Home / Papua / Mereka Menggugat Pepera PB 1969 yang Tidak Demokratis

Mereka Menggugat Pepera PB 1969 yang Tidak Demokratis

PEMBEBASAN.ORG (2/8/2017); Kita harus jujur pada sejarah tentang Papua. Terutama tentang pelaksanaan jajak pendapat yang akan menentukan kemana nasib bangsa Papua: Merdeka atau ikut Indonesia. Pelaksanaan jajak pendapat tersebut dikenal dengan Pepera PB yang dilaksanakan pada 1969.

Peringatan Pepera PB 1969 di hari ini digugat oleh aktivis demokrasi yang tergabung dalam Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), dan individu yang bersolidaritas. Mereka menggugat sejarah integrasi Papua ke Indonesia dengan landasan sejarah, kemanusiaan dan demokrasi.

Aksi serentak di wilayah Indonesia dan Papua bertujuan agar sebanyak-banyaknya rakyat mengetahui bahwa di Papua masih terus terjadi proses kekerasan pada rakyat oleh tentara maupun kepolisian. Tujuannya adalah mengendalikan stabilitas politik agar investasi berjalan lancar. FRI-WP, AMP dan solidaritas dari beberapa individu, dalam aksinya menghendaki agar pemerintah Indonesia menarik semua tentara organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua karena, merekalah sebab utama dari pelanggaran demokrasi dan kemanusiaan di Papua. Selain itu, mereka menyatakan bahwa negara (pemerintah Indonesia) bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan di Papua Barat, segera tangkap dan adili aktor-aktor kejahatan kemanusiaan di Papua Barat. Selain itu, sebagai bentuk solidaritas, diserukan juga agar Obby Kogoya–korban pengepungan polisi dan preman di asrama mahasiswa Papua di Joga–dibebaskan. Terhadap dunia internasional, mereka menyatakan, PBB harus memberikan resolusi untuk rederendum kemerdekaan bagi bangsa West Papua yang sesuai hukum internasional.

Aksi FRI-WP dan AMP dimana-mana dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Bahkan di Ternate, Surabaya dan Jogjakarta, massa aksi diintimidasi, dihalangi dan dipersulit ruang geraknya oleh aparat kepolisian.

Di Bandung, aksi memperingati jajak-pendapat-anti-demokrasi ini semakin kuat dan hidup dengan adanya performance art dari seniman kerakyatan Bandung. Mereka membuat adegan jajak pendapat dengan memasukkan surat suara dimana surat suara tersebut berakhir di sebuah sepatu, sebagai simbol tentara. Aksi memperingati Pepera PB ini berlangsung di Jakarta (di depan Mabes AD), Surabaya, Jogjakarta, Ternate, Sula, Semarang. Juga di beberapa wilayah di tanah airnya rakyat Papua.

Indonesia, Bangsa yang Pernah Dijajah

Apa yang hendak dipertahankan dari sebuah kemerdekaan adalah menggenapi dunia dengan kemanusiaan dan kebebasan. Semua bangsa yang pernah terjajah pasti memahami betul kejinya kolonialisme. Maka pembebasan bangsa-bangsa menjadi mutlak diperlukan. Indonesia adalah negara yang pernah dijajah ratusan tahun, selama itu pula pembantaian, pembodohan dan pemiskinan, dipertahankan oleh bangsa penjajah. Namun kehendak merdeka semakin kokoh.

Refleksi sebagai bangsa yang pernah dijajah rupanya tidak cukup untuk memperingatkan agar jangan mengadopsi penjajahan dengan menjajah bangsa lain: Papua.

Ya, Indonesia menjajah Papua. Akui itu, agar kita rela memerdekakan bangsa Papua. Agar Indonesia bisa menggenapi syarat sebagai bangsa beradab.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top