revolusioner” menganggap dirinya sangat “Kiri” untuk memperolok-olok dosa-dosa oportunis Partai Sosial-Demokratis Jerman yang agak tidak berarti, sedangkan mereka sendiri meniru kaum oportunis ekstrim partai tersebut, misalnya, mengenai soal agraria, atau mengenai soal diktatur proletriat.

Sambil lalu boleh dikatakan, bahwa sejarah sekarang telah memperkuat, dalam ukuran sejarah secara luas (yang meliputi seluruh dunia), pendapat yang selalu kami pertahankan, yaitu, bahwa Sosial-Demokrat Jerman yang revolusioner—catatlah bahwa Plekhanov sudah sejak tahun 1900-1903 menuntut dipecatnya Bernstein dari partai, dan kaum Bolsyewik yang senantiasa meneruskan tradisi ini, dalam tahun 1913 menelanjangi seluruh kejadian, kenistaan dan pengkhianatan dari Legien [13]—pernah paling mendekati suatu partai yang dibutuhkan oleh proletariat revolusioner dalam mencapai kemenangannya. Sekarang, dalam tahun 1920. Sesudah semua kegagalan dan krisis yang hina pada masa perang dan pada tahun-tahun permulaan sesudah perang, dapat dilihat dengan jelas bahwa dari semua partai di Barat, Sosial-Demokrat revolusioner Jermanlah yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang terbaik, serta pulih, sembuh, dan menjadi kokoh kembali lebih cepat daripada yang lain-lain. Ini dapat dilihat baik pada partai Spartakus [14], maupun pada sayap Kiri proletar “Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman”, yang sedang melakukan perjuangan yang tak henti-hentinya menentang oportunisme dan tak bertulangpunggungnya kaum Kautsky, Hilferding, Ledebour dan Crispien. Jika kita sekarang mengadakan tinjauan secara umum pada periode sejarah yang lengkap dan sudah selesai, yaitu periode dari Komune Paris [15] sampai pada Republik Sovyet Sosialis yang pertama, maka kita akan melihat bahwa sikap Marxisme terhadap anarkisme pada umumnya nampak paling tegas dan tak bisa menimbulkan salah faham. Pada akhirnya, Marxisme terbukti benar dan, sekalipun kaum anarkis dengan cepat menunjukkan sifat oportunisnya dalam pandangan-pandangannya mengenai Negara, yang pernah meraja-lela di kalangan kebanyakan partai-partai Sosialis, haruslah diterangkan, pertama, bahwa sifat oportunis tersebut bertalian dengan pemutarbalikan, dan malahan penyembunyian dengan sengaja, terhadap pandangan-pandangan marx mengenai negara (dalam bukuku, Negara dan Revolusi, aku mencatat bahwa, selama 36 tahun, yakni dari tahun 1875 sampai 1911, Bebel merahasiakan surat Engels [16] yang dengan jelas, tajam, terus terang dan tegas menelanjangi oportunisme pandangan-pandangan Sosial-Demokratis—yang dipakai secara luas—mengenai negara); kedua, bahwa koreksi atas pandangan-pandangan oportunis tersebut, pengakuan akan kekuasaan Sovyet dan keunggulannya atas demokrasi burjuis parlementer, semuanya itu dilakukan dengan lebih cepat dan luas justru dari kandungan aliran-aliran yang paling bersifat Marxis di kalangan partai-partai Sosialis Eropa dan Amerika.

Perjuangan yang dilakukan oleh Bolsyewisme dalam menentang penyelewengan-penyelewengan “Kiri” di dalam Partainya sendiri memperoleh ukuran yang sangat besar sekali dalam dua kejadian: pada tahun 1908, mengenai soal turut ambil bagian atau tidak dalam “parlemen” (yang paling reaksioner) dan dalam kelompok-kelompok buruh yang legal, yang dibatasi oleh undang-undang yang paling reaksioner; dan kemudian pada tahun 1918 (Perjanjian Perdamaian Brest [17] ), mengenai apakah “kompromi” diperbolehkan atau tidak.

