SHARE

[ Chandra Kirana ]

Aku bukan seorang homoseksual, tak juga berani mengaku sebagai heteroseksual sejati. pernah beberapa kali aku mencari referensi tentang isu ini, mencoba untuk membongkar tentang sejarah maupun perkembangan gerakan serta eksistensi kaum ini, yang populer dengan sebutan LGBTIQ. Satu-satunya alasan bagiku pada saat itu hanyalah rasa penasaran. Penasaran tentang alasan salah satu sahabatku menjadi seorang lesbian dan menjauhiku (bukan sebaliknya) karena minder menyadari dirinya, sebagaimana aku penasaran mengapa seseorang senang memakan jengkol dan aku membencinya setengah mati. Aku memang tidak membenci homoseksual, toh aku tidak yakin sebagai seorang heteroseksual. Bagiku ini hanya persoalan selera dan pilihan dengan segala resiko yang mendampingi. Aku yakin perubahan sejarah terus memperbaharui yang usang, menyingkirkan yang sudah tak relevan, dalam bahasa filsafatnya adalah dielaktika gerak sejarah. Pergerakan sejarah telah membawa serta di hadapan kita sebuah bentuk masyarakat yang begitu heterogen, jamak, multi-polar, termasuk perkembangan varian orientasi seksual. Jika sejarah terus bergerak namun tidak sanggup meloloskan diri dari ide-ide lama, yang sudah harus tertinggal maka, hanya akan menghantarkan pada yang namanya konservatisme. Biasanya, orang yang tidak sanggup menerima situasi baru menganggap apa yang sudah ada tidak boleh (dan tidak bisa) berubah, sehingga kaum konservatif membangun peringatan keras kepada pengubahnya. Bahkan, demi kemapanan, bisa menggunakan cara-cara paling keji sekalipun.

Maraknya pemberitaan media dengan embel-embel gangguan jiwa, sumber kekerasan, psikopat, aib, pendosa, dan predikat-predikat lainnya yang disematkan kepada mereka yang keluar dari definisi gender binari (baca: kaum LGBTIQ, termasuk di dalamnya janda dan pekerja seks) menyegarkan kembali ingatanku tentang rasa penasaran dulu, yang membuahkan berbagai literatur tentang isu ini. Pengakuan pemerintah Amerika terhadap perkawinan sesama jenis, yang memicu pergolakan gerakan LGBT di belahan dunia lain untuk diakui dengan hak yang sama di negara masing-masing, turut memicu perdebatan (baca: penolakan) keberadaan kaum LGBT di Indonesia. Dengan landasan Negara berketuhanan, pemerintah melalui menteri Agama, Lukman Saifuddin, mengatakan bahwa Indonesia tidak akan melegalkan pernikahan sesama jenis. Akhirnya aku menyadari bahwa orientasi seksual tidak lagi sesederhana persoalan selera. Persoalan menjadi demikian rumit ketika generalisasi telah menjadi penyakit akut yang diwarisi oleh para petinggi kepada masyarakat, dimana pilihan akan sikap selalu dimaknai sekedar hitam atau putih. Tidak menjadi heteroseksual berarti harus menjadi homoseksual, laki-laki tidak menjadi maskulin adalah menjijikan, perempuan tidak menjadi feminim adalah memalukan, mendukung hak LGBT berarti menjadi kaum LGBT, dan standardisasi-standardisasi lainnya yang tak kupahami darimana sumbernya.

Aku bukan seorang homoseksual, berulangkali telah kutekankan di atas, namun aku tidak dapat memahami, mengapa tidak menjadi homoseksual berarti harus membenci, mengapa menolak menjadi homoseksual berarti harus menyakiti kaum LGBTIQ. Jika benar homoseksual adalah penyakit masyarakat, bukankah kebencian dengan tendensi melenyapkan lebih mengancam penghancuran peradaban maju umat manusia. Sekali lagi, persoalan tidak lagi sesederhana pilihan. Memilih hitam maupun putih telah menjadi suatu pilihan yang politis dan oleh karenanya harus diselesaikan secara politis pula,  bahwa  mendukung atau tidak mendukung hak LGBTIQ telah menjadi persoalan mendukung perjuangan penuntasan demokrasi atau memukul mundur capaian yang telah diperoleh.

