SHARE

Fitri Lestari*

Kaum proletar tidak dapat mencapai kebebasan penuh sampai ia telah memenangkan kebebasan penuh untuk kaum perempuan. (Lenin)

Tahukah kawan-kawan tentang sejarah pembebasan kelas tertindas yang telah terjadi di beberapa belahan dunia termasuk di Rusia? Tentang perjuangan yang membebaskan setiap manusia dari berbagai bentuk penindasan, yang timbul akibat adanya sistem kapitalisme? Kapankah penghancuran sistem kapitalisme itu terjadi? Siapakah yang terlibat di dalam revolusi proletariat? Adalah tak luput dari terlibatnya kaum perempuan dalam perjuangan kelas.

Di Rusia, sebelum Revolusi Oktober 1917 yang dapat membebaskan perempuan dan proletariat, mayoritas penduduknya terdiri dari kaum tani yang hidup dalam kondisi pedesaan yang terbelakang. Dalam kondisi itu, perempuan diperlakukan sebagai milik laki-laki. Rusia masih sangat patriarkal. Menurut hukum Tsar; perempuan tidak lebih dari budak laki-laki dan laki-laki memiliki hak untuk memukul dan menampar istri-istrinya.  Penindasan terhadap perempuan tersebar luas di pedesaan yang terbelakang bahkan gereja dan tradisi yang ada pun turut melanggengkan perendahan kaum perempuan.

Dalam analisa Lenin, Perkembangan Kapitalisme di Rusia yang ditulis di tahun 1896 dan 1899, Lenin mempelajari secara detail situasi pekerja perempuan dan kerja ganda yang dialami perempuan. Anak-anak dan khususnya perempuan ditempatkan untuk mengurusi rumah dan sekaligus juga bekerja di pabrik. Banyak anak-anak perempuan keluar dari sekolah, bekerja di pabrik sejak usia 12-14 tahun, bahkan banyak juga yang bahkan lebih muda dari usia tersebut. Jangka waktu bekerjanya pun melebihi 18 jam lamanya.

Ketertindasan perempuan tersebut perlu disadarkan dengan belajar bersama yakni dengan membangun organisasi. Sekitar tahun 1890-91 perempuan memulai berpartisipasi di organisasi Brusnyev. Organisasi ini terutama diarahkan pada pekerja industri perempuan, terutama di industri tekstil, namun juga menjangkau pekerja non-pabrik seperti penjahit dan pembantu rumah tangga (Revolutionary Women in Russia 1870-1917 – Anna Hillyar and Jane McDermid, p. 64).

Sofia Pomeranets-Perazich, salah satu dari perempuan mengingat kondisi menyedihkan di Kiev pada pertengahan 1890-an:

“Saya ingat satu kelompok di Podol. Ada seseorang yang mengenalkan saya pada seorang pekerja perempuan dari pelatihan menjahit. Melalui dia saya bisa memulai bergabung di sebuah kelompok yang terdiri dari delapan orang. Perempuan-perempuan muda itu adalah perempuan Yahudi yang dipaksa bekerja dalam kondisi yang mengerikan. Mereka tidur di lantai dan makan di ruangan tempat mereka bekerja.” (Revolutionary Women in Russia 1870-1917, Anna Hillyar and Jane McDermid, p. 77).

Pada 1895, beberapa kelompok sosial demokrasi yang berbeda bergabung dan membentuk Union of Struggle, cikal bakal Partai Sosial Demokrat. Ada 4 perempuan di antara 17 anggota: Radchenko, Krupskaja, Nevzorova and Lakubova. Kerja-kerja revolusioner lebih diarahkan pada kerja massa di antara kelas pekerja, yang semakin terlibat dalam pemogokan dari pertengahan tahun 1890-an dan seterusnya. Ini juga diterapkan pada pekerja perempuan, terutama di industri tekstil.

Lenin sangat mementingkan persoalan mengenai perempuan. Seperti yang dikemukakan istrinya, Krupskaya: “Ketika Lenin berada di pengasingan pada tahun 1899, Lenin berkorespondensi dengan organisasi Partai (Kongres Partai Pertama diadakan pada tahun 1898) dan menyebutkan subyek yang ingin dia tulis dalam pers ilegal yang dimana termasuk sebuah pamflet yang disebut “Perempuan dan Pekerja”.

Sekitar tahun 1900, Partai Bolshevik memperjuangkan tuntutan demokratis, yang menyangkut kepentingan perempuan, seperti hak suara, hak untuk bercerai dan sebagainya. Kelas pekerja perempuan di dalam negara-negara kapitalis adalah yang paling tertindas di antara yang tertindas. Penindasan dan eksploitasi yang perempuan alami akan berakhir, hanya dengan penggulingan kekuasaan borjuis dan kapitalis secara revolusioner. Bagi Bolshevik, tidak dapat dipungkiri bahwa pembebasan perempuan dapat dicapai hanya melalui sosialisme. Lenin menjelaskan hubungan antara perjuangan untuk tuntutan demokrasi dan sosialisme sebagai berikut:

“Di bawah kapitalisme biasanya terjadi, dan tidak terkecuali, bahwa kelas tertindas tidak dapat ‘menjalankan’ hak demokratis mereka. Dalam kebanyakan kasus, hak untuk bercerai tidak dapat dilakukan di bawah sistem kapitalisme, karena penindasan seksual dilakukan atas dasar kepentingan ekonomi, karena betapapun demokratisnya negara, di bawah sistem kapitalisme, perempuan tetap menjadi “budak domestik” yang hanya bekerja di sumur, kasur dan dapur.