Dalam tahun 1908 kaum Bolsyewik “Kiri” dipecat dari partai kami karena mereka dengan keras kepala tidak mau mengerti keharusan ikut serta dalam “parlemen” yang paling reaksioner [18]. Kaum “Kiri”—di antara mereka banyak terdapat kaum revolusioner yang baik sekali yang, kemudian, dengan kehormatan menggunakan (dan masih menggunakan) nama anggota Partai Komunis—mendasarkan pendirian mereka terutama sekali atas pengalaman boikot yang berhasil pada tahun 1905. Pada saat bulan Agustus, 1905, pada saat T’sar mengumumkan diselenggarakannya sidang “parlemen” [19], yang mempunyai kekuasaan sebagai nasehat, kaum Bolsyewik—bertentangan dengan semua partai oposisi dan bertentangan dengan kaum Mensyewik—menyerukan boikot terhadapnya dan, hasilnya, “parlemen” benar-benar disapu oleh revolusi bulan Oktober, 1905 [20] . Pada waktu itu, boikot terbukti benar, bukan karena tidak turut ambil bagian dalam parlemen-parlemen yang reaksioner adalah tepat pada umumnya, melainkan karena kami dengan tepat memperhitungkan situasi yang obyektif yang sedang menuju perubahan dengan cepat—dari pemogokan-pemogokan massa, yang menjadi pemogokan politik, lalu menjadi pemogokan revolusioner, dan kemudian menjadi pemberontakan. Lagi pula, perjuangan pada waktu itu berpusat di sekitar soal apakah penyelenggaraan sidang badan perwakilan yang pertama itu diserahkan kepada T’sar, atau berusaha merebutnya dari tangan kekuasaan yang lama. Sejauh tidak ada, sejauh tidak mungkin ada kepastian adanya situasi obyektif yang sama dan, juga, sejauh tidak ada arah dan kecepatan perkembangannya yang sama, maka boikot tersebut menjadi tidak tepat lagi.

Boikot Bolsyewik terhadap “parlemen” pada tahun 1905 memperkaya proletariat revolusioner dengan pengalaman politik yang luarbiasa berharga, yakni dapat menunjukkan bahwa dalam perpaduan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, di dalam parlemen dengan di luar parlemen, kadang-kadang berguna juga dan malahan wajib untuk menolak bentuk-bentuk parlementer. Tetapi, sudah tentu usaha menerapkan pengalaman tersebut dengan membuta, dengan meniru saja dan tidak kritis pada syarat-syarat lain dan dalam situasi-situasi lain, merupakan kekeliruan yang mahabesar. Boikot terhadap “Duma” oleh kaum Bolsyewik pada tahun 1906 merupakan kesalahan, sekalipun merupakan kecil dan mudah dikoreksi [*]. Boikot terhadap Duma pada tahun 1907, 1908, dan tahun-tahun berikutnya adalah suatu kesalahan yang serius dan yang sukar diperbaiki sebab, di satu pihak, kebangkitan yang cepat sekali menjadi pasang revolusioner dan peralihannya menjadi suatu pemberontakan tidak dapat diharapkan dan, di pihak lain, seluruh situasi sejarah yang bersifat pembaharuan terhadap monarki burjuis menuntut dipadukannya aktivitas legal dengan aktivitas ilegal. Sekarang ini, ketika kita tinjau kembali masa sejarah yang telah selesai sepenuhnya, dan yang rangkaiannya dengan masa-masa berikutnya sudah menjadi nyata sepenuhnya, maka menjadi semakin jelaslah bahwa kaum Bolsyewik, pada tahun 1908-1914, kiranya tidak dapat memelihara (apalagi memperkuat, mengembangkan dan menambahkan) inti yang teguh sebagai partai proletariat yang revolusioner seandainya mereka tidak mempertahankan perjuangan yang paling sengit dalam memenuhi kewajiban untuk menghubungkan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, kewajiban pasti ikut serta dalam parlemen yang paling reaksioner sekalipun dan ikut serta dalam beberapa lembaga lainnya yang dibatasi oleh undang-undang yang reaksioner (kumpulan-kumpulan asuransi, dan sebagainya).

Pada tahun 1918, persoalannya tidak sampai menimbulkan perpecahan. Pada waktu itu, kaum Komunis “Kiri” [21] hanya membentuk suatu kelompok atau “faksi” khusus di dalam Partai kami, dan tidak untuk waktu lama. Pada tahun 1918 itu juga, wakil-wakil yang paling terkemuka dari “Komunisme Kiri”, misalnya , kawan-kawan Radek dan Bucharin, secara umum mengakui kesalahan mereka. Mereka mengira bahwa Perjanjian Perdamaian Brest adalah suatu kompromi dengan kaum imperialis, yang tidak diperbolehkan (menurut prinsip) dan yang merugikan bagi partai proletariat revolisioner. Memang, Perjanjian tersebut adalah suatu kompromi dengan kaum imperialis tetapi, pada saat yang demikian, justru kompromi menjadi wajib dilakukan.

