SHARE

 

[ Faryen Bagenda ]

 

 

Pendidikan dan Konferensi Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN), Kolektif Wilayah Sulawesi Tengah

Dalam peningkatan kuantitas ke kualitas seseorang membutuhkan waktu berkepanjangan untuk prosesnya, apalagi di dalam sebuah organisasi, pasti membutuhkan pelatihan dan pendidikan yang khusus terhadap keanggotannya.

Semaksimal mungkin menerapkan proses-proses pembelajaran yang akan meningkatkan keprofesionalan anggota. Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN), telah menyelenggarakan Pendidikan dan Konferensi Wilayah Sulawesi Tengah, kegiatan ini berlangsung selama 7 hari (tanggal 14 Januari s/d 20 Januari 2016), tempat pelaksaan kota Palu serta di ikuti oleh beberapa Kolektif yang ada (Palu, Poso dan Luwuk). Banyak hal yang menjadi bahan kajian didalam menanggapi perkembangan situasi nasional maupun daerah, antara lain soal perekonomian, politik dan budaya yang sementara ini berkembangan-mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Adapun Pembelajaran tentang bagaimana proses pembangun wadah persatuan bagi rakyat miskin, jelasnya harus mengumpulkan data atau pembacan situasi yang sesuai dengan realitas.

Dengan peningkatan sumber manusianya, Pembebasan membuka ruang demokrasi terhadap seluruh anggotanya untuk menyapaikan argumentasi di dalam forum, sehingga keterlibatan seluruh anggota kolektif terlihat aktif dan pendiskusian berjalan dengan lancar. Kesejahteraan rakyat belumlah tercapai pada titik kenyamanannya, masih begitu banyak yang merasakan ketimpangan dalam kehidupan sosial, terlihat dari kebutuhan ekonomi, produksi yang semakin meningkat dan melimpahnya komoditi (barang-barang) yang tidak dapat di konsumsi secara keseluruhan bagi masyarakat. Dengan tingkat perkembangan teknologi, seharusnya memuluskan pengembangan kreativitas manusia, kekayaan Sumber Daya Alam yang dapat memenuhi perekonomian masyarakat, kalau pun hasil dari pemberdayaannya di alokasikan terhadap kebutuhan rakyat oleh pemerintah. Namun apa yang kita lihat saat ini, banyaknya kebijkan yang diterapkan hanyalah memuluskan investasi masuk untuk menanamkan modalnya di titik-titik sumber daya alam, ditambah dengan berlangsungnya penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), pastinya akan menjadi kompetisi dalam peningkatan produksi. Adanya MEA ini, juga akan menyingkirkan banyak manusia dari lapangan pekerjaan, dan yang dibutuhkan adalah tenaga kerja produktif, baik di sektor prioritas barang maupun Jasa. Hal ini benar-benar tidak berkesinambungan dengan realitas sosial, terlihat dari mutu pendidikan yang berada di Indonesia, begitulah sangat minim, fasilitas, Tenaga Pengajar yang masih kurang dan terbatas-akan mempengaruhi keprofesionalan sumber daya manusianya. Rp. 313 Triliun yang telah disiapkan Negara untuk Persaingan pasar bebas ini tidaklah akan mempengaruhi peningkatan ilmu pengetahuan bagi manusia di dalamnya, hanya akan lebih meningkatkan kemiskinan di kalangan mayoritas rakyat, sebaiknya anggaran tersebut dialokasikan untuk pengelolaan pendidikan dan kesehatan gratis, peningkatan subsidi, kenaikan Upah Pekerja/Buruh dan peningkatan bantuan terhadap sektor pertanian dalam bentuk logistik dan teknologi maju dalam penggarapan lahan pertanian. Contoh pembahasan di atas merupakan salah satu kajian untuk pengembangan ideologisasi keanggotaan yang berlangsung selama beberapa hari. Adapun pembahasan yang lainnya, yaitu tentang mekanisme kerja organisasi, pembahasan strategi dan taktik, dan bentuk-bentuk program kerja organisasi. Keterlibatan anggota di dalam menentukan program-sangatlah penting, dengan cara pandang yang inovatif dan kreatif, akan memberikan sumbangsi pengetahuan untuk menjalankan kerja-kerja organisasi yang sesuai dan berlandaskan situasi.