Hanya mereka yang benar-benar tidak mampu berpikir, atau mereka yang sama sekali tidak terbiasa dengan Marxisme, akan menyimpulkan bahwa, oleh karena itu, sebuah republik tidak ada gunanya, bahwa kebebasan bercerai tidak ada gunanya, bahwa demokrasi tidak ada gunanya, bahwa Hak Menentukan Nasib Sendiri tidak ada gunanya! Kaum Marxis tahu bahwa demokrasi tidak menghapuskan penindasan kelas, tapi membuat perjuangan kelas lebih jelas, lebih luas, lebih terbuka dan lebih tajam. Dan inilah yang kita inginkan. Kebebasan bercerai yang lebih lengkap agar semakin jelas bagi perempuan bahwa sumber ‘perbudakan domestiknya’ bukanlah kekurangan hak, tapi sistem kapitalisme. Semakin demokratis sistem pemerintahan, semakin jelas bagi para pekerja bahwa akar penindasan bukanlah kekurangan hak, tapi sistem kapitalisme. Kesetaraan nasional yang lebih lengkap adalah (dan tidak lengkap tanpa kebebasan hak menentukan nasib sendiri), semakin jelas bagi pekerja dari negara tertindas bahwa ini bukan masalah kekurangan hak, melainkan sistem kapitalisme. Dan seterusnya.” (A caricature of Marxism and Imperialist Economism, Lenin)

Di pengasingan, Lenin menghabiskan banyak waktu dalam penyusunan program partai untuk Kongres 1903. Atas sarannya, permintaan “kesetaraan hak untuk laki-laki dan perempuan” menjadi bagian dari program ini. Permintaan ini, bagaimana pun, tidak hanya untuk Bolshevik—adalah program semua partai oposisi Rusia, bagian yang integral dari program semua partai demokratis sosial Internasional Kedua.

Partai Bolshevik secara umum berhasil mengorganisir perempuan. Samoilova, salah satu pemimpin perempuan Bolshevik memulai aktivitas revolusionernya saat duduk sebagai mahasiswa di Paris, yang sempat ditangkap, dan beberapa bulan setelahnya pergi ke Rusia pada tahun 1902. Ia bergabung di Partai Bolshevik pada tahun 1903. Di Rusia, ia berpartisipasi di kerja-kerja bawah tanah, ia berpindah dari kota satu ke kota yang lain. Saat Molotov ditangkap pada Desember 1912, Samoilova mengambil posisinya sebegai editor Pravda, koran Partai Bolshevik. Pravda pada waktu itu hampir satu-satunya koran di mana para pekerja bisa bergabung untuk memberikan pendapat. Ratusan pekerja mengirim surat atau langsung pergi ke kantor Pravda.  Seringkali ada 300-400 orang yang mengunjungi kantor selama satu hari.

“Kantor editorial yang sederhana seperti sarang lebah. Para pekerja datang beriringan: representasi dari pabrik yang mogok, representasi serikat pekerja, kelompok pekerja dan masyarakat juga datang untuk menceritakan kondisi kehidupan dan pekerjaan mereka. Rapat pekerja pabrik dengan mengumpulkan uang sedikit-sedikit untuk ‘Pravda kita tercinta’. Seringkali tukang cuci atau juru masak, pandai besi atau pekerja yang tidak terampil datang hanya untuk memberitahu Koran Pravda tentang masalah mereka. Kemudian para pekerja koran dan sekretarisnya duduk di samping mereka dan menulis apa yang mereka katakan, mencoba menuliskan apa yang mereka alami.” (Natasha – A Bolshevik Woman Organiser, L. Katasheva, 1934).

Sebelum Perang Dunia I, terjadi peningkatan partisipasi perempuan dalam aktivitas politik. Misalnya, 10 dari 171 delegasi Kongres Partai Bolshevik Ke-enam (bulan Agustus 1917) adalah perempuan, yakni sekitar 6 persen. Tiga perempuan—Kollontai, Stasova dan Lakovleva—terpilih menjadi anggota CC Partai, yang pada akhirnya memimpin kaum Bolshevik dalam Revolusi Oktober.

Bagaimana pun, dalam perjuangannya yang dilakukan selama bertahun-tahun itu, perempuan tidak luput untuk terlibat didalamnya. Perjuangan pembebasan perempuan adalah bagian yang integral dalam perjuangan kelas.