Potensi liarku kembali menyeruak, ketika eksistensi di luar roda kebiasaan dianggap sebagai aib dan segala sesuatu yang mengancam proses produksi akan dipandang sebagai makar. Ketika “liar” memaksa menguasai syaraf, timbul keinginan untuk kembali berpetualang. Berpetualang dalam imajinasi yang dengan manis bersandar pada realita, dan realita yang sombong bertopang pada kekuatan historis sekaligus bermanja memohon sisi imanensi nilai dan ideologi. Masuklah bersama dalam petualanganku, bukan untuk membela atau mencela. Petualangan ini hanya sekedar mengejar kebenaran. Kebenaran untuk kaum LGBT yang tertindas.

LGBT dan Landasan Keberadaaan

Pro dan kontra LGBT menghasilkan berbagai perdebatan mengenai landasan masing-masing pihak untuk mendapatkan justifikasi atas pilihan. Landasan umum yang sering dijadikan bahan dasar perdebatan LGBT adalah Psikologi dan Genetik.

Karl Heinich Ulrichs, seorang seksolog berkebangsaan jerman disinyalir sebagai ahli pertama yang meneliti homoseksual secara khusus. Menurut Ulrichs, homoseksualitas dipengaruhi oleh faktor biologis. Rekan Ulrichs, Karl Maria Kertbeny, untuk pertama kali memperkenalkan istilah homoseksualitas (Homosexuality) untuk menggambarkan hubungan sesama jenis, yang oleh Ulichs dikenal sebagai istilah urning dan urnining untuk menggambarkan seseorang yang memiliki seksualitas berbeda dari kondisi biologisnya.

Ilmuwan lain yang turut memperkuat landasan psikobiologis keberadaaan homoseksual adalah Havelock Ellis. Di dalam bukunya yang berjudul “Sexual Inversion”, Ellis berpendapat bahwa homoseksual adalah bawaan lahir dan pandangan umum tentang homoseksual yang memiliki kecenderungan menyakiti baik terhadap diri sendiri maupun orang lain adalah tidak benar. Hal ini diperkuat oleh Magnus Hirschfeld, seorang psikolog dan seksolog asal jerman, yang berusaha memberikan pemahaman bahwa homoseksualitas adalah hal yang alami sebagai gender ketiga. Hirschfeld kemudian mendirikan sebuah komite bernama Wissenschaftlich-humanitares Komitee untuk melakukan pembelaan terhadap hak homoseksual berbasis sains.

Di samping itu, pendekatan psikoanalisis yang disampaikan oleh Sigmund Freud dan pengikutnya juga dianggap sebagai salah satu teori psikologi yang telah memberikan angin segar bagi kajian homoseksualitas. Menurut Freud, setiap manusia lahir sebagai biseksual. Seseorang akan menjadi homoseksual karena adanya masalah psikoseksual, yaitu kegagalan dalam mengembangkan seksualitasnya sebagaimana mestinya, Oleh karena itu tidak dapat dikategorikan sebagai penyakit jiwa.

Di antara ilmuwan dengan penelitian yang mempengaruhi kajian normalisasi homoseksualitas, adalah Alfred Kinsey dan Evelyn Hooker yang tergolong masyur. Dalam dua bukunya yang berjudul Sexual Behavior in the Human Male dan Sexual Behavior in the Human Female, Kinsey menunjukan bahwa seksualitas manusia tidak hanya terbagi menjadi homoseksual atau heteroseksual. Dikotomi homoseksual dan heteroseksual adalah pembagian yang kaku, semata-mata hasil dari konstruksi sosial. Kinsey menunjukan bahwa orientasi seksual adalah tidak ajeg dan dapat berubah-ubah dalam masa hidup orang tertentu. penelitian ini kemudian dirumuskannya dalam Skala Kinsey (Kinsey Scale) dengan rasio 0-6. Rasio 0 untuk murni homoseksual dan rasio 6 untuk murni heteroseksual.

