SHARE
Sumber gambar: http://jakker.blogspot.co.id/

[Barra]

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai”. (Magda Peters, Bumi Manusia)

“Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan”. (Pramoedya; Mereka Yang Dilumpuhkan)

“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pengeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai. (Gadis Pantai)

Mengenang Kelahiran Pramoedya Ananta Toer

6 Februari 1925: Blora, Jawa Tengah, 89 Tahun Yang Lalu, Pak Pram Lahir.

20 Tahun setelah Pak Pram lahir, Bob Marley pun lahir

Emancipate yourselves from mental slavery, none but ourselves can free our minds. Have no fear for atomic energy, ‘cause none of them can stop the time (Redemption Song, Bob Marley)

Mengenang Pak Pram.

Pikiranku menjulur melilit gunungan tebing bentang jiwa, yang ditempa panas-hujan, siang-malam. Langsung ketemu kosakata: buku, novel, sastra, Lekra, budaya, seni, realisme sosialis, penjara, lapar, pembuangan, siksaan, ancaman, Pulau Buru, tahan derita, memar, tuli, anti rasis, nobel, Blora. Begitulah pikiranku menghinggapi padanan kata yang cocok untuk Pak Pram. Ya, Pak Pram seorang komunis yang baik. Matipun sebagai komunis, dan tidak ada azab dalam proses pemakamannya seperti yang ada di sinetron religi.

Pak Pram, yang tanggal dan bulan kelahirnya sama dengan Bob Marley, meski beda tahun, sepanjang hidup dilalui penuh kesulitan, dikejar-kejar lalu sembunyi, begitu terus. Pak Pram lebih sering bertatap muka dengan gelap dan cadas jiwa ketimbang biru langit dan segar udara. 3 tahun meringkuk dalam tahanan kolonial belanda, 1 tahun dijebloskan ke penjara oleh Soekarno—karena Pak Pram menolak peraturan pemerintah No. 10/1959 yang mengusir warga Cina yang berdagang di Indonesia di bawah komando Pangdam Siliwangi yang dipimpin Kolonel Kosasih sebagai koordinator operasi lapangan—dan 14 tahun dirampas kebebasannya oleh Orde Baru, ditambah dengan bonus siksaan.

Pak Pram adalah sastrawan besar yang diakui dunia internasional tapi disingkirkan di negeri sendiri. Karya Pak Pram dijadikan sebagai salah satu referensi sastra di kampus luar negeri, tapi di dalam negeri karyanya tak dipakai. Malah sastra Taufik Ismail—yang gemar membakar bukunya Pak Pram lah—yang dijadikkan referensi. Dari situlah kenapa organisasi mahasiswa Pembebasan meletakkan karya Pak Pram agar dijadikan sebagai referensi dalam kurikulum pelajaran/mata kuliah sastra sebagai salah satu program perjuangannya.

Pertarungan Politik dan Moral Borjuis.

Tahun demi tahun laju, sambil menutup mata, waktu melibas segalanya, tentang kesadaran, sistem politik, dominasi kekuasaan, dan semua tentang kisah manusia. Perkembangan demokrasi juga masuk dalam lingkarannya. Sungguh menguntungkan memang ruang demokrasi di Indonesia hasil kreativitas gerakan 1998. Seminimal mungkin, ruang tersebut ada dan merubah banyak hal. Yang sebelum 1998 banyak gerakan dan individu yang masih takut, setelahnya, maju paling depan sambil seoalah-olah membusungkan dada menjadi paling pro reformasi, menjadi tiba-tiba jualan demokrasi, tanpa berkeringat, tanpa disiksa, tanpa mengorbankan nyawa menghadapi tentara orba. Bisa dilihat, organisasi/parpol mana saja yang lahir setelah orba tumbang. Parpol yang sebelumnya ada pun seperti mengikuti arus perubahan, sambil menikmati segarnya udara. Kemudian, demokrasi melahirkan banyak lembaga-lembaga, seperti Komnas HAM, Komnas Perempuan dan yang belakangan heboh adalah Komisi Pemberantasan Korupsi. Masing-masing parpol berkompetisi saling menjatuhkan dengan sekuat tenaga membongkar tindak korupsi lawan politik. Dalam tradisi politik yang penuh persaingan, hal itu bisa diwajarkan. Partai Demokrat, Golkar, PAN, PDI-P dan partai lain kader-kader utamanya bersinggungan dengan tindak korupsi. Yang paling mutakhir adalah PKS, partai yang mendeklarasikan diri sebagai partai religious dan bersih ini tersungkur dalam lingkaran korupsi. Lalu Iwan Fals bilang: “…urus saja moralmu, urus saja akhlaqmu, peraturan yang sehat yang kami mau…”.