Perempuan yang bekerja adalah yang secara langsung merasakan betapa kejamnya penindasan dan eksploitasi. Mereka juga akan merasakan, meskipun secara individu mereka lemah, namun secara kolektif dan persatuan mereka dapat menjadi kuat. Di Rusia, pada 23 Februari 1917 atau 8 Maret di sistem kalender Gregorian, para pekerja perempuan adalah yang pertama menduduki Petrograd, mereka menyulut pergerakan untuk meruntuhkan kekuasaan Tsar beberapa minggu kemudian.

Pekerja tekstil perempuan menolak bekerja, mereka pergi untuk mogok menduduki jalan dan mengirim delegasi ke berbagai pabrik, mereka memicu lahirnya revolusi. Melawan segala rintangan, dan tanpa rencana sebelumnya, pemogokan massal terjadi. Sekitar 90.000 pekerja mogok di hari pertama. Perempuan menuntut roti, menuntut mengakhiri perang dan menuntut mengakhiri pemerintahan Tsar. Di hari-hari sesudahnya, mogok menjadi hal yang umum.

Pekerja perempuan memainkan peran penting, berkerabat dengan tentara dan menghasut mereka untuk membelokan bayonet mereka pada musuh. Sebagai kelompok tertindas, perempuan memiliki peran perjuangan menghapuskan sistem kapitalisme dan membentuk sosialisme.

Setelah delapan bulan berjuang—mewakili para pekerja, petani dan tentara, Partai Bolshevik mengatur perebutan kekuasaan oleh soviet pada bulan Oktober 1917 (November di kalender Gregorian). Rezim soviet menjadikannya sebuah tujuan untuk menempatkan kondisi bagi pembebasan perempuan.

Setelah revolusi, ada beberapa undang-undang yang direvisi sehingga perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki. Pemerintah Soviet adalah pemerintahan pertama dan satu-satunya di dunia yang telah sepenuhnya meniadakan hukum-hukum borjuis yang kuno dan keji, yang menempatkan perempuan dalam posisi inferior terhadap laki-laki, yang memberikan kaum laki-laki hak-hak istimewa. Lahirlah hukum yang menetapkan bahwa perempuan harus diberi upah yang setara dengan laki-laki. Bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang perempuan menjadi bagian dari pemerintah, yakni Alexandra Kollontai yang menjadi Komisi Kesejahteraan Sosial Rakyat yang pertama. Pada bulan Desember 1917, dana asuransi publik dibuat, tanpa memotong upah pekerja. Enam minggu setelah revolusi, pernikahan sipil disahkan, mereka memiliki hak yang sama satu sama lain, perceraian dilegalkan dan dapat diakses oleh semua orang.

Pada tahun 1918, sebuah Kementerian Perlindungan Bersalin dan Anak-anak didirikan. Hal ini menyebabkan reformasi; hak cuti melahirkan selama 16 minggu, pembebasan dari pekerjaan yang terlalu memberatkan, pelarangan PHK, pelarangan pekerjaan malam untuk perempuan hamil dan pasca persalinan, adanya layanan konseling, klinik dan tempat penitipan anak. Rumah makan, laundry, apotek medis dan rumah sakit dibangun. Perbedaan antara anak yang sah dan tidak sah dihapuskan. Sosialisasi kepada seluruh rakyat bahwa kerja domestik tidak hanya dikerjakan kepada perempuan tapi juga laki-laki (tanpa melihat gender) pun juga dilaksanakan.

Mulai tahun 1920, perempuan memiliki hak untuk melakukan aborsi. Rusia menjadi negara pertama yang memberikan hak ini, hampir 53 tahun sebelum Amerika Serikat dan 71 tahun sebelum Kanada. Perempuan mulai menguasai tubuh mereka, perempuan mempunyai hak atas tubuh mereka tanpa adanya intervensi dari yang lain.

Revolusi ini tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya persatuan diantara kaum pekerja dan kaum perempuan. Revolusi Oktober di Rusia—sosialisme—yang memulai penghapusan penindasan yang tak hanya pembebasan bagi kaum perempuan namun juga pembebasan kaum proletariat adalah sejarah perjuangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya!

* Penulis adalah Presidium SIEMPRE (Serikat Pembebasan Perempuan) perwakilan dari organisasi PEMBEBASAN Kolektif Kota Jogja.

Referensi :

  1. Communist Party of Britain (Marxist-Leninist), 1972, Women in Class Struggle, Encyclopedia of Anti-Revisionism On-Line.
  2. Communist Party of Britain (Marxist-Leninist), 1977, Women’s Emancipation, Encyclopedia of Anti-Revisionism On-Line.
  3. Marie Frederiksen, 2017, Women Before, During and After the Russian Revolution, http://marxist.ca/analysis/women/1180-women-before-during-and-after-the-russian-revolution.html
  4. Fanny Labelle, 2017, 100 Years Ago, Women Sparked the Russian Revolution, http://marxist.ca/analysis/women/1179-100-years-ago-women-sparked-the-russian-revolution.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here