SHARE

[ Che Gove ]

 

“All I know is that I am  not a Marxis.” Karl  Marx

 

Pada awalnya semua yang datang adalah dari berbagai macam mazhab, dan hanya sebagian yang mengikuti pendidikan politik Pembebasan, kemudian menjadi lebih banyaklah anggota Pembebasan tersebut. Tulisan ini sengaja dibuat untuk menjawab problem pengalaman selama berjuang bersama kawan-kawan Pembebasan. Sepanjang aktifitas yang telah dilakukan, sedikit banyak telah dapat dimengerti, ada arus gelora “tendensi” yang tak seimbang antara teori dan praktek dalam Marxis-Marxis muda Pembebasan. Selain itu, dalam banyak diskusi yang telah dilakukan dengan berbagai macam kelompok yang beragam aliran, mulai dari aliran sayap kanan sampai yang ultra kiri, saya menemukan banyak tuduhan berlebihan “determinisme” yang dialamatkan kepada Marxis-Marxis Muda Pembebasan. Padahal, cukup jelas dalam surat yang ditulis Engels kepada sahabatnya Conrad Smith di Berlin yang di dalamnya mengutip komentar Marx; “sejauh yang aku ketahui bahwa aku bukanlah seorang Marxis.” Maksud dalam komentar tersebut,  Marx sama sekali tidak memposisikan dirinya sebagai imam pendoktrin satu arah tendensi determinisme keberadaan (basis-strukturisme) dan kesadaran (supra-strukturisme), atau seorang intelekual bohemian pendoktrin determinisme historis (labourism).

Saya akan menjawab dengan pandangan-pandangan Lenin terhadap tuduhan salah alamat kelompok di atas yang selama ini telah menjebak-jebak Pembebasan dengan berbagai macam penjelasan abal-abalnya. Mulai dari jebakan tendensi Marxis determinisme keberadaan (basis-struktur), kemudian ke jebakan tendensi Marxis determinisme kesadaran (suprastukturism), hingga ke jebakan tendensi Marxis Determinisme Historis (Labourism).

Tendensi marxis determinisme keberadaan (basis-strukturisme)

Bagi kelompok tendensi Marxis determinisme keberadaan, keberadaan merupakan faktor utama dan menentukan  dalam kehidupan manusia. Mereka mendasarkan pandangannya pada teks Marx dalam tulisannya, A Contribution to the Critique of Political Economic, bahwa “dalam produksi sosial dari keberadaannya, manusia tak terelakan masuk ke dalam hubungan tertentu, yang independen dari keinginannya, yakni hubungan produksi yang sesuai dengan tahapan perkemangan kekuatan produksi materialnya, totalitas hubungan produksi ini adalah struktur ekonomi masyarakat, fondasi nyata, yang diatasnya muncul supersturktur legal dan politik dan selanjutnya berkorespondensi dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu. Corak produksi kehidupan material merupakan syarat dari proses umum kehidupan sosial, politik dan intelektual. Bukan kesadaran sosiallah yang menentukan keberadaan mereka, tetapi keberadaan sosialnyalah yang menentukan kesadarannya. Perubahan dalam fondasi ekonomi dan pada akhirnya, cepat atau lambat, meyebabkan terjadinya transformasi besar dan menyeluruh pada superstruktur.”

