SHARE

[ Emma Quinn | Anggota Committee for a Worker’s International (CWI) di Irlandia ]

Diterjemahkan oleh Chandra Kirana

 

 

 

Jutaan orang  menggabungkan diri dalam perjuangan melawan penindasan perempuan dan kaum LGBTIQ secara internasional, membuka perdebatan tentang bagaimana diskriminasi dan ketidak adilan terhadap perempuan dan kaum LGBTIQ dapat diakhiri. Artikel ini akan fokus pada pengalaman sejarah dari revolusi rusia  dan tindakan radikal progresif yang diperkenalkan oleh bolsheviks dan dipandang sebagai langkah  awal bagi pembebasan penuh untuk kedua kelompok yang tertindas ini

Tidak ada peristiwa sejarah yang telah didistorsi oleh pembangunan kapitalisme sebagaimana terhadap revolusi rusia. Makna Revolusi telah diubah mengakibatkan minimnya peran perempuan yang dicatat dalam sejarah, bahkan capaian masif yang dimenangkan oleh revolusi untuk perempuan juga jarang disinggung.

Penggulingan terhadap kapitalisme dan kekuasaan tuan tanah oleh partai  bolshevik dan kelas pekerja rusia pada tahun 1917 mendorong perubahan radikal dalam masyarakat, suatu perubahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bolshevik mampu mengambil alih kekuasaan secara tepat karena mereka merupakan corong bagi massa-massa tertindas, pekerja, kaum miskin dan perempuan. Ketimpangan dan penindasan antara si Kaya dan si Miskin tidak pernah lebih menyolok daripada saat ini, dimana perbandingan kekayaan dari 1% orang terkaya mendekati 99% populasi manusia lainnya di dunia pada tahun 2016. Di tengah peningkatan  ketidakadilan, penindasan terhadap perempuan dan kelompok LGBTIQ terus berlanjut di seluruh dunia bahkan di negara maju sekalipun dan ini merupakan isu yang sangat penting terutama bagi kaum muda di irlandia dan bahkan dunia. Dalam konteks ini menjadi sangat penting bagi kita untuk membongkar kembali pelajaran masa lalu dan dalam hal ini tentu saja tidak ada yang lebih penting daripada apa yang dapat kita pelajari dari revolusi rusia.

Bolsevik, ketika menekankan pada peran kelas pekerja sebagai keseluruhan dalam mengubah masyarakat, mengakui bahwa perempuan mengalami penindasan ganda yang diarahkan oleh kapitalisme dan patriarki (pertanian). Bagi Bolseviks pembebasan perempuan merupakan bagian yang sangat penting bagi perjuangan menuju masyarakat sosialis. Lenin menekankan pentingnya peran perempuan dalam perjuangan Sosialisme pada tahun 1920 ketika ia mendeklarasikan bahwa “Proletariat tidak pernah bisa mencapai kemerdekaan dan kebebasan kecuali mereka memenangkan kemerdekaan sepenuhnya bagi perempuan”.[i] Perempuan memainkan peran penting dan menentukan di dalam partai Bolsheviks baik pada tingkatan nasional maupun lokal dan dampak dari revolusi telah mentransformasi kesadaran dan kehidupan perempuan kelas pekerja secara luas.

 