Evelyn Hooker adalah seorang psikolog peneliti dari University of California yang berhasil membuktikan bahwa homoseksualitas bukan penyakit dan bukan pula penyebab penyakit mental. Berdekatan dengan masa itu, Clellan Ford dan Frank Beach menerbitkan buku berjudul Pattern of Sexual Behavior. Buku ini memuat hasil penelitian kedua antropolog tersebut di 190 negara dan menunjukan keberadaan homoseksualitas dalam berbagai kebudayaan dunia.

Dari sisi Psikososiologis, penelitian cenderung menekankan pada tinjauan ulang pada konsep abnormalitas dalam diskursus Homoseksual. Thomas S.Szasz adalah salah satu psikolog yang berpendapat bahwa konsep abnormalitas adalah mitos untuk menutupi gangguan individual, sosial dan etika dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh konstruksi kultural. Michel Foucalt, melengkapi konsep konstruksi identitas homoseksualitas ini dengan menganalisa posisi homoseksualitas dari segi kekuasaan. Menurut Foucalt konsep umum tentang identitas diciptakan oleh asumsi terhadap kepribadian diri yang diketahui oleh subjek. Apa yang subjek katakan tentang diri mereka adalah kebenaran tentang mereka. Foucalt menekankan pada “pengakuan” sebagai salah satu teknik yang paling berharga dalam memproduksi kebenaran, sekaligus menjadi proses dimana figur kekuasaan berinteaksi dengan subjek. Melalui otoritas, figur ini akan menciptakan kategori dan validasi tertentu, sehingga oleh Foucalt kekuasaan disebut bersifat produktif, tidak sekedar opresif. Kriminalisasi terhadap homoseksual merupakan suatu upaya untuk menciptakan konsep dan identitas homoseksual, melalui upaya penentuan “melanggar hukum” dan “tersangka”.

Peneltian-penelitian berbasis psikobiologis, antropologi maupun sosiologis di atas bukan tanpa perlawanan. Banyak sekali penelitian tandingan yang ditujukan untuk melanggengkan heteronormativitas yang berkembang dalam masyarakat. Salah satunya adalah karl Westpal yang memperkenalkan istilah “perasaan seksual yang bertentangan”. Istilah ini kemudian diadopsi oleh Arrigo Tamassia dari Italia dan Jean Martin Charcot dari Perancis yang memberikan landasan psikobiologis tentang homoseksualitas sebagai sesuatu yang tidak normal dan termasuk gangguan jiwa. Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, melakukan penelitian atas keberadaan homoseksual dari sisi genetik mengungkapkan bahwa segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap munculnya homoseksualitas adalah tidak terbukti. Hal serupa disampaikan oleh Alan Sanders dari Universitas Chicago. Selain itu, perlawanan juga datang dari para teoritikus psikoanalisis yaitu Sando Rado, Irving Beiber dan Charles Socarides yang menjelaskan bahwa homoseksual adalah gangguan jiwa yang harus diobati.

The Diagnostic and Statistical Manual, Mental Disorder (DSM), sebuah sistem klasifikasi gangguan mental yang paling luas diterima di seluruh dunia, juga menunjukan validasi yang berbeda-beda dari tahun ke tahun terhadap homoseksual. Pada DSM III dan IV yang disusun oleh American Psychiatric Association pada tahun 1974 menetapkan Homoseksual bukan termasuk dalam daftar gangguan jiwa, padahal dalam DSM I dan II homoseksual masih digolongkan sebagai penyakit mental yang digolongkan Sociopathic Personality Disorders. World Health Organization juga baru mencoret homoseksual dari daftar penyakit pada tanggal 17 Mei 1981 melalui pedoman Internastional Classification of Desease (ICD-10)