Jauh sebelum Marx mengeluarkan pandanganya di atas, tendensi determinisme keberadaan (basis-struktur) ini telah dipraktekkan oleh beberapa tokoh sosialisme utopis. Istilah sosialisme utopis  diambil dari karya Thomas Moore (1478-1535) yang berjudul “utopia” yang merupakan nama sebuah pulau tanpa kepemilikan pribadi. Tokoh Sosialisme utopis yang lain adalah Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837) dan Saint Simon (1760-1825). Ke empat tokoh ini masih terjebak pada tendensi determinisme keberadaan (basis-struktur) mereka masing-masing. Robert Owen Misalnya, sebagai pemilik pabrik di Skotlandia, Owen sempat memperpendek jam kerja di pabriknya menjadi 10,5 jam sehari (dari yang biasanya 13-14 jam sehari pada masa itu). Dia juga membangun sekolah, penitipan anak dan taman kanak-kanak bagi anak-anak buruh yan bekerja di pabriknya. Owen bercita-cita membangun desa-desa gotong royong tanpa kepemilikan pribadi, Owen sempat membeli lahan 12.000 Ha untuk mendirikan sebuah komune sosialis yang dinamakan New Harmony. Owen juga sempat memperkenalkan sistem koperasi produsen dan konsumen kepada serikat-serikat buruh. Namun usaha-usaha pembangunan basicstrukture Owen ini pun hancur di tengah sistem pasar bebas kapitalisme.

Gerald Allan Cohen atau Jerry Cohen (1941-2009) lahir dan dibesarkan dalam keluarga Marxis di Montreal, merupakan salah satu tokoh penganut determinisme keberadaan (basis-struktur). Sejak kecil dia diajar untuk melihat ketimpangan sistem kapitalis dengan perspektif Marxis klasik. Cohen kemudian menyederhanakan teks Marx di atas dalam enam point.

  1. Hubungan produksi (supra-struktur) berkaitan dengan  tahapan perkembangan yang pasti kekuatan produksi material (basis-struktur).
  2. Pada tahap tertentu tersebut, kekuatan-kekuatan produksi material (basis-struktur) dalam masyarakat mengalami konflik dengan hubungan produksi (supra-struktur) yang ada, yang mana terus berlangsung hingga kini.
  3. Dari bentuk-bentuk perkembangan kekuatan produksi (basis-struktur) tersebut hubungan ini (supra-struktur) kemudian menghambat perkembangan kekuatan-kekuatanproduksi tersebut.
  4. Lalu dimulailah era revolusi sosial (supra-struktur) yang meyebabkan terjadinya perubahan struktur ekonomi (basicstruktur).
  5. Tidak ada formasi sosial (supra-struktur) yang hancur sebelum seluruh seluruh kekuatan produktif (basis-struktur) yang ada mengalami perkembangan.
  6. Hubungan sosial produksi (supra-struktur) yang lebih maju tidak pernah akan muncul sebelum kondisi-kondisi mterial (basis-struktur) dari keberadaannya mengalami kematangan dalam struktur sosial lama itu sendiri.

Cohen menolak jika penjelasan yang ditulis Marx di atas saling berkorespondensi dua arah. Bagi Cohen, penafsiran B berkorespondensi dengan S, maka S berkorespondensi dengan B adalah salah. Karena korespondensi yang dimaksudkan Marx itu lebih bersifat satu arah, dimana perubahan dalam supra-struktur (hubungan produksi) secara langsung ditentukan oleh perubahan dalam basiktruktur (kekuatan produksi). Contoh, kemajuan teknologi dari telegram ke handphone membutuhkan pengetahuan baru pada manusia yang sebelumnya hanya bisa mengoperasikan telegram. Begitu ia mulai mengoperasikan handphone itu, dengan sendirinya ia harus mengubah cara berfikir dan bekerjanya dan  dengan itu ia mengubah pola hubungan sosialnya. Menurut Cohen perubahan corak produksi (cara manusia menafkahi hidupnya) secara alamiah akan merombak seluruh hubungan sosialnya.

Seperti Cohen, kaum ekonomisme di jaman Lenin berpendapat bahwa “perkembangan politik selalu menurut kecenderungan ekonomi.” Menurut mereka gerakan sosialis tidak harus memusatkan perhatiannya pada perjuangan menumbangkan Tsar (perjuangan politik) melainkan cukup pada perjuangan-perjuangan ekonomis-normatif kaum buruh. Kaum ekonomisme merupakan salah satu golongan yang paling di tentang Lenin.