Agitasi Anti Perang dan Perempuan Bolshevik

       Dalam perjalanan revolusi Rusia, perempuan memainkan peran signifikan baik pada masa penggulingan rezim tsar maupun pada masa kemenangan bolsheviks. Melebihi kekuatan politik manapun pada saat itu, Bolshevik tahu dan memahami signifikansi peran perempuan dalam setiap tahap perubahan masyarakat. 10 ribu perempuan turun ke jalan pada februari 1917, yang kemudian mencetuskan/menggerakkan Revolusi Februari, dengan tuntutan untuk keadilan dan perdamaian, terutama makanan (roti). Protes ini dicetuskan pada International Women Day (IWD) yang diperkenalkan kepada oleh aktivis Bolshevik bernama Konkordia Samoilova pada tahun 1913.[ii] Perempuan Bolsheviks memainkan peran kunci dalam mengorganisir demonstrasi. Mereka membangun lingkaran perempuan perkotaan mengagitasikan tuntutannya diantara perempuan pekerja dan isteri-isteri tentara meskipun terus menerus dibubarkan oleh penguasa. Partai Bolshevik, termasuk anggota perempuannya telah menderita represivitas yang luar biasa karena ketegasan oposisi mereka terhadap Perang Dunia I, sehingga banyak yang dipenjara dan dibuang. Brutalitas ini yang di akibatkan oleh perang terhadap kelas pekerja menginspirasi mereka untuk mengawali IWD dengan demonstrasi anti perang. Pada 23 februari, kelas pekerja Petrograd meluap ke jalan bersama perempuan mengajak rakyat dan tentara untuk bergabung bersama mereka dalam demonstrasi.

 

Hari Perempuan Internasional 1917

Pada peringatan hari perempuan 23 februari 1917, pemogokan dideklarasikan kepada sebagian besar pabrik dan perkebunan. Perempuan sedang berada dalam semangat yang sangat militan, tidak hanya perempuan pekerja tetapi massa perempuan secara luas antri untuk roti dan minyak tanah. Mereka mengadakan rapat politik, mendominasi jalan, pindah ke kota duma dengan tuntutan untuk roti, mereka juga menghentikan trem dan berteriak dengan antusias “ Comrade-Comrade, keluarlah”. Para perempuan pergi ke pabrik dan perkebunan, meminta para pekerja untuk meletakkan alat kerja mereka. Secara keseluruhan, peringatan hari Perempuan Internasional mencapai sukses besar dan membangkitkan semangat revolusi ” tulis Anna dan Mariia Ul’ianov dalam Pravda pada 5 maret 1917.[iii]

Bolshevik mengakui signifikansi radikalisasi perempuan pada musim panas yang diikuti oleh revolusi Februari ketika gelombang pemogokan meletus yang melibatkan pekerja laundry, sektor pelayanan, pekerja rumah tangga, pramuniaga, dan pelayan restoran. Selama periode ini, partai Bolshevik berada pada barisan terdepan dalam mengorganisir perempuan. Bolshevik, pada khususnya anggota perempuan mencurahkan upaya yang masif untuk menjangkau pekerja perempuan dan istri tentara dan berhasil membangun basis diantara lapisan perempuan yang baru terpolitisasi ini—meskipun mengalami kesulitan akibat sexisme yang mendarah daging, tanggung jawab domestik mereka dan tingginya angka buta huruf. Sofia Goncharskaia, anggota partai Bolshevik sekaligus kepala serikat pekerja laundry telah memainkan peran kunci dalam aksi mereka.[iv] Perempuan revolusioner membangun lingkar studi perempuan diantara para pemogok sebagai usaha untuk mempolitisasi dan mengedukasi perempuan. melalui aksi pemogokan, perempuan ditarik kedalam perjuangan buruh yang lebuh luas dan kesadaran kelas semakin mempererat mereka. Ketika Bolshevik berhasil merebut kekuasaan dan menggulingkan pemerintahan pada bulan Oktober, terdapat lebih banyak perempuan yang menggempur istana musim dingin.

 

Hukum Paling Maju dalam Sejarah

       Pada tanggal 17 desember 1917, hanya berselang 7 minggu pasca terbentuknya negara pekerja pertama di dunia, perkawinan sakral berlandaskan agama dihapuskan dan proses perceraian yang terjangkau dilegalisasi. Pada bulan selanjutnya undang-undang  keluarga diberlakukan. Aturan ini memberikan jaminan keadilan hukum bagi perempuan dan menghapuskan status anak “ilegal”. Undang-undang keluarga ini dibentuk secara bersamaan dengan usaha pemerintahan baru ini dalam menolak perang dunia pertama, mencegah terjadinya perang sipil, membebaskan kaum tani dan usaha pembangunan industri dan ekonomi. Dalam hal ini dapat kita pahami bahwa betapa penting dan krusial persoalan ketidaksetaraan perempuan bagi pemerintah kelas pekerja pertama di dunia ini.

