SHARE

[Danial Indrakusuma]

Isabelle Eberhardt lahir di Jenewa, Swiss, 1877. Meninggal di Ain Safra, Aljazair, 1904.

Tak lama sebelum meninggal, Isabelle Eberhardt menulis: “Tak seorang pun pernah menikmati hidup dari hari ke hari lebih daripadaku. Aku telah begitu memburu kesempatan. Rangkaian peristiwa yang tak bisa kuelakkan telah membawaku pada keadaan sekarang. Jelas bukan aku yang menyebabkan semua ini terjadi.” Hidupnya terlihat sembarangan, diliputi perubahan pikiran mendadak. Tapi tulisan-tulisannya membuktikan sebaliknya. Ia tak membuat keputusan; ia dipaksa bertindak. Sifatnya mengombinasikan kesatuan tujuan yang luar biasa dan—dalam kadar sama—kerinduan mendidih akan sesuatu yang sulit dicapai. Sepanjang tahun hidupnya, tujuannya berubah-ubah, dari gagasan pelarian sederhan menjadi obsesi kebebasan penuh. Dan hanya kebebasan lah yang ia wujudkan menjadi pencarian kearifan spiritual lewat disiplin Sufisme. Kebijakannya terletak pada pemahaman bahwa apa yang ia cari tak bisa dicapai. “Kita, kita semua, adalah orang-orang malang yang lemah, dan mereka yang lebih gemar untuk tidak mau memahami akan lebih celaka ketimbang yang lain.”

Bapaknya membimbing, membantu Isabelle dan saudara-saudara lelakinya melakukan kerja fisik yang keras di luar rumah selama masa kanak-kanak dan remaja, membuatnya bisa menanggung kerasnya kehidupanspartan (tabah) yang ia jalani kemudian. Walaupun ia dituntut bapaknya berpenampilan khas—berpakaian lelaki, tidak saja di rumah tapi juga di tempat umum—di kemudian hari (ketika ia harus menyamar sebagai laki-laki), itu menjadikannya yakin akan perasaan suka cita melakukannya, menjadikannya sarana untuk membuktikan sebuah sine-qua-non (prasyarat) di Sahara. Jika saja bapaknya tak membelikan kuda dan mengajari menungganginya dengan mahir saat masih anak-anak, ia tak akan bisa ke mana-mana di gurun. Bapaknya mengerti bahwa Isabelle tumbuh apolyglot (menguasai banyak bahasa), bahkan ia mengajari membaca dan menulis tulisan Arab klasik saat ia meminta. Bapaknya, kawan Bakunin (tokoh anarko), adalah seorang nihilis. Punya banyak teori pendidikan yang belum teruji; ia tak mengizinkan anaknya berhubungan dengan orang-orang Swiss di lingkungan tempat tinggal mereka. Sejak dini, bapaknya menanamkan di diri Isabelle rasa jijik yang sangat pada nilai-nilai masyarakat borjuis. Bapaknya menanamkan hal sangat penting padanya: abaikan pendapat umum, agar bisa menjalani kehidupan yang diinginkan.

Semua dijalani Isabelle di saat-saat awal hidupnya. Terang benderang menyenangkan. Ia sudah terbiasa (hanya) memimpikan sebuah pelarian. Pertama-tama, ia membujuk ibunya menemani ke Aljazair, tempat mereka berdua secara resmi masuk Islam. Tak lama setelah itu, ibunya jatuh sakit. Segera bapaknya berangkat ke Afrika Utara. Ia merindukan isterinya masih hidup, namun ia terlambat. Bapaknya hanya mendapati Isabelle—dalam keadaan histeris dan ingin mati segera. Reaksi seorang nihilis tua tetap sama: mengeluarkan revolver, menyodorkannya pada Isabelle. Isabelle tak sanggup menerimanya.

Untuk sementara Isabelle tingga di Tunisia, tempat segala hal berbau Prancis bangkit memusuhi gaya hidupnya. Tentu saja kelakuan Isabelle bukan dimaksudkan untuk menentramkan hati penduduk daerah yang baru saja ia hidupi. Malam hari, Isabelle bisa ditemui di sebuah kafe pribumi, menghisap (merokok) kif atau berkelahi dengan tentara dari barak-barak. Seringkali Isabelle mengajak pulang salah seorang dari prajurit-prajurit itu, menghabiskan malam bersamanya. Ia pernah menulis “Suatu gairah aneh (rela menderita) menyeretku ke kubangan kekotoran dan kerugian.”

