SHARE
Aksi solidaritas untuk aktivis yang dikriminalisasi PT RUM, Semarang, 7 Juni 2018.

Pembebasan.org, Semarang – Solidaritas rakyat untuk pembebasan aktivis lingkungan yang dikriminalisasi PT RUM dan negara tetap tumbuh dan berlipat ganda. Massa aksi kembali melangsungkan aksi damai di depan Pengadilan Negeri Semarang, Kamis, 7 Juni 2018. Mereka membentangkan poster bertuliskan “Pejuang Lingkungan Bukan Penjahat”.

Massa aksi diawali oleh delapan mahasiswa dan warga terdampak, yang tergabung dalam Sukoharjo Melawan Racun (SAMAR), jam 10.15 WIB. Aksi dibuka oleh Emon, korlap aksi, dengan menyanyikan lagu “Darah Juang” dan “Buruh Tani”.

Tidak lama kemudian, Sutejo, Kepala Bagian Umum PN Semarang, menghampiri massa aksi  dan menanyakan surat izin aksi. Emon pun menjawab dengan tegas bahwa tidak ada surat izin, adanya surat pemberitahuan. Aksi dalam rangka menyampaikan pendapat di muka umum tersebut dijamin oleh UUD 1945, Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia, bahkan peraturan yang lebih spesifik yakni Undang-Undang No. 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

Sutejo berteriak untuk membubarkan aksi. Intimidasi berupa tamparan ke kepala, mencekik leher, dilakukan terhadap Panji, Emon, Momon, dan Gasrul. Tangan Momon juga ditarik, Emon diseret paksa, dan topi Gasrul pun ditarik oleh Sutejo. Sutejo lantas mengundang petugas lainnya, bahkan seorang polisi juga ikut mengusir massa.

Ancaman, intimidasi, dan represifitas, dilakukan para petugas PN Semarang dan seorang polisi. Massa diusir, diseret, dipaksa bubar. Mereka merasa terancam. Bahkan megafon milik massa direbut paksa oleh Sutejo.

Massa aksi tidak takut. Mereka berani, berteriak, dan bernyanyi dengan semangat perlawanan. “Tunduk ditindas atau bangkit melawan/ Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan/ Rakyat pasti menang!” teriak mereka. Massa aksi yang awalnya hanya delapan orang pun bertambah menjadi puluhan. Bahkan anak-anak ikut bergabung duduk bersama massa aksi. Anak-anak tersebut adalah anak Sukemi, korban yang dikriminalisasi PT RUM dan negara.

Aksi dilaksanakan dengan penuh semangat perlawanan. Salah satu orator perempuan, Ummi, menyampaikan, “Indonesia harus bersih dari racun-racun korporat! Negara harus berpihak pada rakyat!”

Jam 11.30, aksi massa diakhiri karena sidang dengan agenda putusan sela dimulai. Massa aksi pun menyerbu ruangan pengadilan. Ketidakberpihakan kepada rakyat pun kembali terlihat. Petugas pengadilan tidak mengizinkan mahasiswa masuk ke dalam ruangan dengan alasan sidang tertutup. Padahal hakim menyampaikan bahwa sidang tersebut adalah sidang terbuka untuk umum. Pun sidang itu bukan sidang mengenai pencabulan.

Sidang selesai pada jam 12.30 WIB. Eksepsi ditolak dan soal penangguhan penahanan tidak diberi kepastian oleh hakim. Kemudian, keluarga korban yang dikriminalisasi menangis tidak terelakan. Ibu Kelvin, korban yang dikriminalisasi PT RUM dan negara, pingsan dan tidak diberikan pelayanan medis oleh Pengadilan Negeri Semarang.

Istri Sukemi memendam kesedihan yang berat. “Kasihan ketiga anak-anak kami tidak bisa lebaran bersama bapaknya,” keluh Sukemi. Ia berharap suaminya dibebaskan karena suaminya selama ini jadi penopang ekonomi keluarga.

“Suami saya seorang petani, sebentar lagi sawah akan menguning dan harus dipanen,” gumam Sukemi.

Muhammad Hisbun Payu, korban kriminalisasi PT RUM dan negara, berpesan, “Kawan-kawan harus tetap semangat dan berlawan! Bangun persatuan rakyat yang kuat untuk melawan penindas-penindas rakyat.”

Iss, sapaan Muhammad Hisbun Payu, juga menambahkan, mereka yang di dalam (tahanan, red.) akan terus melawan meskipun dengan kondisi terbatas.

(Fifi/Nang)

Leave a Reply