SHARE
Sampul edisi bahasa Inggris roman Bumi Manusia, This Earth of Mankind, yang diterbitkan pertama kali oleh Penguin Australia pada tahun 1984.

 

Oleh FDS

 

Novel ini adalah novel pertama dari tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang sangat produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Ia menghasilkan lebih dari lima puluh karya. Dari karya-karyanya tersebut, beberapa telah diterjemahkan ke 41 bahasa di dunia. Pram adalah salah satu sastrawan yang memberi sumbangsih untuk sastra dunia—walaupun ada sebagian orang yang kurang mengapresiasi karya-karyanya, karena dianggap sangat kontroversial pada zamannya.

***

Bumi Manusia adalah sebuah novel yang berkisah tentang kehidupan seorang pemuda Jawa  bernama Minke, yang hidup pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Kala itu, orang-orang Eropa memiliki pengaruh yang besar, sedangkan pribumi hanya dipandang sebelah mata. Minke memiliki kesempatan untuk sekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, sekolah yang sangat berkelas pada saat itu. Guru-gurunya berasal dari tanah Eropa dan kurikulum yang diajarkan juga kental dengan nuansa Eropa.

Di HBS Minke berkawan dengan Robert Surhof, seorang keturunan Eropa. Mereka berteman baik hingga pada suatu hari Robert Surhof mengajak Minke ke rumah salah seorang kawannya, Robert Mellema, pria keturunan Eropa dan memiliki perusahaan besar. Surhof menantang Minke harus mampu membuat adik Robert Mellema, Annelies, jatuh hati kepadanya. Minke mengikuti ajakan Surhof, walaupun ia tahu bahwa dibalik ajakannya, Robert memiliki niat yang tidak baik.

Sesampainya di rumah Mellema, mereka berdua dipersilakan masuk. Di sanalah untuk pertama kalinya Minke bertemu dengan Annelies yang sangat cantik dan berhati baik. Oleh Robert Surhof, Minke diberi kesempatan untuk mendekati Annelies. Surhof bermaksud mempemalukan Minke karena Minke hanyalah seorang pribumi. Namun ternyata Annelies memperkenalkan Minke pada mamanya, Nyai Ontosoroh, yang juga seorang pribumi dan seorang gundik.

Setelah itu mereka berjalan mengelilingi perusahaan keluarga Mellema. Dalam perjalanan pulang dari lahan perkebunan perusahaan, Minke mencium Annelies. Annelies pun menceritakan kejadian itu kepada mamanya mereka makan malam bersama. Nyai Ontosoroh kemudian menanyakan perkara ciuman itu kepada Minke. Minke mengakui perbuatannya. Di luar dugaan Minke, Nyai Ontosoroh tidak marah sedikit pun. Bahkan Minke ditawari Nyai Ontosoroh agar sering berkunjung ke rumah. Dari kejadian itu, Minke menyadari bahwa stigma buruk yang selama ini melekat pada keluarga Mellema dan juga Nyai Ontosoroh yang seorang gundik, tidak benar.

Minke melihat kebaikan hati, ketegasan, kesopanan, dan kecerdasan pada sosok Nyai Ontosoroh. Hal ini ia ceritakan pada sahabatnya yang juga seorang Eropa, Jean Marais. Kemudian Jean Marais menyimpulkan bahwa Minke bukan saja telah jatuh cinta pada Annelies Mellema, tapi juga kagum pada kepribadian Nyai Ontosoroh. Sejak itu Minke sering mendapatkan surat dari Nyai Ontosoroh berupa ajakan untuk menginap di rumah mereka di Wonokromo. Akhirnya Minke pun datang ke rumah Nyai Ontosoroh untuk menemani Annelies yang tak punya teman sejak putus sekolah.

Lama kelamaan Minke dan Annelies saling jatuh cinta dan menjalin hubungan. Minke pun semakin lama tinggal bersama di rumah Annelies. Hal ini melahirkan kebencian pada diri Robert Mellema. Namun kebenciannya tak dihiraukan baik oleh Nyai Ontosoroh, Annelies, maupun Minke. Karena Robert Mellema memang dianggap punya sifat yang aneh seperti Tuan Mellema. Annelies menceritakan segalanya kepada Minke, dari cerita-cerita Annelies akhirnya Minke jadikan sebuah cerita yang dimuat di koran. Hal ini akhirnya diketahui oleh teman-teman, guru, dan bahkan Nyai Ontosoroh yang turut ia kisahkan dalam cerita itu.

