SHARE

Surat Terbuka Untuk Kawan-Kawan Aliansi Mahasiswa Papua

Selamat Menggelar Aksi Nasional 1 Desember 2015

Kepada rakyat Papua yang memahami bahwa melawan adalah cara yang paling absah digunakan untuk berperang menghapus penjajahan, kolonisasi dan kekerasan.

Papua, pintu gerbangnya dibuka oleh perjanjian yang hanya ditandatangani 1.022 rakyat Papua (hanya 1% dari keseluruhan), itupun berada di bawah ancaman senjata tentara untuk dipaksa memilih bergabung dengan Indonesia di tahun 1969, lalu, tamu dari luar masuk membawa legitimasi berupa perjanjian yang dipaksakan; membawa senjata, berbaju loreng, melakukan persekusi, membunuh, merusak tanah Papua, mengusir tetua adat, mendorong masyarakat adat di ambang batas jurang, terlibas pembangunan.

“…merebut kemerdekaan adalah sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya jalan keluar bagi rakyat Papua.”

Setelah menjarah, merusak kehidupan dan membunuh, apakah tamu-tamu yang masuk ke Papua berhenti? Tidak. Mereka memapankan dominasinya dengan cara-cara militeristik. Program-program operasi militer diregulerkan demi memberi makan perwira-perwira militer.

Operasi Sadar (1965-1967), peristiwa Kebar 26 Juli 1965, kasus Teminabuan (1966-1967), peristiwa Manokwari 28 Juli 1965 dan Operasi Militer 1965 – 1969, Operasi Brathayuda (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), peristiwa penghilangan paksa di sentani 1970, Operasi Militer di Paniai sepanjang 1969 – 1980, Operasi Militer di Jaya Wijaya dan Wamena Barat kurun 1970 – 1985Operasi Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1981), Operasi Galang I dan II (1982), Operasi Tumpas (1983-1984), Operasi Sapu Bersih (1984), Operasi di Mapenduma (1996), pelanggaran HAM di Wasior (2001), dan operasi militer di Wamena (2003) dan Kabupaten Puncak Jaya (2004).

“…dengan alat persatuan, solidaritas antar gerakan rakyat dan membangun gagasan-gagasan revolusioner sebagai satu-satunya jalan keluar yang paling memungkinkan bagi pembebasan rakyat Papua.”

Merdekalah, Karena Kalian Berhak Atasnya

Batasan-batasan kebahagiaan rakyat Papua tidak boleh dihalangi oleh keputusan-keputusan yang tak pernah mereka kehendaki sehingga, merebut kemerdekaan adalah sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya jalan keluar bagi rakyat Papua. Namun, merebut kemerdekaan ternyata bukan hal mudah, jalannya begitu rumit, cadas dan berliku. Apalagi, kepentingan modal raksasa membentang di jalur-jalur yang, tanahnya juga menghidupi kehidupan rimba. James Moffet, pemilik Freeport, pernah membuat sebuah ungkapan kekaguman bahwa “potensi di Papua hanya bisa dibatasi oleh imajinasi”. Pernyataan tersebut sebenarnya menjelaskan bahwa proses eksploitasi Freeport tak akan bisa dihentikan. Meski, kekaguman pemilik perusahaan tambang di Papua (dan yang diuntungkan olehnya) ditunjukan dengan menekan kemanusiaan pada batas terendah.

Pada saat itulah kemerdekaan harus dimaknai dan direbut, dengan alat persatuan, solidaritas antar gerakan rakyat dan membangun gagasan-gagasan revolusioner sebagai satu-satunya jalan keluar yang paling memungkinkan bagi pembebasan rakyat Papua.

Selamat beraksi, kawan-kawan Aliansi Mahasiswa Papua. Rapatkan barisan dan bangun persatuan.

Salam Solidaritas! Salam Pembebasan Nasional!

Jakarta, 30 November 2015

Ketua Umum

Arie Lamondjong, S.IP

 

 

Sekjend

Sam

Leave a Reply