Sepanjang tahun 1920, undang-undang keluarga memicu terselenggaranya berbagai diskusi publik dan perdebatan. Pada masa awal revolusi, propaganda Sosialist Rusia mendesakkan Kesetaraan untuk Perempuan, tetapi dasar bagi partai Bolshevik adalah perbudakan perempuan dalam keluarga tradisional. Sebelum revolusi, kehidupan perempuan dipetakan secara ketat==menikah, setia pada satu  pasangan, memiliki anak dan terikat pada pekerjaan dapur dan pengasuhan yang membosankan dan tak berkesudahan.[v] Kesetaraan hidup bagi perempuan tidak pernah dipertimbangkan dan kebahagiaan serta keinginan mereka dipandang tidak relevan. Bolshevik segera melakukan perubahan untuk menantang ketimpangan hidup sosial perempuan termasuk tantangan terhadap peran gereja ortodoks dan sistem yang partriarkis.

Innesa Armand, Direktur Zhenotdel, sebuah Biro Perempuan dalam pemerintahan kelas pekerja Rusia berpendapat “selama bentuk tradisional keluarga, kehidupan rumah tangga, dan tugas pengasuhan yang dibebankan hanya kepada perempuan tidak di hapus maka tidak mungkin untuk menghancurkan eksploitasi dan perbudakan, dan akan menjadi mustahil untuk membangun Sosialisme.”[vi]

 

Menantang Keluarga Tradisional.

Revolusi telah menciptakan suatu upaya yang heroik untuk menghancurkan sesuatu yang disebut dengan “Jantung Keluarga” dan mulai mengimplementasikan rencana untuk sebuah sistem pengasuhan sosial termasuk rumah bersalin, klinik, sekolah,tempat penitipan anak dan taman kanak-kanak, ruang makan sosial dan laundry. Semua ini dilakukan untuk membebaskan perempuan dari pembatasan di dalam rumah. Cuti melahirkan berbayar (selama masa cuti pekerja perempuan tetap diberi gaji yang sama) sebelum dan sesudah persalinan diperkenalkan kepada perempuan pekerja dan akses terhadap ruang perawatan bayi (menyusui, mengganti popok,dll) di tempat kerja untuk mengizinkan menyusui, dengan fasilitas istirahat setiap 3 jam sekali bagi ibu baru, diatur dalam hukum Ketenagakerjaan.

Aborsi dilegalkan pada tahun 1920 dan dijelaskan Leon Trotsky sebagai salah satu hak sipil, plitik dan budaya paling penting bagi perempuan.[vii] Aborsi adalah gratis serta tersedia di seluruh negeri, dan perempuan pekerja diutamakan.

Pada November 1918, Konfererensi Perempuan Pekerja Rusia pertama diselenggarakan, dengan diorganisir oleh Alexandra Kollontai dan Innesa Armand dengan kehadiran lebih dari seribu peserta perempuan.  Pertemuan ini kembali menegaskan bahwa emansipasi perempuan harus berjalan beriringan dengan pembangunan Sosialisme.[viii]

Tidak lama berselang, kekuatan reaksioner melancarkan perang sipil pada sebuah negeri yang telah dihancurleburkan oleh perang dunia I ini. Setelah perang sipil dimulai, Biro Perempuan, Zhenotdel, dibentuk. Tujuannya adalah untuk menjangkau perempuan, melibatkan mereka dalam aktivitas dan edukasi serta memberitakan hak baru mereka. Biro Perempuan menjalankan kelas sastra, diskusi politik, dan workshop tentang bagaimana mengorganisir fasilitas yang dibutuhkan di tempat kerja seperti daycare,dll. Perwakilan perempuan dari pabrik-pabrik menghadiri pelatihan pendidikan yang diselenggarakan oleh Biro selama 3 sampai 6 bulan dan kemudian kembali ke pabrik dan mensosialisasikan kepada teman sekerja mereka.