Sejak tinggal di rumah Nyai Ontosoroh dan menjalin hubungan dengan Annelies, Minke banyak disoroti oleh masyarakat, teman-teman sekolahnya, dan guru-gurunya. Namun ada satu orang guru yang selalu berpihak kepadanya, guru sastranya. Bahkan hubungan mereka telah terdengar oleh keluarga Minke di Kota B. Akhirnya, Minke dijemput oleh utusan ayahnya untuk menghadiri pelantikan ayahnya yang diangkat menjadi bupati di Kota B. Selama berada di Kota B, Minke dielu-elukan oleh masyarakat di sana karena Minke adalah seorang pelajar di HBS. Bahkan seorang petinggi Eropa mengundang Minke ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua putrinya yang juga lulusan HBS.

Sepulang dari Kota B, Minke pun kembali tinggal di rumah Nyai Ontosoroh. Akhirnya Minke bersetubuh dengan Annelies. Didapatinya Annelies sudah tidak perawan. Annelies menceritakan bahwa yang merenggut keperawanannya adalah kakaknya sendiri, Robert Mellema. Sejak saat itu berbagai perasaan berkecamuk dalam batin Minke karena hal ini tidak diketahui Nyai Ontosoroh. Belakangan ada juga orang yang sering membuntuti Minke, tapi Minke selalu selamat karena selalu ditemani Darsam, orang kepercayaan Nyai Ontosoroh.

Suatu ketika orang yang membuntuti Minke itu dikejar oleh Darsam, Minke, Annelies, juga Nyai Ontosoroh. Orang tersebut lari ke rumah seorang Cina yang memiliki usaha prostitusi. Mereka tidak berhasil menangkap orang tersebut. Namun mereka kaget menemukan tubuh yang terbujur kaku di lantai sebuah kamar. Tubuh itu ternyata Tuan Mellema. Pada saat yang bersamaan, mereka mendapati Robert Mellema di tempat itu sedang bersama seorang gadis Jepang. Namun Robert lekas melarikan diri.

Dari kejadian tersebut Minke dihadapkan pada berbagai masalah. Mulai dari menjadi saksi atas kejadian yang dialaminya dengan orang yang membuntutinya, murka ayahnya di Kota B, hingga dikeluarkannya Minke dari sekolah HBS. Semua masalah dihadapinya dengan hati yang lapang dan semuanya dilaluinya. Dia kembali bersekolah berkat bantuan dari guru sastranya yang merupakan seorang Belanda. Setelah seremoni kelulusan, Minke dan Annelies melangsungkan acara pernikahan mereka. Acara tersebut dilangsungkan dengan sangat meriah. Namun perwakilan yang datang dari keluarga Minke hanyalah ibundanya, yang juga meriasi Minke pada hari bahagianya itu. Pada saat acara pernikahannya berlangsung, Robert Surhof memberikan hadiah berupa cincin berlian kepada Annelies, yang diterima oleh Annelies, tapi tidak digunakannya.

Setelah menikah, hidup Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh, berjalan baik-baik saja. Hingga seorang insinyur bernama Maurits Mellema, anak kandung dari pernikahan sah Tuan Mellema, datang untuk menjemput Annelies dan akan dibawa ke Belanda. Itu dilakukan karena Annelies memiliki hak pembagian harta Tuan Mellema. Mengetahui hal tersebut Annelies jatuh sakit. Kesehatannya terus menurun sejak mendapat kabar ia harus meninggalkan suami dan mama yang amat disayanginya. Annelies tidak mau makan dan bicara. Tatapan matanya tidak bersinar seperti biasanya. Bahkan Annelies pingsan berhari-hari. Dokter pun putus asa dengan kondisi Annelies yang semakin memburuk.

Berbagai cara dilakukan oleh Minke dan Nyai Ontosoroh untuk menggagalkan keberangkatan Annelies ke Belanda. Mulai dari menyewa advokat ternama hingga mengajukan banding ke Pengadilan Putih. Namun tak ada yang berpihak kepada mereka.

