SHARE

[ Danial Indrakusuma ]

 

…Menjadi kaum kiri, di Afrika Selatan, lebih memberikan keteguhan diri. Dan kami, yang berada di posisi kiri, samasekali tak pernah merasa bersalah karenanya. Karena rasa bersalah selalu tak produktif. Tak baik mengatakan, “Aku merasa bersalah karena aku diistimewakan atau berkulit putih.” Kau tak bisa dengan begitu saja mencampakkan keistimewaan yang kau peroleh tersebut,  tapi kau bisa aktif melakukan sesuatu untuk melawannya. Itu lah yang dilakukan kaum kiri. Sebagaimana kau tahu, terdapat sejumlah orang yang patut diperhitungkan, yang luarbiasa bergunanya saat berdiri di posisi kiri. Dan terutama sekali mereka yang disebut sebagai ekstrim kiri. Mereka yang dipenjara, mereka yang dibuang. Kami punya pahlawan di kalangan orang-orang kulit putih, sebagaimana juga di kalangan orang-orang kulit hitam. …Mereka mengorbankan karirnya, mengorbankan keselamatan hidupnya,  tak bisa menjamin keselamatan keluarganya, karena terlibat dalam politik. Dari generasi ke generasi mereka berkorban, sejak kakeknya hinggacucunya…Nadine Gordimer.

 

Resiko mengemban estetika semacam itu lah yang menyebabkan apa yang kami miliki, apa yang kami perbuat, disebut subversif; ya, karena segala rahasia zaman kita yang sangat memalukan dibongkar secara mendalam, habis-habisan, oleh integritas seniman pemberontak yang peduli pada kehidupan di sekitarnyadengan demikian, tema dan karakter yang ditulisnya, tak terelakan lagi, dibentuk oleh tekanan dan penyimpangan masyarakatnyaNadine Gordimer.

 

Perlawanan Terhadap Apartheid

Nadine Gordimer, lahir tahun 1923, dijuluki “Gerilyawati Imajinasi”, menjadi orang Afrika Selatan pertama dan perempuan ketujuh yang dihadiahi Nobel bidang sastra.

Lebih dari setengah abad, Nadine telah menulis 13 novel, lebih dari 200 cerpen, dan beberapa jilid esay. 10 buku telah ditulis mengenai karyanya, dan lebih dari 200 esai kritik tertera dalam bibliografinya.

Karya-karya Nadine telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa. Ia telah menerima 15 gelar doktor kehormatan dan telah menerima penghargaan utama dalam bidang sastra. Dan ia telah banyak mendorong, mendukung, banyak penulis.

Bertahun-tahun, banyak orang berkunjung ke rumahnya untuk memberikan informasi, memohon, dan memberikan pengakuan. Ia telah begitu dalam terlibat dalam perjuangan anti-Aparteid sehingga banyak orang ingin tahu bagaimana ia mengatur integritasnya dan meneliti masyarakat Afrika Selatan dengan mata yang begitu jernih dalam cerita-ceritanya. Walaupun ia terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi, memberikan pidato, ceramah, dan melakukan perjalanan internasional demi perjuangannya, Gordimer tetap memiliki waktu untuk memelihara studinya, sejak pagi hingga menjelang makan siang. Menurut kawan lamanya, Anthony Sampson, ia tak mudah mendapatkan kawan tapi, saat ia berkawan, selalu ia pertahankan seumur hidup.

Nadine mengalami dekade suram, namun demikian tak mau meninggalkan negerinya seperti yang lainnya. Suaminya, Reinhold Cassirer, adalah suaka politik dari kejaran Nazi Jerman, yang telah mengabdi pada angkatan darat Inggris dalam Perang Dunia II. Anak perempuannya menetap di Prancis, Anak lelakinya di New York; tapi ia tetap berjuang di Afrika Selatan, selain demi pembebasan kaum hitam, juga demi meningkatkan kreativitasnya dan membantu para penulis Afrika Selatan yang selama ini diam—karena itu lah, ia yang harus bicara.