Bagaimanakah kita menilai perilaku saling menjatuhkan antar parpol tersebut? Dalam kamus politik borjuis, keberadaan oposisi diperlukan sepanjang bisa tawar-menawar lapak. Peran kompetitor politik/oposisi bisa memberi dampak ‘positif’ dalam rangka ‘mengontrol’ lawan politik meski tujuannya adalah saling menjatuhkan namun, ada positifnya seperti: meminimalisir korupsi, terlepas besar-kecilnya efek positif dari kompetisi antar parpol borjuis tersebut, dengan adanya upaya membongkar korupsi dari lawan politiknya, maka bisa menguntungkan Negara dalam menyelamatkan anggaran, terlebih anggaran untuk dana-dana sosial. Ya, bahasa lainnya adalah: bandit yang membongkar kejahatan bandit lain. Maka, jika ada parpol dan politisi terbongkar kasus korupsinya dan mereka beralasan bahwa ‘terdapat konspirasi besar’ di balik pembongkaran kasus korupsi, itu hanyalah apologi murahan. Karena, jika memang benar ada ‘konspirasi untuk menjatuhkan’, setidaknya terungkap bahwa korupsi tetaplah merugikan Negara, dan itu kejahatan. Lalu makin apriori-lah rakyat dengan politik berikut moralitas politisinya. Begitulah politik kita saksikan. Bila kita gambarkan tentang moralitas borjuis, dengan ukuran masyarakat kapitalis, dalam aspek budaya menyayangi rakyat miskin pun berbeda. Karena, Cinta—sebagai ekspresi relasi kasih sayang kepada rakyat miskin—oleh kaum borjuis pada akhirnya hanya menjadi seruan moral dari manusia-manusia munafik! Dalam makna ekonomi politiknya, agar, kata nuraninya borjuis: Biarkan orang yang kaya “membantu” yang miskin tanpa mempertimbangkan (bahkan menutupinya dari orang miskin) bagaimana kekayaan yang didapat (oleh borjuis) sesungguhnya diperoleh dari hubungan-hubungan keji dan eksploitatif yang dilakukannya terhadap kaum melarat.

Rakyat, Ciptakan Kebudayaanmu Sendiri.

Kebudayaan rakyat telah lama hilang. Tepatnya, dihilangkan dan dihancurkan, oleh kekuasaan 32 tahun, dan 15 tahun berikutnya setelah 1998, sampai sekarang. Dengan begitu, makin reduplah kebudayaan rakyat, budaya revolusioner hasil dari revolusi nasional 1945. Sekarang, peninggalan ide-ide revolusioner kebanyakan hidup dalam teks. Hanya budaya aksi massa-lah yang masih mengambil bentuknya, muncul dalam kesadaran rakyat, meski budaya aksi massa dicemooh, dicibir dan terus diganggu oleh kekuasaan.