Biro Perempuan berhasil membangun kesadaran massa perempuan pekerja seputar isu pengasuhan anak, rumah tangga, kesehatan publik, meluas hingga menjangkau beribu-ribu perempuan lainnya. Pada tahun 1922, jumlah anggota perempuan dari Partai Komunis melebihi tiga puluh ribu anggota.

Meskipun perang telah mengakibatkan berbagai kerusakan dan keterbatasan, namun tentara merah menyediakan kereta dan gerbong untuk Biro Perempuan untuk mempermudah mereka mengarungi seluruh negeri, membangun cabang Biro lokal. Ribuan perempuan melibatkan diri. Cabang di tingkatan lokal ini mengadakan pertemuan kecil bahkan besar serta lingkaran diskusi yang membicarakan tentang isu yang akan berdampak pada perempuan.

Kristina Suvorora, seorang ibu rumah tangga dari kota kecil di bagian selatan menjelaskan hubungan dan perasaan selama keterlibatan dalam rapat mingguan antara istri para tentara seperti dirinya dan sekretaris wilayah partai Bolshevik : “Kita membicarakan tentang pembebasan dan kesetaraan perempuan, tentang penampungan air untuk membilas pakaian, kita mendambakan air yang mengalir deras di apartemen, komite wilayah Partai memperlakukan kami dengan perhatian yang tulus, mendengarkan kami dengan penuh penghargaan, secara lembut menunjukkan kesalahan kami, sedikit demi sedikit mengajarkan kami tentang kebijaksanaan dan rasionalitas. Kami merasa seperti sebuah keluarga yang bahagia” [ix]

 

Kebebasan Seksual

Sepanjang periode pasca revolusi, Bolshevik memastikan terjadinya perdebatan luas dan bebas mengenai seksualitas, sebuah perubahan luar biasa dibandingkan rezim sebelumnya. Hal ini dilakukan bersamaan dengan perjuangan mendorong revolusi sosialis di negara lain dan secara langsung berasal dari filosofi mereka tentang emansipasi diri dari kelas pekerja.

Perubahan-perubahan yang diterapkan pada keluarga dan strukturnya menuntun banyak pihak untuk menyempurnakan pemahaman akan perubahan pada suatu “Hubungan”. pada tahun 1921, sebuah penelitian di Communist Youth menunjukan 21% laki-laki dan 14% perempuan menemukan pernikahan yang mereka idamkan. 66% perempuan memilih hubungan jangka panjang berlandaskan cinta dan 10% memilih hubungan dengan pasangan yang berbeda. Pada tahun 1918 terdapat 7000 kasus perceraian dibandingkan dengan hanya 6000 pernikahan yang terjadi di Moskow.

Alexandra Kollontai menjelaskan perubahan radikal ini dengan mengatakan bahwa ”Keluarga tradisional dimana laki-laki adalah segalanya dan perempuan adalah makhluk yang tidak bermakna, tipikal keluarga dimana perempuan tidak memiliki keinginan pribadi, tidak punya waktu untuk mewujudkan keinginan pribadinya dan tidak memiliki uang untuk merealisasikan keinginan pribadi tersebut sedang berubah tepat dihadapan kita…” [x]

Bolshevik mempercayai bahwa suatu hubungan harus berlandaskan pada pilihan, kecocokan personal dan bukan berlandaskan pada ketergantungan finansial. Mereka berusaha untuk menyingkirkan keluarga patriarkal dengan menyediakan layanan publik untuk menggantikan aktivitas rumah tangga dan dengan demikian memungkinkan para perempuan untuk memiliki waktu luang, yang dipandang oleh Bolshevik sebagai bagian dari bingkisan untuk membangun sosialisme.