Penghargaan Nobel yang diterima Nadine memberikan cahaya bagi negerinya yang sedang melalui transisi menyakitkan dari penindasan rasisme menuju harapan demokrasi. Sastra Afrika Selatan sebenarnya begitu kayanya. Tapi, tak diragukan lagi, Nadine adalah penulis yang paling pembangkang, paling keras kepala, yang terus menerus mengungkapkan wajah asli rasisme ke hadapan kita, dalam kompleksitas kemanusiaannya.

Selama lima puluh tahun Nadine telah melakukan perlawanan tehadap Aparteid dan membantu perjuangan rakyat di seluruh Afrika Selatan. Karyanya mencerminkan gelombang kejiwaan negerinya, arah dari kepasifan dan kebutaan menuju perlawanan dan perjuangan, walau harus menjalin perkawanan dengan kaum hitam (yang dilarang didekati oleh rejim rasis), melanggar sensor atas jiwa-jiwa, dan masuk dalam jaringan bawah tanah. Ia menulis seolah-olah tak ada sensor dan seolah-olah ada pembaca yang mau mendengarkannya. Karakternya ada dalam persimpangan sejarah masa kini.

Nadine telah menciptakan individu-individu yang sanggup menentukan pilihan moralnya, baik di belakang pintu maupun di depan umum. Ia telah melukiskan latar belakang sosial dengan tajamnya, penuh keakhlian ketimbang yang disuguhkan oleh ilmuwan politik, karenanya menyediakan pandangan terhadap akar perjuangan dan mekanisme perubahan yang tak bisa ditandingi oleh seorang sejarawan pun.

Nelson Mandela dan Kongres Nasional Afrika (African National Congress/ANC)

Sejak awal karirnya, sebelum penulis-penulis kulit putih lainnya, Nadine telah banyak mengambil hikmah dari politisi-politisi dan intektual-intelektual Soweto, lingkaran tempat Nelson Mandela beraktivitas. Sahabat Nadine, Bettie du Toit, dipenjara tahun 1960, dan itu lah saatnya ia masuk dalam perjuangan politik. Saat Mandela dan kawan-kawannya dihukum seumur hidup, ia menjadi kawan dekat penasihat hukum Mandela, Bram Fuscher (tokoh dalam karyanya Burger’s Daughter/Anak Perempuan Burger) dan George Bizos. Sungguh, hari kebanggaannya, menurutnya, bukan saat ia diberi penghargaan Nobel (yang dia haturkan untuk organisasi Kongres Penulis Afrika Selatan), tapi saat ia memberikan kesaksian di pengadilan Delmas tahun 1966, untuk menyelamatkan hidup 22 anggota ANC, yang didakwa makar. Saat Mandela dibebaskan, Nadine adalah salah seorang yang bergairah menjumpainya. “Adalah aneh hidup di satu negeri di mana masih ada pahlawan” (Burger’s Daughter).

Ketika ditanya apa yang akan ia tulis setelah Aparteid  dihapuskan, Nadine menjawab, “Hidup tak selesai bersama Aparteid; hidup baru sedang dimulai.” Dalam novelnya pada pertengahan 1990-an, None to Accompany Me (Tak Ada Seorang Pun yang Menemaniku dan The House Gun (Rumah Bersenjata Itu), Nadine membuktikan bahwa, ternyata, ada kehidupan sastra setelah dihapuskannya Aparteid. Pada kenyataannya, imajinasinya tak terbatas; buku-bukunya bisa menangkap kemunafikan sosial pada masanya.

Ras dan Jender

Tugas seorang penulis adalah menrasformasikan pengalaman, memasuki eksistensi orang lain, apakah ia berkulit hitam atau pun berkulit putih, lelaki atau pun perempuan, dan berpengharapan baik dengan berpartisipasi maupun berdiri di sampingnya. Tanpa mengenal lelah dan dengan disiplin ketat, Nadine sanggup mendudukkan dirinya di tengah, juga masuk ke dalam pribadi seorang kriminal maupun ke dalam pribadi seorang Santo, lelaki maupun perempuan, hitam atau pun putih. Ia sendiri berisikan berbagai pribadi dalam satu tubuh: ia tumbuh berbahasa Inggris di kota pertambangan Springs, seorang perempuan Yahudi dari sekolah konvesional Katolik, yang kemudian dididik di rumah. Kesepian, dengan ibu yang terlalu pengawas, tiran, ia menulis sejak umur muda dan mempublikasikan cerita dewasanya ketika berumur 15 tahun.

