Home / Rakyat Melawan / Perempuan / Sejarah Perlawanan Perempuan masa Kolonialisme

Sejarah Perlawanan Perempuan masa Kolonialisme

172120208-KUNO-Sejarah-Prajurit-Perempuan-Aceh

Oleh: Dwi Marta

Kedudukan perempuan dalam masyarakat dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan. Awalnya perempuan mempunyai tempat yang sangat baik, mendapat penghargaan dan derajat yang sama dengan kaum pria, itu terjadi di zaman komunal primitive. Hal tersebut juga dialami di masyarakat Indonesia kala itu, sejarah menunjukkan bukti-bukti kongktrit pada saat itu di Indonesia pernah mengalami pengaruh besar dari penguasa perempuan dalam pemerintahannya. Beberapa contoh kepemimpinan perempuan , misalnya Ratu Sima dari kerajaan Kelling, Tribhuwana tungga dewi dari wangsa Isyana. Di Jawa Barat, dalam cerita-cerita rakyat dikenal juga peranan ratu. Dalam cerita patung Lutung Kasarung misalnya Sunan Ambu adalah Batari yang berkuasa di Kahyangan, puteranya Lutung Kasarung adalah suami dari ratu Purbasari, mengajarkan kepada rakyatnya ilmu bertani padi. Istrinya yang berhak menjadi raja, suaminya hanya bertindak menjadi pendamping. Akan tetapi, dengan perubahan zaman pula perempuan mengalami kemunduran yang sangat menyingkirkan keberadaanya yang disebabkan oleh beberapahal, salah satunya yaitu pada masa Feodalisme yang berkembang di zaman Mataram menempatkan isteri sebagai lambang status sang pria, menggeser tempat wanita dari kedudukan subjek menjadi objek. Seperti halnya juga yang terjadi di Indonesia pada masa era kolonial penjajahan bangsa asing. Banyak kaum perempuan Indonesia yang mengorbankannya darah dan keringat dalam perjuangan mengusir penjajah dimasa itu. Jiwa dan raga kaum wanita Indonesia di masa perjuangan bangsa dengan rela dikorbankan demi sebuah tujuan murni, Indonesia terbebas dari cengkraman kekuasaan penjajahan Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris dan juga Jepang. Perjuangan perempuan pada periode itu dilatarbelakangi oleh semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah.

