SHARE

 

007838800_1446019887-20151028_DEMO

[ Adam ]

Gerakan mahasiswa pada tahun-tahun ini adalah elemen yang hampir sunyi dari hingar-bingar dunia pergerakan Indonesia sebagai faktor perubahan sosial. Jika ukurannya adalah demonstrasi massa mahasiswa, dari awal tahun 2016 hingga bulan Maret ini (3 bulan) terjadi demonstrasi yang berasal dari mahasiswa. Secara tematik, bisa digolongkan dalam 2 spektrum besar isu yang disuarakan mahasiswa yaitu: politik nasional dan politik lokal. Isu politik nasional yang menggerakkan mahasiswa selama Januari-Maret 2016 berupa penolakan pembangunan infra-struktur (misal: proyek kereta api cepat), penolakan UU KAMNAS dan menghadang kedatangan Jokowi di beberapa tempat. Sedangkan isu local yang direspon mahasiswa (dan ini biasanya ‘proyek’) adalah seputar kasus tuntutan mempercepat (indikasi) pidana korupsi terhadap elit politik lokal tertentu atau menuntut pencopotan jabatan seorang pejabat lokal entah jabatan struktural maupun jabatan non-struktural.

Kapasitas gerakan mahasiswa secara umum memang sangat kental tuntutan yang bercorak kesejahteraan dan demokrasi. Memang itulah yang paling mengemuka  dihadapi masyarakat kita. Tentu pekerjaan rumahnya masih menumpuk agar gerakan mahasiswa yang kini sedang berada dalam level pressure group (terutama yang belum beraliansi) bisa maju lagi menjadi bagian dari kunci perubahan sosial-ekonomi-politik-ideologis, kemudian merencanakan tentang persatuan strategis.

Secara umum, terutama di Jakarta, pada kenyataan lain terdapat gerakan mahasiswa kiri yang sudah dan sedang bekerja di tengah-tengah massa. Mereka adalah elemen gerakan mahasiswa yang bergabung dalam aliansi multi-sektor masing-masing bersama elemen lain seperti serikat buruh, masyarakat urban yang termarjinalkan, gerakan tani termasuk organisasi social-politiknya. Dan aliansi besar tersebut masih bergerak, berdinamika dengan aliansi besar lain dengan segala perbedaannya. Terbangunnya aliansi sendiri adalah sebuah kemajuan perspektif meski aliansi yang terbentuk sekarang adalah hasil dari proses pecah-belah dari aliansi besar nan luas menjadi aliansi yang lebih ramping ketimbang sebelumnya. Berbicara persatuan memang bukan sekedar obrolan warung kopi, butuh proses yang melelahkan, penuh sentimentalia, bahkan ada yang nyinyir berkutat dengan pertanyaan apakah perpecahannya ideologis? Atau hanya sekedar subjektif? Pertanyaan tersebut saja mengandung apriori terhadap persatuan. Tapi proposisi yang paling penting untuk diracik dan dibicarakan adalah persatuan yang bagaimana? Agar, persatuan tidak sekedar bersatu. Dunia politik pergerakan kini semakin kompleks, heterogenitasnya memunculkan dua aspek yaitu ideologis dan politis-organisasi, meski yang tersebut belakangan lebih mencuat ketimbang yang pertama. Sekarang bisa dikatakan musuh dari kapitalisme belum tentu bisa dijadikan kawan berjuang. Pada titik inilah sebuah aliansi (front persatuan) membutuhkan ketepatan analisa. Sehingga prinsip kebebasan mengkritik dan kesatuan tindakan yang digenggam Lenin bisa dijadikan prinsip umum dalam sebuah aliansi (proses persatuan). Pekerjaan rumah berikutnya secara umum adalah bagaimana membangun jembatan positif antar aliansi besar yang sudah terbangun, tentu dengan menggenggam prinsip yang digenggam Lenin.