Antara tahun 1917-1920 peerdebatan tentang seksualitas, eksplorasi serta penyelidikan terhadap seksualitas tersebut menyebar ke seantero negeri. Ratusan pamflet, majalah, dan novel tentang seks diterbitkan. Radikalisasi masyarakat tidak berhenti setelah revolusi terjadi. Pravda mencetak banyak artikel dan surat yang memperdebatkan tentang seks. Kaum muda pada khususnya secara giat menyelidiki tentang seksualitas mereka. Seorang perempuan muda, Berakova menulis di The Red Student 1927 bahwa :

Remaja perempuan seperti kami, selama kami belum mencapai kesetaraan penuh dengan laki-laki masih mempunyai pendirian dan visi. Cinderella-cinderella telah lenyap. Remaja-remaja perempuan kami tahu apa yang mereka inginkan dari laki-laki, tanpa kekhawatiran banyak diantara mereka tidur dengan laki-laki karena ketertarikan mereka. Kami bukan objek atau orang tolol, kami tau siapa yang kami pilih dan dengan siapa kami tidur” [xi]

Ini ditulis di sebuah negara dimana dekade sebelumnya, aborsi, perceraian dan homoseksual tidak diatur, tidak dilindungi bahkan melawan hukum.

Prostitusi didekriminalisasi pada tahun 1922 tetapi penggermoan tetap dipandang sebagai perbuatan melawan hukum. Klinik memberikan pelayanan kepada perempuan yang terjangkit Penyakit Menular Seksual dan memberikan pendidikan seks serta pelatihan kerja. Trotsky menjelaskan prostitusi sebagai “Degradasi ekstrim perempuan di bawah kepentingan laki-laki yang mampu membayar” [xii]

Hukum pidana seksual Bolshevik secara khusus berlandaskan pada kenetralan gender dan menolak pendasaran moralitas dan bahasa moral. Hukum tersebut mengatur  tindak pidana seksual sebagai “ Merugikan/mencelakakan kesehatan, kemerdekaan dan harga diri” korban. Pemerkosaan didefinisikan sebagai “Hubungan seksual tanpa kesepakatan pihak yang bersangkutan dengan paksaan secara fisik maupun psikis.” [xiii]

Pada tahun 1921 perang sipil berakhir, jutaan orang mati, industri mengalami kehancuran, kelaparan merajelela dan wabah penyakit menyebar luas. Sumber daya riil negara tidak sesuai dengan visi dan tujuan revolusi. Perekonomian berada dalam ambang kehancuran. Pada tahun 1921, tindakan radikal dibutuhkan sehingga pemerintah memperkenalkan New Economic Policy (Kebijakan Ekonomi Baru), beberapa kebijakannya termasuk mekanisme pasar yang terbatas dalam usaha untuk mempertahankan perekonomian agar dapat tetap berjalan sembari mempertahankan dukungan dari kelas pekerja internasional via revolusi lainnya di Jerman—ekonomi kapitalis utama dimana terdapat gerakan massa kelas pekerja sosialis dan pengobar revolusioner. New Economic Policy adalah sebuah usaha untuk memperbaiki produksi dalam konteks ini, tetapi mengakibatkan pemotongan layanan dalam rangka mempertahankan negara pekerja ditengah agitasi revolusi yang internasionalis.

Realita tentang ketidakmampuan negara memberikan dukungan finansial kepada anak-anak dan merupakan hal yang biasa bagi laki-laki meninggalkan atau mengabaikan ibu (Penerj.pasangan perempuan), negara mulai mengeluarkan perintah dukungan terhadap anak (nafkah untuk anak) bagi perempuan yang berjuang sendiri dalam menghidupi keluarga. Negara mencetak pamflet dan selebaran sehingga perempuan tahu tentang hak mereka. Pengadilan dicondongkan pada pertimbangan kebaikan perempuan dan memprioritaskan anak diatas kepentingan finansial laki-laki. Ada satu kejadian hakim membagi pembayaran menjadi tiga arah karena ibu yang bersangkutan pernah menjalin hubungan dengan 3 ayah potensial.

 

Perubahan Kehidupan LGBT

Revolusi Rusia juga telah merubah kehidupan kaum LGBT. Di bawah pemerintahan Tsar, homoseksualitas tidak dilindungi negara, sodomy dilarang oleh hukum, lesbianisme ditolak sama sekali. Setelah revolusi, homoseksualitas didekriminalisasi dan semua hukum anti-gay dikeluarkan dari daftar tindak pidana di dalam Undang-Undang Hukum Pidana pada tahun 1922.