Dalam periode tersebut perempuan melawannya dengan beberapa bagiaan yaitu perempuan angkat senjata, perempuan mendidik dan perempuan berpolitik dan berorganisasi. Sejak abad 19 selama ratusan tahun Belanda terus mengeruk kekayaan tanah Indonesia. Mereka melakuakn monopoli perdagangan, merampas dan mengeluarkan kebijkan tanam paksa. Sejumlah nama perempuan muncul pada periode ini, bersama kaum laki-laki mereka turut dan mengangkat senjata untuk mengusir senjata misalnya: Cut Nyak Dien, Cut Nyak Mutia, Roro Gusik , Cristin Marthatiahahu dll. Di penghujung abad ke-19 juga , ketika Kartini menulis tentang ketertindasannya sebagai perempuan Jawa, ia menyadari bahwa pembebasan bagi perempuan bisa terwujud bila terjadi perubahan pola pikir di kalangan masyarakat Jawa secara keseluruhan. Memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan adalah tanggung jawab suatu bangsa dan bukan semata-mata tugas perempuan. Kartini memang belum berpikir tentang Indonesia, tetapi dia sangat menyadari bahwa nasib “bangsa boemipoetra” saat itu sedang berada di bawah kekuasaan feodal dan kolonial. Gagasan Kartini tentang pentingnya kemerdekaan berpikir dan berbuat bagi semua orang tanpa membedakan gender dan kelas untuk meningkatkan kualitas hidup suatu bangsa menjadi salah satu syarat kaum perempuan yang terlibat dalam gerakan nasional sejak awal abad ke-20. Dengan kebijakan politik Etis pada awal abad ke-20, penguasa kolonial yang menganggap bahwa kaum bumiputra malas, bodoh dan tidak beradab membuka ruang-ruang pendidikan secara meluas dengan harapan rakyat Hindia Belanda akan menerima peradaban barat dan menjadi bagian Kerajaan Belanda dengan sukarela. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh kaum bumiputra yang menganggap bahwa kemajuan berarti tumbuhnya gairah untuk berpikir merdeka, meninggalkan kepatuhan kepada penguasa kolonial dan terlibat dalam kerja-kerja melawan pembodohan, diskriminasi dan segala bentuk ketidakadilan. Gagasan kemajuan kaum bumiputera terpelajar berpengaruh terhadap pandangan mereka tentang perempuan. Mereka tetap melihat peran utama perempuan adalah melahirkan dan merawat anak, tetapi kepedulian mereka akan perlunya satu generasi baru dengan kualitas moral dan intelektual yang lebih baik membuat mereka berpikir tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Sementara, kaum perempuan terdidik melihat bahwa sistem kolonialisme dan tradisi feodal sudah menyebabkan kehidupan perempuan secara umum terpuruk. Di tingkat elit, perempuan semata-mata dijadikan perhiasan rumah tangga, tidak berpengetahuan, tidak memiliki wawasan, dan menjadi korban poligami. Di tingkat bawah, kemiskinan mendorong perempuan menerima kawin paksa sejak usia dini, yang bisa menggiring mereka pada perceraian tidak adil secara berulang, prostitusi dan pergundikan. Mereka berpendapat, dengan bekal pendidikan dan ketrampilan, perempuan akan mampu mengusahakan hidup sendiri dan tidak bergantung secara ekonomi pada laki-laki. Semangat inilah yang mendorong perempuan-perempuan terdidik di beberapa tempat menyelenggarakan sekolah-sekolah bagi perempuan. Pada tanggal 16 januari 1904 sekolah perempuan pertama Sekolah Istri didirikan oleh Dewi Sartika. Delapan tahun kemudian berubah nama menjadi Sekolah Kautamaan Istri dan meluas menjadi sembilan sekolah yang memberi perhatian terbesar pada anak-anak perempuan dari kalangan rakyat biasa. Di Koto gadang, (Sumatera barat) Roehana Koeddoes mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada tahun 1911; dan di Manado Maria Walanda Maramis mendirikan Sekolah PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) pada 1917. Sementara itu ide Kartini dilanjutkan oleh C. Th. Van Deventer beserta istrinya dengan mendirikan Sekolah Kartini pada 1913 di Semarang.

Setelah perempuan merasakan pendidikan pada masa kolonial lahirlah perubahan pada diri kaum perempuan yaitu kesdaran untuk berorganisasi. Karena dengan berorganisasi mereka mempunyai kekuatan untuk melawan kolonial dan terbebas dari belenggu penjajah serta mengupayakan menyelesaikan masalah sosial seperti: pelacuran, permaduan (perempaun dimadu), perkawinan anak. Memanfaatkan perangkat kerja modern, seperti organisasi, penerbitan, dan pertemuan umum. Maka lahirah organisasi perempuan pertama yaitu Poetri Mardika, di Jakarta pada 1912 didorong oleh Boedi Oetomo. Demikian juga surat kabar perempuan pertama, Poetri Hindia, yang diterbitkan jurnalis R.M. Tirto Adhisoerjo di Bandung pada 1909, masih dipimpin dan diawaki laki-laki. Tiga tahun kemudian Roehana Koeddoes menerbitkan Soenting Melajoe (Bukit tinggi) yang sepenuhnya dikelola perempuan. Dalam waktu kurang lebih 15 tahun organisasi – organisasi lain pun berdiri di berbagai kota. Kegiatan mereka kurang lebih menyelenggarakan pendidikan dan layanan kesejahteraan sosial bagi perempuan, memberi beasiswa kepada anak-anak perempuan yang berbakat, menyebarkan informasi tentang pendidikan, dan menerbitkan mingguan untuk menyebarluaskan gagasan tentang kemajuan dan keadaban perempuan. Organisasi-organisasi perempuan di masa ini masih didominasi perempuan dari kalangan elit pribumi. Seruan dan ajakan yang mereka lontarkan melalui penerbitan mereka juga lebih ditujukan kepada perempuan dari kelas atas yang mampu berlangganan secara teratur dan memiliki lebih banyak waktu luang untuk membaca dan berpikir. Gagasan tentang “kebangsawanan itu berkewajiban” yang tampak jelas dalam tulisan-tulisan Kartini, begitu juga dalam upaya Dewi Sartika untuk menyamai tradisi ‘bangsawan budi pekerti,’ terus mewarnai wacana perempuan sampai akhir 1930-an.