Lantas bagaimana mungkin kita menggunakan standardisasi yang tidak ajeg, baik dari para ilmuwan maupun institusi, untuk menghujat kaum tertentu sebagai abnormal dan sakit? Bagaimana mungkin suatu nilai yang selalu berubah dijadikan landasan dalam menilai bersalah atau tidaknya orientasi seksual tertentu? perubahan fenomena homoseksualitas menunjukan adanya perubahan paradigma masyarakat seiring dengan perkembangan konsep nilai yang ditanamkan oleh kekuasaan. Hal ini menunjukan bahwa identitas seksual adalah tidak natural, yang oleh karenanya bersifat tidak tetap. Identitas seksual adalah hasil konstruksi nilai yang mengalir mengikuti otoritas.

Dominasi gender yang selama ini mengakar kuat dalam sistem kehidupan masyarakat telah melahirkan norma-norma tertentu melalui pelanggengan dan pengkonstruksian hegemoni gender dalam elemen masyarakat seperti agama, ekonomi, politik, media, pendidikan, dll untuk mengontrol seksualitas masyarakat (khususnya perempuan) secara binary (binary gender division), menanamkan pola pikir yang menganggap sesuatu sebagai yang terbaik dan sewajarnya dengan mereduksi perbedaan lain sebagai hal yang tidak baik dan tidak alamiah. Konsep inilah yang selanjutnya melahirkan heteronormativitas dengan menekankan hubungan sosial hetero antara perempuan dan laki-laki adalah yang berifat alamiah sekaligus mengabaikan dan menindas hubungan homoseksual sebagai sesuatu yang di luar batas kewajaran.

Ketika kita meyakini bahwa dasar kehidupan manusia adalah menemukan cara terbaik dalam rangka pemenuhan kebutuhan ekonomi (produksi), bahwa pemenuhan ekonomi telah dibingkai oleh sejarah dalam basis kelas, bahwa salah satu faktor penunjang produksi yang berkelanjutan berbasis kelas adalah pemastian kerangka reproduktif dalam tonggak keluarga sebagai unit kontrol keseimbangan sosial maka kita akan dapat memahami mengapa larangan terhadap hubungan sesama jenis diperlukan. Sebaliknya, Ketika kita memahami bahwa terbukanya ruang kebebasan adalah jaminan bagi teselenggaranya distribusi produksi baik melalui upaya ekspansi maupun okupasi, bahwa tonggak realita sejarah, dalam hal ini demokrasi, merupakan jaminan awal bagi penerimaan nilai ideologi tertentu, maka kita akan memahami mengapa di balik penerimaan terhadap homoseksualitas masih terselubung penolakan yang tak berkesudahan.

Arah Perjuangan LGBTIQ

Masyarakat adalah kelompok sosial yang terbentuk atas dasar hubungan-hubungan sosial tertentu. Masyarakat beradab ditandai oleh pengelompokan sosial yang lebih besar dan bersifat hirarkis (berdasarkan kelas-kelas sosial) serta pembagian kerja yang lebih kompleks dan luas. Masyarakat melakukan hubungan sosialnya berdasarkan cara produksi sosial tertentu yang dominan dan stabil dalam kurun waktu tertentu hingga membangun tata sikap, nilai, dan norma yang mengikat secara moral, berkembang menjadi kebiasaan, cara berfikir, dan berbudaya dalam melakukan, atau tidak melakukan, sesuatu di dalam masyarakat. Seperangkat nilai ini terus menerus diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga dianggap wajar dan alamiah.

Inilah yang disebut sebagai konstruksi sosial yang elemen-elemen pendirinya (manusia/masyarakat dan relasi sosialnya, cara berproduksi/ekonomi, kemajuan teknologi, alam, kebudayaan dan ideologi) terus menerus mengalami perubahan. Di dalam perubahannya, elemen konstruksi sosial yang masih tetap dominan dan hegemoni hingga saat ini adalah kelas, jender, dan heteroseksisme.

