SHARE
boomer psi partai muda politik tua

Dengan bermodalkan gaya ala-ala milenial, rupanya juga bisa menjadi bumbu sedap dalam memasuki ruang perpolitikan di negeri indehoi +62 ini. Bagaimana bisa? Ya, bisa lah, lihatlah PSI.

Kalau kalian googling di internet dengan keyword ‘Partai Anak Muda’, pasti yang akan muncul di bagian teratas itu adalah profil Partai Solidaritas Indonesia, maluv. Saya berani sumpah pocong kayak Wiranto. Coba buktikan!

Sejak kemunculannya di tahun 2014, jujur PSI ini bikin saya kaget. Kagetnya saat saya melihat pertama kalinya Grace Natalie bicara di televisi. Katanya, partai ini menolak gaya lama dari partai-partai terdahulu yang hanya mengandalkan segelintir elite dan memperlakukan partai seperti milik keluarga atau dinasti. Katakanlah partai jaman old. Tentu saja ada kata bro and sistnya di bagian pembuka, isi dan penutupnya.

Yaps, dalam hati saya berkata (semi-semi berdoa): kayaknya mereka ini adalah adalah wajah baru dalam perpolitikan Indonesia. Mudah-mudahan punya komitmen terhadap demokrasi. Amiin.

Empat tahun kemudian, kira-kira pada bulan Maret 2018 saya yang dulunya kaget dan sempat sedikit berdoa itu seketika menjadi geram bin tergelitik saat buka-buka facebook. Tsamara Amani, salah satu pentolan partai itu muncul di media dan menulis dalam kolom opini yang berjudul ‘Anak Muda Penjilat?’. Tsamara menulis itu karena kritik yang dilontarkan terhadapnya sebagai anak muda karena dekat dengan penguasa. Dia dikatai mental penjilat.

Yang saya tangkap dari pembenaran opininya, Tsamara bilang kalau aksi-aksi massa itu sudah tidak relevan dilakukan jaman sekarang oleh anak muda. Terus dia mengajak anak-anak muda untuk mengikuti dia dengan masuk ke partai politik. Sebab katanya dengan masuknya kita ke dalam panggung politik, kita bisa mengubah apa yang selama ini kita laknatkan kitik dari luar sistem.

Mengubah dari dalam. Kok jadi ingat bagaimana Budiman Sudjatmiko yang pernah dkritik oleh Pramoedya Ananta Toer.

Saya yang waktu itu kebetulan baru saja menghabiskan buku Unfinished Of Nation (Bangsa Yang Belum Selesai) karya Max Lane tentu saja tidak sepakatlah dengan argumen Tsamara. Salah satu Nutrisari intisari dalam buku itu adalah: ketabuan politik bagi massa rakyat selama Orde Ba(r)u berkuasa, pada era Reformasi sekarang sudah mulai terkikis. Salah satunya ditandai dengan tidak tabunya kita dengan aksi-aksi massa.

Rakyat – termasuk anak muda sekarang – sudah  menggunakan metode aksi massa dalam menyuarakan keresahannya. Kalau tidak percaya, coba buka google lagi untuk bertanya.

Kembali ke laptop. Saya sempat menulis curhat di dinding facebook soal ketidaksepakatan itu sekitar tiga paragraf. Seorang kawan mengomentarinya agar saya menulis opini tandingan menjawab argumentasi Tsamara. Tapi tidak kesampaian. Beruntunglah saya, dua tahun kemudian baru tersampaikan curhatnya disini.

Apa yang bikin saya tergelitik itu Tsamara tega sekali bilang ini bukan tahun 1966. Ini juga bukan tahun 1998. Keterlibatan politik dalam bentuk aksi massa atau demonstrasi hadir karena panggilan sejarah masa itu.

Aksi massa itu sekadar panggilan sejarah!!!

Terus, Tsamara mau bilang kalau masuk ke PSI itu adalah panggilan sejarah? Nauzubillah min zalik. Entah karena tidak tahu atau mungkin pura-pura tidak tahu, Tsamara ini sepertinya tak paham sejarah. Mungkin juga tak pernah mendengar kisah antara Pram dengan Budiman Sudjatmiko.

Sebagai pembaca Pram (Tsamara juga pembaca Pram atau tidak?), saya mau bilang kalau Pram memang selalu memuji anak muda sebagai penggerak perubahan – melawan generasi tua yang mengabdi pada kekuasaan. Tanpa tedeng aling-aling Pram pernah mendaulat dirinya sebagai bagian dari partai anak muda dijamannya, Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang pernah diketuai oleh Budiman Sudjatmiko.

Pram percaya pada PRD yang di jamannya itu progresif-revolusioner, sebagaimana oleh Jusuf Ishak menganggapnya The New Emerging Forces yang baru. (Ingat, ya, di jamannya, sebab PRD sekarang sudah suka main dengan partai borju dan militer penculik Widji Thukul). Karena PRD berhasil melawan kediktatoran militer, program-programnya dengan tegas melawan kapitalisme-imperialisme, penghapusan hutang luar negeri, melawan militerisme, dan terutama mempelopori pergerakan rakyat dengan menggalang aksi-aksi massa di bawah situasi yang begitu represif.

Semua itu membuat Pram yakin bahwa partai anak muda itulah yang akan mampu membuat perubahan mendasar di negeri indehoi +62 ini. Bahkan ia pernah mengatakan bahwa tugas kaum muda itu adalah mengganti seluruh warisan orde ba(r)u, sampai begundalnya yang terendah sekalipun.