Bapaknya seorang Yahudi, tukang jam dari perbatasan Latvia dan Lithuania. Ia membuka toko jam di Springs, di Tranvaal, dan menjual piala-piala untuk klub menembak, juga menjual cincin perkawinan. Bapaknya tak senang membaca.  Ibunya keturunan orang London, membacakan buku keras-keras padanya. Prihatin atas perlakuan terhadap kaum hitam, ibunya mendirikan semacam sekolah perawat untuk anak-anak hitam. Bapak Nadine, di sisi lain, tak peduli sama sekali, tak mau ambil pusing walau banyak orang mengingatkan penindasan terhadap bangsanya oleh T’sar Rusia. Itu lah dunia yang ia gambarkan dalam karyanya The Lying Days (Hari-hari Kebohongan). Tanpa perpustakaan di kota kecil itu, Nadine mungkin tak akan menjadi penulis; ia sangat prihatin karena orang-orang berkulit hitam tak bisa masuk ke perpustakaan kotanya.

Novel adalah Sejarah

The Lying Days, yang diterbitkan tahun 1953,  adalah tentang penduduk asli kota kecil kolonial. Nadine menulis “berpiknik di pekuburan indah, tempat orang dikubur hidup-hidup.”  Afrika Selatan hanya dilihat sebagai masyarakat pendudukan kulit putih Eropa, dengan kota kelas menengahnya, berlibur di hari minggu, dan tak peduli, buta, terhadap apa yang terjadi di bawah permukaan. Orang-orang berkulit hitam dilihat seolah-olah sekadar sebagai pelayan orang-orang kulit putih, baik dalam industri maupun di perumahan. 

“Novel adalah sejarah, berbeda dengan novel sejarah,” demikian menurut Nadine. Pandangannya protagonis dan selalu berubah-ubah. Mungkin Hillela, pemberontak seksual, amoral dan intuitif, yang melindas Aparteid dalam dunia personalnya; atau Bray dalam A Guest of Honour (Tamu Agung), lelaki baik, seorang liberal yang rentan, yang mengkhianati imperium lama—yang memandangnya terlalu radikal—dan yang ditelikung oleh dunia yang baru, yang melibasnya, menginjak-injaknya. Melalui novel-novelnya, kesadaran historis Nadine tumbuh. Dalam karyanya A world of Strangers  (Suatu Dunia Orang-orang Asing), kita dihadapkan pada dilema pemaknaan (yang positif) tentang liberalisme; sementara dalam karyanya Occasion for Loving (Saat untuk Bercinta) (1963), ditunjukkan bagaimana pandangan seorang humanis lah yang tak bisa dicurangi oleh kata-kata Aparteid yang memabukkan. Karya The Late Bourgeois World (Dunia Borjuis yang Lapuk), 1966, mencerminkan keputusan Nelson Mandela untuk merubah perlawanan pasif menjadi perlawanan sabotase.

Nadine masuk menjadi anggota ANC saat organisasi tersebut masih bergerak di bawah tanah, dan ia tak sabaran dengan kaum putih yang menuduh ANC berkencenderungan otokratik tapi sambil tak mau masuk untuk merubahnya. Nadine sendiri seorang yang loyal dan kritis, seluruh waktunya ia curahkan untuk menjaga integritas imajinasinya. Inspirasinya lah, bukan karena gairahnya, yang sangat membahayakan (namun terhormat) dalam kontradiksi masyarakat Afrika Selatan saat ini.

