SHARE

Rinto Pangaribuan*

“Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa … Agama adalah candu rakyat.”

(Karl Marx, A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, 1844).

Kutipan ini sering dipakai sebagai legitimasi bahwa Marx tidak menyukai agama. Filsuf kelahiran Jerman itu, seolah, menilai negatif agama. Agama dipandang sebagai sesuatu yang mengasingkan manusia dari realitas sosial. Lebih jauh lagi, agama dinilainya sebagai entitas yang diselimuti ilusi-ilusi untuk
melanggengkan pengisapan.

Lewat ajaran “bersyukur”, misalnya, para alim-ulama kerap mengajak umat untuk melupakan kejahatan struktural dibalik penindasan. Mimbar tidak lagi digunakan untuk mengajak jemaat mentransformasi kenyataan. Sebaliknya, entah disadari atau tidak, khotbah acap kali dipakai sebagai sarana indoktrinasi.
Mimbar jadi sarana propaganda agar menerima kenyataan eksploitasi dengan lapang dada. Dalam hal inilah, agama memang jadi candu.

Tapi benarkah Marx memandang agama sebagai si buruk rupa? Betulkah tudingan, bahwa Marxisme sebagai anti-agama, bisa diterima begitu saja? Benarkah agama masih merupakan kubu reaksioner, konservatif, penentang pencerahan akal dan perubahan politik? Adakah kenyataan sejarah yang bisa
membantah tuduhan-tuduhan ini?

Teologi Pembebasan di Amerika Latin: Sisi Lain Agama

Marx dan Engels mengatakan, “Borjuasi telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayar” [1]. Secara terang, borjuasi dituding Marx sebagai biang kerok dibalik jeleknya agama. Kapitalisme dituduh sebagai kambing hitam yang mengubah wajah agama sebagai alat pemelihara penindasan. Para pendeta, disadari atau tidak, dipoles kapitalisme sebagai “gembala bayaran” yang tidak lagi mengenal dombanya (Yohanes 10.12).

Dari sini kita melihat bahwa Marxisme bukanlah anti agama. Kutipan di atas setidaknya menyiratkan bahwa agama (pendeta) masih diasumsikan sebagai sesuatu yang mulia. Namun kesucian itu dikotori oleh sebuah tatanan ekonomi-politik. Sebuah sistem yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan: kapitalisme!

Pembelaan lain muncul dari Michael Lowy, sosiolog Brazil, yang bermukim di Prancis. Dia mengatakan bahwa “agama adalah candu” bukanlah pernyataan khas Marxis [2]. Filsuf idealis Eropa, seperti Kant,  sudah pernah mengungkapkan pemikiran bernada sama [3]. Lowy melanjutkan kritik Marx pada agama bisa dikatakan bercorak neo-Hegelian. Artinya, pernyataan itu muncul tanpa acuan analisis kelas sama sekali [4]. Karena tiap kelas berbeda menggunakan agama yang tepat bagi mereka. Agama bukanlah sebuah entitas yang timeless alias tidak berubah sepanjang zaman dan tempat. Agama, seperti suprastruktur yang lain, akan berkembang secara bertahap mengikuti modus relasi produksi di sekitarnya.

Sejarah setidaknya membuktikan ini. Pada awal 60-an di Amerika Latin, muncul sebuah “gerakan” teologi yang memusatkan diri untuk mengubah dunia daripada merenungkannya. Jenis teologi ini muncul dari sebuah kritik terhadap teologi resmi yang telah mengubah manusia fana menjadi roh transenden yang jauh dari kondisi manusia konkret [5].Teologi ini berangkat dari realitas penderitaan rakyat Amerika Latin. Seperti kita tahu, di masa itu, kuku kapitalisme menghunjam tajam ke jantung penderitaan orang-orang di sana.

Bisa dikatakan, teologi pembebasan adalah tahap perkembangan “terakhir” bila dilihat dari metodologinya. Gustavo Gutierrez, [6]

membagi tiga tahap fungsi/tugas teologi:

  1. Theology as Wisdom: teologi bertugas untuk memahami kehidupan spiritual yang terpisah dari kenyataan/realitas dunia. Teologi ini dipraktekkan oleh para monastic yang hidup memisahkan diri dari masyarakat.
  2. Theology as Rational Knowledge: teologi sebagai sebuah disiplin intelektual yang lahir dari perjumpaan antara iman dan akal (reason). Teologi sudah menjadi sains. Pelopornya adalah St. Thomas Aquinas, Bapak teologi Gereja Katolik.
    3. Theology as Critical Reflection on Praxis: teologi yang tidak membuang dua tugas sebelumnya, tapi tidak berhenti disitu. Selain merefleksikan dunia, teologi ini juga bertugas untuk mentransformasinya dalam tindakan-tindakan yang konkret (praxis).