Di awal-awalnya, Pembebasan Sulawesi Tengah masihlah memfokuskan kerja pengorganisiran pada sektor Mahasiswa, namun dengan adanya kemauan anggota untuk dapat mencapkup sektor lainnya, maka akan coba mengaplikasikan pengetahuan tersebut terhadap sektor lainya (Multi sektor), yang dapat mencakup buruh, petani dan kaum miskin kota. Untuk tahap awalnya, yang terpenting di dalam membangun kesadaran anggota adalah mendorong keberanian dan memberikan kepercayaan penuh untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai bentuk situasi (realitas) yang berlangsung, penempatan teori terhadap realitas, fokus pengorganisiran yang berkesesuain dengan metode-metode organisir, menjaga relasi perkawanan yang baik demi pencapaian kerja yang produktif, melatih diri untuk melakukan hal-hal produktif, dan hal-hal lain yang memperkokoh kestabilan jalannya Organisasi.

Adapun bentuk pendidikan Advokasi yang terlaksana, di bantu oleh kawan-kawan Serikat Buruh Migran dan Partai Pembebasan Rakyat, pendidikan tersebut tentang bagaimana cara-cara menjalankan pengadvokasian secara prosedural dan teknis-teknis untuk menghasilkan output. keberlangsungan hal ini dikarenakan banyaknya kasus-kasus Buruh Migran/TKI yang berada di Luar Negeri, Contoh seperti adanya bentuk kekerasan, pelecehan seksual, diskriminatif, tidak terbayarnya upah kerja dan penempatan kerja yang tidak sesuai dengan keahliannya, jelasnya kasus-kasus yang melangar Hak Asasi Manusia.

Di lain hal, proses advokasi ini akan di terapkan dengan jalan awalnya mendorong pemerintah daerah untuk membentuk Peraturan Daerah (PERDA) yang membicarakan tentang Perlindungan Buruh Migran secara detail. Keterlibatan anggota keluarga-juga diberlakukan dalam penanganannya. Membangun kelompok-kelompok sosialisasi ke desa-desa, serta mendesak pemeritah desa agar memberikan dukungan terhadap TKI dalam bentuk Peraturan Desa (PERDES) yang juga membicarakan tentang perlingdungan terhadap TKI.

Keberlangsungan konferensi juga akan menetapkan kembali keanggotaan pada struktur wilayah, mengganti posisi struktur yang sudah pada waktunya untuk digantikan selama Dua tahun berjalan. Dengan adanya posisi itu, diharapkan agar dapat menjalankan kerja-kerjanya dengan baik dan tersistematis. Mengambil sampel dari seluruh kolektif untuk menjadi jalur pelaksanaan kerja dan diharapkan dapat menangani permasalah, serta kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan Organisasi. Bentuk ini juga akan dijadikan poros untuk mengkoordinir seluruh praktikal dan kesinambungan pada kolektif yang lebih di atas dan yang berada di bawahnya, terangkul pada bentuk pembagian kerja yang signifikan di dalam sebuah organisasi, agar dapat menetralisir segala persoalan dan menjadi contoh bagi kolektif yang berada di teritorial Sulawesi Tengah.

Inilah langkah-langkah kecil yang menjadi penerapan awal bagi Pembebasan untuk melakukan pengembangan kuantitas ke kualitas di tahun 2016/2018, bahkan masih banyak pula kekhususan dalam internal yang akan terlaksanakan. Membangun kepeloporan di setiap individu dan menyatukan kekuatan-kekuatan yang siap bertarung dalam perjuangan pembebasan nasional. Pengekangan demokrasi yang paling terpenting untuk menjadi pembahasan di dalam proses perjuangan saat ini, berbagai macam polemik yang dihadirkan oleh tirani akan menjadi tolak ukur bagi kesadaran rakyat. Sehingga, dalam jangga waktu yang tak menentu, jika rakyat terus merasakan keresahan, ketertindasan dan penghisapan, maka akan muncul perlawan dari rakyat itu sendiri.

Zaman penghisapan dan penindasan (kapitalisme) saat ini, segeara akan menemukan jenganggalannya sendiri, seperti yang sudah sering menjadi perbincangan dalam suatu gerakan, Kapitalisme sedang menggali liang lahatnya sendiri.

Semoga hasil dari Pendidikan dan Konferensi ini akan bermanfaat bagi seluruh anggota Pembebasan dan pembaca. Selamat buat kawan-kawan yang terpilih untuk menempati Struktur Kolektif Wilayah Sulawesi Tengah.


Terima Kasih.

Hidup Rakyat..!

Leave a Reply