Cinta, Politik, dan Pencarian Identitas

Awal tahun 1959, Nadine baru saja mempublikasikan karyanya A World of Stragers, dan beranjak dari eksplorasi yang dituangkan dalam The Lying Days (1953) ke fokus gerakan anti-Aparteid (yang sedang berkembang) serta gerakan multirasisme. Novel ketiganya, Occasion for Loving bertalian dengan kegagalan toleransi dan humanisme. Novel keempatnya, The Late Bourgeois World, tentang pilihan antara idealisme naif  para penyabot dan sinisme kaum liberal pasif.

Pada tahun 1971, Nadine mepublikasikan A Guest of Honour, novel panjang tentang mentalitas Afrika baru. Sejarah individu dan perspektif ideologi yang mengagumkan bercampur baur menjadi suatu kronik, yang watak pertentangannya berhasil diramu, dibekukan, dalam problem sosial, politik dan moral, yang tumbuh ketika front pembebasan (yang menang) terpecah ke dalam faksi-faksi. Idealisme dan keinginan baik hampir selalu dicemari oleh brutalitas baru dan korupsi serupa seperti di bawah kekuasaan kolonial. Maksudnya, sehubungan dengan formulasi kebijakan dan tawar-menawar di belakang-pintu, penggunaan jargon-jargon serikat buruh, bahasa lokal yang didesakkan ke bahasa Inggris, ironi para pemukim liar dan slogan-slogan nasionalis.

The Conservationist (Kaum Pemasung), yang memenangkan Penghargaan Buku terbaik tahun 1974, mengangkat tentang sterilitas masyarakat kulit putih. Novel ini layaknya lanjutan dari sastra klasik Afrika Selatan, The Story of an African Farm (Cerita Tentang Seorang Petani Afrika) (1883), karangan Olive Schreiner, atau bisa juga disandingkan dengan novel mengagumkan lainnya yang peduli tentang perkebunan karangan J.M. Coetzee.

Burger’s Daughter (1979) merupakan suatu persembahan yang disamarkan untuk Bram Fischer, seorang pengacara komunis yang dihukum seumur hidup dan yang namanya tak diizinkan disebut-sebut. Nadine sendiri tak pernah mengaku menggambarkannya walau anak pengacara tersebut mengenali gambaran kehidupan yang diceritakan di novel, gambaran seorang pribadi publik yang disembunyikan. Tantangan bagi Nadine adalah bertarung melawan kebohongan para pejabat, melihat apa yang ada di baliknya. Selain itu, ia juga bermaksud menggambarkan seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, bagaimana sosok orang kiri kulit putih Afrika Selatan.

Karya utamanya, July’s People (Orang-rang di Bulan Juli) (1981), berkaitan, dalam beberapa kadar simbolik, dengan nasib individu dan pilihan menyakitkan yang dipaksakan pada rakyat/pribadi oleh ideologi yang tak berperikemanusiaan. Sedangkan dalam karya utama lainnya, My Son’s Story (Cerita Anakku) (1990), Nadine menggambarkan peristiwa yang tak terduga: saat kaum revolusioner berhasil mengangkat gerakan anti-Aparteid ke permukaan. Karakter utama novel tersebut, seorang lelaki ras campuran bernama Sonny, yang terjebak antara menjadi seorang guru atau politisi, seorang ayah dan suami. Karakter yang sedang bertransisi, apalagi ketika masuk dalam kolektif perjuangan. Melalui dia dan tokoh-tokoh lainnya, Nadine, sedang berdialog dengan masa depan, tentang kekosongan dari kekuasaan (yang layak) yang mengatur kita di tahun-tahun mendatang.

Nadine pandai menggambarkan situasi realitas yang tiba-tiba berubah ke haluan lain, dan kita ditantang untuk memberikan peranan dan pengharapan, yang terjebak dalam warna kulit, kelas, keluarga, dan diri sendiri. Ia begitu asyik kemasyuk dengan mereka yang berusaha keluar dari perangkap: apa yang menyebabkan seorang ibu rumah tangga perkotaan menjadi agen gerakan bawah tanah; pengacara yang mengorbankan hidupnya demi masa depan masyarakat yang lebih baik, bukan sekadar gambaran seorang arsitek yang menyembunyikan pejuang kulit hitam? Bagaimana kesetiaan dan pengkhianatan berinteraksi dalam gaya erotik dan dalam konteks politik.