Karya-karya revolusi sama nasibnya dengan yang lain. Tokoh-tokohnya dibajak oleh kapitalisme, dijadikan ikon-ikon politik tanpa diberi maknanya, hanya sebagai trend dalam budaya pop, bahkan bisa dijadikan komoditi bagi kapitalis. Kita sangat mengerti betul dengan ikon Che Guevara yang menyebar di seluruh dunia, ada di banyak toko baju. Hingga akhirnya, Aleida Guevara, anak dari Che Guevara menyatakan keberatan dengan kenyataan tersebut, dia mengatakan: “….pria yang berjuang dan tewas untuk menentang kapitalisme tidak sewajarnya digunakan sebagai alat untuk menjual Vodka Inggris, minuman Prancis dan ponsel Swiss, dsb. Kami tidak ingin uang, kami menuntut penghormatan“. Ikon Che yang diambil dari hasil jepretan fotografer Kuba, Alberto Korda, dan diposterkan oleh Fitzpatrick memang laris di pasar, seperti kacang goreng dan Blackberry. Fitzpatrick, yang juga pembuat cover album music dari group Band Thin Lizzy dan Sinnead O’Connor, merencanakan pergi ke Havana, Kuba, untuk menyerahkan kepemilikan hak cipta itu kepada kerabat dekat dan keturunan Guevara, dia mengatakan: “Ini bukan soal mencari uang, ini soal bagaimana memastikan agar karya itu digunakan secara benar, tidak dipakai untuk tujuan komersial yang kasar“. Che hanya jadi ikon kaos, wallpaper laptop, DP BlackBerry Messenger . Memang benar, pahlawan lahir setelah kematiannya. Sukses membantu perang gerilya bersama Fidel Castro dan gerilyawan Kuba lainnya, 1967 ia hijrah ke Bolivia, terlibat dalam perang gerilya juga, di situlah Che tertangkap dan dibunuh.

Dalam seni kontemporer: dominasi kreativitas ide-ide kebudayaannya berkiblat pada nilai borjuis hingga pada praktik seni dan senimannya. Kesenian (hiburan) yang tayang, sama sekali tidak ada kepentingan dan hubungannya dengan kesakitan rakyat. Boy dan Girl Band-nya asyik sendiri lincah menari di pentas panggung miliaran rupiah, musik daerah berkutat dengan hanya sekedar mempertahankan tradisi leluhur dan ekskistensi kedaerahan, namun kosong jiwa, rendah nilai, minim estetika, apalagi revolusioner. Padahal, seharusnya, melalui seni grafis dan sastra bisa mempertemukan futurisme dan revolusi. Bahan-bahan atau materialnya dari: kondisi sosial dan teknologi yang ada (basis produksi), dipertemukan dangan dialektika politik (gerakan sosial revolusioner), menghasilkan gambaran (futurisme) dari masa depan sejarah umat manusia. Sejarah umat manusia yang diretasnya setahap-demi setahap menuju kehendak sosialisme. Lekra sudah mengawali itu, sebelum akhirnya dihancurkan orde baru. Terlihat dari manifesto politik Lekra yang paling terkenal dengan ungkapan Kombinasi  1.5.1. Oleh Lekra, Kombinasi 1.5.1 memiliki arah bahwa rakyat-lah pencipta kebudayaan, Kombinasi tersebut adalah: menempatkan Politik Sebagai Panglima manjadi asas dan basis dari lima kombinasi kerja, yaitu (1) meluas dan meninggi (2) tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik (3) tradisi baik dan kekinian revolusioner (4)kreativitas individuil dan kearifan massa (5) realisme sosialis dan romatik revolusioner. Dari ke 5 kerja tersebut, Asas kerjanya adalah Turun Ke Bawah.

Masyarakat Indonesia dalam Politik-Kebudayaan.

Sebelum tahun 1965, ada dua kutub yang bertentangan dalam menilai sastra/kebudayaan/kesenian di Indonesia. Yaitu, Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang mengusung Seni untuk Rakyat, Politik sebagai Panglima dan Realisme Sosialis yang selalu membumikan budaya kritis dan budaya perlawanan terhadap kekuasaan sang Tiran. Kelompok yang kedua adalah dia yang menamakan diri sebagai Manikebu (Manifesto Kebudayaan). Para kaum Manikebuis ini selalu mengusung Seni untuk Seni dan Humanisme Universal. Yang oleh Pramoedya Ananta Toer—tokoh Realisme Sosialis Indonesia—mengatakan bahwa pertarungan antara dua kubu itu diistilahkan sebagai “perang babad Lekra” yang berlangsung tahun 1959 – 1965. Artinya adalah, perseteruan dari dua kubu tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan sastra Indonesia. Antara kedua kubu tersebut, dengan sendirinya telah memberikan naskah-naskah penting yang seringkali dijadikan patokan ideologis dan garis politik individu atau suatu organisasi dalan berkesenian. “Perang” yang tidak adil ini memang dimenangkan oleh kubu Manikebu dengan imbalan jutaan manusia mati, ratusan ribu dipenjara dan disiksa tanpa proses  pengadilan. Sampai sekarang, genderang perang akan terus kami kobarkan!

