SHARE

Oleh Korsa 

‘Militerisme kontol!’ teriak salah seorang penonton dalam sebuah crowd skena konser musik punk di Kota Bandung, akhir Desember 2017 kemarin. Kaitan antara punk dan anti-militerisme memiliki sejarah panjang, khususnya punk sebagai bagian dari gerakan anarkis. Tapi sebelum itu, kita mesti melihat bagaimana punk lahir. Sebagai People United Not Kingdom [disingkat PUNK, red.], punk muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap kekuasaan kerajaan, dalam konteks saat itu adalah Kerajaan Inggris.

Sejak kelahirannya, punk telah menyatakan diri sebagai gerakan yang tegas untuk menunjukkan perlawanan terhadap penguasa. Dapat dikatakan, menjadi punk adalah soal praktik menjadi punk, bukan hanya ada di dalam kepala. Punk adalah sebuah bentuk performatifitas perlawanan, yang diekspresikan melalui musik, artwork, zine, syair hingga fashion.

Cara-cara punk cenderung tidak mengindahkan bentuk yang sudah mapan, atau sederhananya anti-estetika. Namun, anti-estetika yang dipakai punk ini pun terkadang menjadi bias, terkesan sloganisme dan idealis. Padahal konteks anti-estetika yang diteriakkan punk di fase awal (misal: Sex Pistol tahun 1980-an) sebenarnya merupakan semangat melawan kultur kemapanan yang ada. Kultur mapan yang dimaksud adalah tradisi artistik-estetik seni arus utama, karya-karya khas borjuis dan tidak menyuarakan fakta bahwa ada penindasan yang terjadi. Yang diserap oleh artistik-estetik arus utama hanya kehidupan surga-dunia yang profan itu, seolah dunia baik-baik saja.

Fashion bagi punk juga bukan sebentuk penegasan kelas, seperti hegemoni borjuis tentang fashion. Rambut mohawk, piercing, patch, tattoo, dan sepatu bot tinggi adalah cara punk menegaskan ketidaksepakatan mereka terhadap kultur mapan yang ada. Kultur yang muncul dari kekuasaan yang korup, sumber daya alam yang hanya dikuasai minoritas, dan mayoritas orang dimiskinkan oleh sistem yang bernama kapitalisme.

Alasan ini muncul karena gerakan punk fase awal memang lahir dari anak-anak yang berasal dari keluarga kelas pekerja. Semangat perlawanan yang sangat sadar-kelas. Bahwa orang-orang miskin (proletariat) tidak tercipta alamiah seperti doktrin kaum moralis yang beredar secara umum. Mereka tersistemasi, diciptakan oleh kapitalisme. Para penguasa itulah yang oleh punk disebut sebagai ‘kaum mapan’, musuh yang harus dilawan. Lalu bagaimana fungsi punk dalam perjuangannya yang konkret dan dari mana kita bisa melihat benang merah antara punk dan ideologi anti-militerisme?

 

Perzinahan Militerisme dalam Masyarakat Berkelas

Militerisme bukan lahir di zaman kapitalisme. Jauh sebelumnya, militerisme telah memapankan dirinya menjadi sebuah bentuk (suprastruktur) yang bertujuan untuk mempertahankan dominasi kekuasaan hingga kebudayaan. Seperti yang diungkapkan oleh Liebknecht, militerisme adalah sebuah fenomena yang mengakar dalam masyarakat berkelas, ia bersifat adaptif; mampu menyesuaikan diri dengan tatanan masyarakat, tergantung pada kondisi alam, politik, sosial, dan ekonomi dari suatu negara atau teritori. Dengan demikian, militerisme telah muncul sejak hadirnya tatanan masyarakat berkelas.

Militerisme, yang lagi-lagi diungkapkan oleh Liebknecht, dalam sistem tatanan masyarakat berkelas, kelas penguasa akan menggunakan perangkat-perangkat suprastruktur untuk mempertahankan dominasi sosial. Namun apakah perangkat-perangkat suprastruktur yang di dalamnya adalah budaya, agama, sekolah, hukum, mampu memastikan bahwa dominasi sosial yang dibuat oleh kelas penguasa bertahan? Nyatanya, semua perangkat tersebut belum bisa memastikan bahwa dominasi sosial yang dilakukan bisa bertahan. Maka, digunakanlah senjata untuk memastikannya.

