SHARE

Oleh Ajun Thanjer

 

“Satu Mei tak kenal batas negri. Satu Mei tidak terpetjah belah oleh Tembok Besar Tiongkok atau oleh Samodera Atlantik. Ia satu! Satu, sebagai pernjataan Rakjat pekerdja sedunia jang memenuhi seruan Marx: Proletar sedunia, bersatulah!” –Njoto, “Renungan Satu Mei” (Harian Rakjat, 1952)

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.” –Pramoedya Ananta Toer, Anak Semua Bangsa

Dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional (May Day) dan juga Hari Pendidikan Nasional, maka saya coba menulis bagaimana posisi mahasiswa dalam perjuangan kaum buruh. Karena kenyataannya, dalam keseharian, mahasiswa memiliki banyak waktu untuk belajar dan melihat secara langsung situasi perkembangan masyarakat. Lain halnya dengan kelas buruh atau rakyat tertindas lainnya (seperti petani, nelayan, dll), yang tidak memiliki banyak waktu untuk belajar, sebab sehari-hari disibukkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Lalu Mahasiswa Harus Terlibat dalam Perjuangan Buruh?

Pertanyaan itu penting kita refleksikan agar peringatan May Day dan Hari Pendidikan Nasional tidak sekadar menjadi perayaan para aktivis serikat buruh atau aktivis pergerakan mahasiswa. Tetapi juga mampu menjadi kekuatan yang efektif untuk menghadapi perkembangan kapitalisme yang kian menindas.

Awalnya, 1 Mei adalah hari ketika buruh menuntut pengurangan jam kerja. mereka menuntut dengan aksi massa dan rapat akbar yang serius, bukan aksi basa-basi, apalagi pesta atau semi-pesta. Mereka diprovokasi, difitnah, diadili pengadilan dagelan, divonis mati dan seumur hidup. Mereka terus-menerus menuntut (dengan aksi massa dan rapat akbar) secara militan. Akhirnya mereka menang, dan hasilnya bisa dinikmati hingga generasi sekarang.

Hari Buruh Internasional diperingati di Indonesia, seperti juga di belahan dunia lain. Namun, di Indonesia, sehari setelahnya, diperingati juga Hari Pendidikan Nasional yang, seperti May Day, menjadi ajang konsolidasi gerakan mahasiswa untuk mendemonstrasikan aspirasi politiknya.

Dua hari yang bersebelahan tersebut sudah seperti menjadi “hari raya”. Buruh merayakan May Day dengan demonstrasi pada tanggal 1, sementara keesokan harinya, mahasiswa (dan mungkin juga pelajar) menggelar aksi-aksi demonstrasi.

Persoalannya, pada dua “hari raya” buruh dan mahasiswa itu, kita melihat fenomena yang agak ironis: tuntutan yang diajukan di dua perayaan tersebut sering kali tak jauh berbeda. Namun, tidak pernah ada titik singgung dan titik temu untuk kepentingan bersama dan tujuan bersama. Padahal kelas buruh berkepentingan terhadap akses pendidikan dan mahasiswa berkepentingan untuk terlibat dalam gerakan rakyat; buruh menuntut isu-isu yang berbasis pada kesejahteraan hidup mereka, sementara mahasiswa juga sama.

Ironis, sebab kondisi demikian membuat gerakan rakyat menjadi terfragmentasi; tidak pernah ada titik singgung yang mempertemukan kepentingan mereka masing-masing. Antara mahasiswa dan buruh sering tidak ada kata sepakat untuk tujuan bersama yang lebih besar: kesejahteraan umum.

 

Mahasiswa dan Buruh Melawan Kapitalisme

Mahasiswa memiliki relasi strategis dengan kelas buruh karena persamaan nasib akibat eksploitasi kapitalisme. Sistem kapitalisme tidak saja menghisap kelas buruh di pabrik-pabrik, tidak saja merampas tenaga buruh untuk mengakumulasi modal dan keuntungan sebesar-besarnya. Kapitalisme pun turut meracuni dunia pendidikan.

Dalam kapitalisme, kampus menjadi sarana penting untuk menciptakan tenaga kerja yang terdidik, yang dapat mempertahankan corak produksi kapitalisme di masa yang akan datang.  Karena sejatinya, kampus adalah ladang subur, bibit masa kini untuk memenuhi kebutuhan industri. Mahasiswa adalah entitas yang tengah disiapkan menjadi buruh. Maka sudah selayaknya gerakan mahasiswa saat ini mengambil posisi bersatu dengan gerakan buruh dan tidak elitis menjauhkan posisi mahasiswa dengan buruh. Mahasiswa harus menyatukan kekuatan gerakan mereka dengan gerakan buruh untuk kepentingan bersama: menumbangkan kapitalisme.**

Leave a Reply