Dan dari situlah kemudian tulisan ini aku mulai.

Sejarah telah mengajarkan pada kita tentang makna penindasan dan akhirnya, tidak bisa tidak, kita harus melawan. Itulah yang terjadi dengan Indonesia setelah tahun 1965, sejarah yang diajarkan dengan kontrol dan represifitas, di bawah kekuasaan orde baru, kekuasaan di tangan kolaborasi militer dan kapitalis internasional.

Penetrasi kekuatan modal yang datang menjadikan semua sistem politik, hukum, ekonomi juga sosial berada dalam kungkungan terali bernama orde baru. Begitu juga dengan kesenian/kebudayaan yang dianggap membahayakan kekuasaan orde baru, diberangus dari atas bumi manusia, tidak hanya dengan itu, pemutarbalikan fakta telah diwacanakan orde baru untuk menghancurkan kesadaran rakyat sehingga kekuasaan orde baru berdiri kokoh tanpa ada budaya kritis dari rakyat. Seketika itu juga, tidak lama setelah pemerintahan orde baru berkuasa, maka gerakan kesenian rakyat mengalami kehancuran dan mendapatkan represifitas dari tentara-tentara fasis. Semua unsur yang terkait dengan kesenian rakyat/kiri dibantai tanpa ampun. Unsur-unsur kiri dimusnahkan, baik orang-orangnya, politiknya, kesadarannya, organisasinya, dan juga kebudayaannya.

Sastra dan kebudayaan di Indonesia yang merupakan hasil dari proses revolusi nasional, mencapai kemajuan pada tahun 1950 – 1965—sebelum akhirnya dilumpuhkan oleh orde baru. Artinya pada tahun-tahun itu, kebudayaan dan sastra di Indonesia telah menemukan karakternya untuk berkembang menjadi kebudayaan yang tak terpisah dengan rakyat. Karena didukung juga oleh kondisi obyektif dari kemajuan gerakan rakyat saat itu, gerakan rakyat yang benar-benar sadar akan ketertidasan ekonomi-politiknya. Kesadaran yang merangkak maju tersebut dapat dijadikan sebagai faktor perkembangan seni dan budaya. Ungkapan dari Soekarno yang berbunyi: “Go To Hell With Your Aid” akan menjadi semangat untuk melakukan bentuk perlawanan yang lebih maju. Semangat yang diajarkan oleh Soekarno adalah semangat pembebasan dari imperium modal dan kolonialisme. Indonesia pra revolusi nasional telah melahirkan manusia-manusia pembebas. Sebut saja Tirto Adhi Soeryo, Siti Soendari, Pramoedya, Semaun adalah tokoh-tokoh yang mempunyai keteguhan sikap untuk tidak terkooptasi oleh kekuasaan kolonial pada zamannya. Begitu juga dengan Max ‘Multatuli’ Havelaar yang mencoba berpropaganda—agar rakyat bangkit melawan—dengan tulisan-tulisannya yang berbahasa pribumi.

Begitu juga dengan Kartini: seorang pemula perjuangan perempuan yang mendobrak feodalisme Jawa yang berwatak patriarkis—lewat pemikirannya dalam korespondensinya kepada Stella Zehandelaar—juga layak untuk dijadikan pahlawan pada zamannya. Karenanya-lah Kartini menjadi sumber inspirasi gerakan budaya pembebasan perempuan.

Djawa Dipa 1914, sebuah gerakan anti feodal Jawa yang berkembang menjadi gerakan anti kolonialisme Belanda; dilanjutkan dengan pergulatan Ki Hadjar Dewantara membangun Taman Siswa, gerakan pendidikan modern yang berbasiskan kebudayaan bagi rakyat tertindas.