Di dalam sebuah esai yang ditulis oleh Jason Yanowitz berjudul “ Seks dan Seksualitas di Rusia” (Sex and Sexuality in Russia) menjelaskan dampak revolusi terhadap gay, lesbian, dan transgender. Laporan dari para pelaku atau saksi revolusi menunjukan bahwa kaum gay dan lesbian menempatkan revolusi sebagai tahap kesempatan mereka untuk hidup terbuka. Pernikahan sesama jenis adalah legal, meskipun tidak ada yang tahu seberapa luas hal ini terjadi karena keterbatasan penelitian, namun paling sedikit terdapat satu kasus pengadilan menetapkan legalitas perkawinan sesama jenis. Terdapat beberapa orang yang hidup sebagai gender yang berlawanan (penerj.transgender) setelah revolusi dan pada tahun 1926 mengganti kolom jenis kelamin di dalam passport adalah sah secara hukum. Interseks dan Transgender maupun Trans seksual mendapat jaminan kesehatan dari negara. Penelitian terhadap isu ini dibiayai oleh negara dan ijin akan diberikan untuk menjalankan operasi penggantian kelamin atas permintaan pasien. Secara terbuka, kaum gay diijinkan untuk bekerja di kantor pemerintahan dan menempati jabatan publik lainnya. Georgy Chicherin, sebagai contoh, ditetapkan sebagai pejabat pemerintah untuk urusan hubungan internasional 1918. Dia adalah seorang gay dengan gaya flamboyan. Hal yang mustahil bagi individu-individu ini untuk diberikan jabatan sebagaimana Georgy Chicherin oleh negara kapitalis manapun.

Pada tahun 1923, salah satu pejabat urusan kesehatan memimpin delegasi berkunjung ke Institut untuk Ilmu Pengetahuan Seksual di Berlin dan menjelaskan hukum baru seputar homoseksualitas sebagai “Pembebas, diterima secara luas di masyarakat dan tidak ada yang bermaksud untuk mencabutnya”.[xiv]

 

Kontra Revolusioner Stalinis Menyerang Capaian

       Perang melawan pendukung Tsar, dan kesungguhan tentara imperialist menyerang negara pekerja yang baru lahir, dan pengisolasian terhadap revolusi dalam konteks memperjuangkan revolusi Jerman dan kebangkitan kelas pekerja lainnya di Eropa, menciptakan kondisi bagi kelahiran kekuasaan birokrasi di bawah kepemimpinan Stalin. Hal ini merepresentasikan kontra revolusi politik, dimana Stalin dan birokrasinya dengan tindakan yang otoriter menghancurkan kesadaran kelas pekerja, aktivisme, dan demokrasi di dalam rumah; memanfaatkan kekuasaannya untuk menghalangi kemenangan gerakan Sosialis seluruh dunia; semuanya dilakukan untuk mengkonsolidasikan hak istimewa birokrasi pada puncak ekonomi terencana. Kontra revolusioner ini tidak hanya menyimpang dari perjuangan Sosialisme, sebuah masyarakat yang menerapkan demokrasi di segala bidang kerja, tetapi juga secara sadar menyerang capaian kaum perempuan dan LGBT. Hukum progresif dicabut. Homoseksualitas dimasukan kembali menjadi tindak kriminal. Keluarga patriarkal didukung sebagai alat kontrol sosial. Pada sebuah lagu yang sangat terkenal dari gerakan perempuan pekerja pada awal abad 20, “Bread and Roses”, baris yang berbunyi “kebangkitan perempuan melambangkan kebangkitan kita semua” memberikan kesimpulan atas keharusan birokrasi untuk menyerang dan menghancurkan capaian yang telah dibuat oleh perempuan sebagai upaya untuk memundurkan kesadaran kelas pekerja.