Tendensi marxis determinisme kesadaran (supra-struktur)

Bagi kalangan Tendensi Marxis determinisme kesadaran (supra-struktur) yang utama dan menentukan adalah aspek kesadaran ketimbang aspek ekonomi (basis-struktur). Menurut kalangan tendensi ini tidak sedikit teks-teks Marx dan Engels yang memberikan porsi yang sangat besar pada aspek kesadaran manusia. Misalnya dalam karya mereka The Holy Family, Marx dan Engels dengan tegas menjelaskan tentang pentingnya elemen kesadaran aktif manusia “,sejarah bukanlah apa-apa, ia tidak memiliki kekayaan berlimpah, ia tidak terlibat dalam peperangan. Adalah manusia, manusia yang nyata, yang hidup, yang melakukan itu semua, yang memiliki benda-benda dan berperang. Bukanlah sejarah yang menggunakan manusia sebagai sarana untuk mencapai, seolah-olah ia adalah individu, tujuannya sendiri. Sejarah bukanlah apa-apa, melainkan aktivitas manusia untuk mengejar tujuan akhir mereka.” Sementara dalam Capital, aspek kesadaran ini tertuang dalam penjelasan “,laba-laba beroperasi layaknya seorang tukang tenun dan lebah sanggup membuat malu para arsitek melalui hasil karyanya berupa sarang madu. Tetapi, apa yang membedakan seorang arsitek terburuk dengan lebah terbaik adalah sang arsitek sebelumnya telah membangun rangka dalam pikirannya sebelum ia mengkontruksinya dalam bentuk lilin.” Dalam halaman yang sama Marx juga mengatakan “,manusai bukan hanya mempengaruhi perubahan bentuk dari alam material, ia juga merealisasikan tujuannya sendiri dalam material tersebut.”

Keberadaan Tendensi Marxis tersebut bisa kita lacak dalam beberapa pemikiran sekelompok pemikir dan filosof jerman yang tergabung di dalam “Frankfurt School (1923),” mereka yang tergabung dalam kelompok ini adalah para pemikir filosof yang sangat mengagumi Karl Marx. Mereka menolak determinisme ekonomi dari Marxisme ortodoks. Teori kritis yang dirintis oleh Max Horkheimer dan kawan-kawannya ini meyakini bahwa supra-struktur sebagai faktor penentu dan bukan basis yang menentukan keadaan masyarakat, untuk itulah mereka melakukan kritik-kritik terhadap budaya untuk melakukan perubahan dalam masyarakat. Dalam pandangan mereka, komunikasi, khususnya media massa, adalah bagian dari superstruktur yang dapat melakukan perubahan dalam masyarakat. Untuk tujuan ini , mereka mengarahkan kritik-kritik mereka, salah satunya, terhadap kepemilikan media massa, khususnya bagaimana media digunakan oleh kelompok tertentu untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan politik. Dalam bidang komunikasi, para ilmuan kritis sangat tertarik pada bagaimana pesan (messages) digunakan kelompok tertentu untuk memperkuat penindasan terhadap kelompok lainnya dalam masyarakat. Mereka juga tertarik pada wacana (discourse) dan teks-teks yang mempromosikan ideologi tertentu. Oleh karena itu penelitian seperti “Analisis wacana kritis digunakan untuk melihat bagaimana sebuah teks, khususnya teks media, digunakan oleh kelompok tertentu untuk melancarkan proyek penindasan terhadap kelompok marginal.

Penganut Mahzab Franfrut berharap banyak dengan disodorkan teks-teks kritis atau ceramah-ceramah ilmiah ala mereka dapat mengubah moral borjuis dan kaum marginal menjadi lebih baik. Kelompok “Mahzab Fankfrut” ini menurut saya terlalu berlebihan dalam menafsirkan sebagian teks-teks Marx. Mereka seperti menggelincirkan diri sendiri ke dalam lubang hitam supra-struktur yang idealistik.