Kita bisa melihat keteguhan Mas Marco Kartodikromo, dalam petikan tulisannya:

Dalam pengertian Marxisme, kebudayaan adalah produk dari proses corak produksi pada tiap fasenya. Pada fase komunal primitif, perbudakan, feudal, capital dan komunal modern selalu akan menciptakan kebudayaannya masing-masing dengan watak dan karakter yang berbeda. Dalam rangka melakukan pembelaan terhadap si lemah/rakyat miskin/proletar, maka sebaik-baiknya memang harus memiliki keberfihakan yang jelas. Begitu juga dengan kebudayaan. Budaya haruslah dijadikan sebagai alat propaganda bagi pembebasan kesadaran manusia. Konsep budaya yang membebaskan adalah kebudayaan yang membela kepentingan klas tertindas. Dengan begitu, maka wujud dari budaya yang dihasilkan juga akan dengan sendirinya mewakili kepentingan klas tertindas yang akan mengakhiri kontradiksinya dengan berkuasa.”

Beberapa fase dari perubahan corak produksi yang sudah ada, terlihat bahwa masing-masing corak produksi selalu menciptakan watak kebudayaannya sendiri. Patriarki adalah olah-karya paling sukses dari masyarakat feodal. Permasalahan patriarki sudah sangat mengakar-urat dalam otak manusia, bahkan sampai sekarang. Proses penyingkiran terhadap hak-hak fundamental perempuan untuk merdeka seakan dipertahankan oleh rezim secara terus menerus demi kepentingan modal. Perempuan dijadikan sebagai market share yang paling menguntungkan dengan pencitraan sosok tubuh perempuan yang didoktrinkan oleh sistem capital.

Setelah kebudyaan rakyat dirobohkan

Sejak 1966 s/d 1998, kebudayaan kiri/kritis/revolusioner hanya diketahui secara samar-samar oleh rakyat Indonesia, karena memang dihancurkan oleh orde baru, bukan cuma gerakannya, tapi juga sejarahnya, dihilangkan dari ingatan. Pembungkaman pemikiran/ide-ide yang beraliran Marxist menyebabkan budaya revolusioner menjadi “ghaib” dalam perwujudannya. Zaman kapitalisme telah menciptakan produk budayanya sendiri sesuai dengan logika modal mereka. Konstruksi pemikiran tentang konsumerisme pun didoktrinkan melalui media dengan membentuk opini masyarakat. Ujung-ujungnya adalah masyarakat sekarang terjerumus dalam kehidupan ganda yang aneh dalam memandang nilai ekonomis sebuah produk. Konsumsi yang tidak sesuai dengan nilai guna menjadi indicator keberhasilan dari doktrin budaya kapitalisme. Orang membeli karena prestige. Selain itu juga dalam persaingan pasarnya, para kapitalis menjadi rakus memakan semua pesaing-pesaingnya yang berasal dari golongan kecil, tidak manusiawi. Selain itu juga mereka menggunakan topeng agama sebagai alat pengesahan kejahatan. Institusi agama dijadikan fungsi legislasi bagi penindasan. Maka muncullah budaya konservatif atau fundamentalisme agama. Hal tersebut muncul dalam bentuk pelarangan-pelarangan berpendapat yang diamini oleh agamawan. Dengan dalil Tuhan, mereka mengharamkan gerakan yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah, gerakan kiri juga diberangus memakai legitimasi ketuhanan. Maka budaya kritis-pun menemukan musuh yang nyata.