Asumsi heteroseksime cenderung menyamakan hubungan seksual sesama jenis dengan identitas homoseksual itu sendiri. Hal ini merupakan kekeliruan, karena prasangka ‘anti-homoseksual’ atau ‘homophobia’ adalah fenomena dan konsep baru yang tidak terjadi dalam pengertian dan level yang sama di masa lalu. John d’Emilio, seorang sejarawan Marxis dari Amerika Serikat, dalam esainya berjudul “Capitalism and Gay Identity” berpendapat bahwa kemunculan dan pertumbuhan kota (perkotaan) yang disebabkan oleh Revolusi Industri (cikal bakal kapitalisme modern) telah menghantarkan manusia pada perkembangan peradaban tertinggi sepanjang sejarah, karena menghancurkan ikatan sosial lama, termasuk norma-norma seksual yang berlaku dalam masyarakat. Urbanisasi memungkinkan setiap orang memperluas pergaulan,  bertemu dengan semakin banyak orang, yang pada akhirnya melahirkan subkultur baru dalam masyarakat perkotaan, dan homoseksual sebagai konsep adalah salah satu bentuk subkultur baru.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa perilaku seksual hanyalah mencerminkan norma seksual yang banyak berubah sepanjang sejarah. Republik Belanda pada abad ke 18 memberlakukan pelarangan terhadap “sodomi” karena dianggap dosa oleh ajaran agama tertentu pada saat itu. Sodomi tidak serta merta merupakan representasi dari homoseksual, sehingga pelarangan terhadap tindakan sodomi bukanlah pelarangan terhadap homeseksual. Identifikasi orientasi seksual sebagai homoseksual adalah kategori sosial yang muncul kemudian. Di Yunani Kuno, hubungan intim antara pria tua dan pria muda diartikan sebagai bentuk cinta tertinggi. Pada masyarakat kesukuan, praktek homoseksual diakui tidak sebagai kategori manusia yang harus ditoleransi, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang selalu eksis sehingga menjadi keniscayaan. Kaum badui di kalangan orang-orang arab misalnya. Diceritakan oleh Wilfred Thesiger yang pernah lama tinggal bersama suku badui, bahwa homoseksual adalah suatu hal yang umum terjadi di kalangan orang-orang arab, khususnya di kota-kota. Kaum badui bisa memaklumi praktik ini karena dalam pengembaraannya mereka terpisah dari istri selama berbulan-bulan.

Jamie Gough dan Mike Mcnair dalam salah satu bagian bukunya Homosexual Sex in History menegaskan bahwa kemunculan kelompok-kelompok manusia yang diidentifikasi sebagai ‘gay’ khusus berlaku pada masyarakat kapitalis. Alih-alih hadir sebagai bentuk pengakuan, identifikasi ini justru menegaskan bentuk labelisasi abnormal pada kaum homoseksual dan tindakan represif atas kehadiran konsep identitas yang dianggap baru ini. Dari landasan ini pula, gerakan kaum LGBT hadir untuk meluruskan pandangan masyarakat akan hegemoni heteroseksisme. Kerusuhan Stonewall dapat disebut sebagai sejarah utama gerakan LGBT dunia. kerusuhan Stonewall merupakan serangkaian demonstrasi besar yang bergerak spontan yang dilakukan oleh anggota komunitas gay terhadap penggrebekan polisi yang terjadi pada 28 juni 1969 di Stonewall Inn, manhattan, New York.  Peristiwa ini dianggap merupakan tonggak penting yang membangkitkan gerakan pembebasan gay dan perjuangan modern terhadap hak LGBTIQ di Amerika Serikat.

Melihat situasi ini, para kapitalis besar tentu tidak ingin tertinggal untuk memanfaatkan situasi. Mereka berusaha menunggangi popularitas gerakan LGBT dengan strategi “pinkwashing”, memilih dan menggunakan simbol-simbol seperti bendera pelangi, berupaya untuk membangun citra positif dibalik kegiatan eksploitatifnya.