Tendensi marxis determinisme historis (laborism)

Menurut Marx, “kemenangan kelas pekerja haruslah merupakan karya mereka sendiri. Bukan karya dari sekelompok kecil prajurit intelektual yang menyuntikkan kesadaran kelas pada kepala kelas pekerja. Kesadaran kelas rakyat pekerja bukan sesuatu yang diimpor atau dicangkokkan dari luar, ia tumbuh dan berkembang berdasarkan pergulatannya dengan relasi-relasi konkrit yang dihadapinya sehari-hari dan pengalaman perjuangannya menghadapi respon kelas berkuasa yang ingin melanggengkan hubungan sosial yang menindas tersebut.”

Di beberapa kesempatan dalam diskusi bersama kawan-kawan ultra kiri, saya menemukan ada kecenderungan tafsir berlebihan atas teks-teks Marx di atas yang ditelan mentah-mentah oleh mereka tanpa disaring secara historis. Kaum ultra kiri dengan gaya retorikanya yang berantakan telah menempel slogan caudilismo (pendewaan tokoh) terhadap konsep “Kepeloporan Pembebasan.” Tuduhan elitis seringkali dilayangkan kepada Marxis-Marxis muda Pembebasan dalam diskusi-diskusi lepas front. Cap sok super hero dan lain sebagainya terhadap konsep “kepeloporan Pembebasan” seperti sudah diprivatisasi  oleh kelompok ultra kiri  ini. Tak bedannya dengan ultra kiri, beberapa Marxis kerajinan tanganpun  (Marxis legal/liberal) dalam menafsirkan teks Marx seringkali jatuh dalam lubang determinis yang sama. Mereka seperti meludahi diri sendiri dengan  pandangan formalisnya.

Seringkali kali saya juga menemukan tafsiran mentah dari teman-teman diskusi  terhadap teori perkembangan sejarah masyarakat yang disusun Marx. Bahkan setelah ditelusuri kebelakang di jaman Lenin pun ternyata pandangan ini begitu heboh diperdebatkan diantara kaum intelektual Marxis pada saat itu. Pusat pandangan mereka sama, menurut mereka suatu revolusi sosialis haruslah melalui tahapan-tahapan perkembangan masyrakat yang telah diletakan Marx. Revolusi sosialis tidak bisa tidak harus melewati satu tahapan Kapitalisme yang memproduksi kaum buruh terlebih dahulu. Konsekuensi dari pandangan ini telah melahirkan konsep revolusi dua tahap ala kaum menshevik. Menurut kaum Menshevik ,tanggungjawab revolusi haruslah diletakan ke pundak kaum borjuis yang sedang tumbuh, untuk menciptakan kematangan fase kapitalisme di tengah mayoritas petani yang masih terbelakang di bawah kekuasaan Tsar.

Menurut saya kedua pandangan diatas memiliki tendensi determinis yang kembar. Kedua-dunya telah terjebak dalam determinisme historis (labourism). Pandangan pertama bersikukuh dengan tendensi sempitnya bahwa hanya buruhlah yang paling mengerti situasi internal dan  kepentingan kelasnya. Pandangan ini seolah-olah mengakui sekaligus menggelapkan pandangan Marx, “bukan kesadaran yang menentukan keberadaan sosial tapi sebaliknya keberadaan sosial lah yang menentukan kesadaran.” Namun dalam banyak peristiwa,  kesadaran buruh tersebut sedikit banyaknya telah diimpor masuk dari luar. Sedangkan pandangan kedua secara paksa mendikte sejarah masyarakat yang dibuat Marx menjadi sejarah yang berbau determinis. Seolah-olah buruh dan borjuis  adalah suatu tahapan khusus dan mutlak harus matang sebagai syarat awal dari sosialisme Rusia setelah kekuasaan Tsar ditumbangkan. Dari kedua posisi kembar determinis di atas saya dapat bagi menjadi dua bagian, posisi pandangan pertama saya sebut sebagai “buruhisme kesadaran” dan yang kedua sebagai “buruhisme keberadaan.”