Dalam karya tersebut, Maureen dan Bramford Samles, seorang arsitek dan seorang ibu rumah tangga bekas penari, dengan 3 anak, memiliki rumah yang bagus di perkotaan, dan pelayan yang bernama July. Suatu gambaran ke depan: pelayannya menyembunyikan keluarga tuannya dari malapetaka. Selama 15 tahun, July, yang punya keluarga di pedesaan, telah seperti anak lelakinya. Dalam karya tersebut Nadine menggambarkan masa depan revolusi Afrika Selatan yang berdarah, yang tak pernah mencapai kebahagiaan. Tapi, kemudian, pemilihan umum tahun 1994, menarik mundur negeri tersebut dari perang saudara.

Nadine menggambarkan pemilihan tahun 1994: “Berhasil hidup menyaksikan akhir cerita, dan menyaksikan bagian kecil darinya, adalah sesuatu yang sangat indah dan luarbiasa. Seperti kelahiran saja. Bayi yang kepalanya nongol dari saluran kanal Afrika Selatan, yang akan membentuk kepala, mentalitas, dan semangat, yang dipaksa menjadi bentuk yang aneh oleh hukum-hukum yang tak lazim.”

Karya Nadine  A Sport of Nature (Olahraga Hakikat) (1987), dianggap sebagai “novel  adalah sejarah”. Ia bercerita tentang Hilela,  yang hendak membuktikan seksualitasnya dan masuk dalam perjuangan politik; pejuang, pahlawati yang pandai dan sensual. Pada Hilela, Nadine menemukan karakter fiksi yang ia sangat sayangi.

Tema besar Nadine adalah cinta, politik, dan pencarian identitas. Di balik relasi akrab pribadi, sebagaimana juga di hadapan publik terbuka, terdapat upaya pencarian identitas yang sama, konfirmasi-diri, harapan memiliki dan eksis. Bagi Nadine, novel dan cerita pendek adalah alat untuk masuk dalam masyarakat yang sedang mempertahankan diri dari kezaliman—yang berlindung dalam sensor dan kemunafikan, menolak mengakui sejarahnya, sehingga menghasilkan tata bahasa kebohongan—hingga kapitalisme, liberalisme, dan Marxisme bermakna sama saja: siksaaan bagi masyarakat. Ia masuk ke rakyat dari wilayah yang paling diakrabinya, untuk menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi dilanggar oleh kaki-tangan intel dan pendaftaran ras. Polisi sudah terbiasa masuk ke kamar pribadi rakyat, mengobrak-abrik isinya, merampas surat-surat dan buku harian, sebagaimana Nadine remaja melihatnya sendiri saat polisi merangsek kamar pembantunya dalam rumah keluarganya.

Karakternya hidup dalam bayangan kekerasan, diserang oleh brutalitas yang tak terduga. Ras, kelas, pengakuan dan etika adalah unsur-unsurnya. Melalui bahasa dan karakterisasi tanpa gentar, Nadine menjadi tandingan propagdanda rejim. Tak sentimentil dan diagnostik, ia melaporkan dari hati yang gelap.

Di negeri yang telah lama takut akan pemikiran dan orientasi baru, Nadine telah merangkum segala lapisan prejudis dan egoisme; ia menggali akar nasib biasa-biasa saja (yang rentan), dan melumuri kita dengan warna dunia Aparteid yang tak bisa ditutup-tutupi lagi.