Saat Isabelle kembali ke Swiss—dengan harapan bisa mengambil barang-barang warisan ibunya—bapaknya meninggal, kanker, dan mewariskan rumah serta tanah baginya. Namun, sebelumnya, bapaknya sudah beristeri lagi di Odessa, istrinya segera menuntut warisan itu. Isabelle tak pernah menerima warisannya. Isabelle kembali ke Tunisia, mabuk harapan akan kebebasan. Dengan sedikit uang, Isabelle berangkat ke gurun, tanpa pikir lagi bisa kah sampai, atau apa yang akan dilakukan sesampainya di sana. Beberapa bulan kemudian, bahkan dalam kondisi keuangan yang lebih parah, Isabelle kembali ke Tunisia, dengan menyeberang ke Marseilles menemui saudara lelakinya—yang ternyata juga miskin, separah dirinya. Ia kembali ke Jenewa, dengan harapan tipis bisa memperbaiki kehidupannya. Hartanya dirampas, rumahnya disegel, menunggu penyelesaian hukum. Jalan keluar terakhir: Isabelle ke Paris, membayangkan ia bisa (entah bagaimana caranya) memulai kehidupan sebagai jurnalis. (Sejak awal Isabelle memang telah memutuskan ingin menjadi penulis).

Pucuk dicinta ulam pun tiba: ia bertemu Maquise de Morès—yang suaminya, empat tahun silam, terbunuh secara misterius dalam ekspedisi ke bagian selatan Tunisia. Madame de Morès menginginkan kejelasan kematian suaminya, dan Isabelle dilihatnya cocok untuk melakukan penyelidikan rahasia. Kesepakatannya: Marquise akan membiayai perjalanan Isabelle kembali ke Afrika Utara, harus mengirimkan laporan rutin, dan mengerahkan seluruh upaya untuk menggali fakta mengenai pembunuhan itu. Sulit dibayangkan, apa yang akan terjadi pada Isabelle bila ia tak menerima anugerah keberuntungan luar biasa itu, tapi ia bersikap biasa saja. Sebagai seorang muslim, Isabelle tak ambil pusing dengan nasib buruk atau pun baik yang ia terima. Semuanya terjadi seperti yang tertulis sejak awal masa berjalan.

Isabelle menyetujui usulan janda aristokrat itu, ia menuju selatan, tak berhenti hingga tiba di El Qued. Di El Qued, Isabelle menyewa rumah, menetap untuk menulis, melupakan misi yang diemban. Tetapi, aparat tentara Prancis setempat—yang sudah (sangat) puas menjadikan kasus pembunuhan sebagai masa lalu yang patut dilupakan, mentang-mentang terjadi di wilayah kewenangan hukum mereka—mengetahui bahwa seorang warga negara asing, perempuan muda eksentrik, tiba di situ atas biaya Madame de Morès, merasa berhak mengawasi dengan kecurigaan berlebih, Isabelle tak menggubris. Ia beli seekor kuda, pergi menjelajahi gurun lewat jalan memutar, dan menjalin hubungan erat dengan beberapa Muslim sekitar. Ia juga bertemu Sliman, seorang prajurit muda Aljazair, ia memulai hubungan cinta yang sangat romantis.

Karena Madame de Morès telah mengetahui apa yang telah terjadi—ia menganggap Isabelle mengkhianati kepercayaan yang ia berikan—ia memotong semua kiriman dana. Pada batas ini lah Isabelle membuktikan dirinya sebagai seorang manusia-perempuan sejati, tangguh. Dengan tenang Isabelle berangkat menghadiri pelantikan dirinya sebagai anggota sekte agama rahasia Qadriya—suatu persaudaraan Sufi pemegang kekuasaan politik terbesar di kalangan suku-suku padang pasir, yang tak tertaklukkan hingga saat itu. Isabelle diterima baik di kalangan Qadriya, menggunakan nama Si Mahmoud Essadi, yang memang sudah sejak lama dipakai dalam penyamaran sebagai lelaki. Orang-orang Qadriya paham betul jenis kelamin Isabelle; memilih berpakaian lelaki dianggap merupakan urusan sendiri. Sejak itu, ke mana pun Isabelle pergi, di mana pun ia berada, setiap anggota sekte terikat sumpah memberinya makan, menaungi, atau mempertaruhkan nyawa melindunginya. Isabelle menjadi milik Qadriya.