Awalnya, dalam masyarakat komunal primitif, yang belum mengenal adanya pembagian kelas, persenjataan digunakan untuk menopang kehidupan suatu komunitas masyarakat: memperoleh makanan (berburu, menggali akar-akaran), juga digunakan untuk melindungi diri dari binatang buas dan serangan dari suku musuh. Di struktur kehidupan masyarakat komunal primitif belum terjadi dominasi ekonomi dan politik, maka senjata belumlah dipergunakan untuk menopang dominasi tersebut.

Lalu, ketika tatanan masyarakat berkelas mulai muncul, seperti pada masa perbudakan misalnya, senjata dipergunakan oleh para tentara kerajaan untuk menjaga agar para budak tidak kabur. Seiring dengan majunya zaman, militerisme yang bersifat adaptif terus berkembang mengikuti tatanan masyarakat yang ada. Dalam sistem kapitalisme, militerisme memiliki ciri khas yang khusus. Ia memiliki dua tujuan: ekspansi komersial dan politik.

Contohnya adalah Amerika Serikat (AS). Dengan kekuatan militer yang kuat, AS menebar teror dengan menginvasi negara-negara seperti Afganistan, Irak, Libya. Invasi ini diamini dengan dasar penyebaran embel-embel ‘menegakkan’ demokrasi, yang diam-diam merupakan iklan produk-produk militer dan etalase alutsista yang diharapkan menjadi tren negara-negara lain. Kita bisa menyimpulkan bahwa kebijakan ekspansi kapitalis dan kebijakan kolonialisme, telah menanamkan ranjau-ranjau yang tak terhingga jumlahnya, bersembunyi di bawah ketiak perdamaian dunia yang akan meledakkan ribuan nyawa manusia yang tak berdosa.

Sehingga, fungsi militer, selain menjadi alat kolonial untuk merampas sumber daya alam di negara lain, juga menjadi pembuka bagi pasar persenjataan dunia. Lalu, di manakah nyawa manusia dalam korban perang itu? Mereka menjadi tumbal atas tren perang yang diciptakan dalam rangka pasar persenjataan dunia.

 

Benang Merah Melawan Militerisme

Prinsip punk, sebagai sub-kultur dari gerakan perlawanan, tak mungkin dilepaskan dari sejarahnya dalam menentang kekuasaan yang menindas, menciptakan ketidakadilan, dan meluaskan kemiskinan, yang karenanya tercipta proletarisasi massal. Punk dengan tegas berkata bahwa perlawanan terhadap kemapanan adalah keharusan.

Kemapanan yang asalnya dari ilusi ciptaan kaum borjuis, sering kali menipu kelas proletar, meminjam diksi Morgue Vanguard, orang-orang di dasar piramida. Ketegasan punk dalam melawan mesti dikonkretkan dalam langkah-langkah praksis, yang diekspresikan melalui beragam medium yang telah disebutkan di atas. Bentuk-bentuk ekspresi itu pun mesti dipastikan tepat sasaran, alias tepat ke tujuan. Serangan yang benar-benar tepat ke arah musuh.

Kita telah sadar bahwa kapitalisme dilanggengkan melalui kultur-kultur ilusif yang meninabobokan kaum proletar. Sehingga mereka terus menerus dihisap oleh sistem, dan dibuai ketidaksadarannya oleh dorongan kultur yang dibuat sistem itu juga. Kultur konsumtif, apatis, moralis, fasis, apolitis, individualis, patriarkis, dan, yang terakhir, militeristik.

Semua kultur itu sengaja diciptakan untuk memastikan bahwa orang-orang di dasar piramida itu tidak sadar bahwa mereka berada dalam sebuah piramida alias tatanan masyarakat berkelas. Kultur yang terakhir, militerisme, juga cukup penting untuk mulai dibahas lebih mendalam. Sebab, makna militerisme tidak sesederhana keberadaan polisi, tentara, atau alat kontrol negara saja.