***

Dalam dunia pergerakan kita memang tak bisa lepas dari pertautannya dengan dinamika ekonomi-politiknya kapitalisme. Dalam politik, kapitalisme menyediakan sebuah arena penindasan yang meluas dan memiliki kedalaman yang luar biasa sehingga semua lini masyarakat mengalami penindasan, tak jarang ada yang tidak merasakannya. Sistem ekonomi politik kapitalisme telah membuat kesenjangan yang semakin jauh antara sang penindas (borjuasi)  dan kaum tertindas (proletariat). Tentu dalam segala lini kehidupan manusia kekinian, di situlah kapitalisme bersarang. Untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya maka berkonsekuensi bagi kapitalis masuk ke segala sektor kehidupan sosial masyarakat lewat privatisasi dan liberalisasi. Salah satu sektor yang sangat menggiurkan bagi kapitalisme adalah pendidikan. Sebenarnya ada dua hal mendasar yang sangat menguntungkan dalam dunia pendidikan itu sendiri. Pertama, tentu dimana pendidikan dijadikan sebagai komoditas (barang) yang kapan saja akan diperdagangkan, maka sudah pasti pendidikan menjadi semakin mahal. Kensekuensi logis dari hal ini adalah semakin banyak rakyat kecil yang tersingkirkan dari ranah pendidikan maka semakin masif pula barisan pengangguran. Barisan pengangguran inilah inti legitimasi bagi kapitalis untuk menjatuhkan daya tawar calon buruh dan buruhnya. Alhasil, politik upah murah mudah dijalankan. Kedua, adalah pendidikan dijadikan sebagai alat propaganda kapitalisme lewat regulasi-regulasi pemerintah yang pro-modal. Hal ini menjadi alat ideologisasi ampuh untuk menumpulkan karakter kritis mahasiswa yang nantinya akan membuat mahasiswa menjadi semakin apatis terhadap realitas sosial yang ada. Sehingga orientasi pendidikan yang sejatinya akan bergeser atau bahkan bisa hilang dari pembebasan manusia terhadap manusia lainnya menjadi penindasan manusia pada manusia lainnya.

Beririsan dengan persoalan ini, kita mesti mampu melihat lebih jauh lagi, sudah sejauh mana respon gerakan mahasiswa saat ini, khususnya gerakan mahasiswa di pusat pemerintahan negeri ini yaitu Jakarta, sebagai barometer kebijakan nasional. Sebagai titik api, gerakan mahasiswa di Jakarta bisa mempengaruhi gerakan mahasiswa di daerah-daerah.

Saat ini gerakan mahasiswa di Jakarta sendiri belum mampu mengkonsolidasikan atau setidaknya belum ada satu gerakan yang serius dan konsisten yang kemudian bisa menjadi sebuah gerakan yang strategis. Aliansi sektoral yang setidaknya pernah dibangun sebut saja Mahasiswa Bersatu dan Aliansi Mahasiswa Indonesia bernasib tak begitu baik.

Selain itu, secara internal, organ-organ yang beraliansi masih lemah baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Jikalau dilihat, menurut saya, sebenarnya mempunyai persoalan yang sama yakni krisis kepeloporan (kepemimpinan) individu maupun gagasan. Jika kembali pada pemikiran betapa menguntungkannya memakai strategi pembesaran gerakan berbasis teritorial (Jakarta sebagai pusat kebijakan nasional) maka membangun satu aliansi atau front yang konsisten dan solid di Jakarta adalah kebenaran objektif. Sekali lagi, ketika gerakan di Jakarta sudah menemukan titik apinya yang solid dan konsisten maka ini akan menjadi cerminan sekaligus stimulus bagi daerah-daerah lain. Jika demikian terjadi maka sedikit lebih mudah untuk menyulut ke daerah-daerah di luar Jakarta dalam rangka mengkonsolidasikan gerakan secara nasional. Tentu ini dalam makna strategi membuat titik api lebih efektif jika diletakkan dan ditentukan berdasarkan teritorial, yaitu Jakarta sebagai pusat kebijakan nasional. Sehingga, begitu pentingnya menghidupkan kembali gerakan mahasiswa di Jakarta.

Tentu ini bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena dengan melihat berbagai varian karakter mahasiswa Jakarta yang beragam dan kompleks. Tentu yang berkarakter progresif-demokratik-revolusioner jauh lebih sedikit ketimbang yang hedon-apatis-liberal secara politik. Hal ini menjadi penting untuk ditelaah dalam kerangka penyadaran dan pengorganisiran, sebab kita harus mempunyai strategi yang mengikuti tingkat kesadaran atau varian dari karakter mahasiswa itu sendiri. Salah satu poin penting dalam metode pengorganisiran adalah bagaimana kita mampu membuat kemasan (branding) sedemikian menarik namun tidak merendahkan substansinya (isian).

Memodernkan metode pengorganisiran ini harus dengan tujuan yang revolusioner sehingga pola pengorganisiran kesadarannya tidak jatuh dalam kesadaran dan tindakan yang moderat dan terbatas.

Jadi, begitu pentingnya membangun kembali kekuatan gerakan mahasiswa di Jakarta.

_________

* Penulis adalah anggota PEMBEBASAN Kolektif Kota Jakarta.

Leave a Reply