Masalahnya, di sana ada sekte-sekte lain selain Qadriya. Orang-orang Prancis, seyakinnya, punya seorang mata-mata sangat cerdik, disusupkan ke kalangan sekte Qadriya, tinggal menunggu alasan kuat menangkap Isabelle. Sekte-sekte lain tak memiliki arahan kesetiaan terhadap suku-suku lawan, karenanya menolak (secara mendasar) aktivitas Isabelle. Sampai suatu hari, saat Isabelle duduk berbincang-bincang dengan temannya di halaman benteng, seorang lelaki tak dikenal tiba-tiba menyeruak masuk, menghunus pedang, berniat menghujamkan sekuat-kuatnya agar bisa membelah kepala Isabelle jadi dua. Satu keberuntungan lagi buat Isabelle: ujung pedang terlebih dahulu menghujam kawat jemuran dan sebagai ganti kepalanya, lengan kirinya tersayat, hampir putus. Waktu penyerangnya tertangkap, diketahui bernama Tidjaniya, jelas seorang musuh Qadriya. (Orang Prancis melihatnya secara sinis: sebenarnya pria penyerang itu dikirim oleh moqaddem Qadriya setempat yang katanya, kekasih Isabelle yang sudah bosan padanya, yang melihat kesempatan meninggalkannya dengan menyiasati agar tanggung jawab atas kematiannya ada pada Tidjaniya. Enam bulan kemudian, segera selepas dari rumah sakit, ia meninggalkan padang pasir, pergi ke Batna, tempat Sliman dipindahkan. Tapi segera pula, orang-orang Prancis yang berniat mengusirnya dari Aljazair, memilih momen itu untuk mengeluarkan perintah mengusirnya. Sliman, seorang sersan di Spahis berkewarganegaraan Prancis, saat mengajukan permohonan menikahi Isabelle, serta merta ditolak. Isabelle tak bisa melawan, kembali ke Marseilles, tempat saudara laki-lakinya tinggal, meski dalam keadaan lebih miskin dari sebelumnya. Isabelle hampir saja tak sampai di Marseilles karena pihak berwenang Prancis memintanya kembali ke Aljazair sebagai saksi di persidangan orang yang telah menyerangnya. Isabelle diberi tiket kelas empat ke Constantine, ia berangkat.

Tuntutan hukuman mati bagi orang Aljazair itu kemudian dikurangi menjadi seumur hidup. Isabelle memprotes kerasnya hukuman itu, tapi tak ada gunanya. Selama persidangan, Isabelle diberi perintah dilarang, kapan pun, memasuki wilayah Afrika Utara yang dikuasai Prancis. Sekali lagi Isabelle dibantu kembali ke Marseilles. Di pelabuhan, ia cukup beruntung mendapat pekerjaan sebagai kuli bongkar-muat barang. Upahnya sangat rendah hingga terpaksa meminjam kesana-kemari dari buruh-pelabuhan-muslim. Dengan otot lengan kirinya rusak, Isabelle bergelut dengan kerja berat, hampir-hampir melewati kemampuannya. Sepanjang siang Isabelle menulis novel (dengan penuh semangat)—yang problem utamanya diambil dari pengalamannya di pelabuhan—menulis surat untuk Sliman (tak terhitung banyaknya), dan memintanya mengajukan izin pindah ke Marseilles. Akhirnya, sesuatu tak terduga terjadi: Sliman datang.

Segera mereka menikah di Hotel de Ville, kemudian di masjid Marseilles. Isabelle kini resmi menjadi warga negara Prancis, dan tak lama kemudian dipisahkan dari masyarakat sekitarnya—awal tahun 1902, mereka berdua kehabisan uang, berlayar ke Aljazair, dan tinggal beberapa lama di rumah orang tua Sliman. Selama masa ini lah Isabelle berhubungan dengan Victor Barrucand, seorang anarkis, editor Les Nouvelles, salah satu harian Aljazair. Saat persidangannya dulu, koran itu lah satu-satunya yang memuat apa pun tentang Isabelle, kecuali penyerangnya. Barrucand mengerti betul kemampuan Isabelle, dan menugasinya menulis satu seri artikel. Lebih dari itu, Barrucand menggunakan pengaruhnya untuk memberi Sliman pekerjaan lebih baik—sekretaris juru bahasa di Ténès. Selama beberapa bulan, kehidupan Isabelle amat bahagia—penjajah Prancis marah besar karena: pertama, hanya dengan alasan teknis, Isabelle bisa mendapatkan jalan masuk ke daerah yang mereka anggap tanah air mereka; kedua, dengan demikian Isabelle bisa melanjutkan serangan gencar—dengan menggunakan propaganda korespondensi pena-beracun—pada pemerintah dan pers, yang ia serang habis-habisan. Hasil akhirnya adalah skandal besar: Mayor Ténès, kawan Isabelle, dipaksa mundur, dan Sliman dipindahkan ke desa terpencil, sementara Isabelle, seperti biasanya—menderita bermacam-macam demam, yang memang sudah diidapnya—pergi menetap di Aljazair.

