SHARE

Galela, 1 Maret 2018—Massa petani Galela yang tengah memboikot PT KSO Capitol Casagro (selanjutnya ditulis PT KSO) kembali diganggu oleh buruh perusahaan tersebut. Rio, buruh PT KSO, yang sudah mabuk minuman keras, memprovokasi massa dengan cara mencaci maki massa yang duduk di samping jalan, di tempat duduk yang ada di depan perusahaan, Kamis menjelang sore, 1 Maret 2018.

Massa demonstan petani yang ada, baik bapak-bapak dan ibu-ibu, terprovokasi oleh caci maki dari Rio. Mereka mencoba melakukan serangan balik. Namun, massa mahasiswa yang tergabung dalam Komite Mahasiswa dan Petani Galela (Kompag) mengamankan para petani yang marah agar tidak terprovokasi pihak pro-perusahaan.

Kompag terdiri dari beberapa organisasi. Di antaranya Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Maluku Utara, Gerakan Bintang Utara (GBU), dan Serikat Petani Galela (SPG).

Kendati sempat ditahan oleh mahasiswa, provokasi pihak perusahaan itu sempat mengakibatkan terjadinya saling melempar batu antara pihak pro-perusahaan dan massa. Tapi tidak ada yang menjadi korban. Massa aksi KOMPAG berhasil mengamankan seluruh massa aksi kembali ke barisan dan mendengarkan penyampaian orasi politik massa Kompag.

Hal serupa juga terjadi kemarin, Rabu, 28 Februari 2018. Menurut keterangan petani yang menjaga posko, oknum yang melakukan pengacauan kemarin bernama Yadi, seorang karyawan PT KSO. Saat itu Yadi diduga berada dalam pengaruh minuman keras.

 

Kronologi Tiga Hari Pertama Pemboikotan PT KSO

Hari pertama. Massa aksi Komite Mahasiswa dan Petani Galela (Kompag) melakukan pemboikotan terhadap PT KSO, Senin, 26 Februari 2018. Pemboikotan itu rencananya akan dilakukan semala lima belas hari, sehingga salah satu tagar yang mereka gunakan dalam kampanyenya adalah #Salam15HariPTKSO.

Massa aksi Kompag dipukul mundur, dilempari batu oleh massa pro perusahaan. Tercatat sembilan orang menjadi korban. Tapi massa aksi terus melakukan demonstrasi hingga sore hari, sekitar jam 18.00 WIT.

Hari kedua. Massa melanjutkan demonstrasi pemboikotan.  Di hari kedua, Selasa, 27 Februari 2018, massa hanya duduk menyanyi, baca puisi, sajak,dll. Sampai sore, sekitar jam 16.00 WIT, massa aksi didatangi polisi dan hendak dibubarkan dengan dalih demi menghindari penyerangan dari massa pro perusahaan.

Pihak kepolisian juga coba melepaskan tanggung jawabnya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat dengan praktik-praktik kekerasan. Massa aksi saling adu mulut dengan aparat kepolisian, bendera-bendera Kompag diinjak anggota kepolisian lalu dibuang. Bendera SPG hilang mereka rebut dan tidak dikembalikan hingga sekarang.

Kepolisian juga mengancam mahasiswa yang menurut mereka menjadi pemicu konflik dengan memprovokasi massa petani. Bukan hanya mengancam mahasiswa, polisi juga mengancam ibu-ibu petani yang mengamankan mahasiswa.

Kepolisian menanyakan data-data dan itu bisa diatasi oleh massa. Massa meminta agar Pemda segera selesaikan konflik sengketa lahan di Galela. Setelah itu, massa Kompag melanjutkan aksi.

Sore, jam 18.00 WIT, massa aksi membubarkan diri, kembali ke sekretariat.

Hari ketiga. Jam 07.00 WIT, massa telah sampai dan berkumpul di posko. Massa kemudian menahan mobil perusahaan yang coba melakukan aktivitas kerja. Mobil itu berhasil didorong masuk kembali ke dalam areal perusahaan.

Setelah mobil tersebut kembali ke perusahaan, massa melanjutkan demonstrasi dengan bernyanyi dan membaca puisi. Demonstrasi berjalan normal sampai massa membubarkan diri.

Jam 17.30 WIT, massa aksi mengajak ibu-ibu dan beberapa mahasiswa perempuan kembali ke sekretariat Serikat Petani Galela (SPG) dan massa yang lain masih berjaga-jaga di posko.

Jam 18.00 WIT massa aksi dari mahasiswa yang masih ada di posko diperintahkan untuk balik ke sekretariat, sedangkan massa aksi dari petani tetap berjaga-jaga di posko.

Pukul 19.25 WIT, seorang petani datang ke sekretariat, menggunakan motor dari posko, berteriak dari jalan. Ia mengabarkan bahwa massa harus cepat ke posko karena di posko terjadi kekacauan.

Menurut keterangan petani yang berjaga di posko, orang yang berteriak itu adalah seorang karyawan PT KSO yang telah mabuk dan membuat kekacauan di posko.

Petani yang berjaga di posko hanya memerintahkan dia untuk pergi. Oknum tersebut langsung dangkut kepolisian ke area perusahaan.

Massa mahasiswa di sekretariat panik. Ibu-ibu dan bapak-bapak semua ada di jalan, memerintahkan massa mahasiswa agar jangan keluar dari sekretariat.

Beberapa petani yang lain menerangkan bahwa oknum tersebut mencari-cari mahasiswa sambil membawa benda tajam.

(Ajun/Nang)

Leave a Reply