Kini, saat aku mendengar serangan-serangan terhadap taktik kami pada waktu penandatanganan Perjanjian Perdamaian Brest, misalnya dari pihak kaum “Sosialis-Revolusioner”, atau ketika aku mendengar teguran yang diucapkan oleh Kawan Lansbury saat bercakap-cakap denganku—Pemimpin kami dari serikat buruh-serikat buruh Inggeris mengatakan bahwa jika bagi kaum Bolsyewik memperbolehkan mengadakan kompromi-kompromi, maka mereka boleh juga mengadakan kompromi-kompromi”—maka biasanya aku menjawab dengan pertama-tama memberikan contoh yang sederhana dan “populer”. Bayangkan bahwa mobil saudara dijegal oleh bandit-bandit yang bersenjata. Saudara menyerahkan uang, pistol dan mobil saudara kepada mereka. Sebagai gantinya, bebas dan bertetangga baik dengan bandit-bandit itu. Itu tak dapat disangkal lagi, suatu kompromi. “Do ut des” (“saya memberikan” padamu uang, senjata, mobil, “supaya kau memberikan” pada saya kesempatan untuk pergi dengan selamat). Tetapi akan sukarlah untuk menemukan seorang yang berfikiran waras yang akan menyatakan bahwa kompromi seperti itu sebagai yang “tidak diperbolehkan menurut prinsip”, atau yang menyatakan bahwa orang yang mengadakan kompromi itu adalah sekutu bandit-bandit tersebut (sekalipun bandit-bandit itu dapat mempergunakan mobil dan senjata tadi untuk melakukan perampokan perampokan baru). Kompromi kami dengan bandit-bandit imperialis Jerman adalah kompromi semacam itu.

Akan tetapi, ketika kaum Mensyewik dan kaum sosialis revolusioner di Rusia, Scheidermann-Scheidermann (dan sebagian besar Kautsky-Kautsky) di Jerman, Otto Bauer dan Friedrich Adler (tidak usah dikata lagi tentang Tuan-Tuan Renner & Co) di Austria, Renaudel-Renaudel dan Longuet-Longuet & Co di Perancis, kaum Fabian, kaum “Merdeka” dan kaum “Partai Buruh” (kaum “Labouris” [22] di Inggeris, dalam tahun 1914 – 1918 dan dalam tahun 1918 – 1920 mengadakan kompromi-kompromi dengan bandit-bandit burjuasi “Sekutu”, menentang proletariat revolusioner negeri-negeri mereka sendiri maka, pada saat itu, semua tuan-tuan ini adalah memang berbuat sebagai sekutu bagi banditisme.

Kesimpulannya jelas: menolak kompromi “menurut prinsip”, menolak diperkenankannya kompromi apapun secara umum, tak pandang bagaimana macamnya, adalah kekanak-kanakan, yang bahkan sukar untuk dipandang secara serius. Seorang politikus yang ingin berguna bagi proletariat revolusioner harus pandai membedakan justru kejadian konkrit kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan, yang di dalamnya terkandung oportunisme dan pengkhianatan, dan mengarahkan semua kekuatan kritik, semua ujung tombak penelanjangan yang tak kenal belas kasihan dan perang yang tak kenal ampun terhadap kompromi-kompromi yang konkrit itu. Jangan memberi kesempatan pada ahli-ahli Sosialisme yang “terlalu praktis” dan Jesuit-Jesuit parlementer yang telah banyak “makan garam” , yang menghindarkan diri dan menyelinap dari tanggungjawab terhadap omongan-omongan tentang “kompromi pada umumnya”. Justru dengan cara tersebut, Tuan-Tuan “pemimpin” serikat buruh-serikat buruh Inggeris, begitu juga perkumpulan Fabian dan Partai Buruh “Merdeka”, mengelakkan diri dari tanggungjawab atas pengkhianatan yang telah mereka lakukan, karena justru telah mengadakan kompromi yang benar-benar merupakan semacam oportunisme dan pengkhianatan yang paling jahat.