Kita juga dapat menemukan tentang “determinisme buruh” ini dalam pandangan Leon Trotsky. Dalam sebuah artikel pada bulan September 1915 dalam Nashe Slovo, yang diedit Trotsky bersama dengan pemimpin Menshevik Julius Martov berbunyi : “Kini, berdasarkan pengalaman revolusi dan reaksi Rusia (1905), kita dapat memprediksi bahwa kaum tani akan memainkan peran yang lebih tak independen, tak pula menentukan, dibandingkan tahun 1905 dalam perkembangan peristiwa revolusioner.” Trotsky meyakini penilaian Menshevik bahwa kaum tani secara keseluruhan adalah terlalu terbelakang dan pasif untuk menjadi kawan strategis kaum buruh atau menjadi kekuatan penting dalam revolusi yang akan datang. Trotsky percaya bahwa hanya kaum buruh yang harus menjalankan kediktatoran proletariat demokratik melawan kekuasaan Tsar.

Posisi Lenin terhadap tendensi marxis determinis

Karl Marx (1818-1883) dan F. Engels (1820-1895)

Sebelum menelusuri kritik Lenin terhadap tiga keberadaan tendensi Marxis tersebut. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas Marx mengakui “sejauh yang aku ketahui bahwa aku bukanlah seorang Marxis” tidak memposisikan dirinya sebagai sorang pendoktrin determinis dihadapan kawan-kawan dan musuh-musuh politiknya. Saya akan memaparkan beberapa teks-teks Marx dan Engels sebagai bentuk perlawanan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok tendensi determinis tersebut.

Dalam surat Engels kepada Joseph Bloch, 21 September 1890 berbunyi “Menurut konsepsi materialis tentang sejarah, elemen penentu terakhir dalam sejarah adalah produksi dan reproduksi kehidupan nyata. Lebih dari ini, baik Marx maupun saya, tidak pernah menegaskannya. Dengan demikian, jika seseorang memelintirnya dengan mengatakan bahwa elemen ekonomi adalah satu-satunya penent, maka ia telah mentransformasikan posisi kami ke dalam frase yang tak bermakna, abtrak, dan tidak masuk akal. Situasi ekonomi adalah basis, namun beberapa elemen dari supra-struktur, bentuk-bentuk politik dari perjuangan kelas dan hasil-hasilnya, untuk diketahui: konstitusi yang dibentuk setelah kemenangan dalam pertempuran kelas yang sukses, dsb, bentuk-bentuk yuridis, dan bahkan refleksi-refleksi seluruh perjuangan  aktual dalam otak para partsisipan politik, hukum, teori filsafat, pandangan agama, dan perkembangan lebih lanjut dogma juga bagaimana menguji pengaruhnya terhadap wacana perjuangan yang historis (supra-struktur) di beberapa kasus menentukan bentuk ekonominya (basis-struktur). Di sini terjadi interaksi antara basis dan supra-struktur tersebut, yang mana di tengah-tengah kejadian yang tak pernah usai, gerak ekonomi pada akhirnya menegaskan sendiri kebutuhannya.”

Dalam tesis 3 tentang Feurbach, Marx menegaskan bahwa “Ajaran materialis bahwa manusia itu adalah hasil keadaan (basicstruktur) dan didikan (supra-struktur), dan bahwa, oleh karenanya manusia yang berubah adalah hasil keadaan-keadaan lain, dan didikan yang berubah, bahwa manusialah yang mengubah keadaan dan bahwa pendidik (basis-struktur) itu sendiri memerlukan pendidikan (supra-struktur).”

Dalam penjelasan tesis 11 Feuerbach, Marx mengkritik para filsuf sebagai berikut  “Para ahli filsafat hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara, akan tetapi soalnya ialah mengubahnya.”

