SHARE

[Tulisan ini pertama kali terbit di blog PEMBEBASAN Kolektif Kota Bandung]

Mariya Vasilyevna Oktyabrskaya sedang bekerja sebagai perawat di Tomsk, Siberia, ketika pasukan panser pertama yang dipimpin oleh Ewald von Kleist mulai menyerbu untuk masuk ke kota Kiev pada tahun 1941. Von Kleist adalah komandan perang Jerman berusia 60 tahun yang penuh pengalaman. Setahun sebelumnya di pertempuran yang lain, pasukan yang dipimpinnya punya andil besar dalam kejatuhan Perancis juga pengepungan pasukan sekutu di Dunkirk.

Fasis-fasis Jerman yang datang dari barat itu mesti melewati Garis Stalin (Stalingrad) sebelum bisa mencapai Kiev. Ia adalah garis pertahanan yang membentang di sepanjang perbatasan barat Uni Soviet. Garis itu telah ada sejak tahun 1920-an untuk membentengi Uni Soviet dari serangan Barat, tapi kemudian ditinggalkan, tak dirawat setelah wilayah Soviet meluas hingga Polandia. Kendati dinamai garis, Garis Stalin tidak berbentuk benteng atau tembok yang membentang dari satu ujung hingga ujung lain, melainkan berupa bangunan bungker beton serta senjata yang terletak di beberapa titik.

Ketika fasis mendekat, barulah garis pertahanan itu diaktifkan kembali, meski hanya dipersenjatai dengan senjata lawas yang tak jarang adalah hasil daur ulang dari kubah tank. Beton-beton dan senjata daur ulang yang bernama Garis Stalin itu sanggup menahan serbuan panser Nazi selama empat hari.

Di perbatasan Kiev itu juga suami Mariya Oktyabrskaya bersama yang lain bertempur melawan fasis.

Perempuan yang lahir 16 Agustus 1905 di Krimea itu berusia 38 tahun ketika ia mendengar kabar bahwa suaminya telah gugur di medan laga. Kabar itu sampai padanya dua tahun setelah kematian orang yang dikasihinya. Mariya marah sekali. Ia berniat membalas apa yang telah dilakukan fasis Jerman terhadap dirinya dan kekasihnya. Kepada Stalin, ia menulis sebuah surat.

“Suamiku terbunuh di medan laga ketika membela tanah air. Aku ingin membalas dendam pada anjing-anjing fasis untuk suamiku dan untuk rakyat Soviet yang disiksa oleh para barbar fasis itu. Untuk tujuan ini, aku telah menyimpan simpanan pribadiku—50.000 rubel—di Bank Nasional untuk membangun sebuah tank. Aku meminta untuk menamai tank itu dengan nama ‘Kekasih yang Berlawan’ dan mengirimku ke garis depan pertempuran sebagai pengemudinya.”

Membaca surat seorang perempuan yang punya tekad sedemikian besar, yang telah menjual segala harta yang dimilikinya dan berniat membeli sebuah tank untuk memerangi anjing-anjing fasis, saya membayangkan orang seperti Stalin waktu itu pasti berpikir, “Seorang komunis tak perlu memohon atau meminta izin pada siapa pun untuk bertempur atau mati melawan fasis.”

Stalin membalas surat itu singkat saja: Ya!

Komite Pertahanan Negara kemudian memberikan sebuah tank seri T-34 padanya. Mariya menjalani latihan selama lima bulan sebelum dikirim ke garis depan. Setelah berhasil menjalaninya, Mariya diangkat sebagai pengemudi dan mekanik Brigade Tank Pengawal ke-26.

Mariya sempat menjadi bahan tertawaan; seorang perempuan, berada di garis depan pertempuran, mengemudikan tank, tank yang dinamainya sendiri dengan “Kekasih yang Berlawan”. Sebagian lain menganggap tak ada waktu untuk berakrobat macam itu dalam perang sungguhan seperti ini. Tentu saja itu terjadi karena mereka tak benar-benar mengerti apa yang telah Mariya lalui. Orang yang dikasihinya telah mati di tangan Nazi.

Pertempuran tank pertama Mariya terjadi pada tanggal 21 Oktober 1943 di Smolensk. Di kubah Tank T-34 itu tertulis “Kekasih yang Berlawan” dalam bahasa Rusia, dengan huruf putih dan ukuran besar-besar.

Di pertempuran itu ia bersama yang lain berhasil mengalahkan pasukan dan menghancurkan sarang senapan mesin dan artileri musuh. Ketika tank yang dikendarainya mengalami kerusakan lantaran tembakan musuh, ia melawan perintah dan malah melompat keluar dari tank itu untuk membetulkan bagian yang rusak, tanpa mempedulikan baku tembak yang masih terjadi. Atas capaiannya di pertempuran ini, orang-orang memanggilnya “Ibu”, dan ia naik pangkat menjadi sersan.

Saya teringat pada lukisan William de Brailes di abad ke-13. Ia menggambarkan Bunda Maria sedang meninju setan tepat di mukanya. Dalam lukisan Brailes itu, bahkan manusia yang dianggap suci seperti Bunda Maria menganggap tak perlu lagi berpikir panjang untuk melakukan dialog, negosiasi, atau hal-hal lainnya, ketika berhadapan dengan setan. Dalam lukisan itu, Maria tak tampak ragu, malah tersenyum dan tentu saja yakin sepenuh hati bahwa yang dilakukannya adalah hal benar.

Bagi Mariya Oktyabrskaya, setan yang wajib menerima tinjunya, atau lebih tepatnya, tembakan dari tanknya, tak pelak lagi adalah setan-setan fasis. Tak ada alasan buat Mariya untuk berhenti. Dalam surat yang ditulis untuk adiknya ia berkata: “Aku telah dibaptis dengan api.”

Pertempuran demi pertempuran dilewati Mariya. Dan beberapa kali ia melakukan apa yang pernah ia lakukan sebelumnya: melompat keluar dari tank untuk memperbaiki bagian yang rusak.

Sampai pada pertempuran terakhirnya, dua bulan setelah pertempuran pertamanya, pada 17 Januari 1994 di Vitebsk, pecahan peluru mengenai kepalanya dan membuatnya hilang kesadaran. Ia dipindah ke Fastov untuk dirawat, tapi tak bisa diselamatkan. Ia koma selama dua bulan sebelum akhirnya gugur sebagai martir dalam peperangan melawan anjing-anjing fasis. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Uni Soviet atas keberaniannya dalam pertempuran di Vitebsk.

Barangkali selama dua bulan itulah rindu sekaligus dendam Mariya terbayar. Saat ia bisa merasakan seluruhnya apa yang telah dirasakan kekasihnya. Bertempur melawan anjing-anjing fasis. Menghentikan langkah serdadu fasis, meski hanya untuk beberapa saat.

Fasis mesti dihentikan, meski hanya semenit, atau bahkan sedetik. Siapa pun yang gugur dalam usahanya menghentikan mereka, sangat layak dianggap sebagai martir. Dan Mariya serta suaminya, hanyalah dua di antara sekitar 27 juta rakyat Soviet yang gugur dalam perang melawan fasis.**

(Nadya Larasati)

Leave a Reply