SHARE

[ Tulisan Ross Wolfe; diterjemahkan oleh Edo W. Adityawarman ]

 

 

Sejarah membuktikan lagi dan lagi, bagaimana alam menunjukkan kebodohan manusia…
–Blue Oyster Cult, “Godzilla”

Dengan kejadian belakangan ini di Jepang dan gambaran Badai Katrina juga tsunami tahun 2004 lalu yang masih segar di ingatan kita, tampaknya tepat untuk meninjau kembali isu lama hal-ihwal hubungan manusia dengan alam. Eksposisi yang tepat dari masalah itu akan memerlukan banyak ruang; oleh karenanya, saya bermaksud untuk membagi pemaparan saya jadi setidaknya tiga bagian, yang masing-masing dibangun atas hasil tulisan yang mendahuluinya. Bagaimana pun, masalah hubungan manusia dengan alam telah dikandung dalam berupa cara yang berbeda selama berabad-abad, dan banyak juga yang bertahan hingga hari ini, dalam berbagai mutasi.

Mungkin akan berguna untuk memulai dengan ikhtisar, atau semacam silsilah, sehingga konsepsi-konsepsi yang berbeda dan hubungan satu sama lainnya dapat diklarifikasi. Presentasi akan dilakukan secara dialektis, tapi tidak keluar dari kewajiban untuk beberapa format artifisial yang telah dikonfigurasikan sebelumnya. Mesti menjadi dialektis, sebab subjek yang akan dibahas itu sendiri benar-benar dialektis, sebagaimana konsepsi-konsepsi tentang alam saling berjalin-kelindan dan tumpang tindih dalam kemajuan sejarahnya. Orientasi manusia dengan alam tidak pernah sama sekali baru dari waktu ke waktu; tak ada yang tak menanggung jejak yang lama dalam konsepsi yang lahir kemudian.

Dan, memulai dari yang permulaan:

Di beberapa titik, alam dipandang sebagai musuh yang harus ditakuti, membawa wabah, bencana, dan kelaparan yang memorak-porandakan manusia. Seringkali kekuatan-kekuatan elemental ini entah secara animistik, secara natural, atau totemistik diwujudkan sebagai kekuatan yang ilahiah dalam diri mereka sendiri, atau dipersonifikasikan dalam wujud dewa-dewa atau roh-roh yang menguasai kekuatan-kekuatan ini. Ketika sebuah bencana terjadi, maka itu adalah sebab para dewa atau roh-roh yang entah bagaimana telah marah pada tabiat buruk manusia dan dengan demikian mereka melampiaskan kemarahan mereka pada manusia mortal yang ketakutan. Pada zaman Kristen, logika yang sama bertahan, dengan banyak peristiwa yang dilihat sebagai tanda-tanda pemeliharaan dan kasih karunia Ilahi, dan peristiwa hawar sebagai murka Allah oleh sebab dosa dan kesalahan manusia.

Kemudian, pada awal Pencerahan, alam ditinjau kembali sebagai benda yang mati, patuh terhadap serangkaian mekanisme yang tidak dikenal hukum-hukumnya, tetapi bisa ditemukan dan dikuasai lewat studi yang cermat dan pengamatan di bawah kondisi yang terkendali. Sebagaimana diktum Baconian, kontra Aristoteles: Rahasia-rahasia alam menampakkan dirinya dengan lebih baik melalui pelecehan-pelecehan yang diterapkan pada seni [penyiksaan] daripada ketika mereka pergi dengan cara mereka sendiri. Maka mulailah “penaklukan” alam, petualangan untuk memanfaatkan kekuatan itu sehingga dapat digunakan untuk melayani manusia. Dengan dirampoknya sifat-sifat misterius dari alam itu, oleh karenanya benda-benda alam itu menjadi “kecewa” [disenchanted], dalam arti Weberian. Dengan datangnya Pencerahan, seperti diakui oleh Hegel, “akal budi akan menyadari sepenuhnya apa yang diintuisikan sebagai benda belaka, seperti membabat hutan yang suci untuk kayu belaka.”