Setelah organisasi perempuan berdiri diberbagai kota, maka diadakanalah Kongres Perempuan Indonesia I di Jakarta 1928 dan II di Yogyakarta 1935 berulangkali menekankan pandangan tentang pentingnya keutuhan rumah tangga dengan perkawinan yang bahagia. Persoalan sosial seperti perdagangan perempuan, prostitusi, pergundikan, atau kawin paksa diperbincangkan dalam kerangka pentingnya membangun institusi perkawinan dan rumah tangga yang sehat dan kuat demi kemajuan dan keadaban bangsa. Masalah poligami mulai menjadi tema, yang menurut Siti Soendari, adalah merupakan masalah perempuan. Selanjutnya masalah poligami ini menjadi sumber perdebatan sepanjang sejarah gerakan perempuan, apakah poligami sesungguhnya sumber masalah atau bagian dari penyelesaian masalah bagi perempuan? Hal ini mendorong Kongres Perempuan Indonesia II membentuk Komisi Penyelidik Hukum Perkawinan di bawah pimpinan ahli hukum Maria Ulfah Santoso yang hasilnya disampaikan pada Kongres Perempuan III. Kesimpulannya adalah bahwa pada akhirnya masyarakat Indonesia akan sepakat bahwa poligami harus dihapuskan. Dari perdebatan tentang poligami dapat dipelajari bahwa soal pelembagaan perkawinan dan posisi perempuan di dalamnya menjadi masalah politik kebangsaan.

Organisasi-organisasi perempuan bukannya tidak menyadari sisi politis dari perjuangan mereka. Namun, kepelikan yang mereka alami saat berhadapan dengan adat dan agama membuat mereka memilih jalur-jalur aman dalam memperjuangkan kebutuhan dan hak-hak perempuan. Tuduhan dari kalangan Islam bahwa kaum nasionalis sudah berniat menghinakan Islam dan mencerai-beraikan rakyat Indonesia dengan membicarakan poligami membuat kongres-kongres perempuan di masa sebelum kemerdekaan tidak berbicara tentang agama dan politik. Mungkin satu-satunya organisasi perempuan yang berani menerobos batasan gerak politik perempuan dan menolak poligami adalah Istri Sedar yang didirikan pada 1930 di bawah Soewarni Pringgodigdo. Soewarni menyatakan: “Perempuan Indonesia berhak atas keadilan dan kemerdekaan, dan poligami adalah penolakan sesungguhnya dari keadilan dan kemerdekaan.” Ketika Soekarno menyatakan bahwa gerakan perempuan pertama-tama harus mendukung kemerdekaan nasional sebelum menuntut hak-haknya, Soewarni berpendapat sebaliknya, bahwa kesetaraan perempuan menjadi prasyarat memenangkan kemerdekaan nasional.

 

 

*Departemen Pembebasan Perempuan Kolektif  PEMBEBASAN Yogyakarta-Jawa Tengah.

 

Refrensi:

  • Dikutib dari buku: Kita Bersikap, Empat Dasawarsa Kekerasan terhadap Perempuan dalam Perjalanan Berbangsa yang diterbitkan oleh Komnas Perempuan tahun 2009
  • http://indoprogress.com/search/perempuan+
  • http://gustimenoh.blogspot.com/2011/02/perjuangan-perempuan-indonesia.html
  • http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/17/wanita-indonesia-antara-kegelapan-dan-masa-depannya-356224.html
  • http://mubarok01.wordpress.com/2013/08/10/sejarah-perjuangan-perempuan/
  • http://wartasejarah.blogspot.com/2013/07/perjuangan-dewi-sartika-mewujudkan-cita.html

 

Keterangan Gambar:

https://www.google.co.id/search?newwindow=1&biw=1366&bih=631&tbm=ischsa=1

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top