Engels di tahun 1874 dalam “Apa Yang Harus Dilakukan?” yang ditulis Lenin, menjelaskan mengenai arti penting teori dalam gerakan sosial demokratis. Engels mengakui bukan hanyadua bentuk perjuangan besar sosial-demokrasi (ekonomi dan politik), sebagaimana lazim di kalangan kita, melainkan tiga, dengan menempatkan perjuangan teori setaraf dengan dua perjuangan pertama itu. Anjuran-anjurannya itu dia tujukan kepada buruh Jerman yang telah menjadi kuat praktek (basistrukture) dan politiknya (supra-struktur).

Sangat jelas penjelasan di atas, saling pengaruh antara basis dan supra-struktur itu tidak bersifat satu arah, bahwa keadaan tidak hanya menentukan manusia, tapi manusia juga dapat mengubah keadaannya. Penting dipahami bahwa konsepsi materialisme akan alam yang dipahami oleh Marx dan seperti yang dipahami pada masa dia tidaklah harus mengisyaratkan sesuatu yang kaku dan deterministik. Pendekatan Marx sendiri terhadap materiaisme terisnpirasi dari karya filsuf Yunani kuno Epicurus, dan menjadi bahan tesis doktoralnya. Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa Marx dan Engels adalah seorang materialis, namun bukan determinis.

Vladimir Lenin (1870-1924)

Selain membaca posisi filsafat Marx dari teks-teks terjemahannya langsung, saya juga akan berusaha membaca Marx dari sudut pandang Lenin. Karena saya bukanlah seorang penganut tendensi Marxis determinis tertentu, maka cara melihat Marx melalui Lenin  menurut saya samadengan cara kita melihat Lenin melalui Marx. Hal ini sebagaimana dapat dicontohkan dalam penjeasan hukum “korespondensi”, jika M berkorespondensi dengan L, maka L akan berkorespondensi dengan M. Namun diantara kedunya, Marx lah yang paling banyak berkontribusi terhadap ide-ide kritis Lenin.

Lenin membalas padangan kaum ekonomi, “bahwa perjuangan spontan (ekonomi) itu memang sangat penting, tapi justru karena itu perjuangan tersebut mewajibkan para revolusiner untuk mengadakan intervensi politik. Unsur-unsur spontan tersebut tidak lain adalah kesadaran dalam bentuk embrional  (ekonomis) dan para revolusioner harus melakukan intervensi untuk mengembagkan kesadaran itu. Jika mereka hanya mengekor perjungan spontan kaum buruh, perjuangan itu tidak akan melampaui tuntutan normatif (ekonomis).” Menurut Lenin, kaum buruh harus belajar politik dalam semua bentuk. Cita-cita seorang revolusioner seharusnya tidak menjadi sekretaris serikat buruh, tetapi menjadi corong rakyat, yang mampu bereaksi terhadap setiap tirani dan penekanan, tidak peduli dimana munculnya, tidak peduli golongan apa bersangkutan.

Teori korespondensi tentang kebenaran selaras dengan realisme karena teori tersebut mengutamakan realitas objektif terhadap pikiran kita. Kebenaran mempunyai arti korespondensi antara realitas dan pikiran. Lenin mengembangkan teori korespondensi tersebut yang berkembang sejak jaman aristoteles. Namun ada pandangan para Marxis determnis kesadaran (supra-struktur) bahwa realitas  dapat diubah hanya dengan mengubah pikiran. Sesuatu yang terkandung dalam pikiran pasti  dapat menentukan perubahan dalam realitas. Kalau pikiran  dapat menetukan dan mengubah realitas konsekuensinya adalah kritik diskursus yang terkandung dalam teks-teks musuh sama dengan mengubah realitas itu sendiri. Kaum Marxis determinis ini tak perlu jauh-jauh pergi ke persimpangan jalan berdiri menghabiskan waktu berjam-jam memegang bendera Partai sambil menjilat es krim, mereka hanya butuh secukupnya menabur kalimat-kalimat kritis Franfrutnya ke dalam paragraf untuk menciptakan kediktatoran utopis. Ilusi mengubah dunia adalah memerangi wacana di atas kertas juga jauh-jauh hari telah mewabah dalam kelompok Hegelian muda. Lenin sangat menolak pandangan deterministik ini.

