SHARE

Kelompok mahasiswa Front Persatuan Demokratik Rakyat melakukan aksi mendukung referendum bagi bangsa West Papua pukul 11.10 siang tadi di depan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Aksi ini diikuti kurang lebih 50-an massa aksi dan mendapatkan pengawalan dari 150-an Polisi dan tentara.

Aksi ini merupakan bentuk dukungan terhadap hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa West Papua. Massa aksi secara bergantian melakukan orasi untuk menyuarakan dukungannya dan mengecam tindakan TNI/Polri yang menyebarkan fitnah bahwa TPN-PB melakukan pemerkosaan dan penculikan terhadap 1300 warga Mimika.

Salah satu orator, Bernardo Boma mengatakan bahwa akar permasalahan di Papua bukanlah soal kemiskinan atau kurangnya pembangunan, tapi yang menjadi akar permasalahannya adalah keberadaan Freeport dan NKRI yang menjajah bangsa Papua.

“Oleh karena itu satu-satunya solusi terbaik adalah Indonesia memberikan kemerdekaan bagi bangsa Papua,” pungkasnya.

Senada dengan Boma, Isno dalam orasinya mengatakan, “Sebagai rakyat Indonesia yang sadar akan penjajahan oleh Indonesia terhadap bangsa Papua, maka saya harus meluruskan sejarah yang dimanipulasi ini dan mendukung bangsa papua untuk merdeka. Papua tidak pernah secara legal bergabung dengan Indonesia, Papua selama ini dijajah oleh Indonesia. Oleh karena itu, sebagaimana amanat UUD 1945, kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.”

Lebih lanjut Isno mengatakan, “Sejak 1 Desember 1961 Papua Barat sudah menyatakan kemerdekaannya, namun oleh Indonesia melalui operasi Trikora, New York Agreement sampai Pepera, Papua dianeksasi menjadi bagian dari tanah jajahannya. Saya sebagai rakyat Indonesia tidak mau jadi bagian dari penjajah dan meminta pemerintah indonesia menarik tentara organik dan non organik dari tanah papua dan segera memberikan kemerdekaan bagi bangsa Papua,” tutupnya. (iss/nad)

Leave a Reply