Romantisisme merespon keterasingan dari alam ini dengan rasa kehilangan yang tragis, dan berusaha untuk merekatkan kembali apa yang mereka lihat sebagai keretakan dari kesatuan manusia degan alam. Kaum Romantik memuliakan yang primitif, merayakan kenaifan menawan dari Yunani kuno atau rekan-rekan modern mereka, yang muncul dalam bentuk “biadab-biadab mulia”. Dramawan Friedrich Schiller bahkan mendedikasikan sebuah esai untuk perbedaan antara “naif” dan “sentimental” dalam puisi. Untuk manusia modern, ia menegaskan, “alam telah menghilang dari kemanusiaan kita, dan kita dapat menjumpainya kembali dalam kemurniannya, yang hanya ada di luar kemanusiaan di dunia yang tak bernyawa. Bukan kealamian [Naturmäßigkeit] kami lebih besar, tapi justru sebaliknya, ketidakalamian [Naturwidrigkeit] dari hubungan kita, kondisi, dan adat-istiadat memaksa kita untuk memodekan sebuah kepuasan dalam dunia fisik yang tak dapat diharapkan dalam dunia moral.” Kaum Romantik lebih menyukai kesederhanaan pedesaan (bucolic) dari desa tua kecil daripada kekacauan yang terpapar di kota modern. Penjelasan vitalistik tentang alam, seperti Goethe dan Schelling, ditawarkan sebagai alternatif dari visi Demokritean-Newtonian tentang alam semesta sebagai hal yang terdiri dari benda mati dan mematuhi serangkaian hukum mekanis yang tak berubah.

Kendati ada nostalgia pada kesederhanaan yang lampau dari hidup dan kesatuan manusia dengan alam, pandangan romantik secara bertahap dikalahkan oleh pandangan yang berasal dari industrialis modern. Bagi para industrialis, alam muncul sebagai kekayaan bahan baku yang menunggu untuk dieksploitasi. Melalui penerapan tenaga kerja manusia, sumber daya alam dapat diubah menjadi produk sosial, menjadi komoditas berharga untuk dibagikan kepada seluruh masyarakat. “Manusia ketika memproduksi kekayaan bertindak atas hal-hal yang disediakan oleh Alam,” tulis Alfred Marshall, ekonom Inggris terkenal. “Karunia Alam untuk manusia pertama-tama adalah material seperti besi, batu, kayu, dsb., dan kedua, kekuatan seperti angin, panas matahari, sumber darimana semua kekuatan lainnya berasal.” Kekayaan, kata Marshall, hanya bisa dihasilkan melalui tindakan orang pada bahan-bahan alamiah, yang kelayakan dan keberhargaannya hanya bisa dievaluasi sesuai dengan utilitas potensi mereka. Dia melanjutkan:

Maka itu agen-agen produksi yang adalah juga kekuatan alam dan kemampuan manusia; kemampuan manusia secara umum menjadi paling efisien ketika diterapkan untuk mengontrol dan mengarahkan kekuatan alam, daripada untuk melawan mereka. Dan kekayaan negara tergantung pada cara di mana kekuatan alam dan kerja manusia disatukan dalam produksi kekayaan.” Seseorang mungkin mencatat bagaimana perspektif industrialis modern pada alam sebagai semacam cerminan dari abad Pencerahan. Untuk keduanya, alam dipahami tidak lebih sebagai sejumlah benda mati dan kekuatan mekanis yang mendorongnya. Perbedaannya adalah, bahwa sementara Bacon atau Descartes mungkin tertarik pada produk alami sejauh mereka dapat dimengerti, Rockefeller atau Carnegie akan lebih tertarik pada bagaimana cara agar produk itu menjadi mungkin untuk dimanfaatkan hingga menghasilkan nilai.

Meskipun Romantisisme mengambil jalan yang “gelap” dan urbanistik menuju pertengahan abad ini (pikirkan Baudelaire dan the Symbolist) sepanjang jalan sampai ke fin-de-siècle, banyak dari sentimen yang awalnya mereka miliki terhadap alam selamat bersama industrialisasi yang pesat di Eropa dan urbanisasi di abad kesembilan belas. Transendentalis Amerika hanyalah salah satu gerakan yang mengkonfirmasikan fakta ini. Pada abad kedua-puluh, bagaimana pun, berbagai arus yang berasal dari Romantisisme awal abad kesembilan belas mulai muncul kembali, mengikat dirinya pada sejumlah kecenderungan politik yang berbeda. Preservasionis, environmentalis, vegetarian, dan nudis bergabung dengan berbagai kelompok dari segala macam warna dari spektrum politik: konservasionisme gaya Teddy Roosevelt di Amerika, fasisme NSDAP di Jerman, serta kiri-semu semacam Front Populaire di Perancis. Setalah perang berakhir, tendensi-tendensi ini bergabung dan menjadi bagian Kiri Baru (New Left) internasional dan kemudian kiri “pasca-ideologis” yang samar-samar pada paruh kedua abad ini.