Kompromi dan kompromi. Orang harus pandai menganalisa situasi dan syarat-syarat konkrit dari tiap kompromi, atau tiap variasi kompromi. Kita harus belajar membedakan orang yang memberikan uang dan senjata kepada gerombolan bandit agar bisa memperkecil kerugian yang dapat mereka timbulkan dan mempermudah urusan menangkap dan menghukum mati mereka, dengan orang yang memberikan uang dan senjata untuk ikut serta dalam pembagian barang-barang yang dirampok. Dalam politik, hal tersebut sekali-kali tidak selalu semudah seperti dalam contoh kekanak-kanakan yang sederhana tersebut. Tetapi, seseorang yang bermaksud mereka-reka (bagi kaum buruh) suatu resep yang seolah-olah dapat memberikan persediaan pemecahan-pemecahan yang sudah siap bagi semua kejadian dalam kehidupan, atau yang menjanjikan bahwa bahwa politik proletariat revolusioner tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan apapun dan situasi-situasi apapun yang ruwet, semata-mata akan menjadi seorang dukun gadungan.

Agar tidak memberikan kemungkinan untuk salah tafsir, aku akan mencoba menggambarkan dalam garis besar—sekalipun hanya dengan singkat sekali—beberapa ketentuan yang pokok untuk menganalisa kompromi-kompromi yang konkrit.

Partai yang mengadakan kompromi dengan kaum imperialis Jerman—dengan menandatangani Perjanjian Perdamaian Brest—telah mulai mengolah internasionalismenya dalam tindak nyata sejak penghabisan tahun 1914. Partai tersebut tidak takut untuk menyerukan dikalahkannya monarki T’sar dan tak takut untuk mengutuk “pembelaan tanah air” dalam peperangan antara dua binatang buas imperialis. Wakil-wakil petani tersebut, dalam parlemen, lebih suka menempuh jalan menuju Siberia ketimbang jalan menuju jabatan-jabatan menteri dalam pemerintah burjuis. Revolusi yang menggulingkan T’sarisme dan mendirikan republik demokratis menghadapkan partai tersebut pada suatu ujian baru yang berat: partai tersebut tidak mengadakan persetujuan-persetujuan apapun dengan imperialisnya “sendiri”, melainkan telah mempersiapkan dan akan melaksanakan penggulingan imperialis. Sesudah merebut kekuasaan politik, partai tersebut menghancurleburkan samasekali milik tuan tanah maupun kapitalis. Sesudah mengumumkan dan membatalkan perjanjian-perjanjian rahasia kaum imperialis, partai tersebut mengusulkan perdamaian kepada semua Rakyat, yang tunduk pada kekerasan binatang-binatang buas Brest baru sesudah kaum imperialis Inggeris-Perancis menggagalkan usaha mengadakan perdamaian. Dan, kaum Bolsyewik melakukan segala apa yang mungkin menurut kesanggupan manusia guna mempercepat revolusi di Jerman dan di negeri-negeri lainnya. Bahwa kompromi yang semacam itu, yang dilakukan oleh partai serupa itu, dan dalam keadaan yang demikian rupa, adalah benar sekali, dari hari ke haari menjadi semakin terang dan jelas bagi setiap orang.

Kaum Mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner di Rusia—seperti semua gembong internasionale II di seluruh dunia pada tahun 1914-192—mulai melakukan pengkhianatan, dengan membenarkan secara langsung atau tidak langsung, “pembelaan terhadap tanahair”, yakni pembelaan terhadap burjuasi perampok mereka sendiri. Mereka adakan koalisi dengan burjuasi negeri mereka sendiri dan berjuang bersama-sama dengan burjuasi mereka sendiri melawan proletariat revolusioner negeri mereka sendiri. Blok mereka, mula-mula dengan Kerenski dan kaum Kadet-kadet [23] , kemudian dengan Koltjak dan Denikin di Rusia, seperti juga blok mereka yang sepaham di luarnegeri, yang bekerjasama dengan burjuasi negeri mereka masing-masing, dan hal itu merupakan suatu penyeberangan ke pihak burjuasi untuk menentang proletariat. Dari awal sampai akhir, kompromi mereka dengan bandit-bandit imperialisme terletak pada kenyataan bahwa mereka menjadikan diri mereka sendiri peserta-peserta dalam banditisme imperialis.

_________

[*] Apa yang belaku pada orang-orang berlaku juga—dengan perbedaan-perbedaan yang sewajarnya—pada politik dan partai-partai: Yang diminta bukanlah orang yang tak pernah membuat kesalahan-kesalahan. Tidak ada dan tidak mungkin ada orang yang serupa itu. Yang pintar: orang yang membuat kesalahan-kesalahan yang tidak sangat esensiil dan yang pandai membetulkan kesalahan-kesalahan itu dengan mudah serta cepat.

Lenin.

Leave a Reply