Sekali lagi Barrucand memberi jalan keluar: ketika serangkaian pertempuran penting antara Prancis dan suku-suku di Aljazair Selatan mulai muncul, pers mengirimkan korespondennya meliput pertempuran pergerakan tentara Prancis di sana. Barrucand bermaksud menerbitkan surat kabar baru bernama Akhbar, dan ia mengusulkan Isabelle bekerja sebagai koresponden perang. Dengan suka cita Isabelle melakukan perjalanan ke Ain Sefra—markas bagi Lyautey (waktu itu masih kolonel) saat ia merencanakan kampanye (perang) besar-besaran agar bisa menyeret seluruh bagian Sahara, seperti bagian timur Marocco, ke bawah dominasi Prancis.

Di Ain Sefra, Isabelle menghabiskan siang di kantin Legiun Asing, dan tertidur di lantai kafe Arab, dalam kota. Isabelle dan Lyautey menjadi kawan akrab. Sehabis perang Lyautey menulis tentang Isabelle: “Ia lah yang menyeretku, lebih dari kekuatan apa pun, ke dalam kebijakan makna pemberontakkan. Senang sekali berkenalan dengan seorang yang sungguh-sungguh (menjadi) dirinya sendiri, yang menolak prasangka, perbudakan, kedangkalan pikiran, dan bergerak (dalam hidup) sebebas burung melesat-menembus udara.” Persahabatan itu, sekaligus, ia manfaatkan untuk menyalurkan apa yang bisa Isabelle lakukan, menempatkan bakat dan pengetahuan khusus Isabelle. Tapi mungkin untuk menepis rumor bahwa Isabelle adalah gundiknya—karena itu juga Lyautey, untuk waktu lama, menolak menemui Isabelle, saat ia hendak meminta sedikit uang guna membeli gandum bagi kudanya. Meski demikian, hubungan mereka masih bisa dipelihara baik. Di Ain Sefra, Isabelle berada dalam kekuasannya, dan (dalam pikiran) Lyautey punya rencana khusus yang sangat butuh Isabelle.

November 1903, Lyautey menulis surat kepada Jenderal Gallièni. Isinya pemberitahuan bahwa ia sudah punya ide cemerlang tentang bagaimana menggunakan Isabelle. “Bagiku nampak bantuan Sang Marabout dari Kenadsa…menjadi satu faktor terpenting dalam keberhasilan kita.” Orang yang ia maksud adalah Sidi Brahim bin Mohammed—pemimpin zaouia, atau biara, dari Kenadsa, pusat penyebaran doktrin Sufi yang terkenal, tempat murid-murid dari seluruh Afrika Utara berkumpul. Wibawa dan pengaruh politiknya sangat besar, dan Prancis tak bisa berharap dapat melanjutkan penjajahannya di wilayah itu tanpa persetujuannya. Jika Sidi Brahim bin Mohammed bisa dibujuk bahwa penjajahan Prancis lebih baik ketimbang perang saudara antar-Muslim—yang membuat seluruh wilayah dalam ketidakpastian dan kekacauan—maka Prancis bisa melakukan langkah besar mencapai sasaran mereka. Masalahnya, fanatisme anti-Kristen sangat tinggi, tak ada orang Eropa yang bisa mendekat ke Kenadsa.