Untuk sebagian besar dari kelompok-kelompok ini, para environmentalis cenderung melihat bahwa setiap eksploitasi alam oleh manusia sebagai invasif, sebagai bentuk pelanggaran atas kesucian yang melekat padanya. Alam bagi mereka menjadi sesuatu yang dalam terma Kantian, Ding an sich, yang tidak dapat diganggu gugat dan pada dasarnya tidak dapat diketahui. Keberlanjutan keberadaannya yang “alamiah”, tidak dirusak oleh pengaruh buruk masyarakat, dianggap sebagai semacam kebajikan dalam dirinya sendiri. Padang gurun yang tak tersentuh dianggap sebagai hal yang murni, surga prelapsarian, tempat hidup Adam sebelum ia dijatuhkan, dalam harmoni sempurna dengan dirinya sendiri. Alam mesti dilepaskan dari pertimbangan fungsi utilitasnya untuk masyarakat. Tapi bagaimana pun juga, menghadapi realitas eksploitasi industri yang meningkat di situs alam, aktivis environmentalis menyalahkan kapitalisme global dan keserakahan korporasi atas kerusakan lingkungan yang terjadi dengan sangat cepat. Sehingga mereka bergerak untuk protes pada eksploitasi lebih lanjut dari lingungan, menyemburkan retorika-retorika apokaliptik dan memprediksi bencana ekologis. Semua umat manusia telah dikutuk, kata mereka, sebab manusia tidak memperbaiki lakunya. Dalam arti tertentu, ini hampir menandai kembalinya kita ke keyakinan primitif yang menyebutkan bahwa dosa manusia akan dipertemukan dengan murka, juga hampir ironis jika kenaikan permukaan air laut akibat mencairnya lapisan es dianggap sebagai pengulangan dari Banjir yang ada dalam Alkitab. Masyarakat modern bagi kaum environmentalis merupakan semacam kapitalis Sodom dan Gomorrah, yang akan segera dihukum oleh Ibu Bumi. Environmentalisme seperti ini sering kita temui hari ini, histeria dispensionalis yang hampir-hampir melampaui bukti ilmiah teori tempat pemanasan global didasarkan. Dan ini adalah saat di mana kita hidup.

Kembali ke tujuan awal, apa yang bisa diambil dari berbagai sejarah konsepsi alam kita ini? Pertama-tama, adalah memberitahu kita bahwa konsepsi tentang alam dalam sebagian besarnya, tergantung pada masyarakat yang tak lain juga adalah sebagai objek kontemplasinya. Alam, meski mungkin beroperasi sesuai dengan hukum-hukum fisika yang tak berubah, memiliki signifikansi di luar eksistensi dalam dirinya sendiri. Konsep “alam” juga membawa pada dirinya banyak bagasi ideologis, dan mencerminkan suprastruktur pemikiran pada tiap zaman. Masalahnya, ke depan, adalah tidak hanya untuk menemukan semacam solusi untuk potensi keruntuhan ekologis, tapi untuk merumuskan alam sebagai masalah sosial. Pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam jauh melampau pernyataan “menyelamatkan planet” atau kata-kata basi lainnya; pada intinya adalah melibatkan disalienasi manusia dari alam, dan rekonsiliasi antara hal-hal tersebut. Tidak ada dari berapa jumlah daur ulang, mengumpulkan sampah, atau “menuju hijau” yang dapat memecahkan masalah mendasar ini. Resolusi masalah manusia-alam hanya dapat dicapai melalui transformasi sosial yang radikal, dan bukan oleh sejumlah tindakan dangkal yang hanya mengobati gejala belaka, dan tidak menghilangkan masalah mendasar yang menyebabkannya.

Catatan selanjutnya akan fokus pada pendekatan Marxis atas keterasingan manusia dari alam, dan dari sana akan dijelajahi beberapa kontradiksi dan dikotomi palsu yang diteguhkan oleh gerakan Hijau kontemporer.

_________

  • (*)Ross Wolfe adalah penulis yang bermukim di New York, berfokus pada Marxisme, sejarah Soviet, teori kritis, dan arsitektur avant-garde. Juga merupakan pengelola dari blog The Charnel-House.
  • Diterjemahkan dari: https://thecharnelhouse.org/2011/03/22/man-and-nature-part-i-the-shifting-historical-conceptions-of-nature/
  • Edo W. Adityawarman adalah koordinator Kompartemen Lingkungan, Kolektif Nasional PEMBEBASAN.

Leave a Reply