Akhirnya hari-hari terakhir pun tiba. Annelies akan dijemput oleh saudara tirinya, Maurits Mellema. Keadaan Annelies agak normal tapi tetap terlihat pucat dan kurus. Suatu hari dia mengajak Minke makan bersama. Namun hanya ada satu piring dan sepasang sendok. Minke menyadari bahwa Annelies telah menerima kenyataan bahwa dia harus pergi walau dengan berat hati. Minke pun akhirnya menyelesaikan makanan yang disiapkan Annelies untuk menjaga hati Annelies yang sudah rapuh diterpa masalah ini.

Annelies pun dijemput oleh sekelompok orang suruhan Maurits Mellema. Meski sempat terjadi perlawanan dari orang-orang yang kenal dengan baik Nyai Ontosoroh, Annelies dan Minke , Annelies tetap dijemput dengan keadaan yang sangat lemah. Ia membawa koper tua milik Nyai Ontosoroh, tas yang digunakan Ontosoroh saat ia dijual oleh ayahnya kepada Tuan Mellema untuk dijadikan gundik.

Minke dan Nyai Ontosoroh hanya bisa pasrah. “Kita sudah melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Nyai Ontosoroh.

***

Dari penggalan cerita novel Bumi Manusia di atas, banyak poin-poin penting yang dapat ditarik menjadi pelajaran. Di antaranya tentang ketegasan sikap, keberanian, dan kecerdasan Nyai Ontosoroh dalam menghadapi Tuan Mellema. Bahkan hingga ia menggugat orang-orang Eropa di Pengadilan Putih, untuk membela hak-haknya sebagai seorang ibu, seorang perempuan, sekaligus seorang pribumi yang merasakan ketidakadilan hukum di negerinya sendiri. Hal ini dapat dilihat pada perkataan Nyai Ontosoroh, “Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.”

Nyai Ontosoroh merepresentasikan seorang perempuan yang berpikiran maju di tengah-tengah ketidakadilan bangsa Eropa dalam memperlakukan pribumi. Dia mampu bangkit dari keterbelakangan pengetahuan yang tidak sempat dirasakannya, karena tidak bersekolah dengan rajin, atau membaca dan mencari tahu banyak hal. Nyai Ontosoroh mampu membuktikan bahwa perempuan, sekalipun seorang gundik, mampu memiliki kepribadian yang baik, beradab, cerdas, juga tahu cara menempatkan diri dengan siapa dia berhadapan.

Selain itu pelajaran yang dapat ditarik juga dilihat dari ketekunan seorang Minke. Ia belajar hingga mampu bersaing dengan kawan-kawan sekolahnya yang didominasi orang Eropa. Ia selalu ingat pesan neneknya, “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah dan semua akan jadi mudah, jangan takut pada pelajaran apapun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua.”

Keberanian dan kebesaran hatinya dalam menghadapi masalah, mindset-nya yang maju, mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan adil dalam menghadapi keluarga Mellema serta orang-orang Eropa, bahkan keluarganya sendiri yang pada saat itu sangatlah berpikiran konservatif. Seperti yang disampaikan Jean Marais kepada Minke, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.” Selain itu, Minke juga mampu berkata tegas kepada ayahnya sendiri, “Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dan persoalannya.”

Sementara Annelies, berhati baik dan tabah dalam menghadapi masalah yang merundung keluarganya. Annelies juga mewakili sosok seorang perempuan yang setia, tidak mudah digoyahkan cintanya kepada Minke walau Robert Surhof berusaha mendekatinya dengan iming-iming harta dan bahkan memberi hadiah cincin berlian.

“Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan, yang menaklukkan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukkan hanya pelacur,” tutur Nyai Ontosoroh.

Dari kisah Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies dalam Bumi Manusia, dapat dilihat bagaimana angkuhnya bangsa Eropa yang dielu-elukan dan berwawasan itu. Rasisme Yang Terbentuk Antara Kaum Eropa dan pribumi nyaris terlihat dari segala aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan hingga persoalan hak asuh anak.

Banyak karya Pramoedya Ananta Toer yang kurang diapresiasi pada masa Orde Baru. Itu dikarenakan tulisannya mengguncang kesadaran pembaca untuk melihat dari sudut pandang yang lebih kompleks. Tetralogi Pulau Buru merupakan sumbangan sastra Indonesia bagi dunia, yang bahkan mendapat apresiasi yang luar biasa dari berbagai penjuru dunia. Pramoedya mampu mengonfrontasi masalah yang terjadi di Hindia Belanda dan membangkitkan emosi pembaca untuk larut dalam tulisannya yang ia jabarkan secara realis.**

 

(Nang)

Leave a Reply