Di sini lah, menurut rencana Lyautey, tempat cocok buat Isabelle. Hanya ia yang memenuhi syarat memasuki kota dan mendapat akses ke Sang Marabout. Dan karena Kenadsa adalah tempat yang paling ingin Isabelle datangim ia menerima (tugas itu) dengan antusias. Kalau pun ada ketidaksesuaian ideologi antara Isabelle dan Lyautey—yang secara etis dibenarkan—namun ia tak menunjukkan tanda bahwa ia peduli—bagi Muslim yang taat, tentu tak akan setuju dijadikan agen imprealisme Kristen yang sedang berjuang menghancurkan hegemoni Islam. Mungkin saja Isabelle memiliki pegangan (dalam pikiran) bahwa, dituntun arahan yang dirahasiakan, yang terpenting ia bisa mendorong dirinya lebih jauh, bahkan merasa ia lah yang memanfaatkan Lyautey dengan cara lebih baik. Dalam setiap acara, ia selalu berada di Kenadsa, bertemu dengan budak-budak di luar zaouia, dan dengan cara tepat merelakan diri terikat di dalamnya. Setelah seminggu (terpaksa) tak beraktivitas dalam biara, ia mengajukan permohonan wawancara dengan Sang Marabout. Sidi Brahim, saat menyadari Isabelle belum mengetahui disiplin keras yang diterapkan di biara Sufi, setuju memberikan kebebasan bergerak di daerah itu. Namun itu merupakan pelipur lara yang tak berumur panjang. Tak lama kemudian, Isabelle harus menanggug beban kerasnya hidup—diserang malaria berkepanjangan bercampur semua penyakit lain yang sudah diidap selama pengembaraan, menggiringnya mendekati kematian. Walau selama berminggu-mingu Isabelle berbaring di lantai biara, namun tiap kali sembuh dari keadaan tak sadar, masih juga ia melanjutkan manuskrip yang sebelumnya ia tulis. Ketika akhirnya menjadi semakin jelas bahwa bertahan lebih lama di Kenadsa akan mengundang setiap kemungkinan mengorbankan nyawanya, Isabelle dengan malas pergi ke Ais Sefra. Tidak ada catatan bahwa Isabelle pernah mendiskusikan tulisannya dengan Sang Marabout, walaupun ia sudah mengirimkannya.

Begitu datang dari Ain Sefra, Isabelle langsung dibawa ke rumah sakit tentara. Setelah agak sembuh, ia menulis surat pada Sliman, menganjurkan mengambil cuti agar bisa pergi ke Ain Sefra. Sliman menyepakati, ia menyewa gubuk kecil di pinggir dasar sebuah sungai kering yang akan ia tempati sampai Isabelle bisa meninggalka rumah sakit dan pergi bersamanya.

Akhirnya Isabelle tak betah menjalani hidup tanpa aktivitas di rumah sakit. Ia menyatakan akan pergi. Walau para dokter berhasil menahan beberapa lama, akhirnya ia berhasil memaksa. Sliman telah siap menyambut Isabelle, keduanya menghabiskan malam yang indah. Esok paginya, meski cuaca cerah dan berawan, banjir mendadak bergemuruh bagi guntur di sepanjang dasar sungai, menyapu, menghancurkan segala yang ada di kira-kira seperempat kota. Sliman mengaku melihat tubuh Isabelle hanyut menghilir bersama sejumlah mayat lain, dan Lyautey memerintahkan anak buahnya menyisir sepanjang sungai. Beberapa hari kemudian, mereka menemukan Isabelle, terhimpit di bawah balok puing-puing rumahnya sendiri, ditaburi halaman-halaman manuskrip berlumpur yang telah ia siapkan di Kenadsa.

Itu terjadi tahun 1904. Tak sampai tahun 1920, buku Isabelle turun cetak dengan judul Dans “I’ Ombre Chaude de I’Islam (Dalam Bayang-bayang Islam)”. Banyak bagian manuskrip yang tersapu banjir, banyak yang tersisa tak terbaca. Barrucand menyatukan bagian-bagian itu, melampirkan (excerpts) beberapa surat yang dikirimkan padanya, dan bahkan percakapan dengan Isabelle yang ia ingat. Barrucand memamerkan selera murahnya—membubuhkan nama sebagai pengarang pembantu. Meski keasliannya mengalami ambiguitas karena perlakukan Barrucand tersebut, karya tersebut tetap merupakan hasil kerja berharga. (Cecily Mackworth menyebutnya “salah satu dokumen manusia terunik, saat seorang perempuan diserahkan pada dunia”).
———

 

Pernah Dimuat di Tabloid Pembebasan No.1/Tahun I/Mei 2002, dengan judul “Ia Jurnalis, Karenanya Membebaskan”

 

Leave a Reply