Kebangkitan birokrasi dan pengkhianatan Stalin terhadap revolusi dan penghancuran capaian yang diperoleh tidak mengurangi signifikansi Bolshevik dan program mereka. Tidak pernah sebelumnnya perempuan memperoleh prestasi sedemikian maju di bidang politik. Tidak pernah sebelumnya kekuatan politik atau kepemimpinan mencoba untuk menjamin dukungannya terhadap perempuan atau kaum LGBT dengan mempertimbangkan kualitas hidup dan kebahagiaan mereka. Beberapa capaian yang diperoleh dari revolusi Rusia hampir satu abad yang lalu, belum ada di banyak negara saat ini, termasuk irlandia dimana gereja dengan negara masih terhubung erat, dan konstitusional keji melarang aborsi. Revolusi Oktober memberikan peninggalan yang tak terbantahkan dan menginspirasi dalam hal keterhubungan antara perjuangan melawan segala bentuk penindasan dengan perjuangan kelas pekerja untuk perubahan sosialis. Hal ini benar-benar luar biasa, sebagai contoh, beberapa hak transgender diakui, dekade sebelumnya gerakan pembebasan perempuan dan gay terbangun.

Restorasi kapitalisme Rusia membawa malapetaka. Kapitalisme neo-liberal mengantarkan pada era kemunduran standar kehidupan secara cepat. Opresi yang mengerikan terhadap komunitas LGBTQ di Rusia saat ini menunjukan sifat dasar sistem kapitalisme yang reaksioner. Kapitalisme di Rusia telah bersungguh terhadap segala hal kecuali kemajuan dan deomokrasi. Capaian yang diperoleh pada abad sebelumnya oleh gerakan Marxis merupakan suatu yang haram bagi rezim reaksioner Putin, salah satu yang paling berbahaya bagi kaum LGBTQ di dunia.

Gerakan yang meletus di bagian selatan Irlandia seputar referendum Kesetaraan Perkawinan pada musim semi 2015 dan gerakan yang sedang tumbuh di negara bagian utara untuk hak ini adalah bukti bahwa kelompok kelas pekerja mempunyai keinginan sosial yang tinggi untuk mencapai kestaraan ekonomi dan dipersiapkan untuk menantang pembangunan. Perempuan di Irlandia telah lahir dengan memikul beban berat dari kekerasan brutal rezim dan perempuanlah yang telah memulai untuk memainkan peran sentral dalam referendum bahkan dalam perjuangan melawan pajak air di negara bagian selatan.

Revolusi Rusia menunjukan bahwa kelas pekerja merupakan kekuatan paling dasyat dan ini merupakan kesadaran pembangunan pergerakan untuk 99% kaum yang dapat membawa pada pengakhiran dari ketidaksetaraan perempuan yang telah tumbuh subur, untuk kaum LGBTQ dan kaum miskin. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Bolshevik, kita harus menyadari bahwa kapitalisme tidak dapat dikalahkan tanpa perempuan dan pada khususnya perempuan kelas pekerja, menjadi inti dari perjuangan melawan 1% kaum terkaya dunia.

 

 

 

_________

[i] Vl Lenin, On the emancipation of Women, Progress Publishers, 1977, pg 81

[ii] Jane McDermid and Anna Hilyar, Midwives of the Revolution-Female Bolsheviks and  Women workers in 1917, UCL Press, 1999, pg 67-68.

[iii]Ibid. Pg 8

[iv]Ibid. Pg 9

[v]Vl Lenin, On the emancipation of Women, Progress Publishers, 1977, pg 83

[vi]Karen M Offen, European Feminism 1700-1950, Standford University Press 2000, pg 267

[vii] Leon Trotsky, The Revolution Betrayed, Dover Publications 2004, pg 113

[viii]Barbara Alpern Engel, Women in Russia, 1700-2000, Cambrige University Press 2004, pg 143

[ix]Ibid, pg 142

[x] Alexandra Kollontai, Communism and The Family, 1920

[xi]From Jason Yanowitz’s podcast, “Sex and Sexuality in Soviet Russia”, http://wearemany.org/a/2013/06/sex-and-sexuality-in-soviet-russia

[xii] Leon Trotsky, The Revolution Betrayed, Dover Publications 2004, pg 112

[xiii] http://wearemany.org/a/2013/06/sex-and-sexuality-in-soviet-russia

[xiv]Ibid

 

[1] Anggota Committee for a Worker’s International (CWI) di Irlandia

Leave a Reply