SHARE
Para petani yang tergabung dalam Serikat Petani Galela.

Tobelo, 16 Maret 2018—Akhir-akhir ini sudah dua kali polisi yang mengendarai mobil perusahaan PT KSO Capitol Casagro, menakut-nakuti petani dengan menembaki petani yang sedang berkumpul.

Bertempat di bangsaha depan sekretariat Serikat Petani Galela (SPG), sekitar 200 petani dan mahasiswa melakukan rapat akbar, Rabu, 14 Maret 2018. Dengan mengendarai mobil PT KSO Capitol Casagro, sekitar delapan polisi melintas sambil menembakkan peluru hampa untuk menakut-nakuti petani.

Hal serupa juga terjadi satu hari sebelumnya, 13 Maret 2018. Hari itu petani dan mahasiswa tengah berkumpul sambil minum kelapa muda di samping kanan sekretariat SPG. Polisi melintas dan menembakkan peluru hampa lalu tertawa di atas mobil.

Menurut keterangan beberapa petani yang tidak ingin disebutkan namanya, kejadian tersebut sudah berulang kali terjadi. Aparat kepolisian, yang berposko di area yang diklaim PT KSO, menakut-nakuti petani dengan bunyi tembakan senjata api.

Sejak kehadiran PT KSO, petani dianggap menyerobot lahan yang diaku PT KSO. Padahal sebaliknya, PT KSO meneror petani menggunakan aparat kepolisian untuk menjual lahannya dengan harga murah, memberikan somasi kepada petani untuk secepatnya meninggalkan lahan, bahkan petani dianggap mencuri lahan PT KSO.

Kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian ini juga diamini oleh Pemda Halmahera Utara, 2 Maret 2018. Saat itu petani melakukan pemboikotan di depan PT KSO, menuntut agar petani tidak diancam lewat somasi disertai teror dan meminta agar PT KSO tunduk terhadap keputusan nota kesepakatan tanggal 19 Desember 2017. Nota itu menyatakan menyatakan bahwa “selama sengketa tanah ini belum selesai, PT KSO tidak bisa beroperasi”. Namun hingga sekarang PT KSO masih melakukan kerja produksi, di samping melakukan ancaman terhadap petani.

Hari kelima (4 Maret) pemboikotan di depan PT KSO itu dibubarkan paksa oleh ratusan aparat kepolisian. Massa petani dan mahasiswa dipukul sampai ada yang pingsan, ibu-ibu yang mengamankan mahasiswa ditendang berdarah, bahkan diludahi oleh aparat kepolisian. Barang-barang petani di sekretariat pun dihancurkan, sisanya dibuang. Beberapa pakaian petani, tas, dan alas tidur dirobek-robek lalu diangkut oleh kepolisian.

Bagi mahasiswa yang bersama petani Galela, aparat kepolisian tidak saja menjadi pengaman modal, tapi juga menjadi anjing di hadapan petani, karena terus-menerus mengintimidasi petani yang menuntut haknya.

(Ajun Thanjer/Nang)

Leave a Reply