Di satu sisi tindakan ini memang bisa dipandang sebagai bentuk keberhasilan gerakan LGBT dunia. kapitalis besar tidak mungkin memproduksi barang “pinkwashing” tanpa melihat potensi dari gerakan LGBT dunia. Pada sisi lain, gerakan “pinkwashing” membuktikan bahwa gerakan LGBT saat ini telah jauh/atau bahkan tidak pernah menjangkau akar permasalahan sesungguhnya, berhenti pada kemenangan simbolik, semacam  tuntutan legalitas pernikahan sesama jenis yang sedang populer di  setiap belahan dunia.

Pada kenyataannya perjuangan LGBT yang populer diadopsi oleh sebagian besar organisasi LGBT saat ini ibarat gerakan yang hanya mengapung di atas air (treading water), memfokuskan diri pada invisible movement atau sekedar tuntutan legalitas pernikahan sesama jenis. Kalaupun pernikahan sesama jenis berhasil dilegalkan, hal ini tidak akan secara otomatis merestrukturisasi makna institusi keluarga kelas atau mengubah norma gender yang berlaku di dalam masyarakat.

Fokus yang sempit pada perjuangan pilihan personal semacam pengakuan pernikahan sesama jenis tidak akan mengakhiri persoalan utama yang menjerat masyarakat dalam rantai eksploitasi dan kemiskinan yang tak berkesudahan. Menikah atau tidak, kaum LGBTIQ miskin masih akan menemukan diri mereka berada dalam brutalitalitas eksploitasi kapitalisme. Dampak dari krisis keuangan global yang menuntut kapitalis besar untuk mencari lahan investasi dan energi baru, menemukan lumbung pangan internasional sebagai bentuk jawaban dari krisis energi dan ketergantungan ekspor negara maju, dalam bentuk  tuntutan kebijakan penghematan, pemotongan subsidi dan pelayanan publik, pemotongan upah, pelanggengan kerja kontrak dan outsourching , akan membawa dampak  yang berbeda dari komunitas LGBT yang sama. LGBT dari kelas proletar akan mengalami penindasan karena orientasi seksual dan sekaligus oleh posisi kelasnya dalam masyarakat, sedangkan LGBTIQ dari kelas borjuasi hanya akan mengalami penindasan akibat orientasi seksual, pada kesempatan lain akan menjadi penindas atas “kawan seperjuangannya” dalam formasi kelas.

Hal yang perlu selalu diingat adalah bahwa pertentangan utama sejarah masyarakat bukanlah pertentangan orientasi seksual, pertempuran antara kaum homoseksual dan heteroseksual.  Pada langkah pertama, persatuan kaum LGBTIQ memang diperlukan, untuk menuntaskan perjuangan demokrasi, menghancurkan unsur-unsur reaksioner yang sangat mungkin akan memukul mundur kemajuan perkembangan yang telah tercapai. Disinilah penting bagi kaum revolusioner untuk turut dalam perjuangandemokrasi bagi kaum minoritas. Pada langkah selanjutnya kaum LGBTIQ harus mampu mengidentifikasi perbedaan kepentingan mereka secara jelas antara kaum borjuis dan proletar, bahwa antara kaum LGBTIQ kelas borjuis dan kelas proletar terdapat perbedaan kepentingan eksploitasi yang sangat mendasar, yaitu eksploitasi kelas, karena kaum marxist menyadari bahwa demokrasi tidak menghilangkan penindasan kelas. Dia hanya membuat perjuangan kelas menjadi lebih langsung, luas dan terbuka.(Lenin dalam Zvezda)

_________

Referensi:

  • Asghar Ali Engineer, Asal Usul dan Perkembangan Islam
  • Ayub, Penyimpangan Orientasi Seksual (Kajian Psikologi dan Teologis)
  • Frederick Engels, Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi dan Negara
  • Jamie Gough dan Mike Mcnair, Gay Liberation in the Eighties
  • Michel Foucalt, De Wil Tot Weten, Geschiedenis van de Seksualiteit
  • Toby Dite, Beyond Marriage: The Fight to end LGBTIQ Oppression

Leave a Reply