Namun, kekecewaan menimpa Pram. Pram kecewa dengan sikap Budiman yang masuk ke PDIP pada 2004 dan bukannya melanjutkan perjuangan partainya. Apa alasan Budiman ketika ditanyai mengapa masuk ke PDIP? Jawabannya kurang lebih sama saja: mengubah dari celana dalam sistem.

Sampai sekarang apa yang diubah oleh Budiman beserta para aktipis yang sudah diubah sistem itu? Saya yakin, pasti cicak di dinding pun bisa kasi jawaban. Yang berubah hanya nama-nama kabinet.

Kembali ke laptop. Keterlibatan politik dalam bentuk aksi massa hadir karena Panggilan Sejarah? Benar-benar penutupan mata terhadap sejarah. Bangsa Indonesia lahir dan terbentuk – karena aksi-aksi massa – jauh sebelum 1966 dan sesudahnya dirusak oleh Orba sampai pada tahun-tahun 1990-an bangkit kembali. Klimaksnya kejatuhan Suharto pada 1998.

Tsamara ini tahunya aksi massa hanya pada 1966 dan 1998, ya? Benar-benar anak muda milenial! Tsamara sepertinya membaca buku bergaul lagi dan cari tahu siapa itu Ali Moertopo dan apa gagasannya sehingga terjadi floating mass di jaman Orba, yang membuat orang-orang jadi tabu terhadap politik termasuk aksi massa.

Bagaimana mau mewakili partai anak muda, maluv, kalau pemahaman sejarah kita saja masih sepotong-sepotong kue. Menjauhkan anak muda dari aksi massa juga merupakan prilaku lama generasi tua seperti Ali Murtopo dan politikus Orba lainnya. Apa bedanya Tsamara dengan Ali Murtopo kalau begitu???

Belakangan ini saya dengar dari gosip-gosip tetangga, kalau PSI itu konon melawan politik dinasti. Di sisi lain, kawan saya bilang kalau anak Jokowi, Gibran Rakabuming Raka sedang mencalonkan diri menjadi walikota Solo mengikuti jejak bapaknya. Dan… Ternyata oh ternyata. PSI mendukungnya, yes!

Otak saya tiba-tiba jadi ingin mereview, mempertanyakan kebenaran gosip-gosip tetangga itu. Saya memeriksanya lagi di Google sebagai Tuhan kedua untuk bertanya, jangan-jangan sekadar gosip. Dan hasil berselancar pun mendapatkan jawaban begini:

“Justru sebenarnya kan inti dari demokrasi itu kan memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat dari latar belakang apa pun, apakah dia dari kalangan elite atau rakyat biasa supaya bisa berpartisipasi baik sebagai pemilih maupun orang yang dipilih. Dengan lahirnya politik dinasti itujustru mengingkari makna demokrasi itu sendiri,” kata Sekjend Partai Solidaritas Indonesia Raja Juli Antoni, kepada detikcom, Selasa (23/6/2015).

Kemudian saya terbayang memeriksanya lebih jauh lagi dengan menonton youtube. Karena merasa bahwa ada yang sama walau beda jaman. Yang satu memang tua dan menjadi induk par-tai-par-tai di Indonesia, sedang satunya mendaku sebagei par-tai anak muda.

Oh iya, ini dia, namanya Sarwono Kusumaatmaja. Salah satu politisi senior Golkar. Dalam film dokumenter Kado Buat Rakyat Indonesia (KBRI) Sarwono pernah mengajarkan kepada PSI bilang:

Kan biasa, suatu organisasi politik itu menciptakan reaksi yang sifatnya situasional terhadap keadaan yang berlaku. Kalau memang jamannya orang benci parpol, dia tidak menamakan dirinya parpol. Masa ada politik tanpa oportunisme. Politik by definition itu apa? Politik adalah seni dari apa yang mungkin. Masa ada orang (partai) politik tidak oportunistis? Yang benar aja. Sama aja bilang ‘ada kucing nggak punya kaki’. Itu sudah, oportunisme itu bagian dari politik.

Politik itu adalah apa yang mungkin. Posisi politik PSI yang berubah haluan itu mau mengajarkan anak muda macam kita ini: berubah posisi itu sah-sah saja toh. Apalagi bila ditambah dengan bumbu tambahan pembenaran kalimat kita harus realistis bro and sist, sebab politik itu dinamis.

Ternyata beginilah resep jualan obat politik Partai Anak Muda dalam memberikan pendidikan politik kepada anak muda jaman now: Awalnya kita mesti mengeluarkan posisi yang begitu radikal – berbeda dari partai-partai jaman old – tetapi, kalau posisimu berada di bawah tidak masuk parlemen alias kalah pemilu maka kita bisa beranjak banting setir dengan melawan posisi sendiri di awal. Kenapa tidak harus menyesuaikan diri seperti amfibi, kalau menguntungkan partai dan oligarki.

Terus apa bedanya PSI dengan partai-partai lama itu? Tentu saja beda, maluv! Beda namanya – gayanya sama.

Prilaku elit-elit politik itu sungguh sama. Yang hebat-hebat hanya retorikanya.

M. Aziz (Anggota Pembebasan)

* Tulisan ini dibuat pada awal-awal Januari 2020, saat lagi ramai-ramainya narasi tentang ‘politik dinasti’. Sekarang dipublish, karena barusan nonton televisi lihat Gibran.

 

 

Leave a Reply