Asusmsi kaum Blanquis bahwa semua revolusi akan dapat dibuat oleh ledakan pemberontakan yang dilancarkan segelintir orang revolusioner yang kecil. Sebagai seorang yang bertindak dalam aktivitas politiknya, mereka, kaum Blanguis, percaya bahwa kelompok minoritas yang kecil dan teroganisir dengan baik, yang sekuat tenaga melakukan serangan politik akan dapat menggiring massa rakyat bersama mereka melewati beberapa keberhasilan dan kemudian memengakan revolusi itu. Marx dan Engels mengkritik efek Blanguis tersebut bahwa kaum revolusioner harus bersama-sama dengan gerakan kaum buruh dan harus memasok teori-teori yang revolusioner di dalam organisasi buruh, bahwa bentuk konkrit dari pemasokan ini adalah kerja agitasi dan propaganda ditengah masa buruh secara sabar.

Lenin juga mengkritik kaum Ekonomi yang memiliki kecenderungan politik fundamental “ekonomisme”. Menurut mereka kaum buruh cukup melakukan perjuangan ekonomi dan biarkan kaum cendikiawan Marxis bersatu padu dengan kaum Liberal untuk perjuangan politik. Mereka  membelah  dua posisi dan tugas  kaum Buruh dan kaum Marxis. Menurut Lenin kaum buruh harus belajar politik dan dalam semua bentuk. Peranan itu hanya bisa dimainkan mereka dengan bantuan sebuah koran yang terbit secara reguler. ”Sebuah koran yang tidak hanya melakukan propaganda dan agitasi kolektif, tetapi juga harus harus menjadi organisator.” Dalam situasi yang tegang dan posisi dincar-incar oleh Tsar sebagai orang ilegal, Lenin berpendapat bahwa perkembangan kesadaran dalam kaum buruh selalu akan berlangsung secara tidak merata, dan partai revolusioner harus merekrut para aktivis yang paling sadar, inilah titik tolak Vanguard Party alias Partai Pelopor Leninis yang terkenal.

Lenin pun mengkritik posisi awal Trotsky yang terlalu percaya dengan pandangan kelompok Menshevik, bahwa kaum buruhlah satu-satunya yang akan memegang tanggungjawanb revolusi menumbangkan Tsar. Bagi Lenin Kaum buruh dapat merangkul sekutunya di pedesaan yang disiksa oleh kulaknya. Mayoritas Petani-petani miskin yang bercereran dipenjuru negeri Rusia haruslah dirangkul dan diberi pasokan kesadaran agar dapat membantu melancarkan gerakan kaum buruh. Lenin kemudian membuat Slogan “Kediktatoran demokratik kaum buruh dan petani.” untuk dua komposisi klas itu dengan konkrit. Trotksy akhirnya menerima konsep “sekutu buruh” dari Lenin tersebut. Trotsky kemudian keluar dari jebakan tendensi deterministik historis (labourism/buruhisme). Trotsky kemudian percaya bahwa proletariat kaum buruh di kota saja tidak bisa memenangkan perjuangan. Mereka akan membutuhkan dukungan yang mengalir dari kaum tani miskin, kaum buruh harus mendistribusi agitasi dan propagandanya tanpa menunda-nunda dan menyia-nyiakan kesempatan. Kaum tani ini oleh Trotsky dianggap sebagai “major reservoir of potential revolusionary energy (waduk besar penampung energi potensial revolusioner).

Akhinya saya akan menghibur tulisan ini untuk mengakhirinya dengan sebuah sabda Zarathustra sang Dinamit, “Aku mencintai dia yang jiwanya banyak memberi bagi yang lain, yang tidak menginginkan terima kasih dan pengembalian, karena dia akan selalu memberkahi dan tidak ingin meyimpannya untuk dirinya sendiri.”

 

Leave a Reply