Karakter

Karya The House Gun (1998) secara moral sangat kompleks, cerita bergerak dari Afrika Selatan yang telah terbebaskan. Seorang kulit putih yang dibunuh mungkin sekarang dibela oleh pengacara kulit hitam; pada kenyatannya, memang ada seorang kulit hitam yang sangat terdidik, memiliki kecerdikan, dan keluarga yang senang membaca—tempat ia mencari penyelamatan jiwanya dan untuk meredefinisikan makna hidupnya. Anaknya, yang ia cintai, telah membunuh seorang lelaki karena cemburu. Natalie, gundiknya, memiliki dorongan membunuh, suka merusak diri dan memberontak terhadap setiap masukan.  Karya ini mencerminkan fakta meningkatnya kekerasan di dunia. Senjata dibeli layaknya komoditas lainnya, seperti di negeri-negeri AS, Inggris, Prancis, atau Jepang, hingga menyebabkan kekerasan domestik/dalam rumah tangga, kadang-kadang terhadap anak-anak, dengan konsekuensi tragis.

Gaya dan perspektif Nadine lebih kompleks dalam novel-novel terakhirnya, mencerminkan kata-katanya yang menampung dialektika penulisnya: semangat asyik kemasyuk yang sangat dalam dengan identifikasi terhadap hidupnya dan hidup orang lain. Dan tragedi lagi? Di mana zaman kita? Mana batas tanggungjawab kita terhadap realitas orang lain?

Nadine tak gentar menggambarkan perempuan sebagai pribadi yang pandai luar biasa dan memiliki perasaan yang indah, namun ada juga yang vulgar. Misalnya saja pengacara hak azasi manusia, Vera Stark, dalam karyanya None to Accompany Me. Ia sangat membutuhkan lelaki yang memiliki komitmen terhadap apa yang ia anggap penting—tanggung jawab terhadap perjuangan pembebasan dan perasaan dirinya.

Vera Stark ingin mencari makna “apa yang diinginkan orang lain sehingga mereka gandrung kebebasan”, yang tak bisa ia dapatkan dari suaminya. Karenanya, ia berkesimpulan bahwa kemanusiaannya akan lebih sejati bila ia hidup tanpa suaminya. Ia begitu terlibat dalam pergelutan kesadarannya, pada masa lugunya, karena ia tak bisa mengerti tentang pemberontakannya. Hidup—kesendirian tak ada yang menemaniku—di tengah-tengah aktivisme komunitas dan kerjanya membela seorang yang dikorbankan, didakwa oleh hal-hal yang bertentangan dengan dirinya. Ia kini mencari arena pertarungan. Dan, dalam pertemanannya dengan orang-orang yang penuh resiko mengorbankan nyawanya, Vera menjadi lebih dekat pada kawan-kawan kulit hitam ketimbang suaminya.

Kekuatan Nadine, di situ atau dalam karya yang mana pun, adalah keberanian menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit dan padat namun bisa memberikan bentuk tanpa menawarkan parasmanan jawaban—bagaimana bisa seseorang menjaga tangannya bersih saat bekerja menentang rejim yang kotor.

Kebenaran Fiksi

Nadine berkarya dalam dimensi imajinasi, masuk sedalam-dalamnya ke misteri pengalaman manusia. Ia mewanti-wanti dunia bahwa Aparteid bisa menyebabkan seorang tak berdosa menjadi kriminal. “Aku lebih benar mengatakannya dalam karya fiksiku ketimbang dalam esay dan artikelku.  Fiksi bisa melampaui segala hal yang tak dikatakan orang-orang atau diri kita sendiri… selalu saja, tak disadari, terdapat sensor diri dalam non-fiksi. Dalam beberapa makna, penulis ditetapkan oleh subyeknya—area kesadaran yang ia miliki.”

Saat ini, Nadine hidup dan menulis dalam masyarakat setengah jadi, yang sebelumnya hampir tak ada. Kaum hitam dan kaum putih setuju menanamkan demokrasi multi-ras dengan keyakinan dan karya mereka.  Tapi, sisa-sisa lama, peninggalan Aparteid masih tercermin dalam bentuk pembunuhan di jalanan, pembantaian geng, dan perampokan bersenjata.