Untuk mencapai tugas ketiga itu, dalam metodenya harus ditambahkan perhatian pada lokus teologi. Artinya, berteologi tidak lagi melulu melihat pada teks suci dan dogma semata. Tapi, seorang teolog harus “melihat” realitas konkret yang dihadapi masyarakat dimana dia tinggal. Dia bertugas untuk membebaskan manusia dari struktur sosial yang menindas orang di sekelilingnya. Oleh karena itu, aktivitas berteologi membutuhkan “suatu pertobatan hermeneutis”.

Produk akhir dari teologi itu adalah partisipasi para Romo dan Pendeta dalam usaha-usaha pembebasan. Misalnya bergabungnya orang-orang Kristen dalam usaha revolusi di Nikaragua tahun 70-an. Atau perjuangan Uskup Romero dalam melawan pemerintah El Savador yang diktator. Uskup ini akhirnya meregang nyawa mati tertembak kala menjalankan misa di Gereja. Tidak hanya di Amerika Latin, teologi
ini pun berkembang ke berbagai negara. Seperti, di Korea Selatan dikenal dengan Teologi Minjung. Ada juga Black Theology yang dipelopori James Cone di AS. Mungkin yang paling mudah dikenal ada Romo Mangun di Yogyakarta.

Matinya Teologi Pembebasan: Sebuah Kritik

Ada banyak faktor yang menyebabkan jenis teologi ini mengalami kemunduran. Setidaknya, dalam pengamatan saya, ada dua faktor besar sebagai penyebab. Pertama karena represi. Kedua, kesalahan metodologi berteologi.

Noam Chomsky, dalam buku “How the World Works” mengatakan bahwa ada konspirasi Amerika Serikat yang bertujuan untuk menguasai dunia. Lawan tertangguh AS, yang mewakili kapitalisme tentu saja adalah komunisme. Untuk membabat habis pengaruh komunisme, Chomsky mengatakan AS akan
langsung menuduh siapa pun yang berpendapat bahwa Negara harus bertanggung jawab pada kesejahteraan rakyat sebagai paham komunis. Apa pun pendekatan yang digunakan. Semisal: agama, budaya, kesenian, pendidikan, dsb.

Propaganda terhadap komunis sebagai anti Tuhan membuat gereja juga mengambil langkah serupa. Gereja Katolik, yang diwakili Vatikan, banyak melakukan ekskomunikasi kepada para Pastor yang menganut teologi ini. Ini membuat ruang gerak para pegiatnya jadi sempit. Walau banyak juga diantara para biarawan yang menanggalkan sendiri jabatan gerejani demi meneruskan perjuangan pembebasan.
Namun, ada satu “kesalahan” mendasar dalam gerakan teologi pembebasan Amerika Latin. Kekeliruan itu terletak pada cara teologi itu diproduksi. Artinya, sebuah kesalahan metodologi. Apa yang terjadi persis seperti kritik Marx pada materialisme Feuerbach. Marx mengkritik walau Feuerbach sudah materialis dalam melihat fenomena alam, tapi dia masih idealis dalam melihat kenyataan sosial.

* Penulis adalah anggota komunitas Gereja Kristen Anugrah, yang saat ini sedang menggarap pembangunan wadah Kristen Progresif.

Referensi

[1] Karl Marx dan Friedrich Engels, “Manifesto Partai Komunis” (e-Published, Georgian Section of Comintern, 2014), hlm. 59

[2] Michael Lowy, “Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme dan Marxisme Kritis”, (Yogyakarta, Insist Press, 2013), hlm. 1.

[3] Lihat tulisan Kant, “Sapere Aude” (Dare to Think). Dalam artikel itu, Kant mengajak agar masyarakat Eropa agar berani berpikir menggunakan akal sehat. Dia menyerukan agar setiap keputusan manusia tidak lagi dikontrol oleh dogma, ideologi, atau apa pun untuk mengganti pertimbangan rasio.

[4] Lowy, “Teologi Pembebasan”, hlm. 2.

[5] Leonardo Boff, “Kekristenan: Sebuah Ikhtisar”, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2014), hlm.57.

[6] Gustavo Gutierrez, “A Theology of Liberation – History, Politics, and Salvation”, (New York: Orbis Books, 1981), hlm. 3-11

Leave a Reply