Militerisme merupakan sebuah ideologi (sub-kebudayaan) yang berasal dari militer, yang adaptif pada hampir semua lini suprastruktur. Kita dapat melihat mengapa tradisi upacara bendera yang diwariskan dari tentara fasis Jepang masih diberlakukan dalam sekolah reguler kita sampai sekarang. Termasuk juga tradisi ospek sekolah maupun kampus bisa begitu sangat fasis dan hanya menciptakan budaya-budaya kolot senioritas, yang itu asalnya dari budaya tentara.

Lalu cara kerja keolahragaan kita, yang sejak lama selalu menerapkan prinsip-prinsip ketentaraan. Bahkan beberapa lembaganya seperti PSSI belakangan dipimpin oleh seorang tentara aktif yang menjabat sebagai Pangkostrad [saat tulisan ini terbit, Ketua PSSI sudah tidak menjabat Pangkostrad, red.].

Ada pula yang paling menyebalkan, yaitu tidak pernah absennya tentara dan polisi dalam setiap penggusuran rumah dan lahan rakyat. Kehadiran mereka tentu bukan untuk melindungi rakyat agar tetap sehat, sejahtera, aman, dan sentosa. Itu hanyalah mimpi utopis yang murahan. Karena kehadiran mereka adalah untuk merepresi, memukul, menculik, dan, dalam beberapa kasus, malah menembak rakyat. Tentunya, orng yang memiliki nurani tidak akan bersepakat dengan tindakan tentara tersebut.

Dari semua fakta ini, kehadiran [intervensi, red.] militer yang menjadi sangat meluas hampir di seluruh aspek kehidupan (juga dalam semua relasi kuasa), membuat kaum proletar bukan saja terilusi, bahkan bisa terus-menerus berada dalam ketakutan. Karena di mana-mana ada barisan militer yang memiliki kuasa dan punya senjata.

Dengan kata lain, kelas proletar yang tidak sadar bahwa mereka sedang ditindas bukan hanya disebabkan oleh kultur palsu yang ilusif. Namun juga oleh kultur ketakutan yang diciptakan oleh militerisme ini. Maka, tentu kondisi ini dapat direspons oleh punk melalui semangat perlawanannya. Punk bisa menjadi salah satu medium dan metode untuk mengekspresikan semangat anti-militerisme. Tapi punk bukan satu-satunya jalan. Yang dibutuhkan adalah serangan dari seluruh lini yang tergabung dalam persatuan rakyat. Karena sejarah telah membuktikan betapa ampuhnya persatuan rakyat pada masa penggulingan rezim Orde Baru.

Di masa Orde Baru, militerisme berwujud kekerasan, penguasaan lahan, penguasaan fungsional di bidang politik, ekonomi, budaya, oleh tentara. Perannya yang dominan, strategis dalam mengendalikan masyarakat dan negara, serta hadirnya serangkaian persoalan yang tak kunjung selesai dihadapi bangsa ini, merupakan fakta (wujud militerisme) yang tak terbantahkan.

Dan rezim ini tumbang oleh persatuan rakyat melalui gerakan massa yang berasal dari gerakan berbagai elemen: pemogokan buruh, penghentian distribusi hasil tani, demonstrasi mahasiswa, dan gerakan kaum miskin kota. Persatuan rakyat terbukti pernah menggulingkan satu rezim militer yang kapitalistik.

Dari sejarah tersebut, maka kelanjutan melawan kapitalisme mesti dilakukan beriringan dengan melawan militerisme. Tidak harus menggunakan punk, bisa melalui apapun. Pada dasarnya, sekalipun punk akan benar-benar mati pada suatu hari nanti, kematiannya tidak akan menghilangkan harapan kelas proletar untuk melepaskan diri dari belenggu penindasan. Sebab, sistem kapitalisme dan sistem yang menindas lainnya tidak akan mati sebelum militerisme–sebagai ideologi dan alat kekerasan yang menjaganya–dihancurkan hingga ke akar-akarnya.

_________

Korsa, Koalisi Rakyat Sans.

Leave a Reply