Teritori Nadine selalu di perbatasan antara emosi pribadi dan kekuatan eksternal. Tak ada zona netral tempat orang beristirahat tanpa diperiksa lagi. Dalam tanah kebohongan, setiap orang memiliki dua kehidupan. Hanya cinta, dimensi erotis, pendirian untuk membela semacam kebebasan, merupakan gemerlapnya, gilang gemilangnya eksistensi yang mendekati kebenaran.  Di luar kamar pecinta kebebasan, terdapat masyarakat, keserakahan,  imoralitas, tempat empati dan tanggungjawab terhadap orang lain, apapun warna kulitnya, jarang didapat. Jadi, setiap pertemuan untuk saling mengasihi menjadi instrumental dan absur. Dalam karya-karyanya yang lain, Nadine mengingatkan kita bahwa masa depan Afrika Selatan bukan sekadar pertanyaan tentang persamaan memilih bagi semua orang tapi sesuatu yang memerlukan upaya keras untuk menciptakan semangat masyarakat sipil, sehingga rakyat bisa saling tatap.

Tanggung jawab cinta dan hilangnya pengertian, lepas kendali atas dunia karena berakhirnya cinta, adalah tema utama dalam semua karya-karya Nadine. Dia adalah seorang moralis, dan Alfred Nobel pasti sepakat. Menurutnya, hidup tanpa komitmen adalah hidup yang tak ada gunanya. Tokoh revolusioner dan pembela hak-hak azasi manusia, dalam karyanya, mungkin menghadapkan padanya problem-problem, tapi mereka tak pernah menyerah. Dalam novel-novelnya yang terakhir, banyak diungkapkan orang-orang dengan enerji dan visi, tapi juga orang-orang yang tak bisa melihat jernih—awalnya perempuan, kemudian sering lelaki. Nadine nampaknya menjaga agar karakternya memiliki suatu jarak dalam rangka memelihara makna ketidaktahuan. Kita mungkin menemui, sebagaimana yang Andrè Brink katakan, “seseorang yang berusaha mati-matian mencapai pengertian namun dihadapkan pada misteri untuk membuka ruang sadar yang tak diharapkan seseorang sebelumnya. Kepedulian sejatinya melewati batas-batas masalah pada zamannya, untuk menguji batas hubungan kemanusiaan dan bahasa itu sendiri.”

Misi Penulis 

Rumahnya, didirikan lebih lama dari rumah-rumah lain sekitarnya, buku-bukunya, lukisan-lukisannya, kerajinan-kerajinan Afrika yang dikumpulkannya atau oleh suaminya selama tahunan, aromanya, gaya ia melangkah ke dapur dan di taman. Rumahnya layaknya tempat retret. Sebatang pohon besar merimbuninya. Polisi tak pernah merangsek rumahnya, walau ia menyembunyikan pejuang-pejuang ANC saat ada kewasapadaan nasional untuk menangkapi mereka.

Dalam pidato penyerahan nobelnya, Nadine mewanti-wanti para penulis, bahwa mereka akan menghadapi dua resiko, hujatan pemerintah yang mengatakan penulis sebagai pengkhianat; dan keluhan gerakan pembebasan yang mengatakan mereka telah gagal memberikan, menunjukkan, loyalitas buta. Tapi ia menjelaskan, “Penulis mengabdi pada kemanusiaan hanya sepanjang ia memanfaatkan kata-kata untuk juga melawan loyalitasnya.” Jadi, paragraf kunci dalam buku pengajaran di Harvard, Wtriting and being (Menulis dan Jati Diri) (1994, hal. 130), adalah:

Hanya melalui eksplorasi sebagai penulis lah aku bisa memulai perjuangan menemukan dinamika kemanusiaan di mana aku lahir dan kapan  saat aku harus bertindak. Hanya dalam dimensi yang penuh pengetahuan lah, imajinasiku bisa mengumpulkan apa yang tadinya telah berserakan; menyatukan semua bentuk pengalaman kehidupan, milikku atau milik orang lain, karena tanpa itu seluruh kesadaran tak bisa digapai. Aku harus menjadi bagian dari transformasi di mana aku menetap, agar aku tahu jati diriku.

Leave a Reply