Dari banyaknya budaya-budaya yang tidak membebaskan tersebut, membuat masyarakat Indonesia menjadi hilang ingatan akan sejarah perlawanan bangsanya yang dulu sempat ada. Buah dari deideologisasi dan depolitisasi orde baru menyebabkan masyarakat Indonesia memiliki watak yang mudah menyerah. Rakyat menjadi tidak memiliki kemandirian penuh, anti kontradiksi dan oportunis. Watak oportunis tercermin dalam tindakan politik para elite politiknya—juga gerakan “rakyat”nya—yang kooptatif dan kooperatif terhadap borjuasi agen imperialisme. Dimana faktor-faktor tersebutlah yang sesungguhnya membahayakan gerakan demokratik. Dengan kata lain, revolusi demokratik telah menemukan hambatan/musuhnya yang lain yang terbentuk karena budaya. Maka yang menjadi tugas utama dari gerakan yang revolusioner adalah menyingkirkan hambatan tersebut guna memuluskan jalan revolusi demokratik menuju sosialisme. Seperti kata Maxim Gorky : “Jika musuh tidak mau menyerah, maka ia harus dihancurkan”. Mengembalikan ingatan rakyat dari deideologisasi dan penghilangan ingatan selama 32 tahun lebih, menjadi pekerjaan yang teramat sukar, yang harus diupayakan secara radikal dan seluas-luasnya dalam propaganda gerakan pelopor. Terutama bagi para pekerja budaya yang sampai saat ini masih banyak yang berkarakter humanis, tidak revolusioner. Pengupayaan propaganda kesadaran sejati yang dilakukan harus berada diluar syarat-syarat dari kapitalisme. Artinya adalah, harus memiliki watak yang anti kooptasi dan anti kooperasi—tidak oportunis. Dari sekian banyak budaya perlawanan yang berhasil dimundurkan oleh rezim orba, ada satu bentuk budaya revolusioner yang mulai kembali sering dilakukan oleh rakyat, yaitu budaya aksi massa. Kemenangan kecil itu harus kita maknai sebagai capaian yang positif untuk bergerak maju. Dengan ruang yang sempit sekarang ini, budaya aksi massa bisa dijadikan sebagai metode yang efektif untuk menuntun rakyat meraih kepercayaan dirinya kembali.

Jika dilihat dari situasi yang berkembang saat ini, gerakan yang mengaku mewakili kepentingan klas tertindas pun sudah kehilangan arah di tengah gempuran budaya kapitalisme, mereka dengan mudahnya terkooptasi. Itu yang lebih membahayakan bagi proses perjuangan klas.

Mulai sekarang, rakyat harus berani bangkit membela dirinya sendiri. Organisasi yang maju dan massa yang progressif harus mampu memimpin gerakan rakyat dan kesadarannya (melalui kebudayaan). Mengapa demikian? Karena kita harus mampu melihat arti penting kerja kebudayaan bagi revolusi demokratik yang semakin menemui banyak hambatan. Berangkat dari kenyataan diatas dan juga pentingnya melihat bahwa perjuang kebudayaan harus mengambil sikap untuk ikut dalam garda depan penghancur faktor-faktor penghalang revolusi demokratik dan mempersiapkan kondisi yang mendukung pertumbuhan kebudayaan rakyat dengan kesadaran yang lebih tinggi, dalam rangka meluruskan kembali ingatan sejarah, memperbaiki kegagalan revolusi-revolusi sebelumnya, dan juga melakukan propaganda lewat kesenian yang kerakyatan.. Gerakan kebudayaan harus menjadi bagian dari perjuangan klas, karena harus kita maknai juga bahwa revolusi sosialis haruslah dijalankan dengan kebudayaan revolusioner. Dengan demikian perjuangan rakyat pun akan menemukan jalan yang lurus. Dengan adanya budaya yang berkesadaran palsu, maka kita harus mampu melihat apa saja yang menjadi faktor penghambat pertumbuhan kebudayaan revolusioner. Seperti yang diungkapkan Jubaar Ayub (Sekjend Lekra 1955):

  1. Tiadanya kesadaran, bahwa perjuangan rakyat, terutama perjuangan buruh tani tidak mungkin dipisahkan dari perjuangan kebudayaan.
  2. Sentimen terhadap segala seusatu yang berhubungan dengan kebudayaan sebagai akibat menyamaratakan kultur rakyat dengan kultur borjuis.
  3. Tidak adanya dorongan dari gerakan rakyat, terutama gerakan buruh dan tani untuk memperhatikan masalah kultur.
  4. Ketidakmampuan seniman rakyat sebagai pekerja kebudayaan rakyat untuk menarik garis kebudayaan rakyat dengan kebudayaan borjuis, meskipun kebudayaan rakyat sendiri memberikan bahan yang berlimpah-limpah.
  5. Ketidakmampuan dari gerakan rakyat, terutama gerakan buruh tani dalam usaha menarik golongan inteligensia dan pelajar pemuda yang berpikiran maju